2. Ukuran Rumah

Attayaya Butang Emas on 2009-03-02

Dalam tradisi masyarakat Melayu, membuat rumah tidak dapat dilakukan dengan begitu saja, melainkan haruslah memerlukan persyaratan tertentu. Salah satu syarat untuk membuat rumah yang serasi bagi pemiliknya yakni dengan menentukan ukuran rumah tersebut.

2.1. Hitungan Hasta
Sebelum rumah dibangun dan perlengkapan kayu dipotong, pemilik rumah (suami isteri) hendaklah membuat ukuran dengan menggunakan seutas tali yang dikira dengan “hitungan hasta”. Pada setiap menghasta tali biasanya ada istilah sendiri, misalnya :
- hasta pertama : ular berang
- hasta kedua : meniti riak
- hasta ketiga : riak meniti kumbang berteduh
- hasta keempat : habis utang berganti utang
- hasta kelima : utang lama belum terimbuh

Setiap kata pada tiap hasta mengandung makna tertentu, yaitu :
  • Ular berang, berarti rumah itu tiada baik, selalu panas dan sering terjadi silang sengketa baik antara sesama penghuninya atau dengan orang lain.
  • Meniti riak, berarti penghuni rumah akan selalu bersikap angkuh dan sombong.
  • Habis utang berganti utang, bermakna penghuninya akan selalu dalam berutang, kesulitan dan melarat.
  • Utang lama tak terimbuh berarti penghuni rumah akan senantiasa dalam kesusahan, bahkan seluruh harta benda yang dibawanya kerumah itu akan habis sampai pemilik rumah itu jadi orang yang paling melarat.

Karena adanya makna pada setiap perkataan itu, pemilik rumah akan menentukan besar rumahnya dengan mengulangi hastanya beberapa kali, kemudian berhenti pada bilangan dengan perkataan yang baik, yakni ”riak meniti kumbang berteduh”.

Sebaiknya yang melakukan pengukuran ini adalah seorang isteri, karena dianggap tangan isteri lebih dingin dari tangan laki-laki. Apalagi si isteri lebih banyak berada dirumah. Hal yang sedemikian itu, bolehlah disamakan ketika sedang menabur padi, kononnya tangan orang perempuan lebih baik, benih padi yang ditanam lebih besar menjadinya daripada tangan laki-laki.

2.2 Ukuran Pemasangan Kasau
Cara lain untuk menentukan ukuran rumah adalah dengan ”pemasangan kasau”, dan cara ini disebut dengan bilangan kasau. Sebelum mendirikan rumah, pemilik rumah membuat ukuran pada seutas tali atau sehelai daun pandan. Ukuran itu dihitung dari ujung siku sampai ke ujung buku jari tangan tergenggam, yang disebut ”setulang”. Setiap mengukur dengan tangannya itu, ia menyebutkan perkataan berikut :
- tulang pertama : Kasau
- tulang kedua : risau
- tulang ketiga : rebah
- tulang keempat : api

Setiap perkataan itu mengandung makna tertentu, yaitu kalau yang dimaksud:
  1. Kasau bermakna rumah itu akan sangat baik bagi pemiliknya, karena akan membawa kebahagiaan dan ketentraman.
  2. Risau bermakna akan mendatangkan malapetaka dan selalu dirundung malang.
  3. Rebah bermakna penghuni rumah selalu dalam ancaman bahaya.
  4. Api bermakna rumah itu panas, selalu terjadi pertengkaran dan perkelahian, baik antara sesama penghuni maupun antara penghuni dari pihak lain.

Untuk mencari ukuran yang serasi, pemilik rumah akan melakukan perhitungan dengan berulang-ulang, dan berusaha untuk menghitung kepada bilangan kasau. Dengan demikian diharapkan rumah yang akan dibangun kelak mendapat rahmat dari Allah swt. Sehingga akan mendatangkan kebahagiaan.

2.3. Ukuran Gelegar
Bilangan gelegar merupakan cara yang biasa juga digunakan untuk menentukan ukuran rumah. Caranya mirip dengan perhitungan bilangan kasau, hanya perkataan yang berbeda.
- tulang pertama : gelegar
- tulang kedua : geligi
- tulang ketiga : ulur
- tulang keempat : bangkai

Setiap perkataan tersebut memiliki makna, yaitu :
  1. Gelegar bermakna rumah itu amat baik.
  2. Geligi barmakna penghuni rumah akan sakit-sakitan.
  3. Ulur bermakna pemiliknya selau dalam kesulitan.
  4. Bangkai, pemiliknya akan ditimpa malapetaka.


Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta