1.4. Masa Kesultanan Johor

Attayaya Butang Emas on 2008-07-18

Sesudah kejatuhan Kerajaan Melaka tahun 1511, maka bergantilah kepada Kerajaan Johor. Wilayah kekuasaannya menjadi semakin sempit, yaitu Johor, Pahang, Riau, Lingga dan beberapa daerah tertentu di daratan Sumatera. Kemudiannya ibukota kerajaan dipindahkan ke daerah bagian selatan yaitu Johor dan Riau.
Boleh dikatakan sesudah kejatuhan Melaka, dari berbagai sendi kehidupan mengalami kemunduran, sehinggakan berulang kali ibukota kerajaan berpindah-pindah dari Johor, Bintan, Pekantua, Bintan, Lingga Johor, Bintan dan Johor. Kehancuran kerajaan Johor begitu menyedihkan, terakhir ditandai dengan pertelingkahan antara Raja Kecil dengan Raja Sulaiman.

Syahdan, pada zaman Johor tersebutlah Sultannya yang pertama yaitu Sultan Alaudin Ri’ayat Syah yaitu putera dari Sultan Mahmud. Kemudian digantikan oleh Sultan Mudzafar Syah, inilah sultan yang suka bermusyawarah dengan orang-orang besar dalam mengambil suatu keputusan. Kemudian digantikan pula oleh puteranya bergelar Sultan Abdul Jalil Syah. Maka tersebutlah baginda mempunyai tiga orang puteradari gundeknya yang masing-masing bernama Raja Hassan, Raja Hussain dan Raja Mahmud. Kemudiannya Raja Hassan dirajakan di negeri Siak, Raja Hussain dirajakan di Kelantan, dan Raja Mahmud dirajakan di Kampar.
Sultan Johor berikutnya adalah Raja Mansor yakni putera dari Sultan Abdul Jalil Syah. Karena tiada menghiraukan akan kerajaan, maka ia digantikan oleh Raja Abdullah bergelar Ahmad Syah. Pada semasa inilah datang penyerangan dari negeri Aceh, maka kalahlah Johor, kemudian berundur ke Lingga, dari Lingga terus ke Tambelan, dan di negeri Kandil Bahar inilah raja Baginda mangkat.

Selanjutnya yang menjadi Sultan adalah puteranya yang bernama Sultan Abdul Jalil Syah, pada masa sultan inilah memerintahkan kepada orang besarnya Laksemana Tun Abdul Jamil (1673) untuk membuat negeri di Riau (Sungai Carang, Hulu Riau). Kemudian menggantikan kerajaan adalah Raja Ibrahim sebagi Sultan dengan Bendaharanya Tun Pekrama Habib bergelar Bendahara Sri Maharaja.
Kemudian Sultan Ibrahim Syah pun pindah ke Riau lalu mengalahkan Jambi dan Siak. Adapun yang menggantikan Ibrahim Syah adalah puteranya bernama Sultan Mahmud Syah, maka baginda itupun berpindah kembali ke Johor. Tiada lama kemudian mangkatlah Bendahara Tun Pekrama Habib, kedudukan Bendahara dilanjutkan oleh puteranya yang menjadi bendahara kerajaan.

Semasa inilah terjadi suatu peristiwa menghebohkan, yakni ketika Sultan Mahmud terbunuh di Kota Tinggi oleh Laksemana Megat Sri Rama. Dikarenakan Sultan Mahmud membelah perut Dang Hanum istri daripada Megat Sri Rama, yang kononnya hanya bersebab kepada mengidamkan seulas nangka. Konon, sejak itu bersalah-salahanlah di dalam negeri Johor itu. Dalam keadaan yang sedemikian itu salah seorang istri Sultan Mamud (gundek?) yang bernama Encek Pong, yang konon tengah hamil dapat diselamatkan oleh Nakhoda Malim, slah seorang hulubalang yang setia kepada Sultan Mahmud.
Setelah mangkatnya Sultan Mahmud, maka Bendahara kerajaan anak dari Bendahara Tun Pekrama Habib bergelar Bendahara Sri Maharaja menjadi Sultan dengan gelar Sultan Abdul Jalil IV. Pelantikan ini dilakukan, kononnya di Johor itu tiada lagi keturunan Sultan Mahmud Syah. Tersebutlah Sultan Abdul Jalil IV ini mempunyai tiga orang anak yang masing-masing bernama Raja Sulaiman, Tengku Tengah dan Tengku Kamariah.
Syahdan Nakhoda Malim yang menyelamatkan Encik Pong yang hamil ke dalam hutan, kemudian dilarikan ke hulu Sungai Johor. Alkisah, pada masa pelarian itulah lahir seorang putera yang dinamakan Raja Kecil. Kemudian dilarikan ke Jambi, ke Indragiri terus ke Pagaruyung. Disinilah beliau dididik dan diasuh, dijadikan putera angkat Raja Pagaruyung*).

Di dalam naskah silsilah Sultan-sultan Siak Sri Indrapura disebutkan, bahwa sebelum Raja Kecil diangkat putera oleh Raja Pagaruyung, beliau diuji dengan beberapa ujian :
Pertama : disandarkan ke pohon jelatang, sebab menurut adat di sana pada zaman itu, sesiapa yang bukan keturunan raja akan rusak tubuhnya oleh getah jelatang yang gatal itu.
Kedua : dikenakan mahkota Raja Pagaruyung, menurut adat di sana, kalau bukan seorang putera raja yang berhak untuk menjadi raja, maka ia akan kena tulah atau laknat mahkota itu.

Setelah Raja Kecil berhasil melalui ujian itu, beliau diangkat sebagai seorang putera angkat Raja Pagaruyung dengan gelar Yang Dipertuan Cantik Raja Kecil. Sejak itu beliau diajarkan sebagaimana layaknya seorang raja. Setelah bundanya Encik Pong mangkat, maka sekitar tahun 1719 M, timbullah niat Raja Kecil untuk pergi ke Johor menuntutkan bela ayahandanya. Bahkan Raja Pagaruyung membantu niat itu dengan memberikan pengiring yang terdiri dari orang-orang besar dan Hulubalang Pagaruyung. Di antara orang-orang besar itu, diantaranya yang terkenal adalah :
1. Syamsuddin gelar Sri Perkiraan Raja (Datuk Tanah Datar).
2. Bebas gelar Sri Bejuangsa (Datuk Lima Puluh).
3. Syawal gelar Sri Dewa Raja (Datuk Pesisir).
4. Yahya gelar Maharaja Sri Wangsa (Datuk Hamba Raja).
5. Hamzah gelar Buyung Ancah (Putera Titah Sungai Tarab).

Maka tercatatlah dalam sejarah bahwasanya Sultan Abdul Jalil berkuasa selama sembilan belas tahun dalam kesenangannya dan makmurnya negeri Johor, hingga tiada terduga datanglah Raja Kecil dengan beberapa kelengkapannya melanggar Johor.
Tiada berapa lama kalahlah negeri Johor itu kepada Raja Kecil. Sementara Sultan Abdul Jalil bersama keluarga dan orang-orang besarnya melarikan diri kepada suatu kampung. Di sanalah Sultan bermusyawarah dengan orang-orang besarnya, apakah akan meneruskan peperangan ataukah menyerah saja? Akhirnya Sultan Abdul Jalil menyerah dan Raja Kecil menerima penyerahan itu dengan senang hati. Maka hendak diperbaiki barang yang telah cacat itu, dengan bermaksud hendak mendudukkan Sultan Abdul Jalil yang kalah perang itu sebagai Bendahara semula. Tetapi niat baik Raja Kecil dianggap suatu penghinaan. Dalam pada itu, terniat kepada Raja Kecil untuk menghilangkan permusuhan dengan cara menikahi Tengku Tengah anak dari Abdul Jalil itu, maka bertunanganlah mereka itu. Tetapi pada suatu ketika, di Hari Raya, Sultan Abdul Jalil datang bersama putera-puteranya, dan Tengku Kamariah pun dibawa serta. Demi memandang kepada Tengku Kamariah yang elok parasnya, maka tertariklah Raja Kecil, maka dimintanya Tengku Kamariah itu sebagai permaisurinya. Maka tiadalah Sultan Abdul Jalil itu untuk berkata-kata. Syahdan, makamenikahlah Raja Kecil dengan Tengku Kamariah itu. Dan peristiwa ini, konon, yang menjadi pokok sengketa yang menimbulkan perang berlarut-larut sampai ke anak cucu beliau.

Tersebutlah pula beberapa hal yang membuat Sultan Abdul Jalil dan Puteranya Raja Sulaiman merasa sakit hati akan perlakuan dari Raja Kecil itu, terutama Tengku Tengah yang telah dipermalukan. Lalu bermufakatlah dua bersaudara Raja Sulaiman dengan Tengku Tengah yang hendak mendudukkan Tengku Tengah dengan Raja Bugis Upu Daeng Perani itu. Lalu dalam sesuatu jamuan diundanglah Upu-upu itu makan, kemudian Tengku Tengah berdiri di pintu selasar membuka bidai, melipok subang di telinganya sambil ia berkata, “Hai! Raja Bugis! Jikalau sungguh tuan hamba berani, tutupkanlah keaipan beta anak beranak, adek-beradek. Maka apabila tertutup keaipan beta semua, maka redhalah beta menjadi hamba Raja Bugis. Jikalau hendak disuruh jadi penanak nasi raja sekalipun! Redhalah beta”**). Maka apabila Upa (Upu) Daeng Perani mendengar kata Tengku Tengah itu, maka iapun menjawab, seraya katanya, “Insya Allah ta’ala, seboleh-bolehnya hamba menutup keaipan Tengku semua, anak-beranak, adek-beradek.”

Syahdan maka menikahlah Upu Daeng Perani dengan Tengku Tengah. Sementara itu Raja Kecil yang mengetahui pernikahan itu, telah bercuriga hatinya maka kemudian bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Konon, setelah menikah Upu Daeng Perani keluar berlayar dari negeri Johor untuk menyusun kekuatan. Sementara itu di dalam kerajaan mengharu-birulah dengan segala kerja yang bersalahan. Konon, ketika Raja Kecil sedang melakukan sembahyang, datanglah Tengku Tengah membawa pulang Tengku Kamariah. Ketika diketahui oleh Raja Kecil, marahlah ia, dan meminta Tengku Kamariah kembali tetapi tiada diperkenankan oleh Tengku Tengah. Maka datanglah Raja Kecil melanggar kepada Abdul Jalil, tejadilah peperangan. Maka berundurlah Abdul Jalil bersama keluarga dan orang-orang besarnya yang masih setia, keluar dari Johor. Setelah Abdul Jalil keluar dari Johor, bertitahlah Raja Kecil kepada segala menterinya, seraya katanya, “Ini Negeri celaka, baik kita pindah ke Riau.” Maka tiada berapa lama berpindahlah ke Riau.

Keterangan :
*) Mengenai nama Raja yang memerintah di Pagaruyung waktu itu terdapat pertikaian, di dalam buku Tuhfat al-Nafis, Yam Tuan Sakti dengan ibundanya bernama Puteri Janilan. Sedangkan dalam naskah tulisan Kerajaan Siak disebutkan raja itu Gadih Terus Mata.
**) Tuhfat al-Nafis, karya Raja Ali Haji (Sejarah Melayu dan Bugis) terbitan Malaysia Publications LTD Singapura 1965.

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta