c. Senjata yang bergerak sendiri

Attayaya Butang Emas on 2009-12-30

Menurut Fachruddin (1974-1992) yang dimaksud dengan senjata dapat bergerak sendiri adalah senjata yang dirancang atau diperbuat sedemikian rupa yang dalam penggunaannya diletakkan pada suatu tempat tertentu. Pada saat yang tepat senjata itu bergerak dengan sendirinya; mengancam, mengurung dan menjerat sasaran. Dalam cara kerjanya, senjata ini bersifat tiada bergerak, artinya dia tidak bergerak bila tidak ada mangsa yang menyentuhnya, tetapi kalau tersentuh maka senjata itu akan bergerak dengan sendirinya sekaligus mengenai mangsanya. Senjata yang dimaksudkan adalah perangkap.

1. Panah
Panah juga dikenal sebagai salah satu jenis senjata tradisional yang digunakan oleh masyarakat Melayu. Panah ini berfungsi untuk menyerang lawan atau musuh yang dihadapi. Pada masa lalu, panah merupakan salah satu alat yang digunakan masyarakat Melayu guna melawan pasukan Belanda. Pada saat ini, panah lebih banyak digunakan untuk memburu binatang.

2. Sumpitan
Sumpitan merupakan senjata tradisional yang terbuat dari bambu dan anaknya dari kayu. Anaknya dimasukkan kedalam induknya. Cara menggunakannya adalah dengan cara meniup dari salah satu ujung bambu. Sumpitan lebih dikenal oleh masyarakat Melayu sebagai salah satu alat menangkap ikan.

3. Lastik (Ketapel)
Lastik dikenal sebagai salah satu alat untuk memburu binatang oleh anak-anak. Alat ini juga berfungsi untuk menjatuhkan buah-buahan yang batangnya tidak bisa dipanjat karena tinggi dan besar. Lastik induknya terbuat dari cabang kayu dan anaknya terbuat dari batu.

4. Perangkap
Perangkap lebih banyak digunakan untuk menjerat binatang buruan. Perangkap ini terdiri atas berbagai jenis sesuai bahan baku pembuatannya. Ada perangkap yang terbuat dari tali dan ada juga yang terbuat dari rotan dan kayu. Perangkap biasanya dipakai ditengah hutan ditempat yang biasanya dilalui oleh binatang buruan, seperti rusa, kijang, pelanduk dan landak. Adakalanya perangkap dipasang di kebun oleh petani untuk menjerat hewan yang merusak atau memakan tanaman sayur-sayuran di kebun.

Disamping ketiga bentuk di atas, senjata tradisional masyarakat Melayu tersebut juga bisa digunakan untuk kegiatan yang berhubungan dengan mencari keperluan hidup.
Adakalanya, senjata guna memenuhi keperluan hidup ini juga digunakan untuk menyerang. Serampang, tempuling dan pisau, beralih kegunaannya ketika menghadapi lawan yang datang menyerang. Selain itu, ada juga alat yang untuk menyerang digunakan untuk memenuhi keperluan hidup. Keris yang bernilai religius dan magis, dijadikan alat oleh para dukun tradisional (bomo) guna menyembuhkan seseorang dari penyakitnya. Demikian juga dengan parang, disamping untuk menyerang, juga digunakan untuk memotong dan membelah kayu keperluan memasak di dapur.

Syahdan berikut ini hendaklah membicarakan perkara sebuah senjata yang menjadi kebanggaan bagi orang Melayu dahulunya, dan yang sekarang tetap mempunyai nilai tersendiri, yaitu Keris.



More aboutc. Senjata yang bergerak sendiri

b. Senjata untuk mempertahankan diri

Attayaya Butang Emas on 2009-12-28

Senjata yang digunakan masyarakat Melayu untuk mempertahankan diri dari serangan lawan adalah perisai atau temeng, ini bukanlah senjata tradisional asli dari masyarakat Melayu. Tidak ada kejelasan apakah perisai atau tameng ini berasal dari mana atau kapan masuk ke tanah Melayu. Namun demikian, masyarakat Melayu mengenalnya sebagai salah satu senjata guna mempertahankan diri.

Senjata guna mempertahankan diri lainnya yang digunakan masyarakat Melayu adalah baju kulit. Baju kulit ini banyak digunakan penduduk asli suku laut guna meredam serangan lawan dan menghindarkan diri dari terkaman hewan buas. Baju kulit pada umumnya terbuat dari kulit sejenis tumbuhan yang keras. Kulit pohon tersebut ditumbuk sehingga pipih dan dipotong seperti baju.






More aboutb. Senjata untuk mempertahankan diri

a. Senjata Untuk Menyerang

Attayaya Butang Emas on 2009-12-26

1. Keris *)
Keris merupakan salah satu jenis senjata yang digunakan masyarakat Melayu guna menyerang lawan yang dihadapi. Keris yang ada pada masyarakat Melayu bukanlah senjata tradisional asli. Keris ini berdasarkan catatan sejarah berasal dari masyarakat Jawa. Pada zaman dahulu, kerajaan-kerajaan yang ada di tanah Melayu berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Utusan-utusan dari kerajaan Majapahit sering datang kewilayah-wilayah kerajaan Melayu yang ada, salah satunya membawa cindera mata dalam bentuk keris.

Berdasarkan dari cendera mata ini maka masyarakat Melayu mengenal keris. Salah satu jenis keris yang ada pada masyarakat Melayu adalah yang berbentuk lurus. Keris ini menjadi pegangan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Sementara itu permaisuri juga memegang sebuah keris. Jadi keris ini adalah sepasang.

*) :
Khusus untuk KERIS akan diperbincangkan tersendiri secara khusus yang lebih panjang dan agak lengkap

2. Pedang
Pedang merupakan senjata tradisional lainnya guna menyerang bagi masyarakat Melayu. Kalau keris cara penggunaanya dengan menikam ke tubuh lawan, pedang cara penggunaannya lebih bermacam-macam, seperti dengan menebaskan dan mencincang tubuh lawan. Selain itu, ada juga cara penggunaan pedang dengan cara menusukkan ke tubuh lawan atau musuh yang dihadapi.

Berdasarkan dari sejarah keberadaan pedang ini pada masyarakat Melayu, pedang sudah dikenal sejak masuknya pengaruh Islam ke tanah Melayu. Dalam perjalanannya ke tanah Melayu, para saudagar Arab sering membawa pedang guna menyerang atau mempertahankan diri dari serangan lawan. Bentuk pedang dari tanah Arab ini melengkung. Pada masa colonial Belanda, para opsir segeri Belanda ini juga membawa-bawa pedang di tangannya guna menyerang dan menakut-nakuti masyarakat Melayu. Karena makin banyak pedang yang beredar di tanah Melayu, maka masyarakat mengetahui bahwa senjata ini merupakan salah satu senjata guna menyerang.

Dalam perkembangannya, masyarakat Melayu mengubah suai pedang Arab dan Belanda ini. Pedang yang digunakan masyarakat Melayu kini merupakan hasil buatan pandai besi Melayu. Bentuknya lebih sederhana, berbentuk pipih dan sangat tajam.

3. Tombak
Disamping keris dan pedang, tombak juga merupakan senjata tradisonal yang banyak dimiliki oleh masyarakat Melayu. Pada dasarnya, tombak ini merupakan senjata tradisional pertama yang dikenal dan digunakan. Tombak ini tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menyerang, namun juga dapat digunakan untuk berburu.

Pada masa sekarang, tombak tidak lagi digunakan masyarakat Melayu guna menyerang atau mempertahankan diri. Kegunaan tombak sudah beralih sebagai senjata untuk memburu binatang, terutama ikan . Masyarakat Melayu yang hidup sebagai nelayan, dalam pekerjaannya menangkap ikan, disamping memiliki jala dan pancing, juga memiliki tombak guna menangkap ikan.

4. Serampang
Serampang pada dasarnya adalah senjata tradisional yang sejenis dengan tombak. Serampang ini ada yang bermata satu, dua, dan tiga. Namun yang lebih terkenal pada masyarakat Melayu adalah serampang bermata tiga (berbentuk seperti trisula). Senjata ini pada asalnya adalah sebagai penangkap ikan bagi para suku laut yang berdomisili di sekitar Kepulauan Riau. Pada saat ini juga digunakan pada masyarakat Melayu. Bahan bakunya terdiri dari besi dan kayu. Ujung serampang terbuat dari besi runcing dan pegangannya terbuat dari kayu atau bambu.

5. Tempuling
Tempuling juga merupakan senjata tradisional yang berasal dari suku laut. Senjata ini sejenis dengan tombak atau serampang bermata satu. Perbedaannya hanya karena pada pangkal mata tempuling diberi atau diikat dengan tali. Ujung tali yang lain dipegang oleh orang yang menggunakan atau rekan kerjanya. Pemberian tali dimaksudkan agar hewan buruan dapat diikuti kemana arah larinya dan apabila sudah lemas dapat segera diseret dan diambil. Tempuling biasanya digunakan nelayan untuk menangkap ikan-ikan yang besar.

6. Parang
Jenis senjata ini cara penggunaannya adalah dibacokkan atau diayunkan kepada yang dihadapi. Sangat jarang penggunaannya dengan menusuk seperti keris dan pedang. Hal ini mengingat parang adalah jenis senjata bermata satu dan sisi atau mata lainnya tumpul. Sisi yang tumpul tidak digunakan sama sekali. Parang ini ada yang panjang bentuknya namun ada juga yang pendek.

Selain untuk menyerang parang juga digunakan sebagai alat untuk mencari nafkah. Para peramu biasanya menggunakan parang untuk memotong kayu-kayu di hutan. Setelah dipotong-potong dan di belah, kayu ini disamping digunakan sebagai keperluan sendiri, sisanya dijual. Parang sangat berguna bagi peramu untuk memenuhi keperluan hidup.




More abouta. Senjata Untuk Menyerang

13. PENGGALAN KETIGABELAS :
Senjata Tradisional Masyarakat Melayu

Attayaya Butang Emas on 2009-12-24

13
PENGGALAN KETIGABELAS

Senjata Tradisional Masyarakat Melayu


Senjata yang dipergunakan masyarakat Melayu sebenarnya sudah dikenal lama baik yang diperbuat secara sederhana sampai kepada senjata-senjata yang dikenal sekarang ini. Juga diketahui bahwa peralatan senjata-senjata tersebut ada yang dikenal sebagai senjata untuk menyerang, mempertahankan diri termasuk juga senjata yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti untuk berburu dan lain sebagainya.

Menurut Muhammad Usman dan kawan-kawan (1987/1988,:13) senjata adalah sejenis alat yang dibuat oleh manusia untuk keperluan dalam menghadapi lingkungan di mana manusia itu berada. Biasanya senjata dipergunakan untuk membela diri, kepentingan berperang, menyerang lawan dan juga berkenaan memburu binatang.

Konon ketika masyarakat Melayu belum mengenal logam untuk bahan membuat senjata, bahan yang dipergunakan adalah batu yang dibentuk sedemikian rupa sehinggalah pekerjaan kepada pembuatan senjata itu sangat sederhana. Tetapi kemudiannya seiring kepada perjalanan waktu, memasuki kepada masa Sriwijaya dan kemudian Majapahit, senjata yang dibuat dan digunakan oleh masyarakat Melayu sudah beragam dan lebih baik buatannya.

Senjata yang diperbuat kemudiannya dari logam telah beragam seperti tombak, golok (parang), keris dan lain sebagainya yang dapat dipergunakan oleh masyarakat Melayu guna menyerang, mempertahankan diri dan juga untuk memenuhi keperluan hidup.

Masuknya kebudayaan Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat Melayu pada kira-kira abad ke 15 menyebabkan masyarakat Melayu mengenal senjata seperti pedang. Kemudiannya ketika masuknya pemerintah kolonial, barulah dikenal senjata lainnya seperti senapan, meriam dan lain sebagainya.

Dari beberapa jenis senjata tersebut pada saat sekarang ini, adalah yang tidak dipergunakan lagi dan kemudiannya punah. Sedangkan beberapa senjata yang masih dipergunakan adalah parang,serampang, tombak dan juga keris, malah ada yang hanya dijadikan pajangan ataupun barang pusaka.

Bentuk senjata yang diciptakan pada dasarnya dipengaruhi oleh keperluan manusia itu sendiri untuk tujuan apa dan bagaimana. Disamping bentuk, senjata juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan teknologi manusia pada saat senjata tersebut dibuat. Oleh karena itu terdapat berbagai ragam bentuk senjata dengan segala kegunaannya menurut lingkungan di mana manusia tersebut bertempat tinggal. Masing-masing senjata tersebut terdiri dari beberapa unsur baik dari segi jumlah unsur yang terkandung di dalamnya maupun dari segi mutu yang menyangkut pada bahan, cara pembuatan, ragam hias dan sebagainya. (Sumintarsih dkk, 1990:121).

Berkenaan dengan perihal yang sedemikian, masyarakat Melayu mengembangkan bentuk-bentuk senjata yang khas sesuai pula dengan kebudayaan yang dimiliki. Bentuk senjata yang dibuat disesuaikan dengan tujuan yang hendak dilakukan atau dicapai. Misalnya keris, senjata untuk menyerang ini dibuat runcing dan matanya tajam. Bentuk ini dibuat supaya mudah mengenai sasaran dan dapat mematikan atau melumpuhkan lawan. Demikian juga senjata yang diperbuat untuk kegunaan keperluan hidup seperti parang dan pisau. Bentuknya dibuat pipih dan matanya diasah hingga tajam supaya dapat memotong atau membelah hewan, kayu, buah-buahan, sayur-sayuran dan benda-benda lainnya.

Adakalanya senjata tradisional yang dibuat masyarakat Melayu bentuknya sederhana. Dikatakan sederhana karena memang terbuat dari bahan serta cara pembuatannya yang sedehana, seperti panah, sumpitan, bahkan lastik (ketapel).

Disamping senjata sederhana, ada juga senjata jenis tradisioanal yang bentuk dan cara pembuatannya rumit. Selain itu juga dilengkapi dengan sarungnya. Hal ini dilihat dari cara pembuatan keris, pedang dan tombak. Pada senjata ini biasanya terdapat ukiran, yaitu pada tangkai, bilah dan sarungnya. Tidak semua pandai besi mampu membuat senjata yang mempunya sarung dan ukiran. Diperlukan keahlian khusus bagi pandai besi untuk membuatnya.

Pada keperluan tertentu, misalnya guna menusuk atau menikam lawan, senjata tradisional yang dibuat untuk seperti ini adalah yang pendek, ringan dan tidak begitu besar. Ini dimaksudkan agar mudah menggunakannya dan tidak perlu menggunakan tenaga yang besar dalam menggerakkan senjata tersebut. Dalam hal ini senjata yang biasa digunakan adalah keris. Karena sesuai dengan fungsinya keris merupakan senjata untuk menikam atau menusuk lawan.

Ditinjau dari bentuk fisiknya, ada kalanya senjata yang dibuat bentuknya lurus, bengkok dan berlekuk. Senjata yang bentuknya lurus seperti pedang dan tombak. Ada juga keris yang dibuat bentuknya lurus. Senjata yang bentuk fisiknya bengkok adalah parang dan panah. Sementara itu, senjata yang bentuknya berlekuk diwakili oleh keris. Dari bentuk fisik senjata tradisional ini, tercermin cara penggunaannya dan untuk jenis pekerjaan apa digunakan.

Selain bentuk tersebut diatas, ada jenis senjata tradisional yang dibuat atau dilengkapi dengan hiasan. Bentuk atau motif tertentu diukir pada bagian senjata sehingga memperindah bentuk badan senjata. Ukiran yang terdapat pada senjata, terutama keris, pedang, dan tombak adakalanya berasal dari sepuhan emas atau logam berharga lainnya. Bentuk senjata seperti ini biasanya hanya dimiliki oleh orang kaya atau kamu bangsawan.

Dilihat dari mata atau sisi senjata, pada dasarnya senjata tradisional masyarakat Melayu dibuat bermata satu, dua, dan ada juga bermata tiga. Dari bentuk mata senjata tradisional ini terpancar cara penggunaan dan keefektivitasan pekerjaan orang yang menggunakan senjata tersebut. Senjata tradisional yang bermata satu terlihat dari berbagai jenis pisau dan parang. Senjata yang bermata dua adalah keris, pedang dan tombak. Sementara itu senjata yang bermata tiga adalah serampang.

Untuk pekerjaan memburu hewan atau menangkap ikan, bentuk senjata yang dibuat disesuaikan dengan pekerjaan yang dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar hewan yang diburu atau ikan yang hendak ditangkap segera didapatkan. Untuk pekerjaan seperti ini, senjata yang digunakan harus bermata tajam dan runcing serta bisa digerakkan sejauh mungkin. Pada masyarakat Melayu bentuk senjata seperti ini diwakili oleh tombak yang dapat digerakkan dengan cara melemparkannya pada sasaran yang ditombak. Bentuk tombak pada masyarakat Melayu ada yang bermata satu (tempuling) dan ada yang bermata tiga seperti trisula (serampang).

Ketentuan Sebagai Senjata
Berdasarkan dari tujuan pembuatan dan penggunaan senjata. Senjata-senjata tradisional masyarakat Melayu pada hakekatnya dapat dibagi atas tiga kategori, yaitu;
• Senjata untuk menyerang
• Senjata untuk mempertahankan diri, dan
• Senjata yang bergerak sendiri,
Berikut diuraikan satu-persatu ketentuan senjata tradisional masyarakat Melayu sesuai dengan tujuan penggunaannya.




More about13. PENGGALAN KETIGABELAS :
Senjata Tradisional Masyarakat Melayu

4. Peralatan Pertukangan

Attayaya Butang Emas on 2009-12-22

Diantara kemahiran yang juga dimiliki oleh orang Melayu Kepulauan Riau ialah keahlian bertukang. Dalam bertukang digunakan berbagai peralatan yang biasa disebut alat tukang. Alat-alat tersebut, antara lain, diperkirakan seperti berikut ini :

  • Kapak tukang berbeda ukurannya dengan kapak untuk berladang atau untuk menebang pohon kayu atau pohon kelapa (kapak penebang). Kapak tukang berukuran kecil dan berfungsi untuk menarah papan atau beruti/broti dan kegunaan lain seperti meruncingkan tiang pancang.

  • Cetai, alat ini memiliki tangkai seperti kapak, tetapi matanya tak seperi kapak. Matanya mirip cangkul, tetapi tangkainya tak berlubang seperti mata cangkul. Mata cetai bertangkai dan tangkai itulah yang disimpai dengan rotan pada tangkai kayu. Pemasangan mata cetai ini pun mirip dengan pemasangan mata cangkul. Lebar mata cetai hampir sama dengan mata ketam. Akan tetapi, tidak sepanjang mata ketam. Mata cetai memiliki panjang kira-kira 5-7 cm. Alat ini biasanya digunakan untuk melobangi jongkong yang terbuat dari batang kayu. Secara umum, cetai ini digunakan untuk menarah.

  • Ketam digunakan untuk mengetam atau melicinkan permukaan papan atau beruti/broti. Ketam berbentuk persegi panjang dan berlubang segi empat di tengahnya. Salah satu sisi lubang itu memiliki kemiringan 60-75 derajat. Di sisi inilah dipasang mata ketam yang terbuat dari besi bercampur baja. Mata ketam dipasang menggunakan pasak atau baji yang berfungsi sebagai pengunci mata ketam agar tak terlepas. Ketam terbagi atas beberapa jenis. Diantaranya ialah ketam pelicin, ketam pelurus, ketam pelidah atau ketam pembuat lidah papan, ketam pembuat alur, ketam penggili atau ketam pelicin untuk kayu bulat atau kayu yang tidak memiliki permukaan lebar. Ukuran ketam pun bermacam-macam dan sangat bergantung kepada jenis ketamnya. Ketam pelurus atau ketam pelidih dan ketam alur, biasanya berukuran 2-2,5 kali ukuran ketam pelicin. Ketam penggili berukuran kecil dan semuanya, baik sarang maupun matanya, terbuat dari besi.

  • Pahat digunakan untuk membuat lubang pada tiang atau bahan bangunan yang terbuat dari kayu. Ukuran pahat ini pun beraneka ragam sesuai dengan keperluannya. Biasanya, ukuran ketam dimulai dari 0,5 inci – 1,5 inci. Akan tetapi ada ukuran yang lebih kecil. Pahat terbuat dari besi yang kuat, mungkin saja bercampur baja. Pahat memiliki tangkai dari kayu yang relatif tahan terhadap palu karena penggunaannya menggunakan palu.

  • Gergaji yang digunakan terbagi dua, yaitu gergaji pembelah dan gergaji pemotong. Kedua jenis gergaji ini, bentuknya relatif sama. Selain itu, ada bentuk gergaji yang memiliki tangkai yang berbeda daripada kedua jenis gergaji yang dideskripsikan di atas. Tangkainya di buat sendiri oleh tukang dan bentuk tangkainya segi empat. Ukuran tangkainya kira-kira 30 x 60 cm. Ukuran tangkai ini disesuaikan dengan mata gergaji yang berukuran kira-kira 60 cm. Gergaji ini digunakan untuk membelah papan. Sebetulnya, gergaji dapat saja diubah fungsinya dari gergaji pembelah menjadi gergaji pemotong dengan cara mengubah bentuk mata gergajinya.

  • Kikir adalah alat pertukangan yang digunakan untuk mengasah mata gergaji yang tumpul. Kikir terbuat dari baja yang bergerigi halus. Bentuk kikir, biasanya segitiga, tetapi ada juga bentuknya segi empat pipih. Kikir segi empat ini tidak digunakan untuk mengasah gergaji. Biasanya digunakan untuk memperhalus tangkai parang yang terbuat dri kayu atau dapat juga digunakan untuk mengasah parang atau cangkul. Kikir diberi tangkai kayu sebagai tangkai atau pegangan.

  • Baiz (pres) terbuat dari besi yang berbentuk batang dan sepanjang batang diberi lubang sebagai tempat penahan pasak kunci. Di atas batang besi terdapat alat penjepit yang dapat digerakkan ke ukuran kecil dan ukuran besar. Baiz digunakan untuk merapatkan beberapa keping papan yang sudah diketam. Biasanya, papan yang dirapatkan ini untuk pintu rumah atau pintu lemari.

  • Sipat atau benang jenang (benang arang) dibuat dari kayu yang diberi lubang di tengahnya. Di dalam lubang ini dipasang penggulung benang. Lubang juga berfungsi sebagai tempat memasukkan tinta, biasanya tinta cina. Tinta ini sebagai penggaris untuk menentukan kelurusan sebuah papan atau beruti yang akan diketam atau dibelah dengan gergaji.

  • Timbang air, alat ini digunakan untuk menentukan kedataran dan ketegaklurusan sebuah kayu, misalnya kusen pintu. Dengan timbangan ini dapat diketahui apakah kusen sudah tegak lurus atau bagian kusen melintang sudah datar atau seimbang antara ujung kiri dan ujung kanan.

  • Tukul atau palu digunakan untuk memantak paku. Tukul ini terbuat dari besi di bagian kepala dan diberi tangkai kayu. Tukul yang semuanya terbuat dari besi, baik kepala maupun tangkainya, disebut martil. Selain berfungsi sebagai pemantak paku, tukul juga dapat berfungsi sebagai pencabut paku.

  • Kuku kambing atau Linggis. Alat ini untuk mencabut paku. Alat ini semuanya terbuat dari besi.
  • Bar adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengebor kayu. Alat ini terdiri atas dua bagian, yaitu alat pemutar (bor) dan mata bor yang berbentuk spiral yang terbuat dari besi baja.

Gambaran di atas sudah mengetengahkan sebagian peralatan rumah tangga dan perlengkapan lain yang biasa digunakan orang Melayu Kepulauan Riau. Tentu saja uraian tersebut tidak mencakup semua peralatan rumah orang melayu. Bagaimanapun dengan paparan itu diharapkan pembaca memperoleh maklumat yang berarti tentang peralatan yang pernah dan masih digunakan oleh orang Melayu Kepulauan Riau hingga setakat ini.






More about4. Peralatan Pertukangan

3. Peralatan Berburu

Attayaya Butang Emas on 2009-12-20

Alat-alat yang dipakai oleh masyarakat untuk berburu, antara lain: Lembing, Lapun, jerat, getah kayu, lastik. Peralatan tersebut dipergunakan dengan cara yang berbeda, seperti yang diperkatakan berikut:

  • Lembing yang seluruhnya terbuat dari besi (baik mata maupun tangkainya terbuat dari besi). Lembing biasanya, digunakan untuk berburu babi dan binatang liar lainnya di hutan. Lembing terbagi atas dua macam :
    1. Lembing yang seluruhnya terbuat dari besi (baik mata maupun tangkainya terbuat dari besi).
    2. Lembing yang matanya saja terbuat dari besi, sedangkan tangkainya terbuat dari kayu bambu panjang (kira-kira 2,5 m).

  • Lapun ialah alat berupa jaring yang terbuat dari benang, rotan atau akar. Lapun dibuat lebih besar sedikit saja dari sarang burung, di tempatkan di atas sarang burung, dan diberi tali atau benang panjang sebagai alat penarik atau penyentak dari jauh. Lapun biasanya digunakan untuk menangkap burung.

  • Jerat ialah alat penangkap binatang yang terbuat dari tali, rotan atau akar yang dibentuk melingkar di atas tanah atau di atas dahan kayu tempat hewan selalu melintas. Jerat juga diberi tali panjang sebagai alat penarik atau penyentak. Jerat ini dipergunakan untuk menangkap ayam. Jerat dapat juga dibuat dari bambu atau kayu yang memiliki daya pegas. Jerat seperti ini digunakan untuk menangkap tupai atau kera. Biasanya, jerat juga menggunakan tali yang dibentuk melingkar untuk menjerat mangsa. Kayu atau bambu, biasanya, akan melenting bila diinjak bagian tertentu dan akan menyentak tali melingkar tadi sehingga mangsanya terjerat.

  • Getah kayu ialah alat yang dipergunakan untuk menangkap burung. Getah yang dipergunakan biasanya getah pulai. Getah ini diolah sedemikian rupa sehingga memiliki daya lekat yang kuat . getah dioles di sebuah lidi ijuk dan dipasang di atas ranting kayu tempat burung biasa mencari makan atau tempat burung biasa mencari minum atau tempat burung biasa tidur atau sekedar hinggap.

  • Lastik (ketapel) dapat juga digunakan sebagai alat berburu burung. Lastik terbuat dari karet gelang maupun karet dan bekas yang dipotong menurut ukuran yang sesuai. Karet ini diikat pada kayu bercabang dua yang berfungsi sebagai tangkai plastik. Pada bagian lain, karet diikat pula pada potongan kulit sepatu bekas yang berfungsi sebagai tempat peluru (biasanya dari kerikil dan sebagainya).




More about3. Peralatan Berburu

2. Peralatan Pertanian

Attayaya Butang Emas on 2009-12-17

Selain dari bekerja sebagai nelayan, masyarakat Kepulauan Riau juga ada yang bertani, khususnya berkebun. Untuk berkebun biasanya menggunakan peralatan antara lain sebagai berikut :
a. Cangkul
Alat untuk menggali dan membalik tanah, yang terbuat dari lempengan besi dan diberi tangkai (disebut hulu cangkul) dari kayu sebagai pegangan, yang panjangnya kira-kira 100 cm – 150 cm. Bagian sebelah bawah lempengan besi cangkul ditajamkan dan disebut mata cangkul.

b. Tanjak
Alat yang terbuat dari besi yang matanya juga tajam dan berukuran lebih kurang separuh dari lebar cangkul yang digunakan untuk membersihkan rumput. Tanjak juga berhulu seperti cangkul, yang panjangnya pun sepanjang hulu cangkul.

c. Cakar Ayam
Alat untuk mengarai atau meratakan tanah, rumput, lalang dan sebagainya yang telah dicangkul, yang terbuat dari besi yang dibentuk seperti sikat (sisir) yang jarang-jarang dan matanya agak runcing dan diberi tangkai dari kayu sebagai pegangan (disebut cakar ayam), yang panjangnya lebih kurang 100 cm – 150 cm. Alat ini ada juga yang menyebutnya sebagai alat penggaru.

d. Parang
Alat pengerat atau pemotong yang terbuat dari bilah besi yang agak tebal. Bagian sebelah bawahnya untuk mengerat (memotong) disebut mata parang di asah sehingga tajam, sedangkan bagian sebelah atasnya disebut punggung parang tak di asah sehingga tetap tebal (tumpul). Parang juga diberi tangkai atau hulu sebagai pegangan yang terbuat dari kayu, tetapi hulunya pendek saja lebih kurang segenggaman lebih yang dibentuk agak bengkok ujungnya agar tak lepas ketika dipegang. Parang ini banyak pula jenisnya, antara lain, parang pendek atau parang pandak ialah parang yang panjangnya lebih kurang 40 cm – 50 cm, parang panjang ialah parang yang panjangnya lebih kurang 75 cm – 80 cm, parang koting ialah parang yang tak berhulu, parang bengkok ialah parang bentuk bilah besinya bengkok, dan parang kompot ialah parang yang bilah besinya patah sebagian. Parang juga dipakai sebagai alat dapur, terutama parang pendek.

e. Pisau
Alat pengiris yang terbuat dari bilah besi tipis yang bagian bawahnya tajam (disebut mata pisau) dan bagian atasnya tumpul (disebut punggung pisau). Pisau juga diberi hulu sebagai pegangan, yang terbuat dari kayu (sekarang ada juga hulu pisau yang terbuat dari plastik dan sebagainya). Dalam bidang pertanian digunakan jenis pisau antara lain, pisau biasa yaitu pisau yang umumnya dipakai dalam pertanian; pisau raut yaitu pisau yang digunakan untuk meraut buluh (bambu), rotan dan sebagainya; dan pisau getah atau pisau sedap yaitu pisau untuk menderes atau menyadap getah (karet). Selain itu ada pisau dapur, pisau lipat, pisau cukur dan sebagainya.

f. Kapak
Alat untuk membelah kayu atau menebang pohon yang terbuat dari logam yang ujung bawahnya tajam (mata kapak), dan bagian atasnya tumpul (punggung kapak). Kapak juga diberi tangkai (hulu kapak) yang umumnya terbuat dari kayu, yang panjangnya bervariasi menurut besar kecilnya mata kapak.

g. Baji
Sejenis pasak yang terbuat dari kayu atau besi yang digunakan sebagai penyendil untuk memudahkan pembelahan kayu.

h. Perjang
Alat untuk membuat lubang di tanah yang terbuat dari besi, sama ada pipih atau setengah bulat, bermata tajam, dan berhulu dari kayu atau besi.




More about2. Peralatan Pertanian

1. Peralatan Menangkap Ikan

Attayaya Butang Emas on 2009-12-12

Peralatan untuk menangkap ikan yang biasa digunakan oleh orang Melayu terdiri atas beberapa jenis, yaitu :

a. Serampang
Suatu alat yang dapat digolongkan dalam jenis tombak, tetapi bermata tiga dan bertangkai bambu yang berukuran panjang kira-kira 2-5 meter. Alat ini digunakan untuk menombak ikan yang sedang berenang atau bersembunyi didalam tumbuh-tumbuhan laut.

b. Lukah
Adalah alat penangkap ikan yang terbuat dari buluh atau rotan yang diraut dan dijalin sedemikian rupa berbentuk bulat panjang. Bagian depannya (tempat ikan masuk) dibuat agak lebih besar dari bagian belakang. Bagian belakang dibuat agak tertutup sehingga ikan yang sudah masuk tak dapat keluar. Panjang Lukah kira-kira 1,25 m – 1,50 m.

c. Tempuling
Suatu alat yang bermata seperti serampang, tetapi hanya satu buah. Alat ini diberi tangkai kayu kira-kira 15-20 cm, yang berfungsi sebagai tempat mengikatkan tali yang panjangnya mencapai 100 meter. Ketika digunakan, tangkai yang pendek ini disambung dengan tangkai bambu yang berukuran kira-kira 4-5 meter, tetapi tangkai bambu tidak diikat dengan tali. Tangkai bambu hanya berfungsi sebagai alat yang mempermudah menombak ikan. Jika sudah ditombak, bambunya dilepas atau terlepas dengan sendirinya.

d. Jala
Alat penangkap ikan berbentuk jaring bulat dengan diameter kira-kira 1,5 meter. Ditengahnya diikat seuntai tali sebagai alat pegangan bagi si pemakai. Dibagian bawah atau sekeliling pinggir terdapat rangkaian cincin timah atau rangkaian kulit gonggong (sejenis kerang) yang berfungsi sebagai pemberat. Cara penggunaannya ialah ditebarkan ke sekumpulan ikan dan atau udang yang sedang berenang. Jala hanya digunakan diperairan sekitar pantai (tak jauh dari pantai).

e. Pukat
Sejenis alat penangkap ikan yang berbentuk jaring panjang mencapai 50 meter dan lebar kira-kira 3,5 – 4 meter. Sebagaimana hal jala, pukat pun diberi serangkaian cincin timah atau kulit gonggong sebagai pemberat. Cara penggunaannya ialah dibentangkan di dalam laut yang agak dalam, yaitu kira-kira 4-5 meter, dan ditarik dengan perahu atau kapal nelayan.

f. Jaring
Sejenis alat yang berbentuk jaring panjang hampir sama dengan pukat. Cara penggunaannya saja yang berbeda dengan pukat, yaitu dengan cara membentangkannya di laut tanpa ditarik oleh perahu atau kapal.

g. Empang
Alat penangkap ikan berupa jaring berukuran panjang 20-40 meter. Alat ini dipasang ketika air pasang naik. Ketika air surut empang angkat lagi. Biasanya, empang digunakan untuk menangkap ikan belanak dan ikan-ikan pantai lainnya karena ikan-ikan itu selalu mengikuti air pasang.

h. Kedik atau Pancing
Suatu alat penangkap ikan yang terdiri atas 3 – 5 mata pancing yang diikat bergabung dan diikat pula dengan tali pancing. Ada juga kedik yang menggunakan satu mata pancing. Penggunaanya adalah dengan cara meletakkan umpan pada mata pancing, kemudian melemparkannya atau mencampakkan mata pancing yang telah diberi umpan ke dalam laut dan ditarik sentakan sehingga menarik perhatian ikan.

i. Rawai
Alat penangkap ikan yang terbuat dari tali yang diberi rangkaian mata pancing. Rawai ini ditarik oleh perahu atau kapal. Ketika sedang menarik itulah, biasanya ikan-ikan akan mengejar mata pancing yang berkilat-kilat di dalam air yang menyerupai mangsa ikan. Ada juga rawai yang tak ditarik, tetapi direntangkan ke dalam laut beberapa waktu, kemudian dibongkar atau diangkat untuk mengambil hasil tangkapan.

j. Bubu
Alat penangkap ikan yang terbuat dari rotan atau kawat kasar yang dijalin dan diberi lubang yang berfungsi sebagai pintu masuk ikan-ikan yang akan memakan umpan di dalam bubu. Pintu bubu sengaja dibuat agak menjorok agar ikan yang masuk akan mengalami kesulitan untuk keluar dari bubu. Bubu ini dipasang di dasar laut, biasanya di dasar karang selama beberapa hari. Pada hari yang diperkirakan sebagai pemasang bahwa bubu itu dimasuki ikan, mereka akan mengangkatnya. Agar tidak lupa pada tempat pemasangan bubu, si pemasang biasanya memberikan tanda dengan alat yang dapat mengapung atau mengambang.

k. Jermal
Alat penangkap ikan yang terbuat dari pancangan tiang-tiang kayu berbentuk lingkaran atau segi empat ukuran besar dan diberi pintu seperti bubu. Didalam pagar kayu itu dipasang jaring berukuran besar pula yang dapat diangkat dan diturunkan. Jermal ini, biasanya dipasang di laut dengan kedalaman lebih kurang 4-6 meter.

l. Kelong
Alat penangkap ikan yang terbuat dari buluh atau kawat yang dipasang di laut dengan kedalaman 3 – 5 meter. Bentuknya bersekat-sekat atau memiliki ruang-ruang. Ruang-ruang itu berfungsi sebagai tempat atau perangkap ikan. Kelong ada dua macam pula : (1) Kelong tangkul atau kelong bilis yaitu kelong untuk menangkap bilis (teri), sotong, selar dan lain-lain. Ikan yang masuk ke tangkul diangkat, kemudian ditangguk; (2) Kelong yang menggunakan bubu. Segala jenis ikan-ikan dapat ditangkap dengan kelong ini. Ikan masuk melalui pintu kelong. Setelah masuk, ikan-ikan tak dapat keluar. Untuk mengambil ikan, nelayan mengangkat bubunya.

m. Belat
Alat penangkap ikan yang terbuat dari jalinan bilah bambu yang dijalin dengan akar atau ijuk atau rotan. Belat juga memiliki sekat-sekat atau ruang-ruang yang memiliki fungsi sebagai perangkap ikan. Tempat pemasangannya di laut dengan kedalaman 2-4 meter.

n. Bento
Alat yang digunakan untuk menangkap ketam renjong, terbuat dari potongan jaring atau rajutan jaring dengan mata yang besar, kemudian dipasang pada bilah bambu/kayu yang dilengkungkan seperti tangkul serta setiap ujung bambu diberikan pemberat.

o. Sondong
Alat yang digunakan untuk menangkap udang ditepi pantai. Dua tongkat yang disilang yang salah satu bagiannya diberi jaring. Cara menggunakannya adalah dengan didorong sepanjang laut dangkal.




More about1. Peralatan Menangkap Ikan

12. PENGGALAN KEDUA BELAS :
Beberapa Kelengkapan Keperluan Hidup Lainnya

Attayaya Butang Emas on 2009-12-10

12
PENGGALAN KEDUA BELAS

Beberapa Kelengkapan Keperluan Hidup Lainnya



Dalam menjalani kehidupan orang Melayu, seperti orang-orang lain, memerlukan beberapa kelengkapan peralatan. Peralatan ini berguna untuk mempermudah melaksanakan suatu pekerjaan, lebih mengefisiensikan kerja, bertahan hidup, dan kegunaan lainnya.

Lihat postingan berikutnya :





More about12. PENGGALAN KEDUA BELAS :
Beberapa Kelengkapan Keperluan Hidup Lainnya

4. Minuman Khas Melayu : Laksamana Mengamuk

Attayaya Butang Emas on 2009-12-08

RESEP :

Bahan
- 4 biji buah kuini atau buah membacang atau buah lanjut
- ½ biji kelapa dijadikan 2 gelas santan (diperas dengan air yang sudah masak)
- 5 sendok gula pasir

Cara Membuat
- Buah dikupas, dibersihkan dan dirajang halus
- Campurkan santan dengan gula, kemudian masukkan bauh yang sudah dirajang halus, aduk rata
- Setelah rata sebaiknya dicampur dengan es
- Siap dihidangkan






More about4. Minuman Khas Melayu : Laksamana Mengamuk

4. Minuman Khas Melayu : Air Dohot Kesemak

Attayaya Butang Emas on 2009-12-06

RESEP :

Bahan
- 500 gram keledek
- 250 gram gula pasir
- ½ biji kelapa dijadikan 4 gelas santan
- 5 sdm sagu rending
- 1 biji telor
- 2 lembar daun pandan

Cara Membuat
- Keledek dikupas dan dipotong dadu, cuci bersih
- Rebus keledek yang telah dikupas bersama santan, setelah mendidih masukkan gula dan daun pandan, sagu rending kemudian masukkan telur, masak dan angkat






More about4. Minuman Khas Melayu : Air Dohot Kesemak

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta