1. Peralatan Menangkap Ikan

Attayaya Butang Emas on 2009-12-12

Peralatan untuk menangkap ikan yang biasa digunakan oleh orang Melayu terdiri atas beberapa jenis, yaitu :

a. Serampang
Suatu alat yang dapat digolongkan dalam jenis tombak, tetapi bermata tiga dan bertangkai bambu yang berukuran panjang kira-kira 2-5 meter. Alat ini digunakan untuk menombak ikan yang sedang berenang atau bersembunyi didalam tumbuh-tumbuhan laut.

b. Lukah
Adalah alat penangkap ikan yang terbuat dari buluh atau rotan yang diraut dan dijalin sedemikian rupa berbentuk bulat panjang. Bagian depannya (tempat ikan masuk) dibuat agak lebih besar dari bagian belakang. Bagian belakang dibuat agak tertutup sehingga ikan yang sudah masuk tak dapat keluar. Panjang Lukah kira-kira 1,25 m – 1,50 m.

c. Tempuling
Suatu alat yang bermata seperti serampang, tetapi hanya satu buah. Alat ini diberi tangkai kayu kira-kira 15-20 cm, yang berfungsi sebagai tempat mengikatkan tali yang panjangnya mencapai 100 meter. Ketika digunakan, tangkai yang pendek ini disambung dengan tangkai bambu yang berukuran kira-kira 4-5 meter, tetapi tangkai bambu tidak diikat dengan tali. Tangkai bambu hanya berfungsi sebagai alat yang mempermudah menombak ikan. Jika sudah ditombak, bambunya dilepas atau terlepas dengan sendirinya.

d. Jala
Alat penangkap ikan berbentuk jaring bulat dengan diameter kira-kira 1,5 meter. Ditengahnya diikat seuntai tali sebagai alat pegangan bagi si pemakai. Dibagian bawah atau sekeliling pinggir terdapat rangkaian cincin timah atau rangkaian kulit gonggong (sejenis kerang) yang berfungsi sebagai pemberat. Cara penggunaannya ialah ditebarkan ke sekumpulan ikan dan atau udang yang sedang berenang. Jala hanya digunakan diperairan sekitar pantai (tak jauh dari pantai).

e. Pukat
Sejenis alat penangkap ikan yang berbentuk jaring panjang mencapai 50 meter dan lebar kira-kira 3,5 – 4 meter. Sebagaimana hal jala, pukat pun diberi serangkaian cincin timah atau kulit gonggong sebagai pemberat. Cara penggunaannya ialah dibentangkan di dalam laut yang agak dalam, yaitu kira-kira 4-5 meter, dan ditarik dengan perahu atau kapal nelayan.

f. Jaring
Sejenis alat yang berbentuk jaring panjang hampir sama dengan pukat. Cara penggunaannya saja yang berbeda dengan pukat, yaitu dengan cara membentangkannya di laut tanpa ditarik oleh perahu atau kapal.

g. Empang
Alat penangkap ikan berupa jaring berukuran panjang 20-40 meter. Alat ini dipasang ketika air pasang naik. Ketika air surut empang angkat lagi. Biasanya, empang digunakan untuk menangkap ikan belanak dan ikan-ikan pantai lainnya karena ikan-ikan itu selalu mengikuti air pasang.

h. Kedik atau Pancing
Suatu alat penangkap ikan yang terdiri atas 3 – 5 mata pancing yang diikat bergabung dan diikat pula dengan tali pancing. Ada juga kedik yang menggunakan satu mata pancing. Penggunaanya adalah dengan cara meletakkan umpan pada mata pancing, kemudian melemparkannya atau mencampakkan mata pancing yang telah diberi umpan ke dalam laut dan ditarik sentakan sehingga menarik perhatian ikan.

i. Rawai
Alat penangkap ikan yang terbuat dari tali yang diberi rangkaian mata pancing. Rawai ini ditarik oleh perahu atau kapal. Ketika sedang menarik itulah, biasanya ikan-ikan akan mengejar mata pancing yang berkilat-kilat di dalam air yang menyerupai mangsa ikan. Ada juga rawai yang tak ditarik, tetapi direntangkan ke dalam laut beberapa waktu, kemudian dibongkar atau diangkat untuk mengambil hasil tangkapan.

j. Bubu
Alat penangkap ikan yang terbuat dari rotan atau kawat kasar yang dijalin dan diberi lubang yang berfungsi sebagai pintu masuk ikan-ikan yang akan memakan umpan di dalam bubu. Pintu bubu sengaja dibuat agak menjorok agar ikan yang masuk akan mengalami kesulitan untuk keluar dari bubu. Bubu ini dipasang di dasar laut, biasanya di dasar karang selama beberapa hari. Pada hari yang diperkirakan sebagai pemasang bahwa bubu itu dimasuki ikan, mereka akan mengangkatnya. Agar tidak lupa pada tempat pemasangan bubu, si pemasang biasanya memberikan tanda dengan alat yang dapat mengapung atau mengambang.

k. Jermal
Alat penangkap ikan yang terbuat dari pancangan tiang-tiang kayu berbentuk lingkaran atau segi empat ukuran besar dan diberi pintu seperti bubu. Didalam pagar kayu itu dipasang jaring berukuran besar pula yang dapat diangkat dan diturunkan. Jermal ini, biasanya dipasang di laut dengan kedalaman lebih kurang 4-6 meter.

l. Kelong
Alat penangkap ikan yang terbuat dari buluh atau kawat yang dipasang di laut dengan kedalaman 3 – 5 meter. Bentuknya bersekat-sekat atau memiliki ruang-ruang. Ruang-ruang itu berfungsi sebagai tempat atau perangkap ikan. Kelong ada dua macam pula : (1) Kelong tangkul atau kelong bilis yaitu kelong untuk menangkap bilis (teri), sotong, selar dan lain-lain. Ikan yang masuk ke tangkul diangkat, kemudian ditangguk; (2) Kelong yang menggunakan bubu. Segala jenis ikan-ikan dapat ditangkap dengan kelong ini. Ikan masuk melalui pintu kelong. Setelah masuk, ikan-ikan tak dapat keluar. Untuk mengambil ikan, nelayan mengangkat bubunya.

m. Belat
Alat penangkap ikan yang terbuat dari jalinan bilah bambu yang dijalin dengan akar atau ijuk atau rotan. Belat juga memiliki sekat-sekat atau ruang-ruang yang memiliki fungsi sebagai perangkap ikan. Tempat pemasangannya di laut dengan kedalaman 2-4 meter.

n. Bento
Alat yang digunakan untuk menangkap ketam renjong, terbuat dari potongan jaring atau rajutan jaring dengan mata yang besar, kemudian dipasang pada bilah bambu/kayu yang dilengkungkan seperti tangkul serta setiap ujung bambu diberikan pemberat.

o. Sondong
Alat yang digunakan untuk menangkap udang ditepi pantai. Dua tongkat yang disilang yang salah satu bagiannya diberi jaring. Cara menggunakannya adalah dengan didorong sepanjang laut dangkal.




Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta