Tampilkan postingan dengan label 08 Penggalan Kedelapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 08 Penggalan Kedelapan. Tampilkan semua postingan

4. Corak Tenun Melayu

Attayaya Butang Emas on 2009-03-07

Corak dasar tenunan biasanya bersumber dari alam yaitu tetumbuhan, hewan dan benda-benda angkasa. Dari benda-benda tersebut kemudiannya direka dan dikembangkan dengan pelbagai jenis corak, baik dalam bentuk asli maupun dalam bentuk tersamar.

Dari sumber tertumbuhan, terdapat corak bunga-bungaan :
  1. Bunga bakung
  2. Bunga melati
  3. Bunga kundur
  4. Bunga mentimun dan lain sebagainya.

Kemudiannya juga dibuat bentuk kuntum, yaitu :
  1. Kuntum (mekar) tak jadi
  2. Kuntum merekah
  3. Kuntum serangkai
  4. Kuntum bersanding, dan lain sebagainya

Sedangkan bentuk daun dibuatlah pula coraknya, seperti :
  1. Daun bersusun
  2. Daun sirih
  3. Daun keladi
  4. Daun bersanggit bunga, dan lain sebagainya.

Untuk corak buah, maka diperbuatlah seperti berikut :
  1. Tampuk manggis
  2. Buah hutan
  3. Buah delima
  4. Buah anggur, dan lain-lainnya.

Terakhir menggunakan corak akar, yaitu :
  1. Kaluk pakis
  2. Akar bergelut
  3. Akar melilit
  4. Akar berpilin, dan lain-lainnya.

Dari sumber hewan dikembangkan berbagai jenis corak seperti :
  1. Itik pulang petang
  2. Ayam jantan
  3. Ular melingkar
  4. Naga berjuang
  5. Naga bertangkup
  6. Singa-singaan
  7. Harimau jantan
  8. Semut beriring
  9. Lebah bergantung
  10. Kupu-Kupu
  11. Ikan bergelut
  12. Ikan sekawan dan lain sebagainya

Dari benda-benda di angkasa, terdapat corak :
  1. Bulan sabit
  2. Bulan temaram
  3. Bintang bertabur
  4. Bintang bersusun
  5. Bintang lima, dan lain-lain.

Sedangkan corak-corak yang lain mencontoh kepada bentuk-bentuk tertentu, misalnya seperti :
  1. Wajik-wajik
  2. Segi penjuru empat
  3. Segi delapan
  4. Bulat penuh
  5. Lentik bersusun.

Kemudiannya ada pula yang bersumber dari kaligrafi, yang umumnya mengacu kepada kaligrafi yang ada.

Setiap corak mengandung makna dan falsafah tertentu yang nilainya mengacu kepada sifat-sifat sesuatu benda yang dijadikan corak dan dipandukan dengan nilai-nilai kepercayaan dan budaya tempatan kemudian disimpai dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Dan secara umum dapatlah diambil intisari daripada corak tersebut yang menggambarkan nilai kearifan, nilai kepahlawanan, nilai kasih sayang, nilai kerukunan, dan nilai tanggung jawab.

More about4. Corak Tenun Melayu

3. Jenis Tenunan

Attayaya Butang Emas on 2009-03-06

Adapun jenis tenun Melayu bolehlah dibagikan kepada lima kelompok, pertama melihat kepada bahannya, yaitu :
  1. Kain Kapas
  2. Kain Sutera
  3. Kain Mastuli
  4. Kain Benang
  5. Kain Belakang Parang
Dan yang kedua dapat dilihat dari cara pencelupannya, yaitu :
  1. Kain belacu, kain mentah, kain muri.
  2. Kain cindai, kain ikat, kain limau, atau kain petola
  3. Kain batik.
  4. Kain batik cap, kain batik Kedah atau kain telepok.
  5. Kain keringkam atau kerikam.
  6. Kain bersulam, kain bersuji atau kain bertekat.
  7. Kain bertekat tampung.
  8. Kain pedendang.
  9. Kain Songket, kain Bugis atau kain gerus.
  10. Kain bercual.
  11. Kain berantai.
  12. Kain Siak.
  13. Kain Siantan.
  14. Kain gelik.
Yang ketiga, jenis “kain batis” yaitu kain putih yang tipis dan halus, yang terdiri dari :
  1. Kain Asahan
  2. Kain Bakak
  3. Kain Cita
  4. Kain Beledu atau Kain Jong
  5. Kain Jose
  6. Kain Jepun
  7. Kain Lokcuan
  8. Kain Antelas
  9. Kain Kasa
  10. Kain Perai
  11. Kain Sakhlat
  12. Kain Kelarai
Sedangkan yang keempat, berdasarkan kepada kegunaannya, dapatlah ditemukan :
  1. Kain sarung
  2. Kain sabuk
  3. Kain tetampan atau kain wali
  4. Kain tanjak, kain bulang ulu
Yang kelima, jenis kain yang terkenal dalam perdagangan antara India dan nusantara pada masa lampau yaitu, diantaranya :
  1. Kain Beroci
  2. Kain Champa
  3. Kain Chele
  4. Kain Cintapuri
  5. Kain Dewangga
  6. Kain Dibaj
  7. Kain Duria
  8. Kain Kaci
  9. Kain Kalamkari
  10. Kain Kembayat
  11. Kain Pelikat
  12. Kain Selampuri
  13. Kain Tabi





More about3. Jenis Tenunan

2. Perjalanan sejarahnya

Attayaya Butang Emas on 2009-03-05

Sejarah perkembangan tenun Melayu Kepulauan Riau sejalan dan sehaluan dengan kejayaan dan kebesaran kerajaan-kerajaan Melayu pada masa lampau seperti Kerajaan Melayu Johor-Riau atau Riau-Johor (1511-1787), yang kemudian menjadi kerajaan Lingga-Riau atau kerajaan Riau-Lingga (1787-1913). Buku-buku sejarah yang awal seperti sulalatus salatin (abad ke-16) dan karya yang lebih muda yakni tuhfat al-Nafis (abad ke-19) menyiratkan kenyataan itu.

Selain itu, artefak yang ditemukan yakni kain-kain dan pakaian lama yang masih tersimpan sebagai koleksi pribadi masyarakat terutama di Daik, Lingga, Kepulauan Riau merupakan bukti yang menguatkan data tertulis yang ditelusuri. Kain dan pakaian lama itu ada yang bertarikh abad ke-17 dan yang paling muda bertarikh awal abad ke-20 (tahun 1900 M). Tenun lama itu tak hanya berupa kain (sarung) semata, tetapi juga terdiri atas berbagai jenis pakaian dan benda-benda lain, dari seluar (celana) dalam perempuan sampai dengan kain penutup keranda. Jadi, tenun dipergunakan untuk berbagai keperluan, dari keperluan untuk orang hidup sampai dengan untuk orang mati.





More about2. Perjalanan sejarahnya

1. Dalam Unsur Budaya

Attayaya Butang Emas on 2009-03-04

Salah satu unsur kebudayaan Melayu adalah tenun, yang sudah berkembang dengan pesat sejalan dengan keperluan masyarakat akan pakaian dan keperluan yang lain. Berbagai corak (motif) dan ragi (desaign) tenun dikembangkan seiring dengan aneka ragam fungsi pakaian itu sendiri.

Dalam masyarakat Melayu pakaian tak semata-mata untuk melindungi tubuh dari panas dan dingin belaka. Lebih dari itu, pakaian hendaklah dapat menutup malu, menjemput budi, menjunjung adat, menolak bala, dan menjunjung bangsa (lihat effendi, 1990:10-11). Sesuai dengan kegunaannya itu, pakaian menjadi tidak bernilai apa adanya, melainkan mempunyai atau bernilai adat dan budaya, berpatutan serta keindahan. Itulah sebabnya, didalam budaya Melayu dikenal ungkapan, antara lain, “pantang memakai memandai-mandai”. Dalam ungkapan yang lebih ekstrem disebutkan, “salah pakai perut terburai”.

Pakaian harus memiliki mutu keindahan seperti yang terdapat dalam hikayat Dewa Mendu, yakni mutu “seri gunung” dan “seri pantai”. Itu berarti pakaian harus indah dipandang dari jauh dan elok pula dipandang dari dekat. Lebih dari itu, ungkapan itu menyiratkan pula bahwa pakaian haruslah indah dipandang oleh mata (lahiriah) dan elok ditilik oleh mata hati (bathiniah). Dengan keadaan seperti itulah, pakaian, seperti dinukilkan oleh pengarang Melayu lama Ahmad Rijaluddin memiliki mutu sahdu perdana yang bernilai tujuh laksana atau kecantikan kelas satu yang patut diberikan nilai tujuh bintang (lihat Junus, 1990:3-4).

Untuk memenuhi kegunaan dan mutu seperti disebutkan di atas, pakaian harus memiliki lambang-lambang. Setiap corak dan ragi tenun dalam kebudayaan Melayu tidaklah hanya kosong belaka, tetapi mengandung makna dan lambang tertentu. Keanekaragaman makna itu amat bergantung pada corak dan ragi tertentu. Orang tua-tua mengatakan, “Ada benda ada maknanya, ada cara ada artinya, ada letak ada sifatnya”.

Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa aneka ragam corak dan ragam tenun Melayu yang ada di Kepulauan Riau belum begitu tersebar luas, lebih-lebih akhir-akhir ini. Bahkan, masyarakat daerah ini sendiripun banyak yang tak mengetahui keberadaan corak dan ragi serta makna yang dikandungnya.

More about1. Dalam Unsur Budaya

8. PENGGALAN KEDELAPAN : Tenun Melayu

Attayaya Butang Emas

08
PENGGALAN KEDELAPAN

Tenun Melayu




More about8. PENGGALAN KEDELAPAN : Tenun Melayu