SELINTAS SEJARAH KERIS

Attayaya Butang Emas on 2010-01-03

Keris adalah sebilah senjata pendek ataupun panjang yang mempunyai sepasang mata tajam dan ujungnya meruncing. Ada yang lurus dan adapula yang ber-lok. Pengecualian hanya kepada yang bernama Sundang yang digunakan untuk menetak atau menebas. Keris adalah senjata yang digunakan untuk menikam. Untuk mengenali sebuah keris lebih mudah dengan adanya Ganja, sesuatu nama yang tidak ada pada senjata tajam lainnya.

Sebenarnya sejak kapan keris itu diciptakan?

Ada beberapa pendapat yang berbeda dari kalangan cerdik pandai tentang sejak bila sebenarnya keris itu diciptakan. Menurut keterangan Sir Stamford Raffles melalui bukunya mengatakan bahwa gambar arca di candi yang terletak di Suku, tana Jawa, ada menunjukkan gambar orang yang sedang menempa (membuat) keris. Candi tersebut bertarikh tahun 1361-1362.

Sedangkan Crawfurd pula menyatakan bahwa gambar-gambar arca yang terdapat pada candi-candi lama di Jawa tidak menunjukkan adanya gambar keris, melainkan yang ada hanya gambar pedang dan lembing. Namun demikian terdapat pula sebuah gambaran pada sebuah candi yang berada di gunung Lawu bertarikh abad ke 15 dengan beberapa gambar keris.

Selain dari bukti-bukti tersebut adalah beberapa buah cerita yang menarik berkaitan dengan keris. Satu daripadanya adalah bahwa keris telah diperkenalkan oleh seseorang yang bernama Sakutram seorang raja yang beragama Hindu. Kononnya Sakutram dilahirkan bersama dengan sebilah keris dan nama keris itu adalah Keris Pasopati.

Kononnya pula bahwa keris telah diperkenalkan oleh Panjin, seorang pahlawan di dalam cerita-cerita panji, tetapi karena tarikh tersebut tahun 920 sebelum masehi, ianya dikatakan sangat awal apabila dibandingkan dengan bukti-bukti yang teradapat pada candi-candi lama. Selain itu seorang sarjana Barat bernama Crawfurd mengatakan bahwa keris diperkenalkan Inakarto Pati, Raja di Jenggala, pada awal abad yang ke 14. Kemudiannya ada lagi sarjana Barat yang bernama Dr. Van Stein Callenfesl mengemukakan bahwa keris Majapahi telah dicipta pada abad yang ke 7. Memang anggapan ini tiadalah mempunyai bukti-bukti yang kuat.

Seperkara yang menarik adalah bahwa wayang-wajang kulit Jawa yang lama tidak dilengkapkan dengan keris, tetapi pada wayang-wayang kulit Jawa yang dimainkan pada abad ke 14 telahpun mengenakan keris.

Menurut seorang pakar dari negeri Barat, yaitu G. B. Gardner (dalam tahun 1936) mempunyai pikiran yaitu asal muasal Keris Majapahit adalah ditiru dari bentuk sengat ikan pari, demikian juga dengan keris-keris yang lain. Menurut dua orang sarjana Barat itu, jikalau sebilah sengat ikan pari itu dibuang pada bahagian pangkalnya lalu dibalut dengan kain, maka ia boleh dipegang di antara ibu dan anak-anak jari sebagai senjata pendek yang membahayakan. Gardner sendiri pernah memasang sebuah ulu keris pada sebilah sengat ikan pari. Akan tetapi pemikiran Gardner itu dibantah oleh G. C. Woolley pada tahun 1947, ia mengatakan sengat ikan pari sememangnya boleh dijadikan sebagai senjata, tetapi tidak bermakna keris ditiru dari sengat ikan pari itu. G.C.Woolley menambahkan, bahwa untuk orang yang bertempat tinggal berdekatan dengan laut mungkin akan mudah mendapatkan sengat ikan pari itu, tetapi bagaimana dengan orang yang tinggal jauh di darat? Padahal di darat juga boleh mendapatkan bahan yang tajam seperti bilah-bilah buloh. Kalaupun memandangkan kepada sengat ikan pari, itupun tidak boleh diterima. Sebab, bisa ikan pari hanya terkandung pada kelenjar ikan pari yang masih hidup saja yang terletak di duri-duri atau gerigi ke arah pangkalnya pada sengat ikan pari, tidak sedikitpun di jumpai pada keris-keris jenis apapun. Sengat ikan pari tidak berbadan lebar seperti halnya keris, dengan demikian walaupun sengat ikan pari dapat dijadikan senjata, bukan berarti keris ditiru daripada bentuk sengat ikan pari.

Di lain pihak seorang pakar keris G. C. Griffith Williams (dalam tahu 1937) mengatakan, bahwa keris telah diciptakan pada sekitar abad ke 14 dan ke 15 yang telah dijadikan senjata oleh orang-orang Majapahit. Menurut G. C. Griffit Williams bahwa keris telah tercipta daripada mata lembing, senjata yang telah sangat lama dipergunakan oleh masyarakat di gugusan pulau-pulau Melayu. Memandang kepada lembing yang mempunyai batang-batang yang panjang maka ianya tiadalah mudah untuk dibawa kemana-mana sebagai pelindung diri dalam pertempuran. Konon, pada masa besi sukar diperdapat, bila terjadi suatu pertempuran maka prajurit-prajurit itu berundur untuk memisahkan mata lembing daripada tangkainya.

Pada saat itulah diketahui bahwasannya mata lembing yang dapat dijadikan senjata pendek itu sangat berguna. Kemudian mereka membuat dagu yang tumpul pada bagian ganja senjata itu supaya menjauhkan dari kecederaan pada saat di selipkan ke pinggang atau di gunakan.

Syahdan berterusanlah orang-orang cerdik pandai itu bersengketa pendapat dan pikiran tentang asal muasal diciptakannya keris itu, tetapi kesemuanya mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing, dan sampai setakat inipun belumlah sesuatu pendapat yang boleh menjadi pegangan atau dipercayai kebenarannya kepada semua orang, tentang asal-usul keris tersebut. Mudah-mudahan di suatu ketika nanti kesemuanya akan lebih jelas lagi dan mendapatkan bukti-bukti yang tepat.




Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta