Tampilkan postingan dengan label 05 Penggalan Kelima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 05 Penggalan Kelima. Tampilkan semua postingan

1.6. Main Layang-layang (Wau)

Attayaya Butang Emas on 2008-10-20

Permainan layang-layang pun hanya mengenal satu nama. Tak ada nama lain untuk permainan yang banyak digemari oleh kaum laki-laki ini, baik kanak-kanak, remaja, maupun dewasa. Selain itu ada juga permainan layang-layang yang disebut Permainan Wau.

1.6.a. Waktu dan tempat permainan
Biasanya bermain layang-layang dengan benang gelasan adalah pada waktu senggang atau sore hari, di tanah lapang dengan cuaca yang cerah dan angin bertiup cukup baik.

1.6.b. Alat/perlengkapan permainan
Permainan layang-layang memerlukan lapangan terbuka dan luas sehingga peserta bisa bergerak dengan bebas. Bahan-bahan yang digunakan untuk permainan ini (untuk membuat layang-layang) adalah benang, bambu, kertas, dan benang gelasan (kaca). Kecuali untuk pembuatan Wau tidak memerlukan benang gelasan.

1.6.c. Jalannya permainan
Bentuk layang-layang pada dasarnya hampir sama, yaitu empat persegi seperti belah ketupat. Yang membedakan hanyalah kepada besar kecilnya dan warnanya. Kecuali Wau atau layang-layang Wau, ada juga layang-layang yang hampir sama dengan Wau, biasanya disebut dengan “layang-layang dengung”, karena ia menggunakan sesuatu yang karena tertiup angin mengeluarkan getaran dan berbunyi “ngung”.

Untuk layang-layang dengan menggunakan benang gelasan, biasanya tidak mengadu dari tinggi atau tegaknya benang. Melainkan dengan ketajaman benang gelasan itu sendiri. Kemudian juga ada istilah “bersaok”, yakni setelah layang-layang telah naik tinggi, menyauk layang-layang lawannya. Untuk seseorang yang ahli, ianya pandai mengarahkan layang-layang itu, apakah untuk naik, nunjam turun, ke kiri atau ke kanan, sesuka si pemain. Kemudian juga dapat menyambar layang-layang lain, ambil benang pendek atau benang panjang, ambil atas atau ambil bawah.

Dalam istilah “benang gelasan”, juga dikenal dengan istilah “gelasan gerutu” (kasar) dan “gelasan halus”. Gelasan gerutu biasanya untuk mengadu dengan main tarik, sedangkan gelasan halus biasanya lebih mengutamakan keahlian mengulur untuk memutuskan layang-layang lawan atau biasa disebut “lembong”.

Akan sangat berbeda dengan permainan Wau, yang lebih mengutamakan bentuk, besar dan kecantikan layang-layang itu sendiri, dan seberapa tinggi serta ketegangan benang yang menentukan kemenangan dalam sesuatu perlombaan Wau.

Gambar
Bagian-Bagian Layang-Layang Wau

A = Bilah Ekor
B = Bulan Penuh
C = Bulan Sabit
D = Ekor
E = Kepala
F = Lengkok Bulan
G = Sayap
H = Tulang Belakang


Gambar
Macam-macam Wau

Wau Elang
Wau Daun
Wau Kapal
Wau Kucing
Wau Payung
Wau Sewah


More about1.6. Main Layang-layang (Wau)

1.5. Main Peting

Attayaya Butang Emas on 2008-10-18

Permainan Peting dilakukan pada saat para nelayan merasa lelah bekerja, untuk menghilangkan kebosanan dan untuk mengisi waktu senggang. Jenis permainan rakyat yang bersifat hiburan ini banyak dilakukan oleh para nelayan.

1.5.a. Alat/perlengkapan permainan
a. Lumpur
Permainan dilakukan di daerah yang berlumpur, maksudnya agar peting yang dilemparkan dapat menancap di atas lumpur. Sekarang lapangan permainan juga dapat di alas dengan gabus atau bahan lain yang bisa ditancapi oleh benda tajam. Dengan demikian, permainan ini dapat dilakukan dalam rumah
b. Benda Tajam
Pada zamn dahulu benda tajam dan runcing yang digunakan untuk permainan peting ini berupa duri dari pelbagai jenis tanaman. Sekarang orang banyak menggunakan jarum atau benda tajam yang runcing seperti pensil.
c. Kayu atau Bambu Kecil
Permainan ini memerlukan sepotong kayu dengan ukuran panjang lebih kurang 15 sampai 20 cm dan diameter 0,25 sampai 0,5 inchi. Bentuk kayu harus bulat agar mudah memainkannya.
d. Tali Pengikat dan Peting
Jarum diikat dengan tali pada kayu atau bambu. Peralatan yang sudah disatukan inilah yang dinamakan Peting.


More about1.5. Main Peting

1.4. Main Gasing

Attayaya Butang Emas on 2008-10-17

Permainan gasing sangat masyhur di dalam kehidupan masyarakat Melayu di berbagai daerah dan tempat, termasuk di Kepulauan Riau. Masyarakat pun hanya mengenal satu nama untuk permainan ini yaitu Gasing.

1.4.a. Waktu dan tempat permainan
Permainan gasing biasanya dimainkan dalam waktu-waktu tertentu di sebuah tanah lapang yang berukuran kira-kira 8 atau 9 x 9 meter. Tempat bermain yang bagus adalah tanah liat yang agak keras sebab di tanah seperti itu putaran gasing lebih laju. Sebaliknya, di tanah yang lunak atau tanah gambut, biasanya gasing sulit berputar. Jika permainan secara beregu, pada tanah dibuat “gasri” atau “bong” untuk tempat perputaran gasing. Sebuah gasing memerlukan tempat berbentuk bujur sangkar seluas satu meter persegi.

1.4.b. Alat/perlengkapan permainan
a. Gasing
Gasing dibuat dari kayu. Adapun kayu yang digunakan pada umumnya adalah kayu bakau yang tumbuh di tepi pantai. Kayu bakau yang berpintal batangnya atau banyak uratnya, serta mengelokak (terkupas) kulitnya. Hal itu dimaksudkan supaya kayu yang dipakai itu benar-benar tua dan kuat.
b. Tali
Tali merupakan alat pemutar gasing. Tali yang biasanya dipergunakan adalah tali alis, tali pantalan kapas, atau tali pancing. Tali alis diambil dari tali serap yang bisa tahan bertahun-tahun. Panjang tali tersebut sekurang-kurangnya 1,5 meter dan diujungnya diberi simpul untuk tempat memasukkan jari sewaktu memutar gasing.

Bentuk-bentuk Gasing.
Segabaimana diketahui, gasing memiliki berbagai ragam bentuk, ada gasing yang bernama :
• Gasing Berembang
• Gasing Payung
• Gasing Leper
• Gasing Botol
• Gasing Jantung

Gambar
Macam-macam gasing

1.4.c. Jalannya permainan
Permainan gasing biasanya tidak hanya untuk diperagakan, tetapi lazimnya dipertandingkan baik untuk perorangan maupun berpasukan. Oleh karenanya terdapat dua jenis permainan yaitu Gasing Pangkah dan Gasing Uri.

More about1.4. Main Gasing

1.3. Main Sepak Raga

Attayaya Butang Emas on 2008-10-15

Permainan sepak raga suatu masa dulu sangat digemari oleh masyarakat Kepulauan Riau. Sekarang permainan ini tinggal nama saja karena sudah digantikan oleh generasinya yang lebih modern yaitu Sepak Takraw yang dipertandingkan bahkan masuk dalam nomor cabang olah raga dalam beberapa kegiatan internasional.

1.3.a. Waktu dan tempat permainan
Pada awalnya permainan dalam waktu-waktu tertentu atau mengisi pada waktu senggang di sebuah tanah lapang pada sore hari.

1.3.b. Alat/perlengkapan permainan
a. Lapangan Bermain
Lapangan tempat bermain sepak raga berbentuk suatu lingkaran di tanah. Luasnya ditentukan menurut selera para pemain asal sesuai dengan jumlah para pemain.

b. Penampung Bola
Penampung bola yang terbuat dari rotan dipasang tinggi kira-kira 9 – 10 cm di atas pusat lingkaran. Penampung itu digantungkan dengan tali, dan telentang (tengadah) menghadap ke langit. Gunanya untuk memasukkan bola rotan yang ditujukan ke sana.

c. Bola Rotan
Bola rotan inilah yang disepak dan diusahakan agar masuk ke penampung. Bola dibuat dari rotan yang dijalin sedemikian rupa sehingga berbentuk bundar.

More about1.3. Main Sepak Raga

1.2. Main Kolek

Attayaya Butang Emas on 2008-10-14

Pada zaman dahulu lomba Kolek diadakan semata-mata untuk mencoba miliknya selepas turun dari galangan, dan hanya dilakukan oleh para nelayan dengan koleknya (sampan layar). Awalnya memang bukan alat untuk pertandingan khusus. Tapi lama kelamaan permainan ini makin digemari oleh masyarakat, maka jadilah sebagai suatu perlombaan yang disukai oleh kaum istana di zaman Kesultanan Riau-Lingga. Sultan biasanya menyediakan hadiah yang besar buat para pemenang lomba sampan Kolek. Tekong atau Juru Mudi yang menjuarai perlombaan biasanya diangkat menjadi pengawal istana, ada di kahwinkan dengan dayang-dayang istana.

Dari permainan masyarakat nelayan, kemudiannya menjadi terkenal terutama pada masa penjajahan Hindia Belanda. Dan kalau pada awalnya kolek dilombakan adalah kolek yang dipergunakan untuk turun melaut, tetapi setelah banyak yang menyukainya, kolek yang dilombakan, khusus dibuat oleh tukang-tukang yang berpengalaman serta diukur oleh pawang-pawang ternama, dilangir, dan diberikan nama-nama seperti; Elang Laut, Keris Sempena, Mega Sakti, Anak Kala, adalah nama-nama yang biasa diberikan kepada kolek atau sampannya milik orang-orang kaya yang gemar akan perlombaan tersebut.

Kolek yang dipersiapkan untuk perlombaan, keluar galang cuma sekali setahun bila saat akan dilaksanakan perlombaan saja. Dan, jika dahulu Lomba Kolek tidak dilengkapi dengan peraturan khusus yang mengikat, kemudiannya pertandingan kolek dibuatkan peraturan-peraturan yang telah disepakati bersama.

1.2.a. Waktu dan tempat permainan
Permainan ini biasanya dilakukan pada musim kemarau atau saat-saat hujan jarang turun. Hal inilah yang memungkinkan Lomba Kolek dapat dilaksanakan.

Lomba Kolek, lazimnya diadakan pada siang hari, dari mulai jam 09.30 hingga berakhir pada jam 1 atau 2 siang. Antara jam tersebut biasanya angin sedang berhembus cukup kencang, rata dan pasang pun sedang penuh yang memudahkan pelaksanaan lomba kolek.

Dahulu, lomba kolek dipertandingkan pada hari penobatan anak-anak raja atau pun keluarga istana, kemudian dilanjutkan pada perayaan 31 Agustus hari besar Hindia Belanda, kemudiannya menjadi permainan untuk menyemarakkan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus yang terus mentradisi.

1.2.b. Alat/perlengkapan permainan
Lomba atau permainan kolek yang diikuti oleh kaum laki-laki remaja dan dewasa yang berumur antara 15 sampai 40 tahun ini, kemudiannya dibagi dalam pengelompokan, yaitu :
  1. Kolek Kecil
  2. Kolek Sedang
  3. Kolek Menengah
  4. Kolek Besar
  5. Kolek Lambung

Untuk melaksanakan perlombaan, hendaklah dipersiapkan perlengkapan khusus, yaitu :

a. Tempat Lomba
Tempat perlombaan hendaklah di pinggir pantai yang terbuka baik dari laut maupun dari darat, guna menampung angin yang menjadi sumber [tenaga bagi] perlombaan kolek. Sebab tanpa angin yang memadai, maka perlombaan tidak akan berlangsung dengan memuaskan. Saat pertandingan dilaksanakan para penonton duduk di pantai sambil bersorak-sorak menjagoi koleknya masing-masing. Tempat perlombaan tersebut dibuat dalam bentuk bujur telur, dan diberi beberapa tonggak (pancang) sebagai rambu-rambu atau pun tanda tertentu :
  • Pasir pantai yang baik untuk tempat permulaan lepas.
  • Pintu Gerbang keluar masuk ke tempat perlombaan dengan dua buah pancang kiri dan kanan pintu masuk ke arena tersebut dan diberi bendera warna terang.
  • Pancang Kelet atau tempat berbelok diberi tanda dengan bendera merah.
  • Pancang Lewat, yang setentangan dengan letak pintu gerbang juga diberi tanda dengan bendera warna merah.
  • Pancang Putar yang merupakan pancang terakhir yang harus dilewati sebelum masuk kembali ke pintu gerbang (tempat penamat) yang juga diberi bendera merah. Ada pun jarak yang ditempuh dalam perlombaan ini kira-kira 6 mil secara sekelilingnya.

b. Kolek
Alat yang dilombakan ialah sebuah kolek, menurut ukuran jenis pertandingannya :
  • Kolek Kecil, panjangnya 3 m, lebar tengah/lambung 70 cm.
  • Kolek Sedang, panjang 3,5 m, lebar tengah atau lambung 80 cm.
  • Kolek Menengah, panjang 5 m dan lebar tengah atau lambung 90 cm.
  • Kolek Besar, panjang 6 m, lebar tengah/lambung 1,2 m.
  • Kolek Lambung, panjang 7,5 m dan lebar tengah atau lambung 1,5 m.

Gambar
Denah Tempat Perlombaan Kolek

Dan pada setiap sampan kolek itu dilengkapi pula dengan :
  • Seutas layar tengah
  • Seutas layar depan yang disebut “jib”
  • Tiang layar
  • Tiang songkang, penegak ujung layar yang di atas
  • Tali ganja, penaut jib ke tiang dari tinggi haluan kolek
  • Tamberang, atau kayu peregang bawah layar tengah
  • Tali tembang, untuk penimbang kolek yang diikat pada tiang dan tempat peserta bergayut sebagai pengimbang
  • Batu balas, untuk penimbang berat sampan
  • Tali damam, untuk penaut layar ke belakang
  • Pengumpil, sebagai kemudi.

Ada juga beberapa istilah dalam berkolek ini, yaitu :
  • Baut, maksudnya mau berbelok arah setiap tikungan
  • Berturut, maksudnya jalan lurus mengikut arah angin
  • Bersambang, maksudnya layar menyebak ke kiri dan ke kanan
  • Bersewa, maksudnya layar dan jib sekali ke kiri dan sekali ke kanan
  • Tekong, maksudnya juru mudi
  • Gompel, Guel, maksudnya berkayuh dengan dayung/pengayuh yang dipergunakan sebagai kemudi
  • Tukang tembang, yaitu penjaga keseimbangan kolek dalam berlayar bila terkena angin kencang
  • Layar sekan, yaitu layar berbentuk segi tiga
  • Layar sokang, yaitu layar yang berbentuk trapesium
  • Sauk, yaitu linggi kolek yang di haluan dan di belakang kolek
  • Timbe, yaitu pembuang air kolek
  • Sengka, yaitu tempat penegakan tiang kolek.

Ada pun kolek-kolek lomba ini biasanya dibuat dari kayu yang agak ringan dan kuat daya apungnya, seperti kayu medang, rengas, dan pulai. Sedangkan layar terbuat dari kain biasa atau belacu. Tali temali dari tali sabut [kelapa] yang dipintal. Pengayuh dari kayu yang tahan dan tidak mudah patah pada saat mengayuh serta dipaut sebagai kemudi dalam keadaan angin yang kencang sekali pun. Sedangkan pakaian peserta biasanya seragam untuk satu kolek.

1.2.c. Jalannya permainan
Sebelum kolek berlepas untuk berlomba, semuanya disiapkan di pantai dengan kelompok masing-masing yang terdiri dari 4 sampai 5 buah kolek untuk diperlombakan menurut jenisnya, dalam keadaan semuanya masih belum terpasang. Baik layar maupun tali temali masih dalam keadaan tergulung.

Setelah berbunyi aba-aba atau tanda untuk memulai perlombaan, maka para peserta menurunkan koleknya masing-masing dan langsung memasang layar serta tali temalinya. Siapa cepat selesai, ia langsung melaut.

Dari gerbang keluar pantai itu mereka sama-sama berpacu ke arah Pancang Belok, dan memutar di sana serta merobah arah ke Pancang Lewat, yang terletak di tengah arena. Dari sini langsung ke Pancang Putar.

Dari Pancang Putar, yang merupakan jarak tempuh terakhir, sama-sama pula kolek itu berpacu ke gerbang masuk dan sampai Tempat Penamat.

Sebuah kolek dianggap batal, jika tiap putaran si peserta tidak mengikuti atau mengitari pancang yang telah ditentukan. Hal ini jelas kelihatan oleh para pengamat (juri) yang berada di tempat-tempat yang memungkinkan untuk melihat jalannya perlombaan. Sebuah kolek juga dianggap batal jika karam sebelum sampai kepada Tempat Penamat.

Bila peserta mencapai tempat penamat terlebih dahulu dengan syah, maka ialah yang menjadi juara, sampai kepada urutan selanjutnya.

More about1.2. Main Kolek

1.1. Main Tongkah

Attayaya Butang Emas on 2008-10-13

Menurut keterangan yang diperoleh, permainan Tongkah ini sudah ada sejak zaman permulaan penjajahan Hindia Belanda. Ada pun darimana asal-muasalnya dan sejak bila dimulainya permainan ini tiadalah diketahui dengan pasti.

Permainan Kaki Panjang, ternyata banyak digemari dan sering kali dijadikan permainan yang bersifat menunjuk kebolehan atau akrobat. Permainan Tongkah atau Kaki Panjang ini, ada juga yang menyebutnya Sitinjak, dan kalau di tanah Jawa menyebutnya sebagai “Main Engrang”.

Dalam pelaksanaannya permainan ini tiadalah pula menggolognkan kepada kedudukan atau pangkat, artinya dimainkan oleh orang bangsawan dan juga rakyat biasa. Mereka semua sama-sama menghibur diri, saling memperlihatkan ketangkasan dan berusaha untuk saling menang.

1.1.a. Waktu dan tempat permainan
Permainan ini boleh dimainkan pada waktu senggang pada sore hari atau dalam kegiatan-kegiatan sesuatu acara tertentu di tanah lapang yang ukurannya boleh ditentukan oleh pemainnya sendiri.

1.1.b. Alat/perlengkapan permainan
Permainan Tongkah ini hanya dimainkan oleh anak-anak dan remaja laki-laki atau orang dewasa. Karena alat permainannya terbuat dari kayu atau pun buluh dengan ukuran yang agak tinggi, sukar dilakukan oleh orang perempuan. Bermain Tongkah dilakukan dengan memakai dua batang alat yang dilaksanakan sambil mengangkang-ngangkangkan paha untuk melangkah, dianggap tiada layak dimainkan oleh orang perempuan. Selain itu permainan ini juga memiliki akibat yang berbahaya dan memerlukan keberanian, kehandalan atau pun ketangkasan.

Adapun kelengkapannya adalah lapangan tempat bermain yang berukuran lebih kurang 20 x 4 depa. Tangga, cabang-cabang kayu, dan bukit untuk naik ke injakan Tongkah. Kemudian dua batang kayu/bambu dengan ukuran panjang antara 1,5 – 2,5 depa; ruas tiga jari tangan. Tongkat ini kemudian dibuat sedemikian rupa sehingga tidak melukai tangan atau kaki. Jarak injakan dibuat sesuai dengan kesanggupan.

Gambar
Alat Permainan Tongkah

1.1.c. Jalannya permainan
Cara mempergunakan alatnya, para pemain berdiri di atas injak-injak di kedua batang alat permainannya. Sambil kedua tangan berpegang pada kayu tersebut, kemudian pemain melangkah dan berjalan. Untuk mempergunakan alat tersebut hendaknya :
  • Kedua batang alat tersebut dibawa ke dekat tangga rumah, atau ke dekat cabang kayu yang senang dipanjat.
  • Melalui tangga atau pun cabang kayu itu diletakkan kedua kaki menginjak injakannya dan kedua tangan berpegang pada pegangan alat tersebut.
  • Angkat kaki satu persatu bersama alat yang diinjak sambil tangan terus bergerak mengangkat alat tersebut secara serentak dengan langkah, dan perhatikan keseimbangan badan sebelum melangkah.
  • Melangkah dengan hati-hati dan jaga keseimbangan badan lalu menggeserkan alat tungkai ke depan.
  • Jika mau berbelok ke kiri, angkat alat yang di kanan sedangkan alat yang di kiri putarkan, sebaliknya jika mau membelok ke kanan, angkat pegangan kiri, putarkan pegangan tangan kanan.
  • Bila dalam perjalanan mendapat gangguan, harus meloncat ke bawah sambil melepaskan kedua pegangan demi menjaga keselamatan diri.
  • Bila sudah mau turun atau berhenti bermain, boleh secara meloncat atau pun pergi ke tempat semula naik tadi. Dan turunkan satu persatu kaki di tempat tersebut sambil melepaskan alat permainan tersebut.

Sebelum bermain, ukur dulu tinggi injak-injak dari tanah. Yang sejenis nomor perlombaannya haruslah sama tinggi. Bermain Tongkah dilakukan dengan cara perlombaan beramai-ramai untuk mencari kemenangan masing-masing. Siapa yang sampai dulu, dialah yang menang.

Adapun cara perlombaannya adalah sebagai berikut :
  1. Semua pemain bersiap-siap pada tempat yang dikira sejajar dengan lawan. Boleh dekat tangga rumah, dekat cabang kayu di bukit atau pun di atas batu.
  2. Setelah pimpinan perlombaan mengucapkan perkataan “Satu!” maka semua pemain siap-siap dengan alatnya. Bila perkataan bilangan “Dua!” semua pemain tegak dalam keseimbangan badan untuk berpacu. Setelah aba-aba bilangan “Tiga!” semua pemain melangkah lalu berpacu untuk merebut kemenangan masing-masing.
  3. Semua berusaha menuju ke ujung lapangan yang telah disiapkan dengan beberapa tonggak sebagai tanda untuk berputar menuju ke garis tempat awal bermula.
  4. Barang siapa yang terlebih dahulu sampai dialah pemenangnya.

Gambar
Lapangan Tempat Bermain Tongkah

More about1.1. Main Tongkah

5. PENGGALAN KELIMA : Masa Remaja ; Masa yang Paling Indah

Attayaya Butang Emas on 2008-10-12

for the conceptor

05
PENGGALAN KELIMA
Masa Remaja
Masa yang Paling Indah


Sebenarnya apa yang dimaksud dengna remaja? Perihal ini adalah cukup penting untuk disampaikan sebelum memasuki kepada pengertian tentang remaja itu sendiri yang berkaitan erat dengan adat istiadat serta budaya. Apa dan bagaimana peranan mereka sebagi pelaku budaya di masa dahulu.

Kehidupan masa remaja pada zaman dahulu, bolehlah dikatakan agak jarang diungkapkan. Biasanya kita hanya mengenal alam kanak-kanak, dewasa dan orang tua. Hal yang sedemikian karena mungkin, di zaman dahulu belumlah diperbuat kepada “garis yang tegas” dalam pengertian yang menjurus kepada ilmu pendidikan (kejiwaan), sehingga kebanyakan masa remaja dicampurkan kepada masa kanak-kanak. Yaitu antara umur 12 sampai kepada memasuki usia 17 tahun. Yang jelasnya berkaitan dengan perkataan “remaja” itu sendiri dalam suatu batasan yang boleh memasukkan ke dalam sesuatu ketentuan dalam kehidupan masyarakat, belum lagi terpikirkan atau diperbuat dalam ketentuan yang jelas. Walaupun mungkin telah ada diperbuat baik secara tersirat ataupun kepada yang tersurat, sayangnya yang tersurat pun belum lagi ditemukan berkenaan tentang remaja ini.

Sedangkan kita ketahui bahwa di zaman dahulu, terutamanya untuk kaum perempuan telah dinikahkan atau telah berumah tangga dalam usia yang masih sangat muda. Permasalahan itu lebih menyulitkan lagi kepada kita untuk memberikan batasan usia dalam dunia pendidikan maupun dalam pengertian budaya masa itu. Sehingga anak perempuan meskipun baru berumur 12 atau 14 tahun tetapi sudah menikah, maka ianya dimasukkan ke dalam golongan orang dewasa. Tidak hanya yang berkaitan dengan jiwa dan perasaannya, semasa kiraan umur remaja ini, dapat dikatakan kurang selesa karena agak terasa sukar untuk dapat memasuki pergaulan di antara kedua dunia yakni dunia anak-anak dan dunia orang dewasa. Kalau ianya bercampur dengan budak-budak, maka dikatakanlah oleh budak-budak itu, “Hei, Abang ‘tu ‘dah besar, tak boleh bermain dengan kami ‘ni!”. Begitulah kata si budak-budak, dan hal yang serupa juga ketika ingin masuk dalam dunia orang dewasa, “Hei … kamu ‘tu masih kecil lagi, mana boleh bercampur dengan orang besar. Pergilah sana!”. Ya, mungkin demikianlah perlakuan yang akan diterima jika ingin memasuki kepada salah satu dunia yang ada yaitu dunia anak-anak dan dunia orang dewasa. Hal yang sedemikian itu tentulah akan menyulitkan bagi kaum remaja di dalam pergaulan sesama orang lain yang tidak sama peringkatnya.

Pada masa-masa kiraan usia yang sedemikian, kononnya telah memasuki kepada usia akil-baligh untuk memasuki alam kedewasaan, adalah semasa yang paling rumit dan pelik bagi kehidupan anak manusia. Hal yang sedemikian tidak hanya terjadi pada masa sekarang, kononnya di zaman dahulu pun sedemikian pula. Tetapi kebanyakan orang tua zaman dahulu cukuplah arif dan bijaksana. Tidak hanya kepada alam yang juga telah menyediakan berbagai kelengkapan untuk anak-anak di usia akil-baligh ini, tetapi adat resam Melayu sendiri telah memberikan laluan kepada mereka lewat kerja-kerja yang bermanfaat, seperti dalam bentuk permainan, olah raga dan kesenian, yang kesemuanya bersesuaian dengan alam pikiran orang remaja.

Walaupun di dalam senarai belum lagi berjumpa tentang pembagian kepada batasan usia, khususnya kepada perkataan “remaja” ini, tetapi tetap jugalah hendak dituliskan. Karena merasa yakin, bahwa di zaman dahulu pun atau sesiapa pun tentulah akan mengalami kepada tahap usia remaja.

Lakonan atau pun peranan remaja sebagai pelaku budaya, jika dibandingkan dengan kanak-kanak atau pun orang dewasa, sememangnyalah tidak sebegitu banyak. Terutama yang berkaitan dengan atur cara upacara dalam adat resam Melayu. Perihal yang sedemikian mungkin dikarenakan bahwa masa-masa remaja ini lebih banyak dipergunakan dalam pengajian (pembelajaran). Semisal pergi belajar mengaji pada Guru-guru atau pun orang-orang pandai. Atau pun menuntut kepada ilmu agama di Mesjid atau Surau. Selain itu, masa remaja juga ditumpukan kepada membantu orang tua, terutamanya orang perempuan, yang biasanya pada semasa remaja telah jarang-jarang keluar rumah, atau istilahnya telah dipingit sekaliannya menekuni kepada hal-hal yang berkenaan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang perempuan dewasa ketika memasuki masa berumah-tangga, nantinya.

Ada pun beberapa pekerjaan atau kegiatan semasa usia remaja ini, sebagiannya seperti dalam permainan masih mengikut kepada permainan kanak-kanak atau pun dengan permainan yang memang dilakukan sesuai dengan usia mereka seperti; Main Simbang (perempuan), Main Canang, Main Congklak (perempuan), Main Galah, Main Kelas (perempuan), Main Porok, Main Rimau, dan lain sebagainya.

Selain daripada itu, ada pula yang telah mengikut kepada permainan orang dewasa, seperti umpamanya :
1. Main Tongkah (Sitinjak, Kaki Panjang)
2. Main Kolek
3. Main Sepak Raga
4. Main Gasing
5. Main Peting
6. Main Layang-layang (Wau).

More about5. PENGGALAN KELIMA : Masa Remaja ; Masa yang Paling Indah