4. 4 Main Guli

Attayaya Butang Emas on 2008-09-07

Di zaman kerajaan dipersekitaran abad XVII main guli hanya dikenal oleh anak-anak para Datuk ataupun kaum bangsawan di istana. Mereka saling mengandalkan kecerdasan dan keterampilan serta menyertikkan (menjentik) buah guli dengan jarinya ke sasaran yang tepat.

Tumbuhnya permainan ini ditengah-tengah masyarakat hampir bersamaan dengan sepak raga yang sekarang sudah pun dijadikan salah satu cabang olah raga yang banyak peminatnya yaitu Sepak Takraw.

Pada mulanya, buah guli itu dibuat dari potong-potongan kayu atau teras kayu yang cukup keras serta dibulatkan sebesar telor penyu, atau dari ”kulit kima” yaitu sebangsa kerang besar yang terdapat di dasar laut atau pun di tebing-tebing karang.

Sekarang, masih berkembang di masyarakat dan merupakan permainan rakyat yang terdapat dimana-mana, biarpun pada beberapa tempat peraturan yang lama mendapat perubahan disana-sini menurut dialek atau pun kebiasaan daerah masing-masing masyarakatnya yang menggemari.

Sehabis perang dunia kedua, buah guli atau kelereng yang dulunya terbuat dari kapur beraduk semen dengan ukuran sebesar ibu jari kaki, sudah kurang kelihatan beredar di masyarakat, yang banyak kelihatan sekarang, adalah kelereng kaca yang ukurannya lebih kecil sekira sebesar telunjuk. Ukuran guli yang makin kecil kurang digemari untuk dimainkan, akibatnya permainan ini kurang memikat hati. Namun bagi anak-anak tanggung (remaja) masih suka memainkannya, bahkan jika sejak dulu main guli (kelereng) itu dilakukan oleh anak laki-laki saja, akhir-akhir ini kelihatan pula anak-anak perempuan ikut memainkannya.

Gambar
Denah lobang guli

4. 4. a. Waktu dan Tempat Permainan
Main guli adalah semata-mata permainan untuk mengisi waktu senggang, yang dimainkan baik pagi maupun sore hari ditempat yang teduh. Mereka memainkan dengan asyik, hingga tahan 1-2 jam lamanya. Ketika bermain guli yang baik adalah pada musim kurang penghujan, karena permainan tersebut mempergunakan lubang yang digali di tanah yang tentu saja sangat terganggu oleh genangan air dikala hujan itu.

Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak-anak tanggung yang hidup di dataran rendah baik di kampung, perumahan nelayan pinggir pantai, maupun dilembah-lembah pinggir sungai yang sehari-harinya terbiasa dengan bermain-main di tanah datar dan tidak berbukit-bukit. Sebab, bermainan guli itu tidaklah dapat dilakukan ditempat yang curam. Hal ini di karenakan buah guli yang menjadi pokok permainan itu berbentuk bulat, dan mudah bergelinding di tebing.

4. 4. b. Alat /Perlengkapan Permainan
Untuk melaksanakan pertandingan main guli, perlengkapan khusus untuk itu harus disediakan sebelum saat bertanding, yaitu :
 Guli, sebuah atau dua buah seorang
 Gelanggang tempat bermain.

Dipersiapkan sebidang tanah datar seluas paling tidak 5x2 m, dan tempat itu di buat atau di gali lubang sebanyak 3 buah sebesar 1¾ -2 kali besar guli yang akan di mainkan :
 Lubang raja, di buat juga lubang atas, atau lubang naik.
 Lubang tengah.
 Garis kandang, yang diukur dengan jari-jari antara lubang raja dengan lubang tengah, dan lubang raja sebagai pusat lingkarannya. Lingkaran yang ditarik merupakan garis kandang arena tersebut.

Adapun jarak antara satu lubang ke lubang yang lain itu berkisar antara 12 sampai dengan 20 telapak kaki si pemain. Dalam lubang itu, setenggelam (sedalam) 1/12 besar guli.

4. 4. c. Jalannya permainan
Jumlah pelaku main guli ini, pertama-tama harus diperhatikan jenis permainan guli untuk dimainkan itu. Yakni main beraja ataukah main berudung (main perseorangan atau beregu).

Main beraja.
Main beraja adalah main bersendirian tidak berteman. Mereka bermain satu sama lain merupakan lawan dalam permainan itu yang berjumlah 2 sampai dengan 5 orang.

Main berudung
Main Berudung, adalah main secara berkumpulan (beregu) yang mencari menang dengan cara berteman untuk mengalahkan regu lainnya. Permainan ini lazimnya dilaksanakan dalam dua regu. Dengan jumlah pemain 2 sampai dengan 4 orang, seregu.

Karena main mempunyai dua cara permainan yaitu cara beraje, dan cara berudung maka jalannya permainan pun terdiri dari dua cara yaitu :

Main beraje.
Diumpamakan yang bermain guli, adalah (a), (b)dan (c), maka jalannya permainan itu sebagai berikut :
1. Berundi :
yakni mencari siapa yang pertama, kedua dan ketiga dan seterusnya menurut jumlah peserta beraja itu.
 (a), (b)dan (c) masing-masing menggelidingkan gulinya masing-masing dari lubang raja ke lubang bawah.
 Barang siapa yang paling dekat dengan lubang bawah itu, ialah yang pertama memainkan gulinya. Umpamanya yang terdekat (a) di susul (b), yang terjauh adalah (c) maka maka disebutlah urutan ke-1 (a), ke-2 (b) dan yang terahir ke-3 atau kincit, adalah (c).

2. Membawa :
Tengah naik, pemain berusaha memasukan gulinya ke lubang tengah. Dalam hal contoh di atas, tentulah (a) yang membawa. Ia dengan hati-hati menggelindingkan gulinya untuk masuk ke lubang tengah itu:
 Kalau gulinya masuk, maka (a) terus ambik raje, dengan cara menggelinding ke lobang raja.
 Kalau gulinya tak masuk ke lubang tengah tadi, maka gilirannya (b) lagi membawa tengah naik. Dalam hal ini (b) boleh memilih. Mau memasukkan lubang, ataupun menyetik guli si (a). Biasanya si pemain lebih suka menyetik saja, untuk menghindari akibat guli kita disetik pula oleh si (a) ataupun si (c), jika pukulan (b) tibut atau abus.
 Kalau ternyata (b) dapat mengambil lubang tengah, maka ianya boleh langsung mengambil lubang raja. Hal ini di dapati boleh dengan cara gulinya betul-betul dapat di masukkan ke lubang tengah tadi, ataupun pukulannya mengenai guli si (a) secara ganti untat. Kemudian dapat dimasukkan gulinya ke lubang tengah tersebut (b) boleh ambil lubang raja yang lazim disebut lubang pucok.
 Jika (b) dapat mengambil lubang tengah itu, maka tiba pula giliran si (c) yang membawa. Si (c) boleh melakukan seperti si (b) dengan jalan menyetik guli (a) ataupun (b), ataupun ia dengan nekad saja mengambil lubang tengah itu tanpa menghalau dulu guli lawan-lawannya yang berada dekat lubang tengah itu. Sekiranya putaran (b) dan (c) abus dan tak dapat mengambil lubang tengah itu, giliran membawa kembali kepada si (a) memasukkan gulinya ke lubang tengah, jika salah satu guli lawannya ada di dekatnya secara pukulan atau sekuru, ia menghantarkan gulinya ke dekat lubang raja.
 Kalau sekiranya (a) dapat mengambil lubang raja, maka ianya terus mengambil lubang tengah nurun, seperti ianya mengambil lubang tengah naik tadi juga. Dan jika masuk ke lubang tengah itu, maka ia langsung mengambil lubang bawah.
 Kalau sekiranya ia gagal memasukkan gulinya ke lubang tengah nurun itu, gulinya tertahan disana; maka giliran (b) lagi mengambil lubang tengah naik, lalu berusaha mengambil lubang raja ataupun pucok lagi.
 Kalau (b) berhasil mengambil lubang raja, ianya berusaha mengambil tengah turun seperti yang dilakukan si (a) terdahulu.
 Jikalau (b) tak berhasil, maka giliran (c) pula mengambil lubang tengah naik, seperti oleh rekan-rekan. Kalau (c) gagal lagi, maka kembali giliran (a) untuk meneruskan permainan itu.
 Kalau tadinya (a) dapat mengambil lubang bawah, maka ia sekarang akan mengambil lubang tengah raja dengan menyetik guli lawan dulu baru memasukkan gulinya ke lubang, ataupun masukkan gulinya ke lubang tengah itu. Bila lubang tengah raja itu dapat di ambil, maka si (a) sudah menunggu raja.
 Seandainya (a) gagal mengambil lubang tengah raja itu, giliran (b) pula meneruskan permainannya yaitu mengambil lubang tengah turun, kemudian jika berhasil ke lubang bawah.
 Bila (b) gagal, maka (c) meneruskan permainannya seperti di lakukan oleh (a) dan (b) juga.

3. Raja
Jika (a) telah berhasil mengambil lubang tengah raja tadi, maka ianya tinggal mengambil lubang raja :
a. (a) berusaha menghalau guli-guli lawannya dari dalam kandang raja. Jika guli (b) maupun guli (c) berada di luar kandang, si (a) memasukkan gulinya ke lubang raja.
 Kalau masuk ke lubang raja di saat guli-guli lawan berada di luar kandang, maka (a) raja. Dan, dia sebagai pemenang pertama. (b) dan (c) meneruskan permainan mereka masing-masing dan saling tunduk menundukkan lawannya.
 Kalau (a) ternyata tak dapat menghalau guli-guli lawannya dari dalam kandang, ataupun ianya gagal memasukkan gulinya ke lubang raja, maka ianya belum gim, dan masih berusaha menghalau guli-guli lawannya dengan menyetikkan gulinya serta menggunakan segenap keahliannya hingga ia dapat keluar sebagai pemenang dalam pertandingan tersebut.
b. Antara (b) dan (c) jika (a) sudah raja atau gim, mereka berusaha seperti (a) yaitu menyelesaikan tugas ambil lubangnya satu persatu, kemudian menghalau guli lawannya itu keluar kandang. (b) boleh sebagai pemenang kedua, bila ianya dapat mengalahkan (c). Demikian juga (c) bila ianya dapat menyelesaikan pengambilan lubang-lubang seperti (a) dan dapat pula menghalau guli (b), maka (c) lah yang keluar sebagai pemenang ke dua.


4. Kalah
Diantara (b) dan (c), diumpamakan (b) keluar sebagai pemenang kedua, si (c) yang lengit atau kalah. Ianya terpaksa menahankan buku apannya di lubang tengah untuk disetik oleh (a) dan (b) sebanyak berapa kali seorang, sesuai dengan perjanjian sebelumnya.

5. Ulangan
Setelah gim pertama ini dapat diselesaikan, maka kembali lagi mereka berundi untuk permainan selanjutnya. Demikian seterusnya hingga dua sampai dengan tiga jam lamanya mereka bermain itu.

Ringkasan umum
 Ambil lubang tengah naik
 Ambil lubang raja
 Ambil lubang tengah nurun
 Ambil lubang nurun atau lubang bawah
 Ambil lubang tengah raja

6. Ambil Raja :
a. jika guli lawan berada di luar kandang, guli kita dapat dimasukkan ke lubang raja, maka kita menang
b. jika guli lawan salah satunya masih berada dalam kandang, maka kita terpaksa menghalaunya dari lubang raja. Jika dapat dihalau dengan jentikan yang tepat, kita masukkan guli kita ke lubang raja. Jika masuk, jadi pemenang. Jika belum masuk, diulangi lagi, dengan cara si penunggu meletakkan atau disebut menahan gulinya di dalam kandang untuk dihalau yang akan raja.
c. Penahan berusaha meletakkan gulinya pada tempat yang agak sukar dihalau. Jika kebetulan ianya sudah selesai mengambil kelima lubang sebagai persyaratan, lawan ini berhak pula memasukkan gulinya ke lubang raja. Jika masuk, dan guli kita keluar kadang, lawan yang menang.

Main Berudung
Main berudung, atau beregu ini di umpamakan regu (A) yang terdiri dari (a), (b) dan (c), melawan regu (B) yang terdiri dari (d), (e) dan (f).

- Pengundian,
Mereka ber-enam sama-sama menggelindingkan gulinya masing-masing dari pusat lubang raja ke lubang bawah. Jika (a) yang terdekat umpamanya dari yang lain maka regu (A) lah yang membawa lebih dahulu dari regu (B).

- Permainan
a. Regu (A) mengambil lubang tengah naik, berturut-turut (a), (b) dan (c). Jika salah seorang masuk, umpamanya si (b), maka ianya terus mengambil lubang naik atau lubang raja. Sedangkan temannya (a) dan (c) masih tinggal di dekat lubang tengah. Kalau sekiranya (b), dapat pula mengambil lubang raja itu, ia berusaha mengambil lubang tengah turun lagi. Kalau usahanya mengambil lubang raja tadi gagal, ianya tetap berada di dekat lubang raja itu.
b. Setelah regu (A) gagal untuk melanjutkan permainannya, maka regu (B) mulai membawa. Salah seorang dari mereka menghalau guli-guli regu (A) yang ada di sekitar lubang tengah yang akan mereka ambil itu. Jika guli-guli (A) terhalau, maka dengan mudah teman (B) merebut kedudukan lubang tengah naik itu. Mereka satu persatu berusaha memasukkan gulinya ke lubang tengah seperti yang dilakukan oleh regu (A). Jika gagal maka regu (A) kembali meneruskan permainannya.
c. Dalam regu (A), ternyata umpamanya (a) sudah berhasil mengambil lubang tengah naik dan lubang raja, dalam putaran pertama tadi, maka (a) terus mangambil lubang tengah turun, bila berhasil ianya terus berusaha mengambil lubang bawah. Katakanlah ia berhasil, dan langsung mengambil lubang tengah raja, kebetulan pula umpamanya (a) berhasil pula. Maka regu (A) sudah akan raja. Temannya (a) yaitu (b) dan (c) meneruskan permainan mereka mengambil lubang-lubang tengah naik, lubang raja dan seterusnya lubang tengah dan lubang bawah. Jika berhasil, mereka akan mengambil raja pula. Katakanlah mereka gagal dan mereka melakukan lagi untuk masing-masing mengambil lubang bawah.
d. Regu (B) berusaha meneruskan permainan itu. Katakanlah semua lubang sudah ditunggu oleh guli regu para pemain (A), jadi mereka menyelamatkan keadaan dengan meletakkan gulinya masing-masing di dalam garis kandang takut keluar, karena (a) teman-teman (A) sudah mau raja.
e. Karena keadaan (a) yang menguntungkan, maka teman-teman (A) yang lainnya seperti (b) dan (c) berusaha menghalau guli (d), (e), dan (f) temannya (B) hingga keluar kandang. Bila berhasil, maka (a) berhak masuk ke lubang raja. Pukulan teman-teman seregu (A) baik (b) maupun (c) syah, dan jika guli (a) dapat dimasukkan ke lubang raja itu maka menanglah regu (A) tersebut. (B) dinyatakan kalah.

Permainan ini dilanjutkan lagi untuk permainan kedua, ketiga, dan seterusnya sampai salah satu dari pihak (A) maupun (B) itu keluar sebagai pemenangnya.

Peristilahan dalam main guli
a. Nurun, adalah mengatakan ke lubang bawah atau turun.
b. Tiwas, artinya guli tak boleh berubah letak lagi, atau bila terhalang apa apa, di situlah tempatnya.
c. Tek kedue, artinya kalau menyetik atau memukul guli lawan, tak kena yang satu yang lainnya pun syah.
d. Tek kedue tak kene masuk lubang, artinya jika tak terkena guli yang disetik, masuk lubang pun syah.
e. Alet, artinya memainkan guli lawan dengan pelan dan lambat.
f. Kincit/kincet, artinya mengambil terakhir sekali.
g. Ambik raje, artinya mengambil lubang raja.
h. Tibah, artinya tak kena.
i. Jonggou, artinya terlalu mendekat-dekatkan badan ataupun tangan ke guli lawan, tidak menurut jarak pukul semestinya.
j. Lenget, artinya terlalu banyak menderita kekalahan.
k. Abus, artinya tidak mengenai sasaran.
l. Antok, ngantok, artinya memukul guli dengan dilepas dengan dua tangan tidak dengan cara menyetik dengan jari.
m. Cungkel, artinya mengeluarkan guli dari lubangnya dengan setikan guli juga.
n. Buku apan, artinya buku tinju tangan kiri ataupun tangan kanan.
o. Nahan, nunggu, artinya menahan guli untuk disentik.
p. Tibut, tak mengenai menyentik guli lawan yang menahan.
q. Jongkah, artinya langkah kaki.
r. Nyap, guli hilang entah kemana melantingnya.
s. Balui, artinya pertandingan seri tak ada kalah menang.
t. Raje, artinya gim.
u. Halau, buang, artinya mengusir guli lawan dari dalam kandang raja.
v. Ganti ditat, nguntat, artinya guli pemukul mengganti tempat guli lawan.
w. Sekern, artinya ambil pelipis guli lawan.
x. Sekern terarah disebut juga kusen.
y. Pucuk artinya atas



Gurindam 12 Raja Ali Haji

Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6

cahari olehmu akan sahabat
yang boleh dijadikan obat

cahari olehmu akan guru
yang boleh tahukan tiap seteru

cahari olehmu akan isteri
yang boleh menyerahkan diri

cahari olehmu akan kawan
pilih segala orang yang setiawan

cahari olehmu akan abdi
yang ada baik sedikit budi
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta