2. Masa Persalinan

Attayaya Butang Emas on 2008-08-10

Inilah salah satu peristiwa yang luar biasa, sesuatu hal yang menunjukan kebesaran Allah SWT. Yang telah menjadi kehendak-Nya Yang Rahman dan Rahim. Hal ini sesuai dengan firman-Nya: “Tiadalah sepatutnya Tuhan mengambil anak, Maha Suci Dia, apabila dia memutuskan suatu urusan hanyalah Dia berkata ; Jadilah lalu jadi.” (Surah Maryam – ayat 35)
Setelah genap bilangan bulan dan hariannya, selama kurang lebih sembilan purnama, lazimnya disebutkan kepada “Sembilan Bulan Sembilan (separuh) Hari” bayi tumbuh di dalam rahim sang bunda. Sekarang tibalah saatnya manusia baru itu untuk melangkah ke dunianya yang baru pula.
Tempat melahirkan biasanya dipakai ruang tengah, kerana ruang tengah lebih lapang dari pada ruang bilik. Ruangan yang lapang sangat diperlukan sebagai tempat melahirkan kerana untuk lebih mudah meletakkan berbagai perlengkapan.
Kononnya, ada pula kepercayaan orang-orang tua dahulu kala, ada hantu atau setan yang suka datang pada masa perempuan bersalin kerena hendak memakan darah perempuan itu, oleh sebab itu kepercayaan yang demikian itu maka “jadi teradat pada masa itu” untuk menggantungkan di bawah rumah secekak daun mengkuang yang berduri untuk menjadi penghalang atau mencegah hantu itu daripada menghampiri. Gantungan daun mengkuang berduri itu diletakkan betul-betul pada sebelah bawah tempat perempuan yang baru bersalin itu tidur. Kemudian ada pula yang melakukan sesuatu pekerjaan di depan pintu bilik atau rumah tempat orang beranak itu dicalit-pangkah dengan kapur yang disertai dengan jampi-serapahnya. Kemudiannya ada pula yang melakukan kerja seperti berikut, yaitu beberapa hari sebelum saat melahirkan tiba, tepat di bawah rumah tempat melahirkan itu diletakkan beberapa benda seperti:
- Sebutir nyiur (kelapa) tua,
- Sebuah patil (alat yang dipakai untuk memperhalus papan)
- Sebatang pokok pandan berduri,
- Sebatang pokok mali-mali berduri,

Adapun cara meletakkan benda-benda tersebut ialah, patil ditancapkan pada buah nyiur, kemudian diletakkan di bawah rumah tempat melahirkan. Pokok pandan berduri diletakkan di samping buah nyiur. Pokok mali-mali berduri di potong pendek-pendek kemudian diselipkan di bawah papan tempat melahirkan. Kononnya benda-benda tersebut sebagai penangkal untuk menghalau sejenis hantu penghisap darah orang sedang melahirkan yang dikenal dengan nama hantu penanggal. Apabila hantu penanggal itu sampai dapat menghisap darah orang perempuan yang tengah bersalin, maka perempuan itu akan tumpah darah dan kemungkinan akan meninggal kerana kehabisan darah.
Selain kelengkapan yang diletakkan dibawah rumah tempat melahirkan itu, hendaklah dipersiapkan pula kelengkapan lainnya pada saat bersalin, yaitu antar lain:
- satu baskom air panas suam kuku
- sabun mandi bayi (zat untuk membersihkan)
- sepotong rotan atau bambu yang telah ditajamkan
- obat untuk pusat

Catatan, obat untuk pusat. Bahan-bahannya:
- daun sirih
- kulit durian kering
- arang para
- beberapa butir bawang merah

Cara membuatnya:
Daun sirih dilumatkan, kulit durian kering dibakar sampai hangus kemudian digiling sampai halus. Arang para dihaluskan, bawang merah dilumatkan. Kemudian dicampur menjadi satu.

Selain itu juga dipersiapkan kelengkapan lainnya yang dipergunakan setelah melahirkan, yaitu:
- Beberapa ulas cekur (kencur)
- Sepotong kayu sepang
- Air madu
- Periuk tanah
- Beberapa keping uang logam
- Sedikit asam-garam
- Sedikit minyak nyiur
- Dan sepotong kunyit

Sedangkan untuk menyambut si bayi dipersiapkan pula kelengkapan untuk tempat tidurnya seperti:
- Sebuah talam terbuat dari tembaga
- kain sarung sebanyak tujuh lembar
- uang logam (dulu pakia uang logam Inggeris 44 sen)
- beras secukupnya (ada juga yang menggunakan kacang hijau)

Beras yang diletakkan di dalam talam dengan rata, kemudian diletakkan uang logam secara tersebar. Setelah itu dialas pula dengan kain yang tujuh helai itu. Lalu diletakkan bantal dan guling kecil dua buah. Inilah tempat tidur bayi sampai berusia 44 hari.
Setelah kelengkapan untuk menyambut bayi dipersiapkan, kita berikan tumpuan kepada kelengkapan si emak, yang dipergunakan setelah bersalin, yaitu:
- gelang emas
- sehelai kain
- sebuah kemiri
- sebatang kayu
- sedikit beras
- sekapur sirih (yang telah dijampi)
- seutas tali yang dibuat dari kulit pohon terap
- sebuah batu giling
- bantal dan kasur

Sedangkan untuk katil atau tempat tidur, dipersiapkan sedemikian rupa, di antaranya dipersiapkan bantal yang disusun agak tinggi yang dapat dipergunakan untuk sandaran (setelah melahirkan).
Sebelum melahirkan, tali yang terbuat dari kulit pohon terap itu diikatkan di langit-langit bilik yang sekira-kiranya di atas katil atau tempat tidur itu dapat terjangkau oleh si emak yang sekiranya hendak bangkit ataupun bangun (setelah melahirkan). Begitupun halnya dengan batu giling di letakkan sekira di ujung kaki ketika berbaring yang gunanya sebagai landasan kaki ketika hendak bangun (setelah melahirkan). Sedangkan perlengkapan yang lain seperti sekapur sirih, buah kemiri, beras, gelang emas, dan paku tadi dibungkus dengan kain lalu diikatkan tergantung pada tali terap yang telah tersedia. Perbuatan yang sedemikian kononnya sebagai penangkal atau penghalau hantu ataupun mahluk halus yang suka mengganggu ketika seseorang melahirkan.
Kemudiannya sekira saat hendak bersalin, terkadang sang calon emak juga telah mengeluarkan tanda-tanda bersalin yaitu terasa sakit pada perutnya dan juga pada pinggangnya hinggalah kebawah perut yang kerap pula diikuti dengan cairan yang keluar (air ketuban yang pecah). Pada saat telah sampai pada tanda hendak bersalin, sudah patutlah menjemput Tuk Bidan atau Mak Bidan untuk membantu persalinan. Kemudian orang-orang ataupun ahli keluarga yang berada dirumah tempat perempuan yang akan bersalin, hendaklah bertenang tetapi tetap bersiaga untuk memberikan bantuan termasuk menyiapkan air hangat yang dipergunakan untuk memandikan si bayi, kelak.
Menurut adat resam, ada dua orang yang menjadi Tuk (Mak) Bidan dalam membantu persalinan. Yaitu Tuk (Mak) Bidan bagian atas yang bertugas membersihkan badan sang emak. Sedangkan Tuk (Mak) Bidan bagian bawah berfungsi menyambut bayi dengan air hangat (suam kuku), selain itu juga membersihkan tembuni.

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta