Selasa, Maret 16, 2010

6. Bangsawan : Perjalanan Abu Muhammad Adnan

Abu Muhammad Adnan

Abu Muhammad Adnan meninggal dunia tahun 1926, memang sepatutnya diperhatikan karena perannya dalam kesenian dan kebudayaan pada waktu dulu. Nama pena Abu Muhammad Adnan itu dipakainya dengan penuh kasih karena bersempena dengan nama anak sulungnya yang meninggal pada usia yang sangat muda.

Ia bukanlah seorang yang banyak terlibat dalam urusan Wayang Bangsawan. Akan tetapi, sebagai seniman (pelukis, pematung, dan pengarang) di samping sebagai seorang pejabat di Mahkamah Kerajaan, ia sering diminta oleh kumpulan Wayang Bangsawan di istana untuk memberikan bahan-bahan cerita dan memberikan saran utnuk dekorasi. Dalam simpanan Yayasan Indera Sakti Pulau Penyengat ada contoh-contoh gambar (dengan pensil) yang dibuat oleh Abu Muhammad Adnan untuk model tata busana para pelakon Wayang Bangsawan untuk cerita-cerita tertentu mulai dari raja, menteri, penjahat, orang asing, jin sampai khadam.

Abu Muhammad Adnan (di tempat tinggalnya) lebih dikenal dengan nama Engku Haji Lah (nama sebenarnya Raja Haji Abdullah) juga mengarang buku pelajaran Bahasa Melayu Riau seperti (1) Pembuka Lidah dengan Teladan Umpama yang mudah, (2) Penolong bagi yang Menuntut akan Pengetahuan yang Patut, dan (3) Pembukaan bagi yang Berkehendak dengan Huraian yang Pandak. Kesempatan memberikan pelajaran bahasa itu dipakai dengan memberikan bahan-bahan cerita kepada kelompok Wayang Bangsawan istana yang memerlukan bantuannya dalam banyak hal. Karena bacaanya yang luas (perpustakaan pribadinya berisi buku-buku berbahasa Arab, Perancis, dan Melayu) pada pelbagai kesempatan, baik yang ia tuliskan dalam buku-buku karangan dan buku-buku hasil terjemahannya. Tersebutlah sekalimat ungkapan beliau yang berbunyi: “Apabila diarahkan dengan jitu, al-khayalan akan merangsang pikiran sehingga hasilnya pun akan menjadi berfaedah, bermanfaat, bermakna”.

Di antara tokoh-tokoh dalam cerita Wayang Bangsawan tampaknya penokohan Jin dan Khadam merupakan tokoh-tokoh yang paling melekat dalam ingatan penonton. Ini dibuktikan dengan melekatnya nama panggung kepada seseorang yang pernah memainkan peranan Jin dan Khadam sehingga terdapat nama orang-orang seperti Raja Mamud Jin, Mat Tahir Jin, Pak Usin Kadam dan sebagainya. Nama panggung seorang pemeran senantiasa lebih dirasakan akrab jika dibandingkan dengan pemakaian nama kelahiran.


Selengkapnya...

Minggu, Maret 14, 2010

6. Bangsawan : Suatu Perjalanan Seni

Perjalanan Seni

Seorang penulis, Ch. E. P. Van Kerchkhoff, pada 1886 menyatakan dalam sebuah tulisan berkala pada masa itu bahwa karya-karya sastra Melayu sering diangkat ke atas pentas seni pertunjukkan, antara lain mencatat, ada enam buah syair dan dua buah hikayat yang telah dimainkan dalam bentuk drama. (Lihat Nafron Hasjim, 1981 / 1982).

Khusus mengenai perjalanan seni pertunjukkan Wayang Bangsawan, dahulunya di Kepulauan Riau asa beberapa cerita yang diangkat dari cerita Syair dalam lakonan bangsawan (sekitar abad ke-19), paling tidaknya dijadikan ilham atau bahan cerita, yaitu:
  • Syair Menyambut Sultan Bintan, awal abad ke-19 (N.N)
  • Syair Siti Zuwaiyah, circa 1820 (Tuan Bilal Abu).
  • Syair Haris, circa 1830 (Tuan Bilal Abu).
  • Syair Sultan Yahya, 1840 (Daeng Wuh).
  • Syair Perang Johor, 1844 (N.N)
  • Syair Abdul Muluk, 1849 (Raja Ali Haji/Shalihat)
  • Syair Madi, 1849 (Yamtuan Abdullah).
  • Syair Kumbang Mengindera, 1850 (Raja Safiah).
  • Syair Sultan Mahmud di Lingga, 1857 (Encik Kamariah).
  • Syair Kahar Mahsyur, 1858 (Yamtuan Abdullah).
  • Syair Syarkam, 1858 (Yamtuan Abdullah).
  • Syair Encik Dosanan, 1858 (Yamtuan Abdullah).
  • Syair Saudagar Bodoh, (1861 Raja Kalsum).
  • Syair Hikayat Raja Damsyik, 1864 (Haji Ibrahim).
  • Syair Hikayat Tukang Kayu yang Bijaksana dengan Tukang Emas yang Durjana, 1894 (Haji Abdul Rahim).
  • Syair Kisah Keling dengan Ba’yah dan Rahimah, 1894 (Haji Abdul Karim).
  • Syair Pahlawan Farhad, tanpa tahun (Abu Muhammad Adnan).
  • Ghayat Al-Muna, tanpa tahun (Abu Muhammad Adnan).
  • Syair Seribu Satu Hari, cetak 1918 (Abu Muhammad Adnan).
  • Syair Syahinsah, cetak 1922 (Abu Muhammad Adnan).
  • Syair Khadamuddin, cetak 1926 (Aisyah Sulaiman).
  • Dan lain-lain.



Selengkapnya...

Jumat, Maret 12, 2010

6. Bangsawan : Cerita di Berbagai Daerah

Cerita di Berbagai Daerah

Adalah beberapa cerita (jika dimainkan) yang di anggap mempunayi pengaruh magis ataupun angker dapatlah disebutkan di sini, utnuk beberapa tempat atau kawasan:
  • Di Sumatera Utara (Medan), memainkan cerita “Puteri Hijau”
  • Di Kedah, kisah “Marong Mahawangsa” (Raja Bersiung) dan “Mahsuri di Pulau Langkawi”
  • Di kepulauan Riau, cerita “Opu Lima Bersaudara” “Meriam Sumbing di Pulau Mepar” dan cerita yang lain.
  • Di Indragiri cerita “Rakit Kulim”
  • Di Siak cerita “Raja Kecil”
  • Di Dumai cerita “Puteri Tujuh”
  • Di Kalimantan (Pontianak) kisah “Pangeran Syarif Hasyim”
  • Dan masih banyak yang lainnya


Selengkapnya...

Rabu, Maret 10, 2010

6. Bangsawan : Pelaksanaan Cerita

Pelaksanaan

Dalam pelaksanannya, untuk memainkan cerita-cerita Melayu asli ini selalu didahului dengan upacara kenduri kecil yaitu membaca do’a selamat dengan hidangan sekadarnya. Biasanya hidangan yang dimakan bersama itu ialah “pulut kuning” yaitu nasi pulut yang dikuningkan dengan kunyit serta lauknya yang terdiri atas telur, ikan atau ayam panggang/rendang dan pisang.

Nasi pulut dalam piring atau pinggan ditindih dengan daun pisang yang sudah dipotong bundar sebesar pinggan dan di atasnya diletakkan lauknya. Setidak-tidaknya hidangan untuk kenduri kecil itu terdiri atas sepiring pulut kuning dan sesisir pisang (dengan atau tanpa lauk) yang dimakan bersama dan dibagi rata sedikit seorang, setelah do’a tolak bala selesai dibacakan.

Kenduri tolak bala yang dilaksanakan sebelum pertunjukkan itu dilakukan di atas panggung dan upacara sederhana itu tak boleh dilupakan. Adapun dasarnya ialah karena menurut kepercayaan masyarakat setempat, cerita-cerita Melayu asli yang akan mereka lakonkan di atas pentas sebentar lagi, ialah mengenai datuk-nenek para pemain itu sendiri, selain datuk-nenek juga hamper semua anggota masyarakat menonton cerita itu. Jadi, pementasan cerita-cerita yang berunsur sejarah atau yang dianggap oleh masyarakat setempat berunsur sejarah, maka dilakukanlah hal yang sedemikian itu.

Seandainya terjadi suatu kecelakaan dalam memainkan cerita-cerita jenis tadi, orang yang selalu dikesalkan ialah pimpinan permainan karena dianggap lupa melaksanakan kenduri membaca tolak bala. Seperkara pada pekerjaan ini berlaku di semua negeri-negeri Melayu.


Selengkapnya...

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta