2. Pakaian Dalam Perkataan Yang Patut

Attayaya Butang Emas on 2009-04-12

Berikut hendaklah digambarkan sebarang pekerjaan berkenan dengan mengenakan pakaian ini dengan menggunakan perkataan yang patut.
1. Untuk Seluar (celana).
………………………
Seluar panjang semata kaki,
Goyang bergoyang ditiup angin,
Kibarnya tidak lebih sejengkal,
Pesaknya tiada begitu dalam.
Elok sanggam menutup malu,
Kalau melangkah tidak menyemak.
Kalau duduk tiada menyesak,
Kaki diberi awan-awanan.
……………………


Yang pucuk rebung.
Tabur bertabur tampuk manggis,
Elok dipakai dalam majelis.
Sanggam dipakai helat jamuan,
Patut bertempat nikah kawin.
……………………
Kalau selerang kain tak sampai,
Diberi tampun sebelah atas.
Tempat tali dua pinggang,
Tali tidak bersimpul mati.
Cerutnya tidak menyesakkan,
Longgar tidak menggelusir.
………………………
Seluar pelasah separuh tiang,
Elok terletak di tengah betis.
Keatas tidak menyundak lutut,
Ke bawah tidak menggantung betis.
Kalau lebar tidak mengibar,
Kalau sempit tidak berketak.
……………………….
Tidak menyinsing dibawa duduk,
Tidak menyingkap dibawa rukuk.
Elok di pakai petang pagi,
Pantas dibawa pergi ke sawah.
Tapi jangan bawa bertandang,
Tak molek ke rumah orang.
……………………
Seluar Sempit sepalut nangka,
Labuh menjejak-jejak keting.
Sempit disorong sempit disentak,
Tak berliang angin lalu.
Kaki bersulam benang emas,
Tabur bertabur bunga telepuk.
Elok dipakai berpatut-patut.
……………………
Seluar pendek seluar sempak.
Labuh terletak di atas lutut,
Tidak molek dipandang.
Tempat terpakai dalam rimba,
Kene dibuat basahan mandi.
Lebarnya tidak membuka air,
Sempit tidak membentuk bongkol.
2. Tentang Baju
…………………
Pertama disebut Teluk Belanga
Tebuk leher bertulang belut,
Cengkam dijalin menjari lipan.
Buah baju tunggal-tunggalan,
Kalau bulat menelur burung,
Kalau bertangkai memudung petai,
Atau bermata bagai cincin.
……………………
Labuhnya sampai segenggam tangan,
Lebar dapat dikipas-kipas.
Lapang tidak nmenyangkut ranting,
Sempit tidak membilang tulang.
…………………………..
Labuh di luar dagang dalam,
Labuh di dalam dagang luar.
Kalau bersulam berbenang emas,
Tekat berkumpul di atas dada.
Turun kebawah bak sarang lebah,
Kalau tangan bersulam suji.
Bagai simpai di ujung lengan,
Pucuk rebung timbalannya.
Bertabut bunga jarang-jarang,
Tidak berbatas tempat memakai.
……………………….
Kedua bernama Cekak Musang
Leher tegak empat leher,
Renda berenda benang emas.
Jalin menjalin benang kelingkan,
Dua butang sebelah atas.
Tiga buah dibawahnya,
Butang bulat pudung petai.
Butang bersegi mata cincin,
Tabur bertabur bunga telepuk.
Tekad penuh diatas dada,
Jalar menjalar ujung lengan.
………………………..
Sebuah kocek diatas,
Dua buah kocek di bawah.
Lebarnya dapat berkibar,
Sempitnya dapat berkiah.
Labuh sampai segenggam tangan,
Patut dipakai dagang dalam.
Patut dipakai dalam majelis,
Pantas dibawa dalam jamuan.
……………………….
Ketiga Baju Bersingkap Dada
Belah leher sampai ke bawah,
Butang bersusun lima buah.
Di bawah berjahit mati,
Di atas berumah-rumah.
Kalau berenda menyusur belah,
Kecik dibawah kiri kanan.
Pakaian kain dagang di luar,
Patut dibawa berjalan jauh.
Atau bertandang-tandang.
………………………
Keempat Baju atas Angin
Yang dibawa alim ulama,
Yang dipakai bermusim-musim.
Labuhnya mencecah tanah,
Yang disebut baju jubah.
………………..
Kelima Baju Kutang
Yang dipakai dalam rumah,
Atau meramu kedalam hutan.
Atau ke sungai pergi berikan,
Tak boleh bawa bertandang.
Tak beradat ke rumah orang.
...........................
Yang perempuan lain bajunya
Pertama disebut Baju Kurung
Leher melingkar tulang belut,
Cengkam-cengkaman menjari lipan.
Kalau ditenun tabur bertabur,
Sulam ditangan sulam di bawah.
Sulam menjalin keliling dada,
Labuhnya sampai ke bawah lutut.
……………………….
Kibar berkibar ditiup angin,
Tidak sempit menyampul nangka.
Patut dipakai tua muda,
Tidak berbatas pemakaiannya.
Aib bertutup malu tersimpan,
Sesuai adat dengan syara’.
Sesuai ke tengah, sepadan ke tepi.
…………………………….
Kedua disebut Kebaya Panjang
Gunting bernama gunting sembilan,
Belah terbuka sampai ke bawah.
Dalam acap-acap betis,
Dalam tidak menyemakkan.
Pendek tidak menyesakkan,
Kalau berenda sebelah muka,
Berenda pula kaki bajunya,
Renda keliling lingkar-berlingkar.
……………………
Tabur-bertabur seluruh badan,
Jalin-jalin sulaman tangan.
Kalau belah mau ditutup,
Terpasang kronsang sebelah atas.
Kronsang bersusun sampai pusat,
Bertali-tali semat menyemat.
Patut dipakai tua muda,
Tidak terbatas tempat bertandang.
Baik ke tengah, patut ke tepi.
……………………..
Ketiga bernama Kebaya Pendek
Pendek menyapu-nyapu duduk,
Pendek separas-paras tanah.
Belah leher sampai ke bawah,
Genting-genting pada pinggangnya.
Kembang mengepak sebelah bawah,
Lengan panjang tidak berkibar,
Tetapi sempit tidak berketak,
Dada bertutup lapis dada.
Susun bersusun kronsang butangnya,
Rangkai-berangkai sampai ke pusat.
Patut dipakai di dalam rumah,
Pakaian perempuan sudah berlaki.
Untuk berjalan bertandang-tandang,
Atau ke helat-helat kecil,
Ke sawah atau ke sungai.
................................
Keempat, pakaian di dalam bernama kutang
Di muka ampuan susu,
Di belakang lebar sejengkal.
Berbutang tiga serangkai, sulam kelilingnya.
Kalau perempuan belum berlaki,
Sama lebar muka belakang.
Lebar labuh sampai ke perut,
Tidak terbuka jika berkemban.
3. Kain
Pertama kali Pelekat Bertapak Catur
Bertapak-tapak sama besar,
Pakaian laki-laki ke helat jamu.
Pakaian di dalam dagang luar,
Pakaian di luar dagang di dalam.
……………………….
Kalau sudah beranak bini,
Atau orang yang patut-patut.
Kain samping di bawah lutut,
Sama setengah jantung betis,
Ikat bergulung lurus-lurus.
……………………….
Kalau anak muda-muda
Kain labuh di atas lutut,
Bagai hulubalang masuk gelanggang
Bagai ayam mencari lawan,
……………………….
Kedua Kain Bertenun-tenunan.
Bertabur kepala emas,
Tabur berserak bunga hutan.
Kepala pekat berpucuk rebung,
Di pakai dalam helat jamu.
Dalam majelis yang patut-patut.
Kalau dibuat kain samping.
Kepala kain sebelah kanan
Atau membelit kebelakang.
Kalau dipakai labuh-labuhan,
Kepala terletak di belakang
………………………..
Kalau perempuan memakai kain
Kepala terletak di samping kiri,
Atau membelit ke belakang.
Belit sampai ke kedudukan,
Kalau kepala sebelah muka,
Duduk menuju atas pangkuan.
Boleh dipakai anak dara,
Bagai penyimak bujang datang.
Bagai pendinding aib malu.
...................................
Ketiga Kain Lepas
Yang disebut kain panjang,
Pakaian orang perempuan
…………………………
Keempat Kain Selingkup
Kain sarung dibuat tudung,
Berselingkup dalam helat.
Berselingkup dalam jamuan.
…………………..
Kelima Kain Basahan
Kalau lelaki separuh lutut,
Kalau betina sekembanan.
Atasnya menutup dada,
Bawahnya menutup betis.
Kain tebal tidak membayang,
Kain tidak kain berlobang.
Kain penutup aib malu,
Kain penjaga adat lembaga.
Yang dipakai waktu mandi,
Atau di rumah menyusu budak.
Tidak dibawa ke luar rumah,
Tidak dibawa pergi bertandang.
Tidak menyambut orang datang,
Patut menjadi penunggu ladang.
……………………….
4. Selendang
Selendang penutup kepala,
selendang penyungkup muka.
Penyungkup air dengan malu,
Penyungkup adat dengan lembaga.
Selendang tipis bayang-bayangan,
Pakaian orang sudah berlaki.
Tapi bolehnya dirumah saja,
Tidak dibawa ke helat jamu.
Tidak dibawa dalam majelis.
…………………..
Kalau selendang sangkut di siput
Sangkutnya tidak rendah amat.
Bawah menjulai ke atas bahu,
Ujung pangkal turun ke dada.
………………………
Kalau selendang berselingkup,
Ujung berilang di bawah dagu,
Sebelah turun ke dada,
Sebelah jatuh ke belikat.
……………………..
Kalau selendang selingkup mati
Yang tersingkap sebelah mata,
Pakaian gadis patut-patut.
Yang tahu adat lembaga,
Yang tahu air malu.
………………………
Selendang itu banyak ragamnya
Bersulam bermanik-manik,
Bertenun berbenang emas.
Berterawang awan-awanan,
Berenda berterawang.
Atau selendang biasa saja,
Yang hitam tanda berduka
Yang putih untuk mengaji,
Yang berwarna ke helat jamu.
Tempat bersuka hati,
Tempat berhimpun sesama baya.
……………………….
5. Tanjak dan Destar
Sekali bernama destar,
Duanya bernama tanjak.
Yang di ujung di kepala,
Dipakai berpatut-patut.
Yang beradat lembaga,
Yang beradat berketurunan.
Yang di jaga dipelihara,
Yang bertempat dan bertepatan,
Yang ada asal-usulnya.
……………………….
Pertama bernama belah numbang
Sama belah kiri kanannya,
Di muka guntingan layar.
Tergombak menyapu awan,
Berkelipat pucuk-pucuknya.
Pakaian anak raja-raja
Atau orang muda patut-patut.
Atau Hulubalang handalan,
Untuk masuk helat jamuan.
Untuk merempuh-rempuh gelanggang.
……………………….
Kedua bernama Tebing Laksemana
Seluk berseluk sebelah bawah
Tingkat bertingkat bertabur bunga
Lipat menyusun tebing sungai,
Sama tinggi kiri kanan
Pakaian orang Besar Negeri,
Pakaian orang yang patut-patut.
Orang kuasa tampuk negeri
…………………………
Ketiga bernama Tubang Layar
Tinggi kanan rendah kiri,
Lipat bersusun tiga lenggek
Pucuk mengipas-ngipas angin,
Bertabur bertelepuk
Pakaian raja yang berdaulat,
Pakaian Datuk pemegang adat,
Pakaian orang patut-patut
…………………………
Keempat bernama Tebing Runtuh
Bagai tebing runtuh sebelah,
Yang tinggi sebelah kanan,
Yang rendah sebelah kiri,
Yang pucuk sebelah muka.
Lipatnya jalin-jalinan,
Berlenggek bersusun lima,
Bertabur berbenang emas,
Pakaian orang besar-besar.
Orang patut dalam negeri
…………………………
Kelima bernama Tanjak Laksemana
Pucuk kelepai melambai angin,
Tiga susunan lipatan kain.
Tinggi kumpul sebelah muka,
Belakang berlekuk akar kacang,
Pakaian raja yang berkuasa,
Atau Laksemana turun ke laut.
………………………….
6. Tentang Perhiasan
gelang kaki bersusun-susun,
bergiring-giring mainannya.
kalau melangkah dengan adat,
tidak berbunyi giring-giringnya.
Kalau melangkah dengan lembaga,
Bunyi ada terdengar tidak.
Kalau anak baru pandai berjalan
Giring berbunyi tempat berjalan,
Supaya senang mencarinya,
Tahu kemana perginya.
………………………….
Gelang tangan bersusun-susun
Susun satu orang biasa,
Susun dua orang berada
Susun tiga yang patut-patut,
Susun lima datuk-datuk
Tujuh susun ke atas anak raja-raja
…………………………..
Gelang pangkal lengan,
Gelang berasal-usul
Gelang tanda suku sakatnya
Gelang dipakai dalam suku,
Gelang dipakai orang berbangsa,
Tidak terbatas banyak susunnya
……………………………
Gelang adat berbelah rotan
Disebut Gelang Bondan,
Kalau padu diberi rantai
Kalau kosong diberi mainan
…………………………..
Gelang pusaka, Kepala Ular,
Elok berkelok kait berkait
Kepala pungguk berpangguk,
Mata diberi mutu manikan,
Diberi rantai dengan mainan
………………………….
Lingkar melingkar cincin di jari
Belah rotan dijari manis,
Cincin bermata kilau berkilau
Tempat bersanggit sesama muda
kalau bersanggit cincin di jari,
menyembur darah kemuka,
berkocak iman didada
Mengulang darah ke ujung kuku,
hati di dalam guncang-guncangan
mata memandang serong-serongan,
pandang serong pandang memabukkan,
pandang tepat ia membunuh
…………………………….
Kalau tersusun cincin di jari,
Jangan dibawa berjalan-jalan
Sudah dekat hari berjanji,
Sudah sampai bulan bertunang
Kalau lelaki memakai cincin,
Cincin bermata batu akik,
Atau bermata bergunaan
Untuk pemanis-manis muka,
Untuk penyedap bercakap-cakap,
Banyak dipakai sebelah kanan.
Kalau perempuan memakai cincin,
Cincin penaik seri muka,
Banyak dipakai sebelah kiri
...................................
Rantai bersusun selingkar leher
Selapis pakaian umum,
Dua lapis orang berada,
Tiga lapis orang berbangsa,
Ke atasnya anak raja
Yang terjuntai sampai ke dada,
Atau berjela sampai ke perut.
Yang ke dada di dalam baju,
Yang ke perut di luar baju.
…………………………
Rantai selari tidak bermata,
Yang bermata bernama Rantai Bunga.
Bunga berisi mutu manikam,
Dilingkar kelopak daun,
Atau bercengkerama kuku belalang,
Atau dikungkung busut timbul
…………………………
Dokoh tergantung atas dada,
Jurainya panjang sampai ke perut.
Selapis orang banyak,
Dua lapis orang berada,
Tiga lapis orang berbangsa,
Keatasnya anak-anak raja.
Dokoh berantai kiri kanan,
Satu rantai orang berada
Dua rantai orang berbangsa,
Tiga rantai anak raja.
……………………………
Rantai di buat tangkal leher,
Dokoh berguna tangkal dada,
Menutup darah gemuruh
Menutup hati berdebar
Menutup air dengan malu,
Menutup hantu dengan setan.
Kronsang bersusun Butang Baju
Yang bulat duit-duitan,
Yang berkelopak bunga sekaki.
Yang menutup belah baju,
Yang bersusun tiga susun.

Atau lima susun tingginya,
untuk penutup air malu.
Untuk penutup darah gemuruh,
Menutup hantu dan setan.
Menjaga adat dengan lembaga,
Kerongsang berantai jurai-jurai.
Semat bersemat menepi baju,
Menyemat adat dengan lembaga.
.......................................
Pending terletak pada pinggang,
Kalau lelaki penutup kain,
Kalau betina penutup bengkung
Pending berbentuk daun sehelai,
Bersegi bagai wajik.
Pending besar pending tunggal,
Pending banyak Pending beranak.
Lingkar melingkar keliling pinggang
Untuk menutup pusat dan perut
Penutup aib dengan malu,
Penutup adat dengan lembaga
Penutup hantu dan setan,
Penutup sihir dan serapah
……………………….
Caping terletak disamping kiri,
Bentuk meniru sehelai daun,
Yang dipakai anak perempuan.
Untuk penghalau hantu dan setan,
Penutup aib dan malu
Bengkung dipakai orang lelaki
Bengkung tunggal sepembelitan,
Lebarnya setelempap tangan.
Tempat menyisip keris dan sekin.
Untuk masuk dalam gelanggang,
Atau merempuh merambah musuh,
Untuk penjaga-jaga diri,
Untuk penutup air malu,
Untuk penolak jin dan setan.
Bengkung perempuan bertali-tali
Sambung bersambung dengan pendingnya
Untuk penutup aib dan malu,
Diperbuat pula penjaga-jaga badan
......................................
Tajuk kepala berketar-ketar
Ketar disebut getar-getar,
Yang ditajuk suntingkan ke siput atas kepala.
Tajuk bukan sembarang tajuk,
Kalau berjalan dengan adat,
Tidak bergoyang tajuk di kepala
Kalau berjalan dengan lembaga,
Tidak bergerak tajuk kepala.
Kalau bergoyang gerak bergerak,
Tampak budi kurang adab,
Tampak laku kurang tertib,
Tampak kurang tunjuk ajarnya,
Tampak miang dengan gatalnya
......................................
Tajuk berjurai berjumbai-jumbai
Melingkar keliling siput,
Bersusun atau beratur.
Tiga tajuk orang banyak,
Lima tajuk datuk-datuk.
Tujuh ke atas anak-anak raja
....................................
Jumbai berjumbai sebelah kiri,
Penolak hantu setan.
Jumbai berjumbai sebelah kanan,
Penolak sirih serapah.
Jumbai berjumbai menutup,
Muka untuk menutup aib malu.
Untuk tanda gadis sunting,
Belum pernah naik pelamin.
Putih bersih bagaikan kapas,
Belum disentuh kumbang lalu,
Belum dihinggap kumbang datang,
Belum lepas dari pingitan adat
Jumbai berjumbai di belakang saja,
Tanda jalan sudah terbuka,
Tanda tangga sudah ditingkat
Tanda anak bini orang
.......................................
Hiasan kening Ketam Dahi.
Elok terletak dikaki rambut.
Himpit berhimpit anak rambut,
Bagai lengkung sehari bulan,
Tempat jurai diletakkan,
Tanda gadis dalam pingitan,
Tanda belum disentuh kumbang.
Tanda suci seputih kapas
....................................
Ketam Dahi di ubun-ubun
Untuk penutup jembalang lalu,
Untuk penutup hantu lewat.
Untuk penjaga benak kepala,
Dari sihir dengan tenung,
Dari aib dan malu.
7. Perangai berpatut
Cara berpakaian baju Teluk Belanga
Kain diikat Dagang Luar,
Kepala berkopiah saja,
Kain labuh sampai ke keting,
Kain seluar bayang-bayangan.
Serta keris dipinggang tak nampak,
Itu pakaian ke mesjid
Atau bertandang ke sanak famili

Kalau berbaju Teluk Belanga
Kain diikat bawah lutut,
Kepala memakai tanjak.
Hulu keris bayang-bayangan,
Celana labuh sampai keting
Itu pakaian datuk-datuk
Pakaian orang patut-patut,
Untuk duduk di helat jamu
Atau majelis di Balai Besar

Kalau memakai cekak musang
Kain diikat Dagang Luar,
Kepala berkopiah saja
Labuh kain sampai ke keting,
Kaki seluar bayang-bayangan
Itu pakaian pergi ke mesjid
Atau kenduri mendoa saja
Atau bertandang sama sekampung

Kalau memakai Cekak Musang
Kain diikat Dagang Dalam,
Kain labuh ke bawah lutut,
Pinggang memakai Bengkung Lebar,
Keris terpampang sebelah kiri.
Kepala memakai Destar,
Seluar labuh sampai ke keting
Itu pakaian raja-raja
Atau Datuk dan Panglima
Atau orang patut atau orang Bangsawan
Yang duduk dihelat jamu
Atau mejelis di Balai Besar

Kalau memakai Baju Belah
Ikat kainnya Dagang Luar,
Kain labuh sampai ke tumit
Itu pakaian orang ramai,
Atau Datuk diam di rumah
Atau bertandang-tandang saja

Kalau tanjak miring ke kanan
Kain terletak diatas lutut,
Belah kain nganga-menganga,
Tersibak kiri kanan.
Keris dipinggang melentang,
Lengan baju bersingsingan
Itu tanda mencari musuh,
Sombong ada pongahpun ada.
Kalau berjalan menghentak bumi,
Kalau melangkah membusungkan dada,
Kalau memandang gendeng-gendeng,
Kalau bercakap tengking-menengking

Kalau Tanjak miring ke kiri
Senget mencecah bulu mata,
Kain bersibak kiri kanan.
Keris dipinggang menelentang,
Labuh kain ke atas lutut
Lengan baju digulung tanggung.
Itu tanda membesarkan diri,
Bagai ayam masuk gelanggang.
Sebagai hulubalang mencari musuh ,
Kalau bercakap tengking-menengking
Kalau berjalan hentak menghentak,
Sombong ada pongah terbawa

Kalau Tanjak terletak lurus
Atau senget agak sejari,
Senget kanan senget kiri.
Antara nampak dengan tidak,
Kain diikat belahnya lurus.
Dagang Luar Dagang Dalam,
Berkeris berajawali.
Menelungkup sebelah kiri,
Itu tanda orang beradat.
Tanda tahu sopan santun,
Tanda tahu pada bangsanya
Tanda berpihak atas lembaga,
Cakapnya berusai-usai.
Langkahnya bagai dibilang,
Lenggangnya bagai ditatah.
Itulah orang yang patut-patut,
Yang patut dituakan.
Yang patut didahulukan,
Yang patut dibawa berunding.
.........................................
Yang disebut pakaian Lengkap
Pertama memakai destar,
Kedua ber-cekak musang,
Ketiga berkain samping
Keempat berseluar labuh.
Kelima berkeris,
Keenam berselempang.
Ketujuh berbengkung berpending,
Kedelapan berkasut kaki,
Kesembilan berkampil sirih,
Kesepuluh bergelang dokoh,
Kesebelas bercincin,
Kedua belas bersapu tangan.
.....................................
Yang disebut Pakaian Tua
Pertama ber-teluk belanga,
Kedua berkain samping
Ketiga berseluar labuh,
Keempat berkopiah
Atau destar menurut patutnya
Kelima berikat bengkung,
Keenam berkeri
Ketujuh berkasut kaki,
Kedelapan berkampil sirih
Kesembilan bersapu tangan
.......................................
Kalau Gadis di pelaminan
Pertama berbaju kurung,
Atau memakai Kebaya Panjang
Kedua berkain labuh
8. Kelengkapan penyeri
Dalam pakaian adat tradisional Melayu
Berkait pula dengan :
Inai,
Inai ditangan,
Merahnya merah pemanis,
Merah penolak hantu setan,
Merah tanda dalam anyir,
Tidak dapat digamang-gamang,
Tak boleh berjalan jauh,
Tanda diri dalam ikatan,
Tanda kasih hendak ditanam,
Tanda penaik seri muka,
Seri pelangi elok manis,
Inai kuku inai pemanis,
Inai telapak tangan penjaga diri,
Dan inai di telapak kaki
Inai tanda jauh berjalan.
.....................................
Celak,
Kalau mata memakai celak,
Celak pemanis seri pelangi,
Celak pelindung biji mata,
Yang jahat pergi jauh,
Yang aniaya tidak sampai,
Yang buruk menjadi baik,
Yang bertingkah diam-diam.
......................................
Sirih pemanis,
Kalau memakan, merahnya membayang bibir,
Manisnya ditengok orang banyak,
Manis bagai manisan bunga,
Manis penaik cahaya muka,
Manis pembangkit tuah badan.
.......................................
Sirih Lelat,
Daunnya berukir terawang,
Daun berhias bunga putih,
Dan bertuah tanda tiba,
Untuk pembangkit seri muka,
Untuk penangkis musuh datang,
Untuk penenang-penenang hati,
Untuk tanda datang baik,
Untuk pengisi adat lembaga.
.......................................
Bedak Pupur,
Untuk pembangkit seri bulan,
Bedak pemanis penyeri wajah.
Pemanis muka, yang tipis layang-layangan,
Terbayang darah kemuka,
Terdamping air ditelan.
Bedak langit sekujur tubuh,
Tepung berlimau purut,
Berbunga banyak ragam bercampur pandan wangi,
Guna melindungi badan,
Pembuang peluh kusuk.
...................................
Kasut
Kasut sebagai alas kaki,
Bermanik bertatah mutu manikam,
Lentik-lentik mengujung jari,
Untuk meningkat pelaminan,
Untuk duduk di majelis besar,
Pakaian anak raja-raja,
Anak datuk-datuk, orang patut serta berasal-usul.
...................................
Selempang Panjang,
Tersimpai dibahu kanan,
Ujung terurai ke ikat bengkung,
Geser-geseran ke sampir keris,
Pakaian raja yang berdaulat,
Pakaian datuk kuat kuasa,
Pakaian panglima pemberani,
Tekadnya menulang daun,
Tabur telepuk rapat-rapat.
.........................................
Tampan-tampan,
Tersampai ke bahu kanan,
Pakaian orang penjawat,
Pertama Penjawat Tepak,
Kedua Penjawat Keris Pendek,
Penjawat Pedang, Penjawat Keris Panjang,
Penjawat Tombak, Penjawat Payung, Penjawat Tanda.
.....................................
Keris,
Keris tersisip sebelah kiri,
Keris beradat berlembaga,
Keris telentang tanda mencari lawan,
Bagai ayam berkokok berdentang,
Bagai hulubalang masuk gelanggang,
Elok dipakai dalam hutan
Atau berlayar tengah laut,
Untuk menjaga-jaga diri.
Keris sampir telungkup,
Tidak mencari lawan,
Tidak mencari musuh,
Yang dipakai dalam jamuan,
Untuk pergi bertandang,
Berselubung sampai ke hulu,
Tanda beradat berketurunan disebut keris Terapang.


Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta