10. Khatam Al-Qur’an

Attayaya Butang Emas on 2008-11-16

Kalangan orang tua pada masyarakat Melayu Kepulauan Riau umumnya, secara mutlak menekankan anak-anaknya pandai membaca Al-Qur’an. Hal ini tidak dibedakan baik pada laki-laki maupun perempuan. Belajar membaca Al-Qur’an, menjadi bagian budaya terpenting bagi masyarakat Melayu di daerah ini. Ini dianggap sebagai bagian terpenting dalam kehidupan untuk mendambakan anak menjadi manusia yang shaleh. Oleh karena itu kalangan orang tua mengharuskan anaknya pergi mengaji setiap hari ke rumah Cik Gu atau guru yang mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an yang terdapat di lingkungan pemukiman.

Menurut pandangan masyarakat Melayu, kepandaian membaca Al-Qur’an menjadi dasar bagi seseorang untuk dapat menjalankan perintah agama seperti halnya shalat lima waktu.

Dari kecil cincilak padi,
Sudah besar cincilak padang,
Dari kecil duduk mengaji,
Sudah besar tegak sembahyang.


Dalam Al-Qur’an berisi petunjuk yang dapat dijadikan pedoman membentuk jiwa yang Islami. Kepandaian membaca Al-Qur’an sebagai persyaratan yang penting bagi bujang dan dara untuk berkahwin atau mendirikan rumah tangga, baik buat laki-laki maupun perempuan.

Orang tua di kalangan masyarakat Melayu, akan merasa bahagia sekali apabila anaknya pandai membaca Al-Qur’an. Sesungguhnya inilah salah satu tuntutan/tuntunan hidup diberikan kepada anak. Ini dapat dijadikan landasan menapak hidup buat anak setelah dewasa. Anak akan sulit mendapat jodoh jika tidak pandai membaca Al-Qur’an. Sebab hal ini, menjadi bagian pelaksanaan adat perkawinan. Bagi anak dara, untuk menikah dan menjalankan adat atau tradisi khatam Al-Qur’an, telah menjadi budaya yang berketetapan pada masyarakat Melayu. Oleh sebab itu, orang tua di kalangan masyarakat bersangkutan, menekankan anak perempuan harus pandai membaca Al-Qur’an, baru diperkenankan kawin. Sebab hal ini, bagian unsur pembentukan adat-istiadat perkawinan yang dikuasai.

Adat-istiadat perkawinan Melayu selalunya bernafaskan Islam. Oleh karenanya untuk melangsungkan akad nikah sekaligus pesta perkawinan, calon pengantin perempuan berkhatam terlebih dahulu. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk upacara. Tempatnya di rumah calon pengantin perempuan, waktunya pagi hari. Pelaksanaannya melibatkan khalayak ramai.

Pada hari pelaksanaan khatam Al-Qur’an, para jemputan atau undangan hadir. Laki-laki dan perempuan duduk terpisah. Khalayak terlibat melaksanakan upacara tersebut, semuanya pandai membaca Al-Qur’an. Pemimpin upacara adalah guru mengaji sang calon pengantin perempuan.

Setelah pelaksanaan upacara, calon pengantin perempuan keluar dari kamarnya diapit dua orang sahabatnya yang terdiri dari kalangan perempuan. Mereka berpakaian baju kurung, marhamah, selendang kelingkang atau tudung manto. Pada ruangan tempat upacara, pihak yang dikhatamkan beserta dua sahabatnya duduk di atas tilam yang berada dekat “tabak” di depan “petirakhna”.

Guru mengaji calon pengantin perempuan membimbing hadirin membaca ayat-ayat pendek. Sang calon pengantin membaca surat-surat atau ayat pendek yang terdapat dalam Al-Qur’an yang sudah dibuka dihadapannya. Selanjutnya membaca doa khatam Al-Qur’an yang dipimpin guru mengaji sang pengantin. Akan tetapi adakalanya hal ini dilakukan oleh semua hadirin. Kitab Al-Qur’an secara bergilir dipegang dan dibaca hadirin. Adapun sang calon pengantin, menyimak bacaan sambil menunjuk huruf-huruf dengan lidi kalam yang telah dipersiapkan. Khatam selesai, guru mengaji atau imam membaca do’a. Usai pembacaan do’a, hidangan dikeluarkan untuk disuguhkan kepada segenap pelaksana upacara khatam. Hidangan berupa kue yang terdiri dari beberapa jenis diletakkan pada baki atau talam. Satu talam untuk dimakan sebanyak 5 orang. Adapun calon pengantin perempuan dibawa masuk ke biliknya oleh Mak Inang. Dalam bilik itulah dia menyantap makanan yang telah dipersiapkan.

Selesai makan tambul, hadirin termasuk guru mengaji sang calon pengantin salin bersalaman terutama kepada tuan rumah dan pulang ke rumah masing-masing. Tidak lama kemudian, pihak calon pengantin perempuan mengutus beberapa orang kerabatnya pergi ke rumah guru mengaji sang calon pengantin tersebut. Para utusan membawa makanan berupa pulut kuning, bunga telur ditempatkan pada pahar atau talam berkaki dan sebuah talam lagi berisi seperangkat alat sembahyang yakni : kain sarung pelikat, sajadah, kopiah atau peci atau mukena, dan payung. Semua itu dipersembahkan kepada guru mengaji, sebagai pertanda ucapan terima kasih orang tua dan calon pengantin terhadap guru tersebut. Berkat didikan dia sang calon pengantin pandai membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan prosesi terakhir dari upacara berkhatam Al-Qur’an mewarnai adat-istiadat perkawinan Melayu.

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta