11. Akad Nikah

Attayaya Butang Emas on 2008-11-18

Acara akad nikah merupakan puncak dari segala rangkaian upacara perkawinan. Sah atau tidaknya perkawinan ditentukan oleh akad nikah, sedangkan acara lainnya hanya sebagai pelengkap yang diatur oleh adat istiadat. Acara akad nikah adalah untuk mengesahkan perkawinan baik menurut agama maupun adat. Sedangkan acara akad nikah lazimnya dilaksanakan di rumah calon pengantin perempuan pada malam hari. Tetapi pada masa sekarang, acara akad nikah sering dilaksanakan pagi hari sejalan dengan hari persandingan atau hari pesta perkawinan. Oleh masyarakat Melayu Riau, acara akad nikah lazim juga disebut dengan acara “turun nikah”. Disebut demikian, karena calon pengantin laki-laki turun dari rumahnya untuk menikah ke rumah calon pengantin perempuan.

Sebelum berangkat ke rumah calon pengantin perempuan, di rumah calon pengantin laki-laki diadakan acara kenduri yang dihadiri oleh keluarga dan tetangga terdekat saja. Kenduri ini sebagai do’a selamat supaya Allah SWT memberikan keselamatan atas calon pengantin dan keluarganya. Disamping itu juga sebagai do’a restu orang tua beserta seluruh keluarga, handai taulan terhadap calon pengantin laki-laki supaya acara akad nikah berjalan dengan lancar.

Setelah pembacaan do’a selesai, dilanjutkan dengan makan bersama berupa makanan ringan yang dalam bahasa Melayu Riau disebut “pengalas perut” atau pengganjal perut. Sajian ini berupa : roti jala, roti perata atau roti canai yang kesemuanya ini dinamakan dengan lauk masak kari ayam, daging kambing, udang atau ikan. Selain itu sebagai “pencuci mulut” yaitu sejenis makanan yang dimakan setelah makan makanan yang pedas seperti : buah-buahan, kue-mue manis. Buah-buahan yang menjadi pencuci mulut antara lain pisang dan semangka, pencuci mulut berupa kue-mue manis seperti anta-kesuma (hantu kesuma), dodol, kole-kole, dan wajik.

Apabila para utusan atau penyongsong menyatakan siap, maka calon pengantin laki-laki melakukan “sembah” kepada kedua orang ibu bapaknya untuk minta ampun atas segala dosanya serta minta do’a restu kepada seluruh kerabatnya. Selanjutnya orang tua calon pengantin laki-laki menyerahkan anaknya kepada orang kepercayaannya sebagai wakilnya yang akan memimpin serta mengantarkan ke rumah calon pengantin perempuan untuk dinikahkan.

Keberangkatan calon pengantin laki-laki menuju rumah menuju rumah calon pengantin perempuan ditandai dengan “shalawat nabi” dengan membawa sirih nikah, bunga rampai, mas kawin (mahar) dan barang-barang “serba satu” serta lengkap dengan kapur sirih, gambir, pinang dan tembakau. Posisi sirih disusun telungkup. Sedangkan serba satu adalah berupa seperangkat pakaian seperti baju, kain (sarung), dan sandal.

Di rumah calon pengantin perempuan, calon pengantin laki-laki disambut dengan bunyi-bunyian kompang dan ditabur dengan beras kunyit sebelum masuk rumah, tepatnya di muka pintu rumah. Bunyi-bunyian kompang ini berfungsi sebagai penghibur kedua calon pengantin serta para undangan. Sedangkan tabur beras kunyit fungsinya sebagai do’a restu.

Selanjutnya calon pengantin laki-laki didudukkan di atas tikar nikah dengan gading-gading pengiringnya yang duduk di sebelah kiri dan kanan. Tikar nikah terbuat dari lapisan kain “plekat” dan dibungkus dengan kain songket atau kain-kain yang bercorak gemerlap. Setelah calon pengantin laki-laki duduk dengan tenang, acara pernikahan dimulai dengan dengan “penyerahan” calon pengantin laki-laki kepada keluarga calon pengantin perempuan untuk dinikahkan. Sementara itu, calon pengantin perempuan berada dalam bilik pengantin. Serah terima ini dimulai dengan ucapan salam dari ketua rombongan kedua belah pihak dengan berpantun-pantun.

Berikut ini hendak digambarkan menurut yang patut berkenaan acara tersebut dalam percakapan antara kedua orang yang menjadi wakil dalam acara tersebut.

01. Wakil lelaki :
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Kami ucapkan salam kepade tuan dan puan sekalian, kami datang dengan membawe pesan untuk bertemu keluarge budiman...

02. Wakil perempuan :
Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh...
Kami balas atas salam yang disampaikan, akan kedatangan tuan-tuan dan puan-puan, kami sambut dengan hati terbuke dan kesenangan.

03. Wakil lelaki :
Banyak yang lahir perempuan,
Diberikan name Seri Melati,
Saye menghadap kepade tuan.
Sebagai wakil pihak lelaki.

Tinggi pokok si asam paye,
Batang berduri jangan dipanjat.
Kalau boleh saye bertanye,
Pade siape menyampaikan hajat?


04. Wakil perempuan :
Kalau tuan ke negeri Arab,
Berjumpe tuan orang Serani.
Pertanyean tuan kami jawab,
Saye wakil pihak di sini.


Penjelasan :
Setelah diketahui siapa teman bercakap, maka wakil ahli bait calonpengantin lelaki menyerahkan tepak sirih untuk dicicipi sebagai pertanda upacara serah terima dimulai. Diperkatakan pula dengan pantun...

05. Wakil lelaki :
Pergi belanje dengan perahu,
Hendak membeli sekati gule.
Wakil di sini sudahlah tahu,
Sirih dihidangkan tande bermule.


06. Wakil perempuan :
(Sambil mencicipi sirih, iapun berpantun)
Kalau menangkap ikan aruan,
Pakailah joran sebatang lidi.
Sungguh sedap sirihnye tuan,
Rasekan pule sirih di sini.


07. Wakil lelaki :
Tinggi menjulang getah sadap,
Pokoknye tue jangan dipanjat.
Sirih tuan tak kalah sedap,
Mulailah saye menyampaikan hajat.


Penjelasan :
Setelah menyampaikan salam takzim dan pesan dari pihak kedua orang tua calon pengantin lelaki dan keluarganya, karena sesuatu hal tidak dapat datang dan mewakilkan kepadanya; menurut yang sudah menjadi adat, orang tua dan saudara kandung calon pengantin lelaki tiada diperkenankan hadir dalam acara pernikahan tersebut, bersebab akan mendatangkan aib bagi keluarga. Maka selanjutnya wakil pihak lelaki itu menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya beserta rombongan melalui pantun sebagai berikut...

08. Wakil lelaki :
Bukan petang sebarang petang,
Di waktu orang mengibar panji.
Bukan datang sebarang datang,
Datang hendak menepati janji.


Penjelasan :
Maka si pihak lelaki menyerahkan satu persatu barang iring-iringan dengan diiringi pantun, yang kemudian diterima oleh pihak perempuan.

09. Wakil lelaki :
Kalau memancing ikan gelame,
Pakailah umpan si anak bilis.
Bunge rampai iringan pertame,
Buat penyeri seluruh majelis.

Baju kebaye berselendang kain,
Kain merah berwarne sage.
Yang kedua berupe mas kawin,
Sudah menjadi sepakat keluarge.

Yang mane satu si kue putu,
Bahan terbuat tepung pulut.
Yang ketige pule serba satu,
Berupe seperangkat pakai patut.

Kalau tuan berkarang lokan,
Dimasak lokan berkuah kari.
Kue-mue kami sertekan,
Buat santapan keluarge puteri.

Siramkan pokok bunge melati,
Melati buat penghias siput.
Buah-buahan tidak sepeti,
Sekedar buat pencuci mulut.


Penjelasan :
Dalam pantun di atas terdapat perkataan “seperangkat pakai patut”, yang dimaksudkan adalah pakaian yang layak dipakai. Sedangkan kata-kata “penghias siput” maksudnya bentuk sanggul perempuan, yaitu sanggul siput.

Jika seandainya di dalam acara nikah kawin tersebut, ada adat “melangkah batang”, yaitu kakak perempuan dari calon pengantin perempuan yang belum menikah, maka diserahkan barang antaran berupa sepersalinan pakaian untuk kakak kandung calon pengantin perempuan. Hal yang sedemikian tiada pula berlaku bagi si abang dari calon pengantin perempuan. Dalam hal ini ada pula pantunnya...

10. Wakil lelaki :
Dari jauh kami lambaikan,
Supaye tuan sudilah datang.
Tak lupe kami bawekan,
Seperangkat pelangkah batang.

Biduan bermadah di malam sepi,
Lagu nyanyian dendang merawan.
Diserahkan sudah pengantin lelaki,
Tolong nikahkan, tolong kawinkan.


11. Wakil perempuan :
Cincin bermate batu delime,
Itulah tande hiasan kasih.
Barang sudahpun kami terime,
Tiadelah kurang tidaklah lebih.

Hendak menyusun sekapur sirih,
Sirih di susun di dalam tepak.
Kami mengucapkan terime kasih,
Serahkan kepade yang berhak.

Hendak meraut sebatang lidi,
Lidi pembuat anyaman lukah.
Pengantin diserahkan pade Tok Kadi,
Untuk melangsungkan akad nikah.

Menebang kayu membuat galah,
Galah pembuat si tupai-tupai.
Syukur kite kepade Allah,
Karene tugas sudahpun selesai.


Penjelasan :
Yang dimaksud dengan “tupai-tupai” adalah bagian dari bangunan atap rumah yang berfungsi sebagai penopang atap.

Kembali pada acara tersebut. Setelah semuanya barang hantaran kecuali tepak sirih dan mas kawin, semuanya disimpan ke dalam bilik calon pengantin perempuan.

Kemudian Wali Hakim, wakil calon pengantin perempuan dan dua orang saksi mengambil tempat yang telah ditentukan. Wali Hakim dan wakil calon pengantin perempuan duduk di depan calon pengantin laki-laki, sedangkan kedua orang saksi duduk di kiri-kanan calon pengantin perempuan.

Yang sepatutnya menjadi wali kepada calon pengantin perempuan adalah ayah kandung. Apabila orang tua kandung (ayah) sudah tiada atau meninggal dunia, bolehlah wali diganti dengan saudara kandung laki-laki dari calon pengantin perempuan. Apabila calon pengantin perempuan tidak mempunyai saudara kandung laki-laki, maka yang bertindak sebagai wali adalah saudara kandung laki-laki ayahnya. Orang yang berhak menikahkan calon pengantin perempuan adalah para wali calon pengantin perempuan dan wali hakim.

Biasanya pula sebelum acara dimulai terlebih dahulu seorang pembawa acara akan membuka dengan “ura-ura” atau permulaan mukaddimah sebelum masuk ke acara nikah. Maka perkataan itu antara lain sebagai berikut :

12. Pembawa acara :
Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin
Ash sholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya i wal mursalin
Wa’ala ‘alihi wa ashhabihi ajmain...

Tuan-tuan, puan-puan, ncik-ncik, handai taulan, sanak saudare,
baik yang jauh maupun dekat.
Yang kecik tiade disebutkan name,
Yang besar tiade pule disebutkan gelar,
Yang berpangkat tidak disebut jabatannye.
Seraye bersyukur kepade Allah SWT.

Kecik telapak tangan, nyiru ditadahkan,
Putihnye kapas dapat terlihat, putih hati berkeadean,
Begitu besar kegembirean hati,
Dan berterime kasih kepade tuan-tuan, puan-puan,
ncik-ncik sekaliannye atas kehadirannye
dalam memenuhi undangan dan jemputan kami.

Besar langsat di tepi busut,
Besar tak muat dalam peti.
Besar sungguh hajat menjemput,
Besarlah niat di dalam hati.

Nak dare cantik pakai kerudung,
Serasi pule dengan pakaian.
Lame sudah hajat di kandung,
Baru kini dapat kesampaian.


Sabar sudah berdundang ke langit
Berite sudah merebak ke bumi

Insya Allah sebentar lagi kami akan menikahkan puteri kami yan bername .................... dengan anaknde kite yang bername ..................

Jike terdaoat salah dengan silih
Entah tersalah letak denga tegak
Entah duduk yang tidak nyaman
Entah kelak makan yang tidak berdecas
Entah tegur sape kami yang kurang berkenan
Sehinggelah tiade pule menutup sebarang kelemahan
Tetapi, kesemuenye ini diluar kehendak kami
Tiade lain juge yang hendak dipeinte
Uluran tangan dan kasih sayang yang dipinte
Mohon maaf dan ampun atas segalenye.

Alhamdulillah...
Adat tepian berbahase
Cukup bercakap sudah terjawab
Ibarat gendang sudah bertingkah
Barang antaran sudah diterime
Kecik telapak tangan, nyiru kami tadahkan
Terime kasih daun keladi
Kalau nak beri tambahlah lagi...

Make sekarang ini
Putus kate dengan mufakat
Marilah kite menyaksikan upacare ijab-kabul
Untuk mendapatkan rahmat Illahi
Kite awali dengan pembacean qalam Illahi.

Penjelasan :
Kemudian dilakukan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Setelah pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, acara dilanjutkan kembali dengan ....

13. Pembawa acara :
Malam hari ke Pulau Rupat,
Membawe suluh mencari ikan.
Qalam Illahi membawe berkat,
Kite jadikan suluh-pedoman.


Tuan-tuan, puan-puan, ncik-ncik sekaliannye,
Sekarang sampailah masenye akad nikah atau ijab-kabul, yang akan dilafaskan oleh orang tue calon pengantin perempuan...

14. Orang tua calon pengantin perempuan :
“Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau .......... bin .......... dengan ........... anak kandungku dengan emas kawinnya ......................, dibayar tunai”

15. Calon pengantin lelaki :
“Aku terime nikahnye ............. binti .............. anak kandung ayah (bapak) dengan mas kawinnye .............................., dibayar tunai”

selesai pengucapan ijab-kabul atau akad nikah, maka wali hakim menanyakan keabsahan akad nikah kepada kedua orang saksi. Pengucapan tersebut biasanya sampai berulang kali dan paling sedikitnya dua kali walaupun pengucapan yang pertama sudah benar.

Jika kedua saksi menyatakan bahwa akad nikah adalah “syah”, maka syah-lah kedua calon pengantin menjadi pengantin, dan maka akad nikah selesai dan dilanjutkan dengan pembacaan do’a serta penyampaian khutbah nikah yang berisi nasehat-nasehat perkawinan.

Acara akad nikah diakhiri dengan makan bersama dalam bentuk makan berhidang atau makan “sebekas”. Yang dimaksud dengan sebekas adalah hidangan makan untuk lima orang dengan ketentuan bahwa setiap piring lauk berisikan potong lauk, seperti enam potong daging, enam potong ikan dan lain-lainnya, kecuali sayur-mayur.

Cara menghidang makan berhidang ini, dimulai dengan pemasangan kain panjang berwarna putih di atas tikar. Kemudian diletakkan 5 buah piring nasi yang di atasnya ada sebuah mangkok untuk tempat mencuci tangan berisi air putih dan ditutup dengan piring nasi yang disebut “pinggan”. Sedangkan mangkok pencuci tangan diletakkan di atas piring beralaskan kain (handuk kecil) sebagai lap tangan. Setelah itu diletakkan pula di antara setiap lima orang itu, lima buah gelas berisi air minum tawar, dan lima buah gelas berisikan air minum manis (teh atau kopi). Terakhir barulah dihidangkan lauk-pauk yang biasanya tersiri atas lima macam atau paling sedikit tiga macam di atas sebuah talam (baki atau nampan). Apabila lauk-pauknya hanya empat piring, maka dilengkapi dengan satu piring kue di dalam talam. Konon, isi talam haruslah ganjil. Sedangkan mangkok nasi yang berisikan nasi putih dihidangkan bersamaan dengan menghidangkan piring nasi.

Setelah acara selesai, maka selesailah pula serangkaian acara akad-nikah tersebut, kemudian akan memasuki acara berikutnya yang disebut dengan Tepuk Tepung Tawar.

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta