3. Berzanji

Attayaya Butang Emas on 2010-01-22

Karena sudah terlalu akrab dengan prosa dan puisi yang dibacakan riwayatnya (membaca rawi) dan didendangkan puisinya yakni tentang kebesaran Nabi Muhammad SAW, meskipun dalam bahasa Arab, orang Melayu menganggap suku pertama pada kata itu diberi nama genre kesenian ini dengan imbuhan "ber". Padahal yang sebenarnya kata berzanji berasal dari kata Al-Barzanji yaitu nama keluarga seorang bangsawan Kurdi yang menulis rangkaian prosa dan puisi yang sangat terkenal itu. Karyanya dikenal mulai dari Maroko di belahan bumi sebelah barat sampai ke Iran di belahan bumi sebelah timur. Karena berhubungan dengan membesarkan seorang tokoh paling besar dalam agama Islam yaitu Rasulullah SAW sendiri, pembacaan karya Ja’far Al-Barzanji tak boleh dipandang sebagai seni biasa. Ini adalah seni pertunjukkan yang berhubungan dengan tokoh agama yang paling dihormati tiada tolok bandingannya. Dengan demikian, nilai yang terkandung di dalamnya tentulah nilai keagamaan.

Mulanya karya Ja’far Al-Barzanji khusus dikarang untuk dipakai pada hari peringantan kelahiran Nabi Muhammad saw yang disebut Maulud. Peringatan ini sendiri sebenarnya tak dalam tradisi Islam. Baru pada 1270 Muzaffar ad-Din di Mosul, Irak, merayakannya dan sejak itu menjadi tradisi baru yang sangat luas penyebarannya. Para seniman sastra dan musik berkumpul setiap tahun di tempat-tempat tertentu untuk memperlihatkan keakhlian dan kemampuan seni mereka dalam membesarkan nabi yang dinamakan juga Sinar Gemala Mustika Alam. Meskipun bagi pengikut mahzab yagn keras, terutama para fiqih, peringatan ini dinyatakan sebagai bid’ah, banyak sekali pengikut sufi yang mengelu-elukannya. Di negeri-negeri timur peringatan Maulud seperti sudah menjadi keharusan. Dan karya Ja’far Al-Barzanji menjadi pegangan utama dalam perayaan tersebut.

Di kepulauan Riau, membaca Maulud dengan rangkaian Barzanji, Asrakal, dan atau Marhaban tak hanya dilakukan pada peringatan Maulud. Dalam hal ini, pembacaan dilakukan juga untuk membesarkan hari-hari raya Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, Asyura, juga perayaan seperti nikah-kawin dan pesta tradisional. Selain itu, di Kepulauan Riau juga dilakukan usaha menerjemahkan karya tersebut.

Terjemahan karya Ja’far Al-Barzanji ke Kepulauan Riau memang tersebar luas, tetapi tak ada catatan yang menunjukkan terjemahan itu dipakai dalam upacara. Jadi, mungkin digunakan untuk memahami maknanya. Lain halnya dengan Sinar Gemala Mestika Alam karya Ali Haji yang selalu dibaca pada upacara Maulud.




Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta