4. Mengantar Tanda

Attayaya Butang Emas on 2008-11-08

Adapun mengantar tanda setelah batas waktu yang telah ditentukan berdasarkan kepada kesepakatan bersama. Perihal mengantar tanda ini adalah sebagai pernyataan kesungguhan dari pihak keluarga laki-laki untuk mempersunting si anak dara dari keluarga pihak perempuan. Selain itu mengantar tanda berarti bujang dan dara sudahlah terikat menjadi calon suami isteri. Dengan demikian si anak dara tersebut tiada boleh diganggu oleh bujang yang lain.

Dalam pengertian yang lain, mengantar tanda juga disebut sebagai acara pertunangan karena dalam acara mengantar tanda ini biasanya yang dibawa adalah sebentuk cincin yang diberikan kepada si anak dara sebagai tanda bahwa ia telah ada yang punya.

Lazimnya mengantar tanda ini sudahlah bersefahaman antara kedua belah pihak, apakah itu kepada kelengkapannya, jumlah dan kepada masa yang tepat untuk pengantarannya. Pekerjaan mengantar tanda ini biasanya dilakukan malam hari, sebaik-baiknya adalah setelah shalat Isya. Dan dilakukan oleh wakil yang telah dipercayai oleh pihak keluarga laki-laki. Sebaiknya adalah orang yang menjadi wakil ketika saat meminang tempo hari, tetapi jumlah orangnya lebih banyak jika dibanding pada masa meminang. Galibnya kedua orang tua calon pengantin laki-laki tetaplah tiada diperkenankan mengikut dalam acara ini.

Kelengkapan dari mengantar tanda ini bolehlah kita bagi menjadi tiga bagian :
  1. Antaran Pokok, yaitu terdiri dari :
    • Tepak Sirih Lengkap ( Sirih, Kapur, Gambir dan Pinang)
    • Sebilah Keris
    • Bunga Rampai
    • Cincin Belah Rotan yang terbuat dari emas.
  2. Antaran Pengiring
    • Sepersalinan Pakaian Lengkap
    • Alat-alat Rias
    • Handuk
  3. Antaran Pelengkap
    • Kue-mueh
    • Halua (manisan buah-buahan)
    • Buah-buahan

Ada pun kesemua antaran itu hendaklah pula menjadi kebiasaan adalah disusunkan pada suatu tempat yang disebut “pahar” atau “talam berkaki”, adapula yang menyebutnya dengan “semberit” yang ditutup dengan tudung saji. Pahar ini dikemas atau pun disusun kepada urutan yang sudah ditentukan. Kira-kira bolehlah hendak disusunkan, yaitu :
  1. Pahar Pertama, berisikan tepak sirih lengkap dengan isinya.
  2. Pahar Kedua, berisi keris yang disampul.
  3. Pahar Ketiga, berisi cincin belah rotan.
  4. Pahar Keempat, berisi bunga rampai
  5. Pahar Kelima, berisi kain tenun.
  6. Pahar Keenam, berisi bahan baju.
  7. Pahar Ketujuh, berisi selendang atau kerudung.
  8. Pahar Kedelapan, berisi kasut (sendal).
  9. Pahar Kesembilan, berisi alat rias.
  10. Pahar Kesepuluh, berisi handuk.
  11. Pahar Kesebelas, berisi kue hasidah.
  12. Pahar Keduabelas, berisi halua (manisan buah-buahan).
  13. Pahar Ketigabelas, berisi pisang raja.
  14. Pahar Keempatbelas, berisi limau manis.
  15. Pahar Kelimabelas, berisi limau bali.
  16. Pahar Keenambelas, berisi buah kurma.
  17. Pahar Ketujuhbelas, berisi kismis.

Kemudiannya dari pihak perempuan pun dikehendaki untuk menyiapkan kelengkapannya. Lazimnya kelengkapan itu adalah seperti berikut :
  1. Tepak Sirih lengkap dengan isinya.
  2. Sebentuk Cincin Emas.
  3. Kue-mueh.
  4. Buah-buahan.
  5. Hidangan untuk santapan.

Syahdan pada hari yang telah ditentukan, setelah Isya maka rombongan dari pihak laki-laki pun telah sampailah di rumah pihak perempuan. Rombongan itu pun disambutlah dengan baiknya oleh pihak yang menanti atau wakil dari pihak perempuan.

Pekerjaan yang sedemikian itu hendak pula diberikan gambaran dengan cara yang sudah-sudah, yaitu :

Setelah kesemua orang yang terlibat sudah pun berkumpul, maka kedua wakil itu pun saling duduk berhadapan. Dimulai dengan salam pembuka “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” oleh pihak laki-laki yang kemudiannya juga disambut dengan ucapan “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” oleh wakil pihak perempuan. Maka acara pun dimulai dengan berpantun-pantun.

01. Pihak Laki-laki
Bukan kentang sebarang kentang,
Kentang diletak tepi perigi,
Bukan datang sebarang datang,
Datang hendak memenuhi janji.

02. Pihak Perempuan
Ikan duri, si ikan selar,
Dalam sampan berangkai-rangkai,
Kalau janji sudah diikrar,
Tolong katakan, tolong disampai.

03. Pihak Laki-laki
Pagi-pagi membeli kurme,
Untuk santapan kalau berbuke,
Pinangan sudah kami terime,
Hari ini mengantar tande.

Kalau makan si pulut jande,
Jangan lupe bilas penganan,
Kami ade membawa tande,
Yang lainnye menjadi iringan.
[sambil menyerahkan tepak sirih untuk dicicip]

Indah tarian lemah gemulai,
Senyum dikulum dipilis-pilis,
Kami dulukan si bunge rampai,
Untuk pengharum dalam majelis.
[sambil menyerahkan bunga rampai]

Hinggap di dahan burung pelatuk,
Jangan dikerat buah bidare,
Kami serahkan cincin sebentuk,
Sebagai pengikat si anak dare.
[sambil menyerahkan sebentuk cincin, keris]

Hari petang berkarang lokan,
Umpan penabur ikan pelate,
Persalinan pakaian diserahkan,
Hanye sekadar tande mate.
[sambil menyerahkan kain tenunan, bahan baju, selendang/kerudung, kasut/sendal, alat rias, handuk]

Membawe jale pergi menjaring,
Masuk ke rage ikan gulame,
Buah dan kue sebagai pengiring,
Untuk keluarge menjamu selere.
[sambil menyerahkan kue hasidah, halua, pisang raja, limau manis, limau bali, buah kurma, kismis]

04. Pihak Perempuan
Pergi ke Medan memakai kopiah,
Sambil berjalan membawe minyak,
Mengape tuan bersusah payah,
Membawe antaran terlalu banyak.

Daun selasih di tengah laman,
Terbang sekawan si rame-rame,
Terime kasih kami ucapkan,
Barang antaran kami terime.

Penjelasan :
Pantun-pantun yang diungkapkan itu disampaikan sebagai pembuka acara, selanjutnya semua kelengkapan antaran itu pun dimasukkan ke dalam bilik si dara dengan pembacaan do’a selamat.

Kemudiannya barulah memperkarakan perihal berkenaan dengan penetapan bulan dan hari pernikahan. Juga berkaitan dengan Mas Kawin atau mahar yang harus dibawa oleh pihak laki-laki yang menjadi kepada syarat mutlak dalam akad nikah.

Ada pun mas kawin itu boleh bermacam-macam tergantunglah kepada kemampuan pihak laki-laki. Terkadang ada pula mas kawin yang diberikan oleh pihak laki-laki itu berupa uang logam emas yang bernilai ringgit atau perhiasan emas lainnya, seperti kalung, cincin, gelang dan sebagainya. Pada kaum bangsawan dahulu terdapat istilah mas kawin berupa rantai atau kalung emas setinggi tegak, maksudnya adalah rantai emas yang ukurannya setinggi atau sepanjang tubuh badan si dara dengan berat yang tidak ditentukan.

Dalam seperkara pula, tiadalah mustahil terjadi penetapan antar belanja oleh pihak perempuan tanpa melalui perundingan dengan pihak laki-laki. Jika yang diminta masih termampu kepada pihak laki-laki untuk memenuhinya tiadalah sebarang masalah. Tetapi jika permintaan itu melebihi kepada kemampuan pihak laki-laki, maka akan menimbulkan rasa malu bagi pihak laki-laki. Konon, pada semasa inilah sangat diperlukan peranan dari pihak tukang risik untuk melakukan sebarang kerja mengetahui kira-kira seberapa besar yang dikehendaki oleh pihak perempuan, supaya tiadalah terjadi kesalahan kepada penetapan jumlah yang dimaksud.

Selesailah pada pekerjaan mengantar tanda, maka si dara sejak masa itu haruslah dijaga dengan sebaik-baiknya, apatah lagi menjelang kepada hari pernikahan, tiadalah ianya diperbolehkan keluar rumah. Biasanya disebut “dikurung” yang artinya si dara dalam “pingitan”.

Pada waktu rombongan pihak laki-laki akan meminta diri, maka wakil dari tuan rumah menyerahkan balasan, berupa tepak sirih dengan susunan “daun sirih telentang” sebagai tanda bahwa antaran yang dibawa oleh pihak laki-laki sudah diterima.

Sebelum beredar kedua wakil itu masih sempat pula berpantun-pantun.

05. Pihak Perempuan
Kalau bengkawan menimpe itik,
Itik berkandang tepi sempadan,
Kalaulah tuan berangsur balik,
Kami numpang barang dan pesan.

06. Pihak Laki-laki
naik sampan ke Tanjung Jati,
patah haluan, ribut selatan,
kalau tuan percayekan kami,
amanah tuan kami sampaikan.

07. Pihak Perempuan
Musim selatan memancing ikan,
Dikait umpan mengail tenggiri,
Antaran balasan kami kirimkan,
Tandanye tuan sampai kemari.

Kalau tuan hendak menyemah,
Jangan pulut letak di panan,
Kalau tuan sampai ke rumah,
Sampailah salam ke bakal besan.

Maka kemudian selesailah pada pekerjaan mengantar tanda ini, dan kemudian akan memasuki kepada pekerjaan yang lain, yaitu mengantar belanja.

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta