2. Wayang Cecak

Attayaya Butang Emas on 2010-01-20

Wayang cecak merupakan suatu seni pertunjukkan yang paling tak meluas di antara segala macam seni pertunjukkan lainnya di Kepulauan Riau. Permainan ini berasal dari kalangan orang Cina yang banyak bermukim di Tanjungpinang dan Daik, Lingga.

Hubungan antara keluarga Kapitan Cina di Tanjungpinang dengan orang Melayu dapat ditelusuri dari sebuah karya seperti Syair Perkawinan Nak Kapitan dan serangkaian karya seperti itu. Di wilayah hukum pemerintahan Hindia-Belanda di Kota Tanjungpinang pada 1852 terdapat 1165 jiwa penduduk Cina yang sudah berusia 12 tahun ke atas. [Netscher, 1854;128]. Mereka terdiri atas dua suku bangsa yaitu suku Kwantung yang bertempat tinggal di Senggarang (disebut juga “seberang” oleh orang-orang yang tinggal di Tanjungpinang dan Penyengat dan suku lain yang tinggal di Tanjungpinang). Kelompok orang Cina dikepalai oleh seorang kapitan. Sejak 1818 Kapitan Tua (Tan Hoo) berhasil mendamaikan suku yang bermusuhan. Keberhasilan itu menambah tinggi derajat Kapitan itu pada masa pemerintah Hindia-Belanda dan Kerajaan Riau-Lingga.

Pergaulan perempuan Melayu dengan istri dan anak Kapitan Cina ini menyebabkan mereka saling memelajari kesenian masing-masing dan salah satu bentuk kesenian golongan Cina dapat memberikan gambaran tentang terjadinya penyebaran suatu bentuk kesenian yang beasal dari golongan itu. Adalah sebuah catatan tentang wayang cecak ini pada sebuah kitab yang dikarang oleh Claudine Salmon, seperti berikut:

ada satoe njonja Tionghoa dengan anak prampocannja, golongan orang baek-baek tapi miskin, jang biasa tjari penghiopenan dengan trima oepah menjanji dan mendongeng. Beberapa njonja biasa patoengan aken ondang itoe iboe dan anak di salah satoe roemah boeat dengerkan rame-rame marika poenja dongengan dan njanjian, jang bianja diberikoetkan djoega dengan taboengan gambang…. Banjak njonja-njonja tionghoa jang pande berpantoen lantaran soedah biasa denger wajang tjokek jang meramekan pesta-pesta jang mempoenjai stock besar dari segala mathem pantoenan” (Claudine Salmon, 1985:30)

Wayang cecah hanya merupakan suatu bentuk seni pertunjukkan yang dipertunjukkan di rumah-rumah tangga orang kaya ataupun yang berkedudukan, dan tiada begitu menyebar di tengah-tengah masyarakat. Di Pulau Penyengat sampai tahun 1940-an hanya ada seorang yang pandai memainkan seni pertunjukkan ini. Dia bernama Khadijah Terung, salah seorang istri Abu Muhammad Adnan. Konon, perempuan ini memiliki banyak ilmu gaib sehingga oleh suaminya dia disuruh menuliskan bermacam-macam jenis ilmu gaib yang dia ketahui. Hasilnya berupa sebuah manuskrip yang berjudul Perhimpunan Bagi Laki-laki dan Perempuan (Koleksi Yayasan Indera Sakti 1983 No. 09).

Dari perempuan inilah (meninggal 1950-an) perkhabaran tentang wayang cecak dapat diketahui sedikit. Khadijah Terung ialah seorang istri Abu Muhammad Adnan, dari kalangan orang kebanyakan (bukan keturunan raja). Kepadanya dipercayakan penjagaan anak-anak dan kemudian cucu-cucu suaminya. Dan, untuk pelengah waktu dia membuat boneka dari perca kain kira-kira sepanjang sejengkal yang dipelajarinya dan persentuhan dengan keluarga kapitan Cina di Tanjungpinang. Dengan sebuah ranjang miniatur sebagai pentas, Wayang Cecak dapat dimainkan utnuk mengantar cerita-cerita yang memang sudah diketahui. Boneka perca kain itu hanyalah alat untuk mengantarkan cerita yang diantaranya adalah sari dari syair-syair semacam Siti Zubaidah, Selendang Delima dan semacam itu.



Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta