4.5. Main Porok

Attayaya Butang Emas on 2008-09-17

Menurut keterangan yang diperoleh, bahwa nama porok berasal dari sebutan kemenangan dari permainan tersebut. Yakni nilai biji kemenangannya di sebut ”porok”. Permainan ini biasanya dimainkan oleh orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran laut yang banyak di tanam pokok nyiur (nio) sejak zaman nenek moyang terdahulu. Karena nyiur dalam kehidupan rakyat merupakan sumber penghasilan, maka kedudukan nyiur bagi rakyat merupakan tanaman yang terpenting serta besar artinya. Karena sehari-hari masyarakat memakai buah nyiur, maka bertimbun–timbunlah baik sabut maupun tempurung nyiur itu sekitar kampung. Kegairahan bermain dengan benda-benda terbuang itu datang saja dengan tiba-tiba. Lalu, sepak menyepak sabut kelapa ataupun tempurung itupun terjadi secara amat sederhana. Dan, akhirnya lahirlah permainan yang bernama Porok sementara rakyat mempermainkan tempurung sambil mencongkel daging nyiur itu.

Akan halnya bermain, dalam permainan Porok tidak membeda-bedakan teman bermainnya. Mereka bermain bersama-sama baik anak-anak dari kalangan atas serta bangsawan, maupun anak miskin, orang-orang asli ataupun Cina jadi menyatu dalam suatu ikatan permainan tersebut.

4.5.a. Waktu dan tempat permainan
Permainan ini dimainkan lebih kurang 1 sampai 2 jam lamanya. Selain disenangi oleh para permainannya sendiri, porok juga merupakan permainan yang mengasikkan penonton hingga berjam-jam ikut pula menyaksikannya dengan penuh perhatian. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak remaja pada waktu senggang atau sore hari.

Lapangan permainan porok harus datar dan tidak berumput ukurannya panjang 6 depa dan lebarnya 4 depa.

Gambar
Denah lapangan dalam permainan

4.5.b. Peralatan / Kelengkapan Permainan
Alatnya kemudian adalah tempurung sebagai alat permainan pokok, yang harus dimiliki paling tidaknya 2 atau 3 buah seorang. Tempurung tersebut dibuat sedemikian rupa. Harus tahan, dan tidak membahayakan pemainnya. Boleh tempurung tumpat dan boleh pula dilubangi di tengahnya.

Pemainnya berjumlah tiga sampai delapan orang yang dimainkan oleh anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Boleh dimainkan juga oleh anak-anak perempuan. Tetapi sebaiknya antara laki-laki dengan laki-laki dan perempuna dengan perempuan.

4.5.c. Jalannya Permainan
Pengundian untuk menentukan si pembawa yang lebih dulu disebut penentu :
a. Perorangan : Untuk bermain perseorangan penentu dilaksanakan dengan cara melerengkan tempurung permainannya secara bersama-sama ke garis pusat yang telah ditentukan secara mufakat. Barang siapa yang terdekat dengan pusat itu, dialah yang terdahulu membawa, lalu diikuti oleh ke-2, ke-3, dan seterusnya.
b. Berpehak : Untuk bermain beregu, disebut berpehak. Cara penentunya adalah antara kedua belah pihak mengadukan tempurungnya. Siapa yang tertelungkup ialah yang kalah, yang terlentang menang, dan membawa dahulu. Jika sama-sama tertelentang ataupun sama-sama tertelungkup, pengundian di ulangi sampai dapat satu tertelungkup dan satu pula tertelentang.
c. Yang menang penentu, namanya pihak LAPANG, sedangkan yang kalah dalam penentu disebut PENJAGA.

 Pihak Lapang
Pihak lapang membawa, dengan mempergunakan tempurung permainannya secara menjepit dengan ibu jari kaki, kemudian memukul tempurung lawannya dalam lingkaran jaga :
a. Melereng, yaitu permulaan menjalankan tempurung permainan dengan ibu jari kaki. Secara demonstratif boleh dengan membalikkan badan, memukul dengan tumit dan sebagainya. Dilakukan secara demonstratif membelakangi gelanggang permainan. Sebaiknya tempurung dilerengkan dengan kedua belah kaki kiri dan kanan, lalu putar ke belakang. Jika langsung mengenai tempurung dipihak lawan, maka langsung tidak melakukan mengarung lagi. Ia berhak mendapatkan nilai, dengan mengucapkan ’Porok’ atau merasuk.
b. Mengarung, dilakukan dengan cara menjepit tempurung seperti melereng juga. Hal ini dilakukan kalau saat melereng tak sampai mengenakan sasarannya. Artinya tempurung itu dijepit saja dengan ibu jari kaki, lalu di lempar dengan gaya menyepak ke arah tempurung lawan, hal ini dilakukan kala waktu melereng tak sampai ke arah jaga. Jika dalam mengarung itu terkena tempurung lawan, langsung mengetuk dengan cara memangkahkan tempurung kita pada tempurung lawan. Bila berhasil mengetuk, terus berlari ke benteng dan berkata ’Porok’. Setiap ucapan porok dapat dilaksanakan tatkala melarung, nilainya 1 (satu).
c. Merusak, artinya mengetuk tempurung lawan setelah selesai mengarung.
d. Mengetuk, artinya mengetuk tempurung lawan setelah selesai melarung. Jika gagal, maka pembawa dianggap mati. Lalu yang membawa teman berikutnya dalam permainan berpihak, dan jika main perorangan di bawa lagi oleh yang kedua, dan seterusnya. Jika langsung mengenai tempurung lawan dalam waktu melereng (a) nilainya 2.
e. Gim, bila pihak yang terlebih dahulu mencapai nilai terbanyak seperti yang telah disepakati.
f. Kalap, yaitu tempurung yang dilerengkan tertelungkup sedangkan yang dianggap baik adalah tertelentang. Maka pembawa di anggap tak syah atau mati.
g. Gayuk, yaitu pihak melereng tempurung tidak pada urutan semestinya di sebut Gayuk dan tak syah atau mati.
h. Garis, yaitu pihak pembawa melanggar garis yang telah di tentukan dianggap tidak syah atau mati.
i. Barang siapa kalah, hukumannya menggendong lawannya masing-masing seorang sejauh 2 x pergi-balik pada Lapangan permainan.

 Pihak Jaga
 Memasang tempurungnya
 Bila lawan merasuk selesai mengetuk tempurungnya boleh dihalang-halangi supaya gagal. Bila gagal lawan merasuk, ia gagal pula memperoleh nilai, dan dianggap mati.

Susunan Permainan dan Daerahnya
1) Lingkaran pihak jaga lebih besar dari lingkungan pihak lapang :
a. Jumlah lingkaran sebanyak pemain, dengan susunannya (2) (1) (3) untuk bertiga, (4) (2) (1) (3) (5) untuk berlima seregu, bagi pihak lapang.
b. Bagi pihak jaga berdiri dalam lingkaran secara berhadapan dengan lawannya, seorang lawan seorang. Dalam lingkaran itulah diletakkan tempurung permainannya.

2) Pihak lapangan dilingkaran (1), lawannya adalah pihak jaga (1) juga. Tempurung pihak jaga (1) itulah harus kena waktu melereng ataupun melarung. Waktu merasuk harus semuanya satu persatu tempurung pihak lawan di antuk atau di pangkah. Memangkah untuk merasuk itu boleh hingga memecahkan tempurung lawan. Cara memangkah, tempurung di sepit dengan ibu jari dan antukkan ke tempurung lawan.

 Pertukaran jaga
Pertukaran antara pihak lapang dan pihak jaga dilakukan bila pihak lapang semuanya mati. Maka pihak jaga menjadi pihak lapang, dan demikian pula sebaliknya pihak lapang menjadi pihak jaga.

Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta