Tampilkan postingan dengan label 09 Penggalan Kesembilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 09 Penggalan Kesembilan. Tampilkan semua postingan

2. Pakaian Dalam Perkataan Yang Patut

Attayaya Butang Emas on 2009-04-12

Berikut hendaklah digambarkan sebarang pekerjaan berkenan dengan mengenakan pakaian ini dengan menggunakan perkataan yang patut.
1. Untuk Seluar (celana).
………………………
Seluar panjang semata kaki,
Goyang bergoyang ditiup angin,
Kibarnya tidak lebih sejengkal,
Pesaknya tiada begitu dalam.
Elok sanggam menutup malu,
Kalau melangkah tidak menyemak.
Kalau duduk tiada menyesak,
Kaki diberi awan-awanan.
……………………


Yang pucuk rebung.
Tabur bertabur tampuk manggis,
Elok dipakai dalam majelis.
Sanggam dipakai helat jamuan,
Patut bertempat nikah kawin.
……………………
Kalau selerang kain tak sampai,
Diberi tampun sebelah atas.
Tempat tali dua pinggang,
Tali tidak bersimpul mati.
Cerutnya tidak menyesakkan,
Longgar tidak menggelusir.
………………………
Seluar pelasah separuh tiang,
Elok terletak di tengah betis.
Keatas tidak menyundak lutut,
Ke bawah tidak menggantung betis.
Kalau lebar tidak mengibar,
Kalau sempit tidak berketak.
……………………….
Tidak menyinsing dibawa duduk,
Tidak menyingkap dibawa rukuk.
Elok di pakai petang pagi,
Pantas dibawa pergi ke sawah.
Tapi jangan bawa bertandang,
Tak molek ke rumah orang.
……………………
Seluar Sempit sepalut nangka,
Labuh menjejak-jejak keting.
Sempit disorong sempit disentak,
Tak berliang angin lalu.
Kaki bersulam benang emas,
Tabur bertabur bunga telepuk.
Elok dipakai berpatut-patut.
……………………
Seluar pendek seluar sempak.
Labuh terletak di atas lutut,
Tidak molek dipandang.
Tempat terpakai dalam rimba,
Kene dibuat basahan mandi.
Lebarnya tidak membuka air,
Sempit tidak membentuk bongkol.
2. Tentang Baju
…………………
Pertama disebut Teluk Belanga
Tebuk leher bertulang belut,
Cengkam dijalin menjari lipan.
Buah baju tunggal-tunggalan,
Kalau bulat menelur burung,
Kalau bertangkai memudung petai,
Atau bermata bagai cincin.
……………………
Labuhnya sampai segenggam tangan,
Lebar dapat dikipas-kipas.
Lapang tidak nmenyangkut ranting,
Sempit tidak membilang tulang.
…………………………..
Labuh di luar dagang dalam,
Labuh di dalam dagang luar.
Kalau bersulam berbenang emas,
Tekat berkumpul di atas dada.
Turun kebawah bak sarang lebah,
Kalau tangan bersulam suji.
Bagai simpai di ujung lengan,
Pucuk rebung timbalannya.
Bertabut bunga jarang-jarang,
Tidak berbatas tempat memakai.
……………………….
Kedua bernama Cekak Musang
Leher tegak empat leher,
Renda berenda benang emas.
Jalin menjalin benang kelingkan,
Dua butang sebelah atas.
Tiga buah dibawahnya,
Butang bulat pudung petai.
Butang bersegi mata cincin,
Tabur bertabur bunga telepuk.
Tekad penuh diatas dada,
Jalar menjalar ujung lengan.
………………………..
Sebuah kocek diatas,
Dua buah kocek di bawah.
Lebarnya dapat berkibar,
Sempitnya dapat berkiah.
Labuh sampai segenggam tangan,
Patut dipakai dagang dalam.
Patut dipakai dalam majelis,
Pantas dibawa dalam jamuan.
……………………….
Ketiga Baju Bersingkap Dada
Belah leher sampai ke bawah,
Butang bersusun lima buah.
Di bawah berjahit mati,
Di atas berumah-rumah.
Kalau berenda menyusur belah,
Kecik dibawah kiri kanan.
Pakaian kain dagang di luar,
Patut dibawa berjalan jauh.
Atau bertandang-tandang.
………………………
Keempat Baju atas Angin
Yang dibawa alim ulama,
Yang dipakai bermusim-musim.
Labuhnya mencecah tanah,
Yang disebut baju jubah.
………………..
Kelima Baju Kutang
Yang dipakai dalam rumah,
Atau meramu kedalam hutan.
Atau ke sungai pergi berikan,
Tak boleh bawa bertandang.
Tak beradat ke rumah orang.
...........................
Yang perempuan lain bajunya
Pertama disebut Baju Kurung
Leher melingkar tulang belut,
Cengkam-cengkaman menjari lipan.
Kalau ditenun tabur bertabur,
Sulam ditangan sulam di bawah.
Sulam menjalin keliling dada,
Labuhnya sampai ke bawah lutut.
……………………….
Kibar berkibar ditiup angin,
Tidak sempit menyampul nangka.
Patut dipakai tua muda,
Tidak berbatas pemakaiannya.
Aib bertutup malu tersimpan,
Sesuai adat dengan syara’.
Sesuai ke tengah, sepadan ke tepi.
…………………………….
Kedua disebut Kebaya Panjang
Gunting bernama gunting sembilan,
Belah terbuka sampai ke bawah.
Dalam acap-acap betis,
Dalam tidak menyemakkan.
Pendek tidak menyesakkan,
Kalau berenda sebelah muka,
Berenda pula kaki bajunya,
Renda keliling lingkar-berlingkar.
……………………
Tabur-bertabur seluruh badan,
Jalin-jalin sulaman tangan.
Kalau belah mau ditutup,
Terpasang kronsang sebelah atas.
Kronsang bersusun sampai pusat,
Bertali-tali semat menyemat.
Patut dipakai tua muda,
Tidak terbatas tempat bertandang.
Baik ke tengah, patut ke tepi.
……………………..
Ketiga bernama Kebaya Pendek
Pendek menyapu-nyapu duduk,
Pendek separas-paras tanah.
Belah leher sampai ke bawah,
Genting-genting pada pinggangnya.
Kembang mengepak sebelah bawah,
Lengan panjang tidak berkibar,
Tetapi sempit tidak berketak,
Dada bertutup lapis dada.
Susun bersusun kronsang butangnya,
Rangkai-berangkai sampai ke pusat.
Patut dipakai di dalam rumah,
Pakaian perempuan sudah berlaki.
Untuk berjalan bertandang-tandang,
Atau ke helat-helat kecil,
Ke sawah atau ke sungai.
................................
Keempat, pakaian di dalam bernama kutang
Di muka ampuan susu,
Di belakang lebar sejengkal.
Berbutang tiga serangkai, sulam kelilingnya.
Kalau perempuan belum berlaki,
Sama lebar muka belakang.
Lebar labuh sampai ke perut,
Tidak terbuka jika berkemban.
3. Kain
Pertama kali Pelekat Bertapak Catur
Bertapak-tapak sama besar,
Pakaian laki-laki ke helat jamu.
Pakaian di dalam dagang luar,
Pakaian di luar dagang di dalam.
……………………….
Kalau sudah beranak bini,
Atau orang yang patut-patut.
Kain samping di bawah lutut,
Sama setengah jantung betis,
Ikat bergulung lurus-lurus.
……………………….
Kalau anak muda-muda
Kain labuh di atas lutut,
Bagai hulubalang masuk gelanggang
Bagai ayam mencari lawan,
……………………….
Kedua Kain Bertenun-tenunan.
Bertabur kepala emas,
Tabur berserak bunga hutan.
Kepala pekat berpucuk rebung,
Di pakai dalam helat jamu.
Dalam majelis yang patut-patut.
Kalau dibuat kain samping.
Kepala kain sebelah kanan
Atau membelit kebelakang.
Kalau dipakai labuh-labuhan,
Kepala terletak di belakang
………………………..
Kalau perempuan memakai kain
Kepala terletak di samping kiri,
Atau membelit ke belakang.
Belit sampai ke kedudukan,
Kalau kepala sebelah muka,
Duduk menuju atas pangkuan.
Boleh dipakai anak dara,
Bagai penyimak bujang datang.
Bagai pendinding aib malu.
...................................
Ketiga Kain Lepas
Yang disebut kain panjang,
Pakaian orang perempuan
…………………………
Keempat Kain Selingkup
Kain sarung dibuat tudung,
Berselingkup dalam helat.
Berselingkup dalam jamuan.
…………………..
Kelima Kain Basahan
Kalau lelaki separuh lutut,
Kalau betina sekembanan.
Atasnya menutup dada,
Bawahnya menutup betis.
Kain tebal tidak membayang,
Kain tidak kain berlobang.
Kain penutup aib malu,
Kain penjaga adat lembaga.
Yang dipakai waktu mandi,
Atau di rumah menyusu budak.
Tidak dibawa ke luar rumah,
Tidak dibawa pergi bertandang.
Tidak menyambut orang datang,
Patut menjadi penunggu ladang.
……………………….
4. Selendang
Selendang penutup kepala,
selendang penyungkup muka.
Penyungkup air dengan malu,
Penyungkup adat dengan lembaga.
Selendang tipis bayang-bayangan,
Pakaian orang sudah berlaki.
Tapi bolehnya dirumah saja,
Tidak dibawa ke helat jamu.
Tidak dibawa dalam majelis.
…………………..
Kalau selendang sangkut di siput
Sangkutnya tidak rendah amat.
Bawah menjulai ke atas bahu,
Ujung pangkal turun ke dada.
………………………
Kalau selendang berselingkup,
Ujung berilang di bawah dagu,
Sebelah turun ke dada,
Sebelah jatuh ke belikat.
……………………..
Kalau selendang selingkup mati
Yang tersingkap sebelah mata,
Pakaian gadis patut-patut.
Yang tahu adat lembaga,
Yang tahu air malu.
………………………
Selendang itu banyak ragamnya
Bersulam bermanik-manik,
Bertenun berbenang emas.
Berterawang awan-awanan,
Berenda berterawang.
Atau selendang biasa saja,
Yang hitam tanda berduka
Yang putih untuk mengaji,
Yang berwarna ke helat jamu.
Tempat bersuka hati,
Tempat berhimpun sesama baya.
……………………….
5. Tanjak dan Destar
Sekali bernama destar,
Duanya bernama tanjak.
Yang di ujung di kepala,
Dipakai berpatut-patut.
Yang beradat lembaga,
Yang beradat berketurunan.
Yang di jaga dipelihara,
Yang bertempat dan bertepatan,
Yang ada asal-usulnya.
……………………….
Pertama bernama belah numbang
Sama belah kiri kanannya,
Di muka guntingan layar.
Tergombak menyapu awan,
Berkelipat pucuk-pucuknya.
Pakaian anak raja-raja
Atau orang muda patut-patut.
Atau Hulubalang handalan,
Untuk masuk helat jamuan.
Untuk merempuh-rempuh gelanggang.
……………………….
Kedua bernama Tebing Laksemana
Seluk berseluk sebelah bawah
Tingkat bertingkat bertabur bunga
Lipat menyusun tebing sungai,
Sama tinggi kiri kanan
Pakaian orang Besar Negeri,
Pakaian orang yang patut-patut.
Orang kuasa tampuk negeri
…………………………
Ketiga bernama Tubang Layar
Tinggi kanan rendah kiri,
Lipat bersusun tiga lenggek
Pucuk mengipas-ngipas angin,
Bertabur bertelepuk
Pakaian raja yang berdaulat,
Pakaian Datuk pemegang adat,
Pakaian orang patut-patut
…………………………
Keempat bernama Tebing Runtuh
Bagai tebing runtuh sebelah,
Yang tinggi sebelah kanan,
Yang rendah sebelah kiri,
Yang pucuk sebelah muka.
Lipatnya jalin-jalinan,
Berlenggek bersusun lima,
Bertabur berbenang emas,
Pakaian orang besar-besar.
Orang patut dalam negeri
…………………………
Kelima bernama Tanjak Laksemana
Pucuk kelepai melambai angin,
Tiga susunan lipatan kain.
Tinggi kumpul sebelah muka,
Belakang berlekuk akar kacang,
Pakaian raja yang berkuasa,
Atau Laksemana turun ke laut.
………………………….
6. Tentang Perhiasan
gelang kaki bersusun-susun,
bergiring-giring mainannya.
kalau melangkah dengan adat,
tidak berbunyi giring-giringnya.
Kalau melangkah dengan lembaga,
Bunyi ada terdengar tidak.
Kalau anak baru pandai berjalan
Giring berbunyi tempat berjalan,
Supaya senang mencarinya,
Tahu kemana perginya.
………………………….
Gelang tangan bersusun-susun
Susun satu orang biasa,
Susun dua orang berada
Susun tiga yang patut-patut,
Susun lima datuk-datuk
Tujuh susun ke atas anak raja-raja
…………………………..
Gelang pangkal lengan,
Gelang berasal-usul
Gelang tanda suku sakatnya
Gelang dipakai dalam suku,
Gelang dipakai orang berbangsa,
Tidak terbatas banyak susunnya
……………………………
Gelang adat berbelah rotan
Disebut Gelang Bondan,
Kalau padu diberi rantai
Kalau kosong diberi mainan
…………………………..
Gelang pusaka, Kepala Ular,
Elok berkelok kait berkait
Kepala pungguk berpangguk,
Mata diberi mutu manikan,
Diberi rantai dengan mainan
………………………….
Lingkar melingkar cincin di jari
Belah rotan dijari manis,
Cincin bermata kilau berkilau
Tempat bersanggit sesama muda
kalau bersanggit cincin di jari,
menyembur darah kemuka,
berkocak iman didada
Mengulang darah ke ujung kuku,
hati di dalam guncang-guncangan
mata memandang serong-serongan,
pandang serong pandang memabukkan,
pandang tepat ia membunuh
…………………………….
Kalau tersusun cincin di jari,
Jangan dibawa berjalan-jalan
Sudah dekat hari berjanji,
Sudah sampai bulan bertunang
Kalau lelaki memakai cincin,
Cincin bermata batu akik,
Atau bermata bergunaan
Untuk pemanis-manis muka,
Untuk penyedap bercakap-cakap,
Banyak dipakai sebelah kanan.
Kalau perempuan memakai cincin,
Cincin penaik seri muka,
Banyak dipakai sebelah kiri
...................................
Rantai bersusun selingkar leher
Selapis pakaian umum,
Dua lapis orang berada,
Tiga lapis orang berbangsa,
Ke atasnya anak raja
Yang terjuntai sampai ke dada,
Atau berjela sampai ke perut.
Yang ke dada di dalam baju,
Yang ke perut di luar baju.
…………………………
Rantai selari tidak bermata,
Yang bermata bernama Rantai Bunga.
Bunga berisi mutu manikam,
Dilingkar kelopak daun,
Atau bercengkerama kuku belalang,
Atau dikungkung busut timbul
…………………………
Dokoh tergantung atas dada,
Jurainya panjang sampai ke perut.
Selapis orang banyak,
Dua lapis orang berada,
Tiga lapis orang berbangsa,
Keatasnya anak-anak raja.
Dokoh berantai kiri kanan,
Satu rantai orang berada
Dua rantai orang berbangsa,
Tiga rantai anak raja.
……………………………
Rantai di buat tangkal leher,
Dokoh berguna tangkal dada,
Menutup darah gemuruh
Menutup hati berdebar
Menutup air dengan malu,
Menutup hantu dengan setan.
Kronsang bersusun Butang Baju
Yang bulat duit-duitan,
Yang berkelopak bunga sekaki.
Yang menutup belah baju,
Yang bersusun tiga susun.

Atau lima susun tingginya,
untuk penutup air malu.
Untuk penutup darah gemuruh,
Menutup hantu dan setan.
Menjaga adat dengan lembaga,
Kerongsang berantai jurai-jurai.
Semat bersemat menepi baju,
Menyemat adat dengan lembaga.
.......................................
Pending terletak pada pinggang,
Kalau lelaki penutup kain,
Kalau betina penutup bengkung
Pending berbentuk daun sehelai,
Bersegi bagai wajik.
Pending besar pending tunggal,
Pending banyak Pending beranak.
Lingkar melingkar keliling pinggang
Untuk menutup pusat dan perut
Penutup aib dengan malu,
Penutup adat dengan lembaga
Penutup hantu dan setan,
Penutup sihir dan serapah
……………………….
Caping terletak disamping kiri,
Bentuk meniru sehelai daun,
Yang dipakai anak perempuan.
Untuk penghalau hantu dan setan,
Penutup aib dan malu
Bengkung dipakai orang lelaki
Bengkung tunggal sepembelitan,
Lebarnya setelempap tangan.
Tempat menyisip keris dan sekin.
Untuk masuk dalam gelanggang,
Atau merempuh merambah musuh,
Untuk penjaga-jaga diri,
Untuk penutup air malu,
Untuk penolak jin dan setan.
Bengkung perempuan bertali-tali
Sambung bersambung dengan pendingnya
Untuk penutup aib dan malu,
Diperbuat pula penjaga-jaga badan
......................................
Tajuk kepala berketar-ketar
Ketar disebut getar-getar,
Yang ditajuk suntingkan ke siput atas kepala.
Tajuk bukan sembarang tajuk,
Kalau berjalan dengan adat,
Tidak bergoyang tajuk di kepala
Kalau berjalan dengan lembaga,
Tidak bergerak tajuk kepala.
Kalau bergoyang gerak bergerak,
Tampak budi kurang adab,
Tampak laku kurang tertib,
Tampak kurang tunjuk ajarnya,
Tampak miang dengan gatalnya
......................................
Tajuk berjurai berjumbai-jumbai
Melingkar keliling siput,
Bersusun atau beratur.
Tiga tajuk orang banyak,
Lima tajuk datuk-datuk.
Tujuh ke atas anak-anak raja
....................................
Jumbai berjumbai sebelah kiri,
Penolak hantu setan.
Jumbai berjumbai sebelah kanan,
Penolak sirih serapah.
Jumbai berjumbai menutup,
Muka untuk menutup aib malu.
Untuk tanda gadis sunting,
Belum pernah naik pelamin.
Putih bersih bagaikan kapas,
Belum disentuh kumbang lalu,
Belum dihinggap kumbang datang,
Belum lepas dari pingitan adat
Jumbai berjumbai di belakang saja,
Tanda jalan sudah terbuka,
Tanda tangga sudah ditingkat
Tanda anak bini orang
.......................................
Hiasan kening Ketam Dahi.
Elok terletak dikaki rambut.
Himpit berhimpit anak rambut,
Bagai lengkung sehari bulan,
Tempat jurai diletakkan,
Tanda gadis dalam pingitan,
Tanda belum disentuh kumbang.
Tanda suci seputih kapas
....................................
Ketam Dahi di ubun-ubun
Untuk penutup jembalang lalu,
Untuk penutup hantu lewat.
Untuk penjaga benak kepala,
Dari sihir dengan tenung,
Dari aib dan malu.
7. Perangai berpatut
Cara berpakaian baju Teluk Belanga
Kain diikat Dagang Luar,
Kepala berkopiah saja,
Kain labuh sampai ke keting,
Kain seluar bayang-bayangan.
Serta keris dipinggang tak nampak,
Itu pakaian ke mesjid
Atau bertandang ke sanak famili

Kalau berbaju Teluk Belanga
Kain diikat bawah lutut,
Kepala memakai tanjak.
Hulu keris bayang-bayangan,
Celana labuh sampai keting
Itu pakaian datuk-datuk
Pakaian orang patut-patut,
Untuk duduk di helat jamu
Atau majelis di Balai Besar

Kalau memakai cekak musang
Kain diikat Dagang Luar,
Kepala berkopiah saja
Labuh kain sampai ke keting,
Kaki seluar bayang-bayangan
Itu pakaian pergi ke mesjid
Atau kenduri mendoa saja
Atau bertandang sama sekampung

Kalau memakai Cekak Musang
Kain diikat Dagang Dalam,
Kain labuh ke bawah lutut,
Pinggang memakai Bengkung Lebar,
Keris terpampang sebelah kiri.
Kepala memakai Destar,
Seluar labuh sampai ke keting
Itu pakaian raja-raja
Atau Datuk dan Panglima
Atau orang patut atau orang Bangsawan
Yang duduk dihelat jamu
Atau mejelis di Balai Besar

Kalau memakai Baju Belah
Ikat kainnya Dagang Luar,
Kain labuh sampai ke tumit
Itu pakaian orang ramai,
Atau Datuk diam di rumah
Atau bertandang-tandang saja

Kalau tanjak miring ke kanan
Kain terletak diatas lutut,
Belah kain nganga-menganga,
Tersibak kiri kanan.
Keris dipinggang melentang,
Lengan baju bersingsingan
Itu tanda mencari musuh,
Sombong ada pongahpun ada.
Kalau berjalan menghentak bumi,
Kalau melangkah membusungkan dada,
Kalau memandang gendeng-gendeng,
Kalau bercakap tengking-menengking

Kalau Tanjak miring ke kiri
Senget mencecah bulu mata,
Kain bersibak kiri kanan.
Keris dipinggang menelentang,
Labuh kain ke atas lutut
Lengan baju digulung tanggung.
Itu tanda membesarkan diri,
Bagai ayam masuk gelanggang.
Sebagai hulubalang mencari musuh ,
Kalau bercakap tengking-menengking
Kalau berjalan hentak menghentak,
Sombong ada pongah terbawa

Kalau Tanjak terletak lurus
Atau senget agak sejari,
Senget kanan senget kiri.
Antara nampak dengan tidak,
Kain diikat belahnya lurus.
Dagang Luar Dagang Dalam,
Berkeris berajawali.
Menelungkup sebelah kiri,
Itu tanda orang beradat.
Tanda tahu sopan santun,
Tanda tahu pada bangsanya
Tanda berpihak atas lembaga,
Cakapnya berusai-usai.
Langkahnya bagai dibilang,
Lenggangnya bagai ditatah.
Itulah orang yang patut-patut,
Yang patut dituakan.
Yang patut didahulukan,
Yang patut dibawa berunding.
.........................................
Yang disebut pakaian Lengkap
Pertama memakai destar,
Kedua ber-cekak musang,
Ketiga berkain samping
Keempat berseluar labuh.
Kelima berkeris,
Keenam berselempang.
Ketujuh berbengkung berpending,
Kedelapan berkasut kaki,
Kesembilan berkampil sirih,
Kesepuluh bergelang dokoh,
Kesebelas bercincin,
Kedua belas bersapu tangan.
.....................................
Yang disebut Pakaian Tua
Pertama ber-teluk belanga,
Kedua berkain samping
Ketiga berseluar labuh,
Keempat berkopiah
Atau destar menurut patutnya
Kelima berikat bengkung,
Keenam berkeri
Ketujuh berkasut kaki,
Kedelapan berkampil sirih
Kesembilan bersapu tangan
.......................................
Kalau Gadis di pelaminan
Pertama berbaju kurung,
Atau memakai Kebaya Panjang
Kedua berkain labuh
8. Kelengkapan penyeri
Dalam pakaian adat tradisional Melayu
Berkait pula dengan :
Inai,
Inai ditangan,
Merahnya merah pemanis,
Merah penolak hantu setan,
Merah tanda dalam anyir,
Tidak dapat digamang-gamang,
Tak boleh berjalan jauh,
Tanda diri dalam ikatan,
Tanda kasih hendak ditanam,
Tanda penaik seri muka,
Seri pelangi elok manis,
Inai kuku inai pemanis,
Inai telapak tangan penjaga diri,
Dan inai di telapak kaki
Inai tanda jauh berjalan.
.....................................
Celak,
Kalau mata memakai celak,
Celak pemanis seri pelangi,
Celak pelindung biji mata,
Yang jahat pergi jauh,
Yang aniaya tidak sampai,
Yang buruk menjadi baik,
Yang bertingkah diam-diam.
......................................
Sirih pemanis,
Kalau memakan, merahnya membayang bibir,
Manisnya ditengok orang banyak,
Manis bagai manisan bunga,
Manis penaik cahaya muka,
Manis pembangkit tuah badan.
.......................................
Sirih Lelat,
Daunnya berukir terawang,
Daun berhias bunga putih,
Dan bertuah tanda tiba,
Untuk pembangkit seri muka,
Untuk penangkis musuh datang,
Untuk penenang-penenang hati,
Untuk tanda datang baik,
Untuk pengisi adat lembaga.
.......................................
Bedak Pupur,
Untuk pembangkit seri bulan,
Bedak pemanis penyeri wajah.
Pemanis muka, yang tipis layang-layangan,
Terbayang darah kemuka,
Terdamping air ditelan.
Bedak langit sekujur tubuh,
Tepung berlimau purut,
Berbunga banyak ragam bercampur pandan wangi,
Guna melindungi badan,
Pembuang peluh kusuk.
...................................
Kasut
Kasut sebagai alas kaki,
Bermanik bertatah mutu manikam,
Lentik-lentik mengujung jari,
Untuk meningkat pelaminan,
Untuk duduk di majelis besar,
Pakaian anak raja-raja,
Anak datuk-datuk, orang patut serta berasal-usul.
...................................
Selempang Panjang,
Tersimpai dibahu kanan,
Ujung terurai ke ikat bengkung,
Geser-geseran ke sampir keris,
Pakaian raja yang berdaulat,
Pakaian datuk kuat kuasa,
Pakaian panglima pemberani,
Tekadnya menulang daun,
Tabur telepuk rapat-rapat.
.........................................
Tampan-tampan,
Tersampai ke bahu kanan,
Pakaian orang penjawat,
Pertama Penjawat Tepak,
Kedua Penjawat Keris Pendek,
Penjawat Pedang, Penjawat Keris Panjang,
Penjawat Tombak, Penjawat Payung, Penjawat Tanda.
.....................................
Keris,
Keris tersisip sebelah kiri,
Keris beradat berlembaga,
Keris telentang tanda mencari lawan,
Bagai ayam berkokok berdentang,
Bagai hulubalang masuk gelanggang,
Elok dipakai dalam hutan
Atau berlayar tengah laut,
Untuk menjaga-jaga diri.
Keris sampir telungkup,
Tidak mencari lawan,
Tidak mencari musuh,
Yang dipakai dalam jamuan,
Untuk pergi bertandang,
Berselubung sampai ke hulu,
Tanda beradat berketurunan disebut keris Terapang.


More about → 2. Pakaian Dalam Perkataan Yang Patut

1. Perhiasan sehari-hari

Attayaya Butang Emas on 2009-04-10

Perhiasan yang dipakai untuk anak-anak, adalah subang untuk anak perempuan yang telah ditindik telinganya. Sedangkan anak laki-laki tidak menggunakan apa-apa. Setelah agak besar anak itu barulah ditambah dengan perhiasan seperti kalung dan gelang untuk anak perempuan, dan cincin yang ada huruf depan dari nama anak tersebut untuk anak laki-laki. Untuk laki-laki dewasa perhiasannya adalah cincin sedangkan perempuan adalah anting-anting (subang), kalung (rantai leher), gelang, cincin. Tetapi untuk laki-laki Melayu dahulu tiada diperbolehkan memakai perhiasan dari emas, melainkan hanya perhiasan yang terbuat dari suasa.

Kelengkapan dan pakaian sehari-hari :
  1. Taplak karet untuk bayi, kegunaannya ialah supaya air kencing tidak menembus pada kasur atau kain alas kasur.
  2. Kain lampin, supaya si bayi tidak kedinginan di atas taplak keret dan sekaligus meresap air kencing.
  3. Kopiah (peci, songkok) adalah untuk menutup rambut dan kepala bagi laki-laki, baik semasa anak, remaja, dewasa dan tua.
  4. Kain ikat bahu atau ada juga yang menyebutnya kain sandung sering digunakan oleh laki-laki ataupun perempuan dewasa.
  5. Baju gunting cina, berikut celana dan kainnya.
  6. Baju kurung berikut celana dan kain samping.
  7. Baju kurung leher cekak musang, dengan celana dan kain sampingnya.
  8. Baju kurung leher tulang belut, berikut celana dan kain samping.
  9. Baju pesak sebelah dengan celananya.
  10. Baju empat saku dengan celana empat saku.
  11. Baju Kancing tujuh dengan pantolannya.
  12. Baju kot dengan celananya.
  13. Baju kebaya biasa dengan kain panjangnya.
  14. Baju kebaya labuh dengan kain panjangnya.
  15. Baju kurung singkat dengan kain tapih.
  16. Baju kurung dengan satu sut.
  17. Baju kurung leher dengan belah pinang.
  18. Selendang untuk menutup rambut dan kepala wanita.
  19. Kain tudung kepala, juga sama kegunaannya dengan selendang, hanya lebih menyeluruh termasuk dengan badan.
  20. Sandal, capal atau kasut ialah kelengkapan pengalas kaki atau telapak kaki, baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Disamping baju terdapat pula dengan yang dipakai :
  • Celana dalam
  • Celana pendek
  • Celana empat saku
  • Celana baju kurung
  • Celana gunting Cina
  • Celana pantalon
  • Celana pencak silat.

Kemudian juga menggunakan kain-kain berupa : Kain pelekat, kain songket, kain telepuk, kain samarinda, kain mastuli, kain tandi, kain cindai, kain selendang, kain selendang manto, kain samping, kain selerang, kain dua lerang, kain tapih, kain panjang, kain basah, kain kerudung, kain bengkong, kain lampin, kain brokat, kain drill dan lain sebagainya.

Pakaian yang dikenakan dalam beberapa upacara antara lain sebagai berikut :
  • Baju kurung, berikut seluar atau celana untuk laki-laki
  • Baju kurung leher cekak musang berikut seluar untuk laki-laki
  • Baju kurung leher tulang belut, berikut seluar untuk laki-laki
  • Baju pesak sebelah dengan celananya, juga untuk laki-laki
  • Baju empat saku berikut seluar, untuk laki-laki
  • Baju kancing tujuh berikut seluar, untuk laki-laki
  • Baju kebaya labuh berikut kainnya, untuk perempuan
  • Baju kebaya berikut kainnya, untuk perempuan
  • Baju kurung singkat berikut kainnya, untuk perempuan
  • Baju belah panjang berikut kainnya, untuk perempuan
Perhiasan yang dikenakan dalam beberapa upacara, antara lain :
a. Bagi laki-laki
  • Untuk kepala yaitu kopiah (songkok, peci), serban, songkok haji, terbus, tanjak dengan bentuk dan namanya Balong Ayam, Menyongsong Angin, Elang Menyongsong Angin, Elang Melayang, Tebing Runtuh, Belah Mumbang, Tubang layar, Tanjak Sultan, Tanjak Temenggung, Tanjak Laksamana, Tanjak Datok, dan Tanjak Hulubalang.
  • Untuk di dada, badan, tangan serta jari, yaitu dokoh, kain selempang, selendang, gelang tangan, cincin, inai kuku di jari dan telapak tangan.
  • Untuk pinggang yaitu kain bengkong, pending, cembul cengkeh dan keris.
  • Untuk kaki yaitu gelang kaki, kasut (sandal, selipar, capal) inai kuku jari dan telapak kaki.
b. Untuk perempuan pada umumnya hampir sama hanya bedanya :
  • Memakai anting-anting.
  • Berambut panjang atau memakai sanggul. Sedangkan untuk sanggul dikenal beberapa bentuk ataupun jenisnya, yaitu : Sanggul Biasa (konde) Sanggul Dua, Sanggul Lipat Pandan, Sanggul Lintang, Sanggul Sikat, Sanggul Toncit, Sanggul Gelung.

Alat yang dipakai untuk sanggul antara lain sepit rambut, jala rambut, tusuk konde sanggul, kain kerudung, selendang manto dan selendang biasa.

Sedangkan untuk memakai kain dikenal pula cara mengikat kain, yaitu :
  • Ikat bahu, yaitu kain tapih yang diikat sebelah bahu, bahu kanan atau bahu sebelah kiri
  • Ikat biasa atau sabuk, dengan kain tapih
  • Ikat kembang, dengan membuat kain sebagai kembang
  • Ikat baju kurung
  • Ikat simpai


More about → 1. Perhiasan sehari-hari

9. PENGGALAN KESEMBILAN : Pakaian Melayu Tradisional dan perhiasannya.

Attayaya Butang Emas on 2009-04-05

9
PENGGALAN KESEMBILAN

Pakaian Melayu Tradisional dan perhiasannya


Baik dalam Sejarah Melayu atau Hikayat Hang Tuah cukup banyak gambaran yang menyatakan bahwa seseorang yang berhasil melaksanakan titah perintah Raja lalu “diberi Persalinan dengan selengkap pakaian “ (Shellabear, 1903:198) dan : memakailah pakaian yang indah-indah” (Kassim Ahmad, 1975:234). Akan tetapi, sulit mencari keterangan seperti apakah agaknya segala macam pakaian yang indah-indah dianugerahkan itu. Namun, undang-undang Melaka pasal yang pertama ada menyatakan tentang pakaian Raja-raja, dengan warna diraja (Royal Colour) yaitu warna kuning, dan larangan memakai kain tipis yang berbayang-bayang seperti kasa (Liauw Yock Fang, 1976 : 64). Lebih-lebih dalam adat raja-raja Melayu diperoleh keterangan yang cukup banyak tentang pakaian yang dipergunakan di dalam majelis (dalam arti pertamanya mengacu pada keindahan) dan patut dibawa ke dalam majelis (dalam arti kedua mengacu kepada makna perkumpulan orang ramai), sopan, dan merendahkan diri (Panuti Sudjiman, 1983).

Karya rujukan yang berasal dari daerah Riau ialah ”Tsamarat al-Mathlub fi Anuar al-Qulub” oleh Hitam Khalid bagian tentang adapt istiadat dan bekerja besar. (Samad Ahmad, 1985:41:50). Akan tetapi, penjelasan yang menggambarkan secara jelas tentang pakaian Melayu pada masa itu tak terperinci. Sebuah karya dari Siak Sri Indra Pura ”Bab al-Qawaid” pun tak banyak memberikan keterangan tentang pakaian di daerah itu kecuali suatu larangan datang ke balai tanpa baju kot, seluar pantalon, dan berkopyah.

Keterangan yang cukup memadai kembali terdapat dalam ”Kitab pengetahuan bahasa pada kata - kepala (entry) baju”. Pengarang kamus ensiklopedis monolingual itu menerangkan baju sebagai “Masyhur dipakai orang menutup badannya, serta jadi perhiasan, akan tetapi banyak macamnya dan masing-masing kesukaan orangnya dan masing-masing bangsanya’.

Dari keterangan tersebut dapatlah menjadi kesimpulan bahwa pakaian setidak-tidaknya mempunyai dua kegunaan, pertama untuk menutup badan dan kedua untuk perhiasan. Dalam kegunaan pertama terkandung arti pakaian sebagai alat untuk melindungi diri dari cuaca, dsb, sedangkan pada kegunaan yang kedua mengandung arti keindahan dan keadaan si pemakainya. The Encylopedia Americana 1970 yang menerangkan ”clothing sebagai benda untuk melindungi dari cuaca, mencapai batasan kesopanan, perhiasan pada tubuh, dan menjelaskan kedudukan seseorang dalam masyarakat”.

Selanjutnya kitab pengetahuan bahasa menyatakan pula sebagai berikut :

Adapun kelengkapan pakaian dan perhiasan secara tradisional bergantung kepada si pemakainya, untuk sehari-hari, baik berada di rumah maupun di luar rumah. Perihal yang sedemikian sudah dimulai sejak masih bayi, masa kanak-kanak, remaja dan dewasa maupun orang tua. Kesemuanya dibedakan pula pada umur dan juga pada laki-laki atau perempuan.

Biasanya memang telah ditetapkan perhiasan dan kelengkapan tradisional yang dipakai sehari-hari baik di dalam rumah ataupun di luar rumah, berbeda dengan waktu upacara. Perihal yang sedemikian itu jelas kelihatan, terutamanya dalam kekhasannya, seperti:
  1. Gurita, sejenis barut yang dipakai pada bagian perut bayi. Kegunaannya supaya si bayi tidak mudah masuk angin juga menjaga pusat si bayi kerena habis dipotong tali pusatnya.
  2. Baju belah, sejenis baju untuk bayi yang tidak memakai kancing, hanya diikat saja, dipakai setelah si bayi memakai gurita.
  3. Kain bedung, digunakan sebagai pembalut bayi, kegunaannya supaya kaki dan tangannya masih lunak itu tidak menjadi bengkok. Biasanya digunakan setelah bayi dimandikan. Kalau ia kencing hanya kain bedung ini yang diganti.
  4. Barut gantung, kain berbentuk segi tiga sama sisi yang juga disebut otto. Barut ini biasanya dipakai setelah anak pandai berjalan. Kemudian barulah dikenakan dengan pakaian yang disesuaikan dengan jenis kelamin lelaki atau perempuan. Di sinilah baru jelas kelihatan kanak laki-laki atau perempuan.
  5. Baju monyet, yaitu sejenis baju dengan celana pendek bersatu, di mukanya bersaku untuk menyimpan makanan atau benda lainnya. Untuk anak perempuan ada kalanya juga memakai baju monyet. Sekarang baju monyet sudah jarang sekali kelihatan ataupun dikenakan pada anak-anak.
  6. Celana basah (basahan) dipakai oleh orang lelaki dewasa untuk bekerja di kebun atau nelayan. Pakaian kerja ini dilengkapi dengan baju yang biasanya terbuat dari kain belacu dan berlengan pendek. Untuk perempuan dewasa juga memakai kain sarung dengan baju kebaya pendek. Prihal sedemikian sesuai dengan kegunaannya untuk melakukan pekerjaan baik di dalam rumah maupun di luar rumah.
  7. Kain sarung biasanya disebut kain pelikat untuk dipakai laki-laki, untuk perempuan memakai sarung polos atau batik sarung, yang memakai punca atau kepala kain.
  8. Baju kurung, yaitu baju yang dipakai laki-laki atau perempuan yang disebut juga baju gunting Cina untuk laki-laki. Baju ini biasanya juga dipakai setelah badan bersih untuk bersiap-siap menunaikan sholat atau menerima tamu yang berkunjung ke rumah.
  9. Tutup kepala, untuk laki-laki disebut kopiah, songkok, peci. Sedangkan bagi perempuan menggunakan sepotong kain yang disebut selendang. Pakaian yang dipakai orang tua sama yang dipakai oleh orang dewasa, hanya pada kain pelekat dewasa (muda) hanya selerang (satu lerang) saja, sedangkan untuk orang tua menggunakan kain dua lerang (labuh, panjang). Sedangkan yang lainnya hampir sama. Tetapi untuk orang lelaki yang telah pergi haji menggunakan peci haji atau surban haji, begitu juga dengan pihak perempuan.


More about → 9. PENGGALAN KESEMBILAN : Pakaian Melayu Tradisional dan perhiasannya.