6. PENGGALAN KEENAM : Memasuki Alam Percintaan (Perkawinan)

Attayaya Butang Emas on 2008-10-21

the conceptor

06
PENGGALAN KEENAM
Memasuki Alam Percintaan
(Perkawinan)

Berbagai tantangan dalam kehidupan semakin besar ketika memasuki dunia “tanggung jawab” dalam kehidupan bermasyarakat yang kelak akan melahirkan kepada perasaan tanggung jawab moral, tidak hanya kepada diri sendiri tetapi juga bagi orang lain dan masyarakatnya. Tanggung jawab itu tidak hanya dalam bentuk tanggung jawab sosial tetapi dalam berbagai ragam kehidupan secara menyeluruh.

Maka kemudian sampailah kepada batas sempadan, ketika seseorang baik lelaki dewasa maupun perempuan yang telah cukup kepada masanya untuk berkeluarga.

Syahdan apabila seseorang baik laki-laki maupun perempuan telah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah dewasa, maka kedua orang tua menuntutnya supaya bertingkah laku atau berperangai seperti orang yang telah dewasa pula. Ianya diminta mematuhi dan mentaati segala adat, sopan santun yang berlaku di dalam masyarakat. Walaupun sejak kecil lagi mereka telah dididik dengan segala adat resam, sopan santun, berbudi bahasa dan lain sebagainya. Tetapi kepada memasuki usia dewasa dikehendaki untuk berbuat lebih. Kemudiannya juga sebagai seorang muslim, ianya harus taat melakukan ketentuan agama Islam.

Sedangkan untuk anak perempuan yang telah memasuki usia dewasa lebih banyak tinggal di rumah atau istilahnya di pingit. Dan lebih banyak membantu emaknya dan mempelajari segala pekerjaan rumah yang seharusnya memang dilakukan oleh seorang perempuan. Anak perempuan yang telah meningkat dewasa itu disebut dengan “anak dara”. Sedangkan untuk anak laki-laki disebut “anak bujang”. Jika seorang anak laki-laki telah bekerja dan mendapatkan penghasilan, ianya juga harus rajin membantu pekerjaan ayahnya termasuk juga kepada bidang-bidang lainnya yang boleh nantinya menjadi bekal ketika ianya menjadi suami dan seorang ayah.

Sebagai orang Melayu harus pula mempelajari beberapa kesenian daerahnya, umpamanya seperti tari zapin, marhaban, dan lain sebagainya. Selain dari pada pekerjaan mempelajari kesenian daerah yang terlebih penting adalah mempelajari agama Islam sebaik-baiknya. Itu sebabnya sejak masa kanak lagi anak-anak Melayu telah dipahamkan betapa pentingnya pengajaran agama.

Perihal lainnya untuk seorang anak dara ialah menjaga kesehatan dan mempercantik diri. Supaya ia mendapat jodoh, ia harus menjadi anak dara yang suka tinggal di rumah. Anak dara yang tidak suka di rumah, yang kerjanya hanya bertandang ke rumah-rumah orang, dipandang sebagai anak dara yang kurang baik.

Biasanya pada zaman dahulu anak dara hanya sekali-sekala saja keluar dari rumah atau pun pergi berjalan, yaitu pada Hari Raya atau pergi ke rumah Pak Cik, Pak Long atau saudara yang lain, itupun biasanya tidak sendirian, paling tidaknya emaknya atau adiknya (saudara) sebagai teman. Kalau berjalan selalu berselendang atau berkerudung, sehingga tidak semua wajahnya terdedah. Jika ia berbicara, suaranya hampir tidak kedengaran. Bila bertemu dengan orang bujang tiadalah ia boleh menegur atau menyapa, terkecuali ianya ditegur dahulu, itu pun tiadalah pula serta merta menjawab dengan leluasa. Menurut pandangan orang Melayu anak dara yang bertingkah laku seperti itulah yang dianggap cantik untuk dijadikan seorang isteri.

Sudah menjadi kelaziman pula bahwa seorang anak laki-laki atau anak perempuan yang sudah meningkat dewasa mengikut kepada suatu upacara masa dewasa yang disebut upacara “mengasah gigi”. Upacara mengasah gigi boleh diikuti oleh anak dara ataupun anak bujang. Kebanyakannya yang mengikuti kepada acara tersebut adalah anak dara walau tidak menjadi suatu keharusan. Tujuan dari mengasah gigi ini tentulah untuk kecantikan, konon dengan mengasah gigi, gigi yang tidak teratur dapat dirata dan dibetulkan. Keindahan wajah akan lebih mempesona apabila pengasahan gigi dilakukan dalam suatu upacara tertentu. Pengasahan gigi yang serupa itu akan menyebabkan gigi menjadi cantik berseri dn kuat sehingga meningkatkan kecantikan seorang anak dara.

Syahdan jika seorang anak dara meminta kepada emaknya supaya giginya diasah (dibetulkan), maka si emak segera menghubungi seorang dukun pengasah gigi. Upacara tersebut dapat dilaksanakan di rumah dukun atau pun di rumah anak dara itu sendiri. Setelah ditetapkan tempat berlangsungnya upacara tersebut, maka dipersiapkan semua alat-alat dari benda-benda yang diperlukan dalam upacara itu, seperti : tiga buah pengasah, sebuah batu penindih tujuh jenis bunga (setiap jenis setangkai), dua butik buah keras (kemiri).

Mula-mula si emak anak dara yang berhajat untuk mengasah gigi anaknya itu menyampaikan maksudnya kepada mak dukun pengasah gigi dengan bahasa yang halus dan sopan. Setelah mak dukun menerima permintaan yang disampaikan itu, anak dara atau anak bujang yang akan diasah giginya itu disuruh berbaring. Kemudian dengan perlahan-lahan kepalanya disepit di antara kedua lutut dukun. Maksudnya supaya kepala orang yang diasah gigi itu tiada bergerak ketika diasah.

Pertama, batu pengasah direndam dalam air bunga yang terdiri dari tujuh jenis. Setelah itu mulut dingangakan (dibuka). Supaya mulut selalu terbuka, diganjal kiri dan kanannya dengan buah kemiri. Setelah itu mak dukun membaca do’a tertentu, lalu ia mengambil batu pengasah dan mengetuk gigi tersebut sebanyak tujuh kali. Maksudnya supaya gigi itu konon, kuat seperti batu. Setelah itu gigi yang paling panjang mulai digosok perlahan-lahan ke kiri dan ke kanan sampai rata. Mula-mula gigi diasah dengan batu yang paling kasar, kemudiannya berulah diasah dengan batu pengasah yang agak halus. Setelah beberapa lama diasah pula dengan batu yang paling halus. Yang paling akhir diasah dengan bunga, yang bermaksud supaya gigi berseri seperti bunga.

Pengasahan gigi hanya boleh dilakukan dalam bilangan yang ganjil, misalnya : satu kali, tiga kali, tujuh kali. Jika kedua orang tua masih hidup, hanya diperkenankan mengasah gigi yang sebelah atas saja. Akan tetapi jika kedua orang tuanya telah tiada, diperkenankan mengasah gigi atas dan bawah. Setelah mengasah gigi dukun membaca do’a selamat dan diakhiri dengan mencicipi hidangan yang telah disediakan. Sebagai balas jasa atas segala bantuan yang telah diberikan oleh mak dukun, diserahkan pula uang alakadarnya.

Catatan :
Mengenai upacara mengasah gigi ini ada berpendapat hanya boleh dilakukan kepada orang perempuan yang telah bersuami saja, sedangkan anak dara tidak dibenarkan mengasah gigi. Ia boleh mengasah gigi bila telah bersuami dengan seizin suaminya. Akan tetapi ada pula yang berpendapat bahwa mengasah gigi boleh dilakukan oleh anak dara dan anak bujang apabila ia ingin mempercantik diri.