2. Peralatan Pertanian

Attayaya Butang Emas on 2009-12-17

Selain dari bekerja sebagai nelayan, masyarakat Kepulauan Riau juga ada yang bertani, khususnya berkebun. Untuk berkebun biasanya menggunakan peralatan antara lain sebagai berikut :
a. Cangkul
Alat untuk menggali dan membalik tanah, yang terbuat dari lempengan besi dan diberi tangkai (disebut hulu cangkul) dari kayu sebagai pegangan, yang panjangnya kira-kira 100 cm – 150 cm. Bagian sebelah bawah lempengan besi cangkul ditajamkan dan disebut mata cangkul.

b. Tanjak
Alat yang terbuat dari besi yang matanya juga tajam dan berukuran lebih kurang separuh dari lebar cangkul yang digunakan untuk membersihkan rumput. Tanjak juga berhulu seperti cangkul, yang panjangnya pun sepanjang hulu cangkul.

c. Cakar Ayam
Alat untuk mengarai atau meratakan tanah, rumput, lalang dan sebagainya yang telah dicangkul, yang terbuat dari besi yang dibentuk seperti sikat (sisir) yang jarang-jarang dan matanya agak runcing dan diberi tangkai dari kayu sebagai pegangan (disebut cakar ayam), yang panjangnya lebih kurang 100 cm – 150 cm. Alat ini ada juga yang menyebutnya sebagai alat penggaru.

d. Parang
Alat pengerat atau pemotong yang terbuat dari bilah besi yang agak tebal. Bagian sebelah bawahnya untuk mengerat (memotong) disebut mata parang di asah sehingga tajam, sedangkan bagian sebelah atasnya disebut punggung parang tak di asah sehingga tetap tebal (tumpul). Parang juga diberi tangkai atau hulu sebagai pegangan yang terbuat dari kayu, tetapi hulunya pendek saja lebih kurang segenggaman lebih yang dibentuk agak bengkok ujungnya agar tak lepas ketika dipegang. Parang ini banyak pula jenisnya, antara lain, parang pendek atau parang pandak ialah parang yang panjangnya lebih kurang 40 cm – 50 cm, parang panjang ialah parang yang panjangnya lebih kurang 75 cm – 80 cm, parang koting ialah parang yang tak berhulu, parang bengkok ialah parang bentuk bilah besinya bengkok, dan parang kompot ialah parang yang bilah besinya patah sebagian. Parang juga dipakai sebagai alat dapur, terutama parang pendek.

e. Pisau
Alat pengiris yang terbuat dari bilah besi tipis yang bagian bawahnya tajam (disebut mata pisau) dan bagian atasnya tumpul (disebut punggung pisau). Pisau juga diberi hulu sebagai pegangan, yang terbuat dari kayu (sekarang ada juga hulu pisau yang terbuat dari plastik dan sebagainya). Dalam bidang pertanian digunakan jenis pisau antara lain, pisau biasa yaitu pisau yang umumnya dipakai dalam pertanian; pisau raut yaitu pisau yang digunakan untuk meraut buluh (bambu), rotan dan sebagainya; dan pisau getah atau pisau sedap yaitu pisau untuk menderes atau menyadap getah (karet). Selain itu ada pisau dapur, pisau lipat, pisau cukur dan sebagainya.

f. Kapak
Alat untuk membelah kayu atau menebang pohon yang terbuat dari logam yang ujung bawahnya tajam (mata kapak), dan bagian atasnya tumpul (punggung kapak). Kapak juga diberi tangkai (hulu kapak) yang umumnya terbuat dari kayu, yang panjangnya bervariasi menurut besar kecilnya mata kapak.

g. Baji
Sejenis pasak yang terbuat dari kayu atau besi yang digunakan sebagai penyendil untuk memudahkan pembelahan kayu.

h. Perjang
Alat untuk membuat lubang di tanah yang terbuat dari besi, sama ada pipih atau setengah bulat, bermata tajam, dan berhulu dari kayu atau besi.




Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta