Sejarah adalah sesuatu bagian daripada ilmu sosial dan menggunakan pendekatan ilmu sosial untuk penelitian dan penulisannya dengan menganut teori sejarah kritis untuk mereka-balik dan interpretasinya. Sememangnyalah diakui bahwa ada interpretasi tentang sumber Sejarah Melayu dan sumber-sumber yang serupa mempunyai kelemahan. Tetapi penulisan yang mutakhir, sumber itu dapat dijadikan pegangan sepanjang mengandung kebenaran sesuai dengan keadaan masyarakat keturunannya yang memiliki sikap, watak, dan prilaku yang sepadan. Sebab, menulis sejarah dapat pula diamati kepada nilai-nilai jiwa masyarakat penerusnya yang memiliki ciri dan kepribadian sesuai sumbernya.
Menurut dalam catatan sejarah, suku pertama yang mendiami Nusantara ini adalah suku WEDOIDE. Hidupnya mengembara, karena semata-mata bergantung pada alam (food gathering). Periode berikutnya datang ras rumpun Melayu dalam dua gelombang. Gelombang pertama sekitar 2500 – 1500 SM datang dari dataran Asia menyebar ke semenanjung Melayu dan Nusantara bagian Barat. Mereka dikenal dengan sebutan suku PROTO MELAYU. Sekitar 300 SM datang gelombang kedua yang disebut suku DEUTRO MELAYU, mereka mendesak suku Proto Melayu ke daerah pedalaman. Sisanya bercampur dengan pendatang baru itu yang kemudiannya menurunkan manusia yang kini disebut suku MELAYU. Kemudiannya tercatat dalam sejarah bahwasanya kepemimpinan Melayu merupakan campuran antara kenyataan dan mitologi. Semisal kepada pemimpin di negeri Melayu berasal dari seorang raja besar yang menguasai dunia yaitu Iskandar Zulkarnain. Kemudian tersebut pula bahwa asal-usul raja Melayu dari Bukit Siguntang Mahameru di Palembang sebagai salah satu pusat kekuasaan Sriwijaya. Dari gambaran tersebut dapat diambil kira bahwa orang Melayu dalam menentukan pemimpinnya memerlukan gambaran sosok orang yang besar dan agung.
Lintasan sejarah Melayu dapat pula diperkatakan kepada beberapa penggalan tulisan perjalanan yaitu Kerajaan Bentan, Kerajaan Singapura, Semasa Kesultanan Melaka, Kesultanan Johor, Riau-Lingga, Masa Penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang dan Masa Kemerdekaan.
Selasa, Juli 15, 2008
Gurindam 12 Raja Ali Haji
|
Gurindam 12 - Fasal 1
barang siapa tiada memegang agama sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat barang siapa mengenal Allah suruh dan tegahnya tiada ia menyalah barang siapa mengenal diri maka telah mengenal akan tuhan yang bahri barang siapa mengenal dunia tahulah ia barang yang terperdaya barang siapa mengenal akhirat tahulah ia dunia mudharat Gurindam 12 - Fasal 2
barang siapa mengenal yang tersebut tahulah ia makna takut barang siapa meninggalkan sembahyang seperti rumah tiada bertiang barang siapa meninggalkan puasa tidaklah mendapat dua termasa barang siapa meninggalkan zakat tiada hartanya beroleh berkat barang siapa meninggalkan haji tiadalah ia menyempurnakan janji Gurindam 12 - Fasal 3
apabila terpelihara mata sedikitlah cita-cita apabila terpelihara kuping khabar yang jahat tiadalah damping apabila terpelihara lidah niscaya dapat daripadanya faedah bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan daripada segala berat dan ringan apabila perut terlalu penuh keluarlah fi‘il yang tiada senonoh anggota tengah hendaklah ingat di situlah banyak orang yang hilang semangat hendaklah peliharakan kaki daripada berjalan yang membawa rugi Gurindam 12 - Fasal 4
hati itu kerajaan di dalam tubuh jikalau zalim segala anggota pun rubuh apabila dengki sudah bertanah datang daripadanya beberapa anak panah mengumpat dan memuji hendaklah pikir di situlah banyak orang yang tergelincir pekerjaan marah jangan dibela nanti hilang akal di kepala jika sedikit pun berbuat bohong boleh diumpamakan mulutnya itu pekung tanda orang yang amat celaka aib dirinya tiada ia sangka bakhil jangan diberi singgah itulah perompak yang amat gagah barang siapa yang sudah besar janganlah kelakuannya membuat kasar barang siapa perkataan kotor mulutnya itu umpama ketor di manatah tahu salah diri jika tiada orang lain yang berperi pekerjaan takbur jangan direpih sebelum mati didapat juga sepih Gurindam 12 - Fasal 5
jika hendak mengenal orang berbangsa lihat kepada budi dan bahasa jika hendak mengenal orang yang berbahagia sangat memeliharakan yang sia-sia jika hendak mengenal orang mulia lihatlah kepada kelakuan dia jika hendak mengenal orang yang berilmu bertanya dan belajar tiadalah jemu jika hendak mengenal orang yang berakal di dalam dunia mengambil bekal jika hendak mengenal orang yang baik perangai lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai Gurindam 12 - Fasal 6
cahari olehmu akan sahabat yang boleh dijadikan obat cahari olehmu akan guru yang boleh tahukan tiap seteru cahari olehmu akan isteri yang boleh menyerahkan diri cahari olehmu akan kawan pilih segala orang yang setiawan cahari olehmu akan abdi yang ada baik sedikit budi |
Gurindam 12 - Fasal 7
apabila banyak berkata-kata di situlah jalan masuk dusta apabila banyak berlebih-lebihan suka itulah tanda hampirkan duka apabila kita kurang siasat itulah tanda pekerjaan hendak sesat apabila anak tidak dilatih jika besar bapanya letih apabila banyak mencacat orang itulah tanda dirinya kurang apabila orang yang banyak tidur sia-sia sahajalah umur apabila mendengar akan khabar menerimanya itu hendaklah sabar apabila mendengar akan aduan membicarakannya itu hendaklah cemburuan apabila perkataan yang lemah lembut lekaslah segala orang mengikut apabila perkataan yang amat kasar lekaslah orang sekalian gusar apabila pekerjaan yang amat benar tiada boleh orang berbuat honar Gurindam 12 - Fasal 8
barang siapa khianat akan dirinya apalagi kepada lainnya kepada dirinya ia aniaya orang itu jangan engkau percaya lidah suka membenarkan dirinya daripada yang lain dapat kesalahannya daripada memuji diri hendaklah sabar biar daripada orang datangnya khabar orang yang suka menampakkan jasa setengah daripada syirik mengaku kuasa kejahatan diri sembunyikan kebajikan diri diamkan keaiban orang jangan dibuka keaiban diri hendaklah sangka Gurindam 12 - Fasal 9
tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan bukannya manusia ia itulah syaitan kejahatan seorang perempuan tua itulah iblis punya penggawa kepada segala hamba-hamba raja di situlah syaitan tempatnya manja kebanyakan orang yang muda-muda di situlah syaitan tempat bergoda perkumpulan laki-laki dengan perempuan di situlah syaitan punya jamuan adapun orang tua yang hemat syaitan tak suka membuat sahabat jika orang muda kuat berguru dengan syaitan jadi berseteru Gurindam 12 - Fasal 10
dengan bapa jangan durhaka supaya Allah tidak murka dengan ibu hendaklah hormat supaya badan dapat selamat dengan anak janganlah lalai supaya boleh naik ke tengah balai dengan isteri dan gundik janganlah alpa supaya kemaluan jangan menerpa dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kapil Gurindam 12 - Fasal 11
hendaklah berjasa kepada yang sebangsa hendaklah jadi kepala buang perangai yang cela hendak memegang amanat buanglah khianat hendak marah dahulukan hujjah hendak dimalui jangan memalui hendak ramai murahkan perangai Gurindam 12 - Fasal 12
raja mufakat dengan menteri seperti kebun berpagar duri betul hati kepada raja tanda jadi sebarang kerja hukum adil atas rakyat tanda raja beroleh inayat kasihkan orang yang berilmu tanda rahmat atas dirimu hormat akan orang yang pandai tanda mengenal kasa dan cindai ingatkan dirinya mati itulah asal berbuat bakti akhirat itu terlalu nyata kepada hati yang tidak buta |
