7. Menggantung

Attayaya Butang Emas on 2008-11-13

Sebelum majelis pernikahan diperbuat, maka dilaksanakan terlebih dahulu kepada pekerjaan menggantung-gantung. Pekerjaan menggantung ini biasanya dilakukan empat atau lima hari sebelum hari pernikahan. Pekerjaan yang dilakukan di rumah calon pengantin perempuan ini adalah berupa persiapan-persiapan. Yaitu membersihkan dan menghias rumah dengan menggunakan bermacam-macam tabir yang digantung dan membuat langit-langit dari kain, mengganti dan memasang “lansi tingkap”, memasang dan menghias tempat tidur baru yang lengkap untuk pengantin baru, dan hal-hal lainnya yang diperlukan untuk menghadapi majelis pernikahan tersebut, termasuklah membuat dapur dan bangsal, membuat “peterakne” atau “peti ratna / peti rakna” yaitu tempat pengantin duduk bersanding, dan membuat pelaminan tempat tidur pengantin.

Acara menggantung biasanya didahului dengan tepung tawar dan kenduri kecil atau do’a selamat supaya semua kerja yang dilakukan akan mendapat berkah dari Allah SWT. Yang ditepung-tawari ialah tempat disekitar pelaminan.

Peterakne adalah sebuah bangku atau terap tempat duduk pengantin. Kelengkapan dari peterakne yaitu :
  1. bantal gaduk,
  2. bantal sesuari,
  3. bantal seraga,
  4. tabir,
  5. bertekad (yang terdiri atas kelingkan/geng-geng, benang emas dan perak, paku-paku, mutu, dan perade.

Pelaminan adalah tempat tidur pengantin yang bertingkat-tingkat, ada yang bertingkat tiga, tingkat lima, dan tingkat tujuh sesuai dengan status sosial orang tua pengantin. Tingkat teratas digunakan untuk tempat tidur, sedangkan tingkat lainnya berupa anak tangga yang dihiasi oleh tabir-tabir, seperti tabir gulung, tabir gantung, dan tabir pukang ayam.

Latar belakang pelaminan disusun dengan tabir yang berwarna-warni, diatasnya disusun tilam atau kasur yang dilengkapi dengan sebuah bantal gaduk, dua buah bantal perade, dua buah bantal sesuari, dua buah bantal telur buaya (bantal kepala), dan dua buah bantal peluk (bantal guling). Setiap bantal ditutupi dengan kain beludru yang dihiasi dengan benang-benang emas dan perak yang disebut “tampuk bantal”.

Pada waktu acara menggantung-gantung inipun dipersiapkan perlengkapan alat nikah seperti :
  1. Tabir gantung yang berwarna-warni dengan warna khas Melayu yaitu kuning, merah, hijau dan biru.
  2. Peralatan untuk acara bertepung tawar.
  3. Tikar nikah.
  4. Kaki dian tempat lilin.
  5. Nasi besar.
  6. Bunga rampai.
  7. Sirih lelat.
  8. Pakaian pengantin.
  9. Peralatan perjamuan atau hidangan.

Tugas menghias rumah dan seluruh peralatan pernikahan dilakukan oleh Mak Andam dan Mak Inang serta pembantu-pembantunya. Selama dalam “menggantung” para kerabat dan tetangga dekat datang membantu dengan membawa lauk pauk seperti ikan, ayam, sayur, kayu api, gula, teh, kopi, nyiur, beras dan lain sebagainya. Tentulah berdasarkan kepada kemampuannya yang dimiliki oleh masing-masing.

Biasanya pada acara ini dilakukan kegiatan menggiling rempah-rempah seperti lada, kunit/kunyit, halia, ketumbar, dan lain-lainnya. Adapun yang bertugas di dapur disebut sebagai “penanggah”. Untuk kaum lelaki bertugas membelah kayu, mengupas niur, dan memasak nasi. Sedangkan kaum perempuan membuat kueh-mueh sebagai pembasuh mulut.

Suasana kerja di dapur semakin semarak dengan dimeriahkan oleh permainan musik, tari dan nyanyian. Kesenian tersebut dimainkan sebagai hiburan untuk para penanggah. Kesenian yang ditampilkan pada saat menjelang pesta pernikahan itu adalah kesenian yang bernafaskan Islam seperti kompang, hadrah, berzanji dan tari zapin. Sedangkan untuk tari zapin ini biasanya hanya ditarikan oleh kaum lelaki saja.

Selama pertunjukan tari zapin ini, para pemusik dan penari disuguhkan makanan berupa air kopi atau teh dan kueh-mueh. Biasanya kueh-mueh dihidangkan sekitar pukul 9 malam, sedangkan pada pukul 11 malam pula dihidangkan bubur manis seperti bubur kacang hijau, kolak pisang, kolak ubi jalar, kolak labu atau yang lain-lainnya. Kononnya pula pada sekitar pukul 3 pagi, pemusik dan penari itu disuguhkan bubur nasi dengan lauknya, lobak asin. Makanan ini disebut dengan bubur pedas atau bubur berlauk.

Sedangkan kesenian lainnya seperti hadrah atau kompang ditampilkan sehari atau dua hari menjelang acara berkhatam Qur’an dan berinai. Semua pekerjaan ini dilakukan oleh kaum lelaki.

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta