1.7. Masa Penjajahan Jepang

Attayaya Butang Emas on 2008-07-28

Diketik di Jogjakarta, 23 Juli 2008

Perang Dunia II yang mencapai puncaknya tahun 1942 di Asia, memberikan bahangnya yang cepat kepada Riau (Kepulauan Riau) dan Tanjungpinang khususnya, karena dekatnya dengan semenanjung Malaya (sekarang Malaysia) dan Singapura. Pada bulan Desember 1941, Jepang sudah mulai menjamah semenanjung Malaya. Tanggal 15 Pebruari 1942 Singapura jatuh ke tangan Jepang. Dan Riau (Kepulauan Riau), khasnya Tanjungpinang, seminggu kemudian yaotu tanggal 21 Pebruari 1942 Jepang muncul. Adapun Jepang masuk dari dua arah yaitu yang langsung ke pelabuhan Tanjungpinang dan dari arah Kijang.

Dekatnya jarak antara Tanjungpinang dengan Singapura memudahkan kepada pihak Belanda untuk mengetahui lebih cepat akan kedatangan Jepang kemudian dengan cepat pula bersiap-siap untuk meninggalkan Tanjungpinang. Sehingga, begitu serdadu-serdadu Jepang dengan bengis memasuki kota, tak seorang Belanda pun berada lagi di Tanjungpinang. Semasa Sinngapura jatuh ke tangan Jepang, Belanda sudah terlebih dahulu angkat kaki dari Tanjungpinang. Yang ada hanya sisa-sisa tentara Australia yang mundur dari Singapura. Mereka inilah yang diburu dan ditangkap oleh pihak Jepang. Sisa-sisa tentara Australia ditawan dan dikumpulkan di lapangan tenis Densri dan dijaga siang dan malam. Beberapa hari kemudian para tawanan itu dibantai oleh Jepang secara bengis. Di Kampung Jawa digalilah lubang-lubang besar, di sana tentara Australia di-bedel dan dikubur dalam lubang-lubang secara beramai-ramai. Pembantaian juga dilakukan Jepang terhadap tentara Australia di bibir pantai Tanjungpinang. Walaupun memang, sebelum Jepang masuk keadaan Tanjungpinang sendiri sudah tak aman. Sejak ditinggalkan Belanda, telah memberikan kesempatan kepada perompak-lanun dan orang-orang jahat untuk menjarah rumah-rumah penduduk, toko-toko dan kantor-kantor yang ada. Perampuk-lanun itu datang dari Kawal, Gesek dan lain-lainnya. Penduduk Tanjungpinang terutamanya orang-orang Melayu terpaksalah menyingkir demikian juga penduduk dari kalangan orang India.

Kedatangan pihak Jepang menghentikan keganasan perampok-lanun itu, tetapi keganasan dan kebengisan Jepang tak kalah dengan perampok-lanun itu, harta benda rakyat dirampas dan mereka dipaksa untuk bekerja serta, banyaklah pula bangunan-bangunan Belanda yang dirusak.

Tiada lama kemudian Jepang mulai mengatur pemerintahannya. Tanjungpinang dan Kepulauan Riau dimasukkan dibawah kekuasaan militer Jepang di Singapura (Syonan-to) yang disebut Syonan-to Kabitai (Datuk Bandar Singapura). Kepulauan Riau dikepalai seorang Residen yang berkedudukan di Tanjungpinang. Residennya yang pertama G. Yagi dan Tanjungpinang disebut Bintan-to.

Jepang mengambil balik bekas-bekas petugas Belanda, terutamanya dari orang-orang Melayu, India dan lainnya seperti anggota polisi. Tetapi jabatan yang penting tetap kepada orang-orang Jepang. Kemudiannya Jepang melarang semua kerja-kerja yang mengarah dan berbau politik dan hanya kegiatan kemasyarakatan yang boleh membantu Jepang. Salah satu diantaranya adalah pendirian rumah anak yatim (panti asuhan), yang waktu itu dipimpin oleh Encik Raja Khatijah.

Untuk membantu menjaga keamanan masyarakat, Jepang membentuk Pasukan Penjaga Pulau-pulau (Gyu-tai). Sejumlah pemuda kemudiannya dikirim ke Singapura untuk mengikuti latihan jadu Gyu-tai. Sekembalinya dari Singapura, mereka meltih lagi pemuda-pemuda yang berada di pulau-pulau. Mereka ini diberi pangkat, umumnya perwira dan bintara dan diberi senjata lengkap. Sampai akhir masa kekuasaan Jepang jumlah Gyu-tai ini mencapai 600 orang. Mereka tergabung dalam satu batalyon (Gyu-tai Co) dan komandannya adalah R.H. Mohd. Yunus. Pada awal kemerdekaan, pasukan bekas Gyo-tai inilah yang besar peranannya dalam menentang Belanda. Karena hampir seluruhnya orang Melayu.

Dalam masa 3 tahun lebih itu, Jepang hampir-hampir tiada banyak melakukan kerja-kerja membangun. Semua bangunan yang dipakai Jepang rata-rata bekas gedung-gedung yang diperbuat oleh Belanda sebelumnya. Terkecuali, Jepang lebih banyak membuat jalan-jalan untuk memudahkan kepada pasukannya dalam menghadapi peperangan.

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta