1.2. Air dan Sampah buangan Dapur.

Attayaya Butang Emas on 2009-04-18

Seperti diketahui, air merupakan keperluan pokok dalam kehidupan sehari-hari manusia. Tiadalah dapat dibayangkan kehidupan tanpa air. Setiap hari kita memerlukan untuk keperluan minum, mencuci dan mandi. Kebersihan sangat erat hubungannya dengan air dan bagaimana kita memperlakukan air bekas cucian itu.

Karena itu sumber air, terutama untuk keperluan makan dan minum selalu menjadi masalah di daerah pantai yang dapat dicapai air laut ketika pasang. Sebab didaerah-daerah seperti ini air tanah tak dapat dipergunakan sebagai air minum. Sumber air minum di daerah ini satu-satunya adalah air hujan. Bila musim kemarau datang, sekaleng air hujan sangat berharga dan karena itu air menjadi barang dagangan yang diperjual-belikan orang.

Hal seperti ini biasanya terjadi di daerah-daerah pesisir seperti Bagan siapi-api, Dumai, Bengkalis, Selat Panjang, Tembilahan, Enok dan lain-lain. Hal yang sedemikian menjadi masalah umum pula pada beberapa tempat di daerah Kepulauan Riau. Akan sangat mujurlah tempat-tempat yang mempunyai sumber air minum yang berasal dari mata air yang mengalir dari bukit-bukit atau gunung melalui sungai-sungai kecil ke daerah pantai, atau daerah yang agak ketinggian sehingga tidak tercapai oleh air laut yang meresap ke dalam tanah. Daerah ini dapat dibuat sumur untuk sumber air minum.

Di daerah Kepulauan Riau sebagian daerahnya terdiri atas daratan yang berbukit-bukit kecil, sehingga di sebahagian daerah tersebut, sumber air minum dapat diambil dari air tanah, baik dengan cara membuat sumur maupun dari mata air yang berasal dari bukit atau gunung.

Masalah lain yang ditimbulkan dari air adalah bekas air yang digunakan di dapur. Kegiatan memasak dan makan yang berlangsung setiap hari, dan berpusat di dapur selain menghasilkan air kotor juga menghasilkan sampah buangan dapur. Lalu bagaimana masyarakat memperlakukan limbah air dan sampah buangan dapur yang merupakan kebiasaan menurut tradisinya.

Dari penelitian yang dilakukan di beberapa daerah ditemukan banyak persamaan dalam cara memperlakukan air limbah dan sampah buangan dapur oleh masyarakat. Yaitu air limbah cucian di buang di bawah pelantar. Genangan air di bawah pelantar itu kemudian dialirkan melalui parit ketempat pembuangan dibelakang dapur. Air limbah ini kadang-kadang dipergunakan untuk pupuk tanam-tanaman sayur yang ada di sekitarnya. Tapi lebih sering tidak, karena daerah sekitar “pelimbahan” itu pada umumnya sudah subur. Disekitar pelimbahan ini biasanya ditanami dengan sirih, pisang, kelapa, dan tanam-tanaman untuk obat dan keperluan-keperluan dapur lainnya.

Sedangkan sampah buangan dapur seperti sisa-sisa bahan makanan, daun atau kertas pembungkus dan sebagainya biasanya dikumpulkan ke dalam keranjang yang disediakan dekat tungku dapur. Sisa-sisa makanan yang terserak di lantai di sapukan dan dikumpulkan ke dalam keranjang sampah. Remah nasi itu tak boleh jatuh ke bawah lantai. Karena itu, terutama di waktu malam, dipantangkan menyapu lantai.

Sampah dapur yang terkumpul dalam keranjang sampah, kemudian di buang ketempat “pelimbahan”, yaitu tempat khusus membuang sampah yang terdapat di belakang dapur. Pelimbahan ini merupakan sebuah lobang dalam lingkungan pekarangan, setelah sampahnya penuh kemudian ditimbun atau di bakar. Karena itu lingkungan pelimbahan ini tanahnya sangat subur. Di sekitar ini ditanam kelapa atau pohon buah-buahan. Sampah pekarangan disapukan juga ke daerah ini.

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta