1. Dapur Orang Melayu

Attayaya Butang Emas on 2009-04-14

Sebagaimana umumnya rumah orang Melayu di daerah pesisir di sepanjang pantai Timur Pulau Sumatera, kemudian juga di beberapa daerah seperti di Bagan Siapi-api, Bengkalis, Selat Panjang, Tembilahan, Kuala Enok dan lain-lain, rumah tradisional orang Melayu di kepulauan Riau sendiri termasuk golongan rumah nelayan. Bangunannya berbentuk rumah panggung berbubung (panjang) dan beratap limas.

Di daerah pantai yang berawa-rawa rumah didirikan di atas tiang yang lebih tinggi agar tak terkena oleh air pasang (naik). Tingginya kadang-kadang sampai 2 atau 3 meter lebih dari tanah yang kalau pasang surut penuh dengan lumpur. Keadaan lingkungan rumah yang berawa-rawa ini kebanyakan terdapat di daerah sungai Rokan, Siak, Kampar, Inderagiri dan Enok, yang pada umumnya di sepanjang pantai Timur Sumatera. Tetapi ada juga disebahagian daerah-daerah, tidaklah demikian. Yaitu ada rumah–rumah yang didirikan di atas tanah keras di pinggir-pinggir pantai yang berpasir. Seperti di kepulauan Riau pada umumnya.

Pola pemukiman penduduk di daerah ini mengikuti alur jalan lalu-lintas umum yang terdapat di sepanjang pantai ataupun daratan di sesuatu pulau. Pada umumnya rumah itu menghadap ke jalan umum yang membentang di sepanjang kampung atau desa.

Tempat dapur rumah tradisional penduduk daerah ini terdapat di bagian belakang. Antara rumah dan dapur terdapat ruang pemisah berupa gang yang disebut “gajah menyusu” atau “susur pandan”. Ruang ini merupakan serambi penghubung antara ruang rumah dengan ruang dapur.

Tungku tempat memasak tidak hanya terdapat di ruang dapur, tetapi juga pada tempat lain di luar dapur. Bangunan ini terpisah dari dapur, terletak kira-kira sepuluh meter di sebelah belakang. Namanya bangsal masak luar rumah. Bersebelahan dengan bangsal masak ini, pada sisi kanan atau kiri biasanya ada pula bangunan lain yaitu bangsal kerja untuk menggiling karet. Di belakang bangsal gilingan karet ini terdapat sumur tempat mandi yang diberi dinding seng atau atap daun nipah dan sebangsanya. Di daerah bagian belakang rumah atau dapur ini terdapat pula bangunan “kakus” tempat buang air (wc/toilet).

Antara jalan dan rumah terdapat lapangan halaman pekarangan rumah. Halaman depan dekat pinggir jalan biasanya diberi berpagar hidup. Begitu pula bekas pekarangan dengan tanah/pekarangan tetangga sebelahnya kadang-kadang berpagar, tetapi kebanyakan tidak. Jalan melalui samping rumah biasanya tidak ada. Sebab di daerah bagian belakang tidak ada lagi rumah tempat tinggal orang. Di daerah ini terdapat kebun-kebun karet atau kebun lainnya.

Kalau memelihara ternak seperti ayam, itik dan sebagainya, kandang ternak itu di bangun di belakang dapur. Kandang ini adakalanya terpisah dari dapur, tetapi kadang-kadang menempel ke bangunan lain, misalnya pada dapur atau bangsal memasak.

Di sekitar pekarangan, kadang-kadang terdapat pokok buah-buahan atau kelapa untuk keperluan sehari-hari. Keadaan seperti yang digambarkan itu, tentunya tidak seluruhnya demikian, namun begitu demikianlah kira-kira gambaran umum situasi lingkungan dapur dan pekarangan rumah orang Melayu di desa-desa atau kampung yang tinggal di sebelah darat. Akan sangat berbeda dengan yang bermukim di sepanjang pantai.

Dapur senantiasa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suatu rumah tangga, termasuk rumah tangga orang Melayu Riau Kepulauan. Oleh masyarakat setempat, dapur secara simbolis dianggap merupakan pelambang kesejahteraan keluarga. Lebih konkrit lagi sebagai lambang perut keluarga, rezeki keluarga, yaitu mencakup hasil kebun dan jerih payah usaha keluarga. Bahkan merupakan lambang kesejahteraan masyarakat daerah setempat.

Oleh karena itu, orang Melayu Kepulauan Riau mempunyai kepercayaan yang kuat akan “semangat” atau “nama” yang terdapat pada setiap dapur. Kalau “semangat” tidak dipelihara dengan baik maka ia akan hilang. Dan ini berarti hantu atau setan dapur, dinamakan “hantu pisau raut” (disebut demikian karena menurut keyakinan masyarakat ke dua belah siku hantu tajam seperti pisau raut) akan merajalela, dan oleh karena itu kesejahteraan keluarga terancam.

Mungkin karena mempunyai perasaan yang sedemikian itu, maka dapur diperlakukan dengan cara yang khusus dalam tradisi kehidupan masyarakat. Perlakuan khusus ini tidak saja berhubungan dengan pantang dan larangan yang erat hubungannya dengan tingkah laku penghuninya, tetapi juga dalam membangun dan menetapkan tempat dapur dalam lingkungan rumah tangga.

Dalam susunan rumah tangga penduduk, dapur harus dibangun pada permukaan tanah yang baik, tidak boleh terletak diatas bekas sumur yang telah ditutup, misalnya, dan bebas dari rintangan. Dapur harus dibuat dari bahan kayu yang baik, tahan lama, dan mempunyai syarat-syarat tertentu ketika mengambil atau meramunya di hutan. Misalnya, hari rabu atau saat bulan terang adalah pantang menebang kayu untuk bahan pembuat dapur. Ketika ditebang, kayu tak boleh tertimpa kepada kayu lain, tumbangnya harus baik tak ada penghalang.

Menurut susunan ruang rumah, dapur senantiasa berada dibelakang. Ia merupakan bangunan yang tersendiri dan dihubungkan dengan rumah oleh sebuah gang yang dinamakan “susur pandan” atau “gajah menyusu”. Pada dinding kiri dan kanan, dapur diberi jendela dan di belakang sebuah pintu keluar. Di depan pintu dapur ini terdapat “pelantar” tempat mencuci piring mangkuk. Pintu ini khusus untuk keperluan keluarga saja, tamu tidak dibenarkan lewat pintu ini.

Susunan ruang rumah biasanya terdiri atas beberapa ruang, antara lain beranda, anjungan pada bagian depan yang menghadap tangga. Arah ke dalam terdapat ruang beranda dalam yang luas membujur ke kiri-kanan rumah dan mendapat cahaya penerang dari sinar matahari siang melalui jendela di sisi kiri dan kanan ruang itu. Sebelah belakang ruang ini terdapat kamar tidur dua buah yang di antarai oleh ruang tengah yang berujung ke ruang beranda belakang. Pada satu sisi ruang ini terdapat sebuah pintu yang menuju ke suatu ruangan yang dinamakan “ketapak samping”. Pada setiap sisi ruangan ini terdapat jendela, dan kesebuah pintu menuju gang serambi penghubung bernama “susur pandan”.

Walaupun tidak semua rumah mempunyai susunan atau tata ruang demikian, sebab tidak semua ruang yang ada di kampung serupa bentuk dan susunannya, namun demikianlah gambaran tempat dapur dalam hubungannya dengan lingkungan rumah tangga tradisional.

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta