14. Bersuap-suap

Attayaya Butang Emas on 2008-12-28

Setelah kedua pengantin duduk bersanding, sampailah pla kepada “upacara bersuap-suap”. Acara ini adalah kedua pengantin menyuapi secara bergantian. Sebelum upacara dijalankan, sirih lelat yang dipegang pengantin lelaki diambil. Setelah itu Mak Andam mengambil pulut kuning dan dikepal-kepalnya, dibentuk menjadi bulat. Jumlahnya sebanyak dua buah. Makanan ini bersama bahan pelengkap memakannya yaitu telur. Makanan ini disuguhkan oleh Mak Andam kepada pengantin lelaki untuk disuapkan kepada pengantin perempuan, begitupun sebaliknya.

Makan bersuapan sebagai perlambang saling memberi dan menerima sebagai suami isteri. Dan begitu juga halnya isteri terhadap suami dan anak-anak nantinya.


More about14. Bersuap-suap

13. Bersanding

Attayaya Butang Emas on 2008-12-18

Adapun setelah acara akad nikah selesai, pengantin lelaki terlebih dahulu pulang ke rumah untuk persiapan acara bersanding. Sementara pengantin perempuan dimandikan oleh Mak Andam dengan air bunga tujuh warna (jenis). Selesai dimandikan kemudian dilangir atau dibedaki dengan bedak yang terbuat dari bahan tradisional.

Kemudian pengantin perempuan dirias dan mengenakan baju kurung teluk belanga. Dipasangkan pula kain samping. Baju pengantin tersebut biasanya adalah jenis songket atau kain yang terbuat dari benang berwarna emas atau perak. Selesai digauni diberi sanggul bernama “lipat pandan”. Bentuk sanggul menyerupai lipatan daun pandam berisi pelepah batang pisang yang digulung dengan rambut pengantin atau dengan cemara yakni rambut palsu. Jika pengantin berambut pendek, hiasan pengantin berupa gandik, cocok siput atau sunting, dokoh, pending, kembang goyang, pandan mayang, anting-anting dan cincin. Sewaktu pengantin perempuan dirias Mak Andam, diadakan acara marhaban, berdah, hadrah dan lain sebagainya. Seni budaya bernafaskan Islam ini ditampilkan pada dasarnya bertujuan menjunjung tradisi. Keadaan rumah pengantin akan terasa semarak. Dengan ditampilkan seni budaya yang telah dikemukakan, khalayak di lingkungan terutama anak-anak tertarik untuk datang, sehingga sekitar rumah pengantin menjadi ramai. Sedangkan bagian dalam sudah jelas padat karena ditempati pelaku-pelaku pelaksana adat yang berhubungan dengan upacara pesta perkawinan.

Begitu juga halnya dengan pengantin laki-laki, setelah pulang ke rumahnya dan waktu mendekati shalat Dzuhur, maka dia dipakaikan pakaian pengantin. Pakaian pengantin ini dibawa dan diantarkan utusan Mak Andam dari rumah pengantin perempuan. Pakaian pengantin laki-laki yang dikenakan berupa baju teluk belanga tidak berlengan, celana panjang menyerupai pasangan baju kurung. Kemudian, dipasangkan ikat pinggang berukuran besar yang terbuat dari bahan kain yang lazim disebut “sabuk” atau “bengkung”. Selanjutnya pula dipasangkan pula baju luar atau “jubah” dan berserban. Jubah adalah pelapis baju teluk belanga. Oleh sebab itu, baju ini disebut baju luar. Ukurannya besar, berlengan panjang dan bagian bawahnya mencapai betis dan diberi perhiasan. Demikian juga serban berhiaskan kembang mayang. Adapun alas kakinya berupa sendal jepit bertali yang dinamakan “capal”.

Kedua pengantin sudah dirias dan diberi berpakaian, maka mereka dipersandingkan. Persandingan yaitu di rumah pengantin perempuan. Waktu bersanding hampir tiba, pihak pengantin perempuan mengirim utusan menjemput pengantin laki-laki. Utusan ramai dan didampingi para pemain musik kompang.

Pengantin laki-laki diarak menuju rumah pengantin perempuan. Kelihatan utusan datang, pihak pengantin laki-laki menyongsong rombongan yang datang membawa sirih lelat (sirih lat-lat). Alat ini dibawa sebagai pertanda bahwa pengantin perempuan sudah dipelaminan atau sudah siap menanti kehadiran pengantin laki-laki untuk bersanding. Pakaian yang dibawa utusan diserahkan dan dipasangkan Mak Andam kepada pengantin laki-laki. Setelah berpakaian, sang pengantin diarak beramai-ramai menuju rumah pengantin perempuan. Ketua rombongan ini adalah orang yang menguasai adat-istiadat perkawinan dan ahli berpantun. Pendamping yang lainnya bertugas membawa tepak sirih, pakaian sang pengantin dan bunga manggar. Bagian atas tepak sirih menyerupai kepala burung merak jantan. Pakaian sang pengantin yang dibawa dalam bentuk bungkusan. Kanan dan kiri pengantin terdapat orang yang memegang bunga manggar. Bunga ini dibuat dari bahan lidi kelapa yang dibalut kertas warna-warni. Bagian pangkal lidi ditusukkan atau ditancapkan pada batang pisang atau gabus atau pepaya muda berukuran 25 cm, kemudian batang pisang atau gabus atau pepaya muda tadi ditusuk dengan kayu agar mudah memegang sekaligus membawa bunga itu dalam perarakan. Hal yang menarik dari bunga manggar tersebut, pada ujung lidi diikatkan uang logam dan permen. Fungsi bunga sebagai pertanda pemberitahuan kepada pihak pengantin perempuan mengenai kehadiran rombongan pengantin laki-laki.

Pada masa silam, pengantin laki-laki diarak menuju rumah pengantin perempuan dengan berjulang, yaitu sang pengantin berada di pundak orang lain. Namun, budaya berarak seperti ini sudah ditinggalkan. Dewasa ini, pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan berjalan sama halnya dengan keramaian yang mengaraknya. Turun dari rumah sampai ke tempat tujuan, sang pengantin memegang “sirih lelat”. Sirih ini sudah dimanterai Mak Andam. Permanteraan dilakukan supaya sirih memiliki kekuatan gaib. Kekuatan gaib itu dipercayai dapat melindungi pengantin dari berbagai gangguan terutama gangguan yang bersifat gaib. Perarakan dihibur bunyian kompang yang diiringi nyanyian pujian terhadap Nabi dan para sahabatnya.

Dengan diiringi musik kompang, sang pengantin terus diarak sampai ke rumah pengantin perempuan. Mendekati pekarangan rumah pengantin perempuan, bunga manggar yang dibawa, direbahkan, maka ramailah anak-anak berebut untuk mengambil uang logam dan permen yang terdapat pada pucuk-pucuk bunga manggar. Peristiwa ini cukup menarik dan menjadi bagian dari kemeriahan majelis perkawinan.

Musik perarakan pun berhenti, dan rombongan yang datang disambut pula dengan pencak silat. Permainan silat ini diiringi dengan bunyi-bunyian berupa gendang, gong dan nafiri atau seruling. Penampilan silat mempunyai dua kegunaan, yang pertama sebagai bagian dari acara penyambutan pengantin itu sendiri, sedangkan yang kedua adalaah sekaliannya menunjukkan untuk menjaga keamanan berkenaan dengan majelis pernikahan tersebut.

Selesai penyambutan dengan pencak silat, rombongan pengantin lelaki memasuki halaman rumah dan ditaburi dengan beras kunyit, terutama pengantin lelaki. Upacara penaburan ini dilaksanakan sebagai perlambang keberhasilan sang Bujang hidup menyatu dengan sang Dara. Perlambang lainnya dalam upacara ini adalah sebagai pemula berhubungan pengantin lelaki menaiki rumah pengantin perempuan.

Kemudian berjalan memasuki rumah, tetapi sebelum naik ke rumah, rombongan dihadang dengan “tali lawa”. Upacara ini dinamakan “upacara lawa-lawa”. Tujuannya adalah untuk mengetahui maksud kedatangan rombongan, konon. Dan biasanya dimintaiuang ala kadarnya. Alat lawa terdiri dari kain panjang yang dipiln-pilin sehingga menyerupai tali berukuran besar. Tali lawa tersebut di rentang di depan pintu atau tangga naik ke rumah. Petugas yang memegang kian tersebut dipersiapkan oleh pihak pengantin perempuan dan ada pula yang memegang pundi tempat uang. Maksud dari upacara ini sebenarnya ingin menunjukkan kepada pihak pengantin laki-laki bahwa tidak mudah untuk mendapatkan sang dara. Jadi perkawinan bukan main-main. Oleh sebab itu, sangat tidak diharapkan nantinya sampai terjadi perceraian dan rumah tangga hancur. Suami isteri dituntut untuk saling bertanggung jawab, saling pengertian. Jadi upacara lawa-lawa itu didasari dari ketentuan tersebut, bukan karena uang atau kebendaan.

Nah, oleh karena pengantin lelaki tidak dapat masuk ke rumah sebab dihadang dengan tali lawa, maka pihak pengantin lelaki bertanya dengan pantun :
Pengiring lelaki :
Kalau memetiksi buah pauh,
Jangan dipetik bersame dahan.
Kami ini datang dari jauh,
Mengape kami tuan tahan?

Pengiring perempuan :
Dari muare pergi ke hulu,
Hendak membeli daun turi.
Kami hendak bertanye dahulu,
Ape hajat datang kemari?

Pengiring lelaki :
Bukan udang sembarang udang,
Udang buat memancing patin.
Bukan kami sembarang datang,
Datang hendak menyatukan pengantin.

Pengiring perempuan :
Kalau tidak kelape bulan,
Tak mungkin tupai mati.
Kalau begitu maksud tuan,
Bayar dahulu upah menanti.

Pengiring lelaki :
Tahulah kami dimane bulan,
Di atas langit di malam hari.
Tahulah kami maksud tuan,
Inilah sekedar yang kami beri.

Pengiring perempuan :
Jangan tuan menjaring selangat,
Di sane banyak ikan berduri.
Jangan awak kedekot sangat,
Beri dan tambah sedikit lagi.

Pengiring lelaki :
Beli buah berkati-kati,
Buah dikirim ke pulau Jawe.
Tuan diharap bermurah hati,
Hanye inilah yang kami bawe.

Pengiring perempuan :
Mengasah senjate pisau belati,
Jangan lupe pisah disemah.
Mendengar itu kasihan di hati,
Silekan tuan naik ke rumah.

Selesai saja terlepas dari tali lawa-lawa di halaman rumah, kini sebelum masuk ke rumah, di pintu telah dihadang pula. Inilah dikatakan “tebus pintu”. Biasanya pada tebus pintu ini uang diminta lebih besar lagi ketika melewati tali lawa-lawa. Setelah memberikan uang, dan adakalanya juga berpantun-pantun, barulah pengantin lelaki diperbolehkan masuk dan ditaburi dengan beras kunyit.

Pada saat pengantin lelaki menuju ke peterakne, rebana berbunyi penuh kemeriahan. Peterakne adalah tempat bersanding kedua pengantin, bagian depannya ditaburi beras kunyit dan uang logam, hal ini dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih karena upacara dilaksanakan dengan kesenangan.

Walaupun pengantin lelaki sudah memasuki ruang persandingan, pengantin lelaki belum diperkenankan duduk bersanding. Sedangkan wajah pengantin perempuan ditutupi oleh Mak Andam (Mak Inang) dengan kipas. Untuk itulah dilaksanakan dahulu upacara “tebus kipas”. Nah untuk membukanya maka pengiring lelaki bertanya dengan pantun :

Pengiring lelaki :
Kalau besar ikan di jahan,
Masih kecil si ikan duri.
Sudah due kali kami ditahan,
Sampai disini ape lagi?

Mak Inang :
Bawe ambung ke kampung Mading,
Disane banyak buah kuini.
Kalau pengantin ingin bersanding,
Bukelah dahulu kipas ini.

Pengiring lelaki :
Kalau betul pergi ke Mading,
Apekah tahu arah jalannye.
Ingin betul hendak bersanding,
Tapi kami tak tahu syaratnye?

Mak Inang :
Menangguk anak ikan temperas,
Ikan ade di sungai duare.
Penat tangan memegang kipas,
Berilah kami seringgit due.

Pengiring lelaki :
Sungai duare banyak temperas,
Tetapi sayang liar ikannye.
Sudah due kali kocek terkuras,
Inilah saje tinggal koretnye.

Mak Inang :
Mari menebang si pohon jati,
Keras kayunye tiade berbanding.
Mendengar kate hibelah hati,
Silekan naik duduk bersanding.

Setelah ketua pengiring menyerahkan uang kepada Mak Inang selaku yang empunya pengantin perempuan, barulah pengantin lelaki diperkenankan naik ke peterakne dan bersanding dengan pengantin perempuan.

More about13. Bersanding

12. Tepuk Tepung Tawar

Attayaya Butang Emas on 2008-12-02

Dalam rangkaian upacara perkawinan adat Melayu Kepulauan Riau, sesudah acara akad nikah dilanjutkan pula dengan “Tepuk Tepung Tawar”. Acara ini adalah “menepuk” dengan beras kunyit dan bertih (padi yang disangrai), yang dilanjutkan dengan mencecah inai di telapak tangan pengantin. Dalam acara ini juga senantiasa diiringi dengan pantun-pantun oleh si pembawa acara, misalnya :

Pembawa acara :
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Tuan-tuan, puan-puan dan ncik-ncik dan hadirin yang budiman,
Sempurne helat karene adat,
Sempurne kerje karene do’a,
Sesuai dengan adat,
Sepadan dengan lembage,
Marilah kite ikuti
Acare tepuk tepung tawar.

Jung berlayar ke Pulau Penyengat,
Singgah membeli secupak penganan.
Tepung tawar ucapan selamat,
Berkat Illahi yang diharapkan.

Untuk memulai acare ini, di harap kesediaan dari ........... untuk menepuk tepung tawar pengantin.


(Maka seseorang yang disebut namanya melakukan acara tersebut dengan hikmat. Orang yang dipanggil pembawa acara biasanya orang yang dituakan, orang tua, maupun saudara. Sementara si pembawa acara terus berpantun).

Orang berlayar ke Pulau Rupat,
Disitu tempat menjual serabi.
Tepung tawar membawe berkat,
Do’a syukur kepade Allhurabbi.

Ye, terime kaseh kepade .................... dan untuk selanjutnye, diminte kesediean .................. untuk menepuk tepung tawar pule kepade pengantin.


(Seseorang memberikan tepuk tepung tawar pula. Dilanjutkan dengan pantun berikut).

Indah bunyi burung tekukur,
Hinggap tinggi di dahan sagu.
Beras kunyit beras ditabur,
Semoge sejahtere pengantin baru.


(dilanjutkan lagi dengan si penepuk tepung tawar berikutnya, dan pantunnya adalah seperti berikut).

Santan diperah masak kari,
Kari dimasak dalam belange.
Di tepuk bahu kanan dan kiri,
Semoge arif berumah tangge.


(dan selanjutnya dengan penepuk tepung tawar berikutnya dan dengan pantunnya pula, hingga kira-kira sampai kepada yang terakhir, biasanya berjumlah ganjil orangnya. Dan inilah perkataan terakhir dari acara tepuk tepung tawar itu disampaikan si pembawa acara).

Untuk penepuk tepung tawar terakhir dimintekan kepade ......... dan sekaliannye untuk membacekan do’a bagi keselamatan kepade kedue pengantin dan kepade kite semue yang hadir. Dipersilekan kepade ..........

(setelah itu, disambut pula dengan sebait pantun, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do’a. Kemudian si pembawa acara berkata).

Tepung tawar sudah direnjis
Dibilas pule dengan si air mawar
Ditutup akhir dengan do’a
Sempurnelah sudah acare ini
Berkenanlah persaudarean kite
Amin, amin ya Rabbal ‘alamin.

Tuan-tuan, puan-puan, ncik-ncik dan hadirin sekaliannye
Ibarat berlayar sudah sampai ke tujuan
Hajat yang berhelat sudah sampai
Tibelah pule masenye kite bersurai
Tuan rumah bermohon harap dimaafkan
Akhirnye, bagaimane datang
Begitu pule baliknye
Kami jemput, kami antarkan
Kami pinjam, kami balikkan
Kami pinjam dengan tepak
Kami balikkan dengan do’a
Dan seraye menutup acare ini
Dengan kalimah Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin
Kepade hadirin sekaliannye dipersilekan mencicipi hidangan
Dan kemudiannye pule kami ucapkan selamat dan tahniah
Kepade pengantin dan kedue orang tuenye
Terime kasih dengan kesabarannye untuk mengikuti acare ini
Wa’billahi taufik wal hidayah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kepada orang-orang yang telah memberikan tepuk tepung tawar biasanya diberikan sebuah bunga telur oleh Mak Andam sebagai ucapan terima kasih. Bunga telur adalah bunga yang dibuat dari kertas, diikat pada lidi atau bambu kecil dan ditancapkan pada pulut kuning yang dibungkus dengan daun pisang. Bagian ujung dari lidi atau bambu kecil yang diraut itu, diikat dengan telur merah yang sudah dirajut dengan benang. Tetapi kepada masa sekarang pekerjaan seperti itu telah diubah suai dengan bentuk yang beraneka ragam, sesuai dengan kemajuan zaman.

Orang-orang yang memberikan tepuk tepung tawar adalah undangan ataupun jemputan dari kalangan orang yang terpandang, seperti tokoh adat, tokoh pemerintahan, orang-orang tua kerabat yang datang dari jauh kemudian diakhiri dengan pembacaan do’a oleh seorang ulama.

Tepuk tepung tawar berguna sebagai do’a supaya kedua pengantin meruah rezekinya, ikhlas dalam berbuat, memperoleh kedamaian, ketentraman hati dalam hidup berumah tangga dan bermasyarakat.

Adapun makna dari tepung tawar adalah :
  1. Beras kunyit atau beras kuning. Warna kuning melambangkan raja, kebesaran, keagungan dan kebesaran Melayu Riau.
  2. Beras putih atau beras basuh. Warna putih lambang kesucian, kebersihan, dengan bermakna bahwa melaksanakan segala sesuatunya haruslah mendapatkan tuah.
  3. Bertih adalah beras yang digoreng tanpa minyak. Warna putih kecoklatan melambangkan pengembangan, kemekaran dengan kesuburan yang membawa kemakmuran.
  4. Daun Setawar melambangkan penawar yaitu obat segala yang berbisa.
  5. Daun Sedingin melambangkan kedamaian dan ketentraman hati.
  6. Air harum-haruman (air mawar) melambangkan kebahagiaan (harmonis) di dalam keluarga dan nama baik.
  7. Daun-daunan yang diikat menjadi satu sebagai perenjis melambangkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan, kerukunan dan kedamaian rumah tangga dan bermasyarakat.

Adapun perlengkapan dan bahan-bahan tepuk tepung tawar terdiri atas :
  1. Pahar atau talam berkaki yang kecil.
  2. Sangku yaitu mangkuk tembaga yang kecil tempat beras kunyit.
  3. Beras basuh.
  4. Tepung beras dan beras bertih.
  5. Tempat inai giling.
  6. Air yang telah dicampur dengan tepung beras dan dibubuhi dengan harum-haruman (bunga mawar).
  7. Alat perenjis untuk menepuk yang terdiri dari daun setawar, daun sedingin, daun ganda rasa, daun hati-hati, daun sipulih, daun samban, daun juang, dan akar ribu-ribu. Semua daun-daun tersebut disusun dengan rapi dan diikat dengan salah satu daun.

Apabila selesai acara Tepuk Tepung Tawar, pengantin laki-laki bersama rombongannya meminta izin kepada tuan rumah untuk kembali ke rumahnya, dan menyatakan akan datang lagi membawanya untuk disatukan pada acara bersatu atau bersanding.

Kepulangan pengantin lelaki dibekali oleh keluarga pengantin perempuan dengan tepak sirih, bunga rampai dan kue-mue yang merupakan bukti bahwa pengantin lelaki telah sampai ke rumah pengantin perempuan.

Selama waktu sebelum acara persandingan dilakukan, segala persiapan makanan dan minuman untuk pengantin lelaki diantarkan oleh keluarga pengantin perempuan. Makanan tersebut diantar dengan perlengkapan berupa piring makan, piring lauk, mangkok nasi, piring kue, kesemuanya diletakkan di atas sebuah pahar dan ditutupi dengan “tudung hidang”. Tudung hidang adalah tudung saji yang terbuat dari daun pandan dan di atasnya terdapat jahitan kain-kain perca.

More about12. Tepuk Tepung Tawar

11. Akad Nikah

Attayaya Butang Emas on 2008-11-18

Acara akad nikah merupakan puncak dari segala rangkaian upacara perkawinan. Sah atau tidaknya perkawinan ditentukan oleh akad nikah, sedangkan acara lainnya hanya sebagai pelengkap yang diatur oleh adat istiadat. Acara akad nikah adalah untuk mengesahkan perkawinan baik menurut agama maupun adat. Sedangkan acara akad nikah lazimnya dilaksanakan di rumah calon pengantin perempuan pada malam hari. Tetapi pada masa sekarang, acara akad nikah sering dilaksanakan pagi hari sejalan dengan hari persandingan atau hari pesta perkawinan. Oleh masyarakat Melayu Riau, acara akad nikah lazim juga disebut dengan acara “turun nikah”. Disebut demikian, karena calon pengantin laki-laki turun dari rumahnya untuk menikah ke rumah calon pengantin perempuan.

Sebelum berangkat ke rumah calon pengantin perempuan, di rumah calon pengantin laki-laki diadakan acara kenduri yang dihadiri oleh keluarga dan tetangga terdekat saja. Kenduri ini sebagai do’a selamat supaya Allah SWT memberikan keselamatan atas calon pengantin dan keluarganya. Disamping itu juga sebagai do’a restu orang tua beserta seluruh keluarga, handai taulan terhadap calon pengantin laki-laki supaya acara akad nikah berjalan dengan lancar.

Setelah pembacaan do’a selesai, dilanjutkan dengan makan bersama berupa makanan ringan yang dalam bahasa Melayu Riau disebut “pengalas perut” atau pengganjal perut. Sajian ini berupa : roti jala, roti perata atau roti canai yang kesemuanya ini dinamakan dengan lauk masak kari ayam, daging kambing, udang atau ikan. Selain itu sebagai “pencuci mulut” yaitu sejenis makanan yang dimakan setelah makan makanan yang pedas seperti : buah-buahan, kue-mue manis. Buah-buahan yang menjadi pencuci mulut antara lain pisang dan semangka, pencuci mulut berupa kue-mue manis seperti anta-kesuma (hantu kesuma), dodol, kole-kole, dan wajik.

Apabila para utusan atau penyongsong menyatakan siap, maka calon pengantin laki-laki melakukan “sembah” kepada kedua orang ibu bapaknya untuk minta ampun atas segala dosanya serta minta do’a restu kepada seluruh kerabatnya. Selanjutnya orang tua calon pengantin laki-laki menyerahkan anaknya kepada orang kepercayaannya sebagai wakilnya yang akan memimpin serta mengantarkan ke rumah calon pengantin perempuan untuk dinikahkan.

Keberangkatan calon pengantin laki-laki menuju rumah menuju rumah calon pengantin perempuan ditandai dengan “shalawat nabi” dengan membawa sirih nikah, bunga rampai, mas kawin (mahar) dan barang-barang “serba satu” serta lengkap dengan kapur sirih, gambir, pinang dan tembakau. Posisi sirih disusun telungkup. Sedangkan serba satu adalah berupa seperangkat pakaian seperti baju, kain (sarung), dan sandal.

Di rumah calon pengantin perempuan, calon pengantin laki-laki disambut dengan bunyi-bunyian kompang dan ditabur dengan beras kunyit sebelum masuk rumah, tepatnya di muka pintu rumah. Bunyi-bunyian kompang ini berfungsi sebagai penghibur kedua calon pengantin serta para undangan. Sedangkan tabur beras kunyit fungsinya sebagai do’a restu.

Selanjutnya calon pengantin laki-laki didudukkan di atas tikar nikah dengan gading-gading pengiringnya yang duduk di sebelah kiri dan kanan. Tikar nikah terbuat dari lapisan kain “plekat” dan dibungkus dengan kain songket atau kain-kain yang bercorak gemerlap. Setelah calon pengantin laki-laki duduk dengan tenang, acara pernikahan dimulai dengan dengan “penyerahan” calon pengantin laki-laki kepada keluarga calon pengantin perempuan untuk dinikahkan. Sementara itu, calon pengantin perempuan berada dalam bilik pengantin. Serah terima ini dimulai dengan ucapan salam dari ketua rombongan kedua belah pihak dengan berpantun-pantun.

Berikut ini hendak digambarkan menurut yang patut berkenaan acara tersebut dalam percakapan antara kedua orang yang menjadi wakil dalam acara tersebut.

01. Wakil lelaki :
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Kami ucapkan salam kepade tuan dan puan sekalian, kami datang dengan membawe pesan untuk bertemu keluarge budiman...

02. Wakil perempuan :
Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh...
Kami balas atas salam yang disampaikan, akan kedatangan tuan-tuan dan puan-puan, kami sambut dengan hati terbuke dan kesenangan.

03. Wakil lelaki :
Banyak yang lahir perempuan,
Diberikan name Seri Melati,
Saye menghadap kepade tuan.
Sebagai wakil pihak lelaki.

Tinggi pokok si asam paye,
Batang berduri jangan dipanjat.
Kalau boleh saye bertanye,
Pade siape menyampaikan hajat?


04. Wakil perempuan :
Kalau tuan ke negeri Arab,
Berjumpe tuan orang Serani.
Pertanyean tuan kami jawab,
Saye wakil pihak di sini.


Penjelasan :
Setelah diketahui siapa teman bercakap, maka wakil ahli bait calonpengantin lelaki menyerahkan tepak sirih untuk dicicipi sebagai pertanda upacara serah terima dimulai. Diperkatakan pula dengan pantun...

05. Wakil lelaki :
Pergi belanje dengan perahu,
Hendak membeli sekati gule.
Wakil di sini sudahlah tahu,
Sirih dihidangkan tande bermule.


06. Wakil perempuan :
(Sambil mencicipi sirih, iapun berpantun)
Kalau menangkap ikan aruan,
Pakailah joran sebatang lidi.
Sungguh sedap sirihnye tuan,
Rasekan pule sirih di sini.


07. Wakil lelaki :
Tinggi menjulang getah sadap,
Pokoknye tue jangan dipanjat.
Sirih tuan tak kalah sedap,
Mulailah saye menyampaikan hajat.


Penjelasan :
Setelah menyampaikan salam takzim dan pesan dari pihak kedua orang tua calon pengantin lelaki dan keluarganya, karena sesuatu hal tidak dapat datang dan mewakilkan kepadanya; menurut yang sudah menjadi adat, orang tua dan saudara kandung calon pengantin lelaki tiada diperkenankan hadir dalam acara pernikahan tersebut, bersebab akan mendatangkan aib bagi keluarga. Maka selanjutnya wakil pihak lelaki itu menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya beserta rombongan melalui pantun sebagai berikut...

08. Wakil lelaki :
Bukan petang sebarang petang,
Di waktu orang mengibar panji.
Bukan datang sebarang datang,
Datang hendak menepati janji.


Penjelasan :
Maka si pihak lelaki menyerahkan satu persatu barang iring-iringan dengan diiringi pantun, yang kemudian diterima oleh pihak perempuan.

09. Wakil lelaki :
Kalau memancing ikan gelame,
Pakailah umpan si anak bilis.
Bunge rampai iringan pertame,
Buat penyeri seluruh majelis.

Baju kebaye berselendang kain,
Kain merah berwarne sage.
Yang kedua berupe mas kawin,
Sudah menjadi sepakat keluarge.

Yang mane satu si kue putu,
Bahan terbuat tepung pulut.
Yang ketige pule serba satu,
Berupe seperangkat pakai patut.

Kalau tuan berkarang lokan,
Dimasak lokan berkuah kari.
Kue-mue kami sertekan,
Buat santapan keluarge puteri.

Siramkan pokok bunge melati,
Melati buat penghias siput.
Buah-buahan tidak sepeti,
Sekedar buat pencuci mulut.


Penjelasan :
Dalam pantun di atas terdapat perkataan “seperangkat pakai patut”, yang dimaksudkan adalah pakaian yang layak dipakai. Sedangkan kata-kata “penghias siput” maksudnya bentuk sanggul perempuan, yaitu sanggul siput.

Jika seandainya di dalam acara nikah kawin tersebut, ada adat “melangkah batang”, yaitu kakak perempuan dari calon pengantin perempuan yang belum menikah, maka diserahkan barang antaran berupa sepersalinan pakaian untuk kakak kandung calon pengantin perempuan. Hal yang sedemikian tiada pula berlaku bagi si abang dari calon pengantin perempuan. Dalam hal ini ada pula pantunnya...

10. Wakil lelaki :
Dari jauh kami lambaikan,
Supaye tuan sudilah datang.
Tak lupe kami bawekan,
Seperangkat pelangkah batang.

Biduan bermadah di malam sepi,
Lagu nyanyian dendang merawan.
Diserahkan sudah pengantin lelaki,
Tolong nikahkan, tolong kawinkan.


11. Wakil perempuan :
Cincin bermate batu delime,
Itulah tande hiasan kasih.
Barang sudahpun kami terime,
Tiadelah kurang tidaklah lebih.

Hendak menyusun sekapur sirih,
Sirih di susun di dalam tepak.
Kami mengucapkan terime kasih,
Serahkan kepade yang berhak.

Hendak meraut sebatang lidi,
Lidi pembuat anyaman lukah.
Pengantin diserahkan pade Tok Kadi,
Untuk melangsungkan akad nikah.

Menebang kayu membuat galah,
Galah pembuat si tupai-tupai.
Syukur kite kepade Allah,
Karene tugas sudahpun selesai.


Penjelasan :
Yang dimaksud dengan “tupai-tupai” adalah bagian dari bangunan atap rumah yang berfungsi sebagai penopang atap.

Kembali pada acara tersebut. Setelah semuanya barang hantaran kecuali tepak sirih dan mas kawin, semuanya disimpan ke dalam bilik calon pengantin perempuan.

Kemudian Wali Hakim, wakil calon pengantin perempuan dan dua orang saksi mengambil tempat yang telah ditentukan. Wali Hakim dan wakil calon pengantin perempuan duduk di depan calon pengantin laki-laki, sedangkan kedua orang saksi duduk di kiri-kanan calon pengantin perempuan.

Yang sepatutnya menjadi wali kepada calon pengantin perempuan adalah ayah kandung. Apabila orang tua kandung (ayah) sudah tiada atau meninggal dunia, bolehlah wali diganti dengan saudara kandung laki-laki dari calon pengantin perempuan. Apabila calon pengantin perempuan tidak mempunyai saudara kandung laki-laki, maka yang bertindak sebagai wali adalah saudara kandung laki-laki ayahnya. Orang yang berhak menikahkan calon pengantin perempuan adalah para wali calon pengantin perempuan dan wali hakim.

Biasanya pula sebelum acara dimulai terlebih dahulu seorang pembawa acara akan membuka dengan “ura-ura” atau permulaan mukaddimah sebelum masuk ke acara nikah. Maka perkataan itu antara lain sebagai berikut :

12. Pembawa acara :
Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin
Ash sholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya i wal mursalin
Wa’ala ‘alihi wa ashhabihi ajmain...

Tuan-tuan, puan-puan, ncik-ncik, handai taulan, sanak saudare,
baik yang jauh maupun dekat.
Yang kecik tiade disebutkan name,
Yang besar tiade pule disebutkan gelar,
Yang berpangkat tidak disebut jabatannye.
Seraye bersyukur kepade Allah SWT.

Kecik telapak tangan, nyiru ditadahkan,
Putihnye kapas dapat terlihat, putih hati berkeadean,
Begitu besar kegembirean hati,
Dan berterime kasih kepade tuan-tuan, puan-puan,
ncik-ncik sekaliannye atas kehadirannye
dalam memenuhi undangan dan jemputan kami.

Besar langsat di tepi busut,
Besar tak muat dalam peti.
Besar sungguh hajat menjemput,
Besarlah niat di dalam hati.

Nak dare cantik pakai kerudung,
Serasi pule dengan pakaian.
Lame sudah hajat di kandung,
Baru kini dapat kesampaian.


Sabar sudah berdundang ke langit
Berite sudah merebak ke bumi

Insya Allah sebentar lagi kami akan menikahkan puteri kami yan bername .................... dengan anaknde kite yang bername ..................

Jike terdaoat salah dengan silih
Entah tersalah letak denga tegak
Entah duduk yang tidak nyaman
Entah kelak makan yang tidak berdecas
Entah tegur sape kami yang kurang berkenan
Sehinggelah tiade pule menutup sebarang kelemahan
Tetapi, kesemuenye ini diluar kehendak kami
Tiade lain juge yang hendak dipeinte
Uluran tangan dan kasih sayang yang dipinte
Mohon maaf dan ampun atas segalenye.

Alhamdulillah...
Adat tepian berbahase
Cukup bercakap sudah terjawab
Ibarat gendang sudah bertingkah
Barang antaran sudah diterime
Kecik telapak tangan, nyiru kami tadahkan
Terime kasih daun keladi
Kalau nak beri tambahlah lagi...

Make sekarang ini
Putus kate dengan mufakat
Marilah kite menyaksikan upacare ijab-kabul
Untuk mendapatkan rahmat Illahi
Kite awali dengan pembacean qalam Illahi.

Penjelasan :
Kemudian dilakukan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Setelah pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, acara dilanjutkan kembali dengan ....

13. Pembawa acara :
Malam hari ke Pulau Rupat,
Membawe suluh mencari ikan.
Qalam Illahi membawe berkat,
Kite jadikan suluh-pedoman.


Tuan-tuan, puan-puan, ncik-ncik sekaliannye,
Sekarang sampailah masenye akad nikah atau ijab-kabul, yang akan dilafaskan oleh orang tue calon pengantin perempuan...

14. Orang tua calon pengantin perempuan :
“Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau .......... bin .......... dengan ........... anak kandungku dengan emas kawinnya ......................, dibayar tunai”

15. Calon pengantin lelaki :
“Aku terime nikahnye ............. binti .............. anak kandung ayah (bapak) dengan mas kawinnye .............................., dibayar tunai”

selesai pengucapan ijab-kabul atau akad nikah, maka wali hakim menanyakan keabsahan akad nikah kepada kedua orang saksi. Pengucapan tersebut biasanya sampai berulang kali dan paling sedikitnya dua kali walaupun pengucapan yang pertama sudah benar.

Jika kedua saksi menyatakan bahwa akad nikah adalah “syah”, maka syah-lah kedua calon pengantin menjadi pengantin, dan maka akad nikah selesai dan dilanjutkan dengan pembacaan do’a serta penyampaian khutbah nikah yang berisi nasehat-nasehat perkawinan.

Acara akad nikah diakhiri dengan makan bersama dalam bentuk makan berhidang atau makan “sebekas”. Yang dimaksud dengan sebekas adalah hidangan makan untuk lima orang dengan ketentuan bahwa setiap piring lauk berisikan potong lauk, seperti enam potong daging, enam potong ikan dan lain-lainnya, kecuali sayur-mayur.

Cara menghidang makan berhidang ini, dimulai dengan pemasangan kain panjang berwarna putih di atas tikar. Kemudian diletakkan 5 buah piring nasi yang di atasnya ada sebuah mangkok untuk tempat mencuci tangan berisi air putih dan ditutup dengan piring nasi yang disebut “pinggan”. Sedangkan mangkok pencuci tangan diletakkan di atas piring beralaskan kain (handuk kecil) sebagai lap tangan. Setelah itu diletakkan pula di antara setiap lima orang itu, lima buah gelas berisi air minum tawar, dan lima buah gelas berisikan air minum manis (teh atau kopi). Terakhir barulah dihidangkan lauk-pauk yang biasanya tersiri atas lima macam atau paling sedikit tiga macam di atas sebuah talam (baki atau nampan). Apabila lauk-pauknya hanya empat piring, maka dilengkapi dengan satu piring kue di dalam talam. Konon, isi talam haruslah ganjil. Sedangkan mangkok nasi yang berisikan nasi putih dihidangkan bersamaan dengan menghidangkan piring nasi.

Setelah acara selesai, maka selesailah pula serangkaian acara akad-nikah tersebut, kemudian akan memasuki acara berikutnya yang disebut dengan Tepuk Tepung Tawar.
More about11. Akad Nikah

10. Khatam Al-Qur’an

Attayaya Butang Emas on 2008-11-16

Kalangan orang tua pada masyarakat Melayu Kepulauan Riau umumnya, secara mutlak menekankan anak-anaknya pandai membaca Al-Qur’an. Hal ini tidak dibedakan baik pada laki-laki maupun perempuan. Belajar membaca Al-Qur’an, menjadi bagian budaya terpenting bagi masyarakat Melayu di daerah ini. Ini dianggap sebagai bagian terpenting dalam kehidupan untuk mendambakan anak menjadi manusia yang shaleh. Oleh karena itu kalangan orang tua mengharuskan anaknya pergi mengaji setiap hari ke rumah Cik Gu atau guru yang mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an yang terdapat di lingkungan pemukiman.

Menurut pandangan masyarakat Melayu, kepandaian membaca Al-Qur’an menjadi dasar bagi seseorang untuk dapat menjalankan perintah agama seperti halnya shalat lima waktu.

Dari kecil cincilak padi,
Sudah besar cincilak padang,
Dari kecil duduk mengaji,
Sudah besar tegak sembahyang.


Dalam Al-Qur’an berisi petunjuk yang dapat dijadikan pedoman membentuk jiwa yang Islami. Kepandaian membaca Al-Qur’an sebagai persyaratan yang penting bagi bujang dan dara untuk berkahwin atau mendirikan rumah tangga, baik buat laki-laki maupun perempuan.

Orang tua di kalangan masyarakat Melayu, akan merasa bahagia sekali apabila anaknya pandai membaca Al-Qur’an. Sesungguhnya inilah salah satu tuntutan/tuntunan hidup diberikan kepada anak. Ini dapat dijadikan landasan menapak hidup buat anak setelah dewasa. Anak akan sulit mendapat jodoh jika tidak pandai membaca Al-Qur’an. Sebab hal ini, menjadi bagian pelaksanaan adat perkawinan. Bagi anak dara, untuk menikah dan menjalankan adat atau tradisi khatam Al-Qur’an, telah menjadi budaya yang berketetapan pada masyarakat Melayu. Oleh sebab itu, orang tua di kalangan masyarakat bersangkutan, menekankan anak perempuan harus pandai membaca Al-Qur’an, baru diperkenankan kawin. Sebab hal ini, bagian unsur pembentukan adat-istiadat perkawinan yang dikuasai.

Adat-istiadat perkawinan Melayu selalunya bernafaskan Islam. Oleh karenanya untuk melangsungkan akad nikah sekaligus pesta perkawinan, calon pengantin perempuan berkhatam terlebih dahulu. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk upacara. Tempatnya di rumah calon pengantin perempuan, waktunya pagi hari. Pelaksanaannya melibatkan khalayak ramai.

Pada hari pelaksanaan khatam Al-Qur’an, para jemputan atau undangan hadir. Laki-laki dan perempuan duduk terpisah. Khalayak terlibat melaksanakan upacara tersebut, semuanya pandai membaca Al-Qur’an. Pemimpin upacara adalah guru mengaji sang calon pengantin perempuan.

Setelah pelaksanaan upacara, calon pengantin perempuan keluar dari kamarnya diapit dua orang sahabatnya yang terdiri dari kalangan perempuan. Mereka berpakaian baju kurung, marhamah, selendang kelingkang atau tudung manto. Pada ruangan tempat upacara, pihak yang dikhatamkan beserta dua sahabatnya duduk di atas tilam yang berada dekat “tabak” di depan “petirakhna”.

Guru mengaji calon pengantin perempuan membimbing hadirin membaca ayat-ayat pendek. Sang calon pengantin membaca surat-surat atau ayat pendek yang terdapat dalam Al-Qur’an yang sudah dibuka dihadapannya. Selanjutnya membaca doa khatam Al-Qur’an yang dipimpin guru mengaji sang pengantin. Akan tetapi adakalanya hal ini dilakukan oleh semua hadirin. Kitab Al-Qur’an secara bergilir dipegang dan dibaca hadirin. Adapun sang calon pengantin, menyimak bacaan sambil menunjuk huruf-huruf dengan lidi kalam yang telah dipersiapkan. Khatam selesai, guru mengaji atau imam membaca do’a. Usai pembacaan do’a, hidangan dikeluarkan untuk disuguhkan kepada segenap pelaksana upacara khatam. Hidangan berupa kue yang terdiri dari beberapa jenis diletakkan pada baki atau talam. Satu talam untuk dimakan sebanyak 5 orang. Adapun calon pengantin perempuan dibawa masuk ke biliknya oleh Mak Inang. Dalam bilik itulah dia menyantap makanan yang telah dipersiapkan.

Selesai makan tambul, hadirin termasuk guru mengaji sang calon pengantin salin bersalaman terutama kepada tuan rumah dan pulang ke rumah masing-masing. Tidak lama kemudian, pihak calon pengantin perempuan mengutus beberapa orang kerabatnya pergi ke rumah guru mengaji sang calon pengantin tersebut. Para utusan membawa makanan berupa pulut kuning, bunga telur ditempatkan pada pahar atau talam berkaki dan sebuah talam lagi berisi seperangkat alat sembahyang yakni : kain sarung pelikat, sajadah, kopiah atau peci atau mukena, dan payung. Semua itu dipersembahkan kepada guru mengaji, sebagai pertanda ucapan terima kasih orang tua dan calon pengantin terhadap guru tersebut. Berkat didikan dia sang calon pengantin pandai membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan prosesi terakhir dari upacara berkhatam Al-Qur’an mewarnai adat-istiadat perkawinan Melayu.

More about10. Khatam Al-Qur’an

9. Berinai

Attayaya Butang Emas on 2008-11-15

Sesudah upacara berandam, kegiatan berikutnya dilakukan oleh kedua calon pengantin adalah berinai. Pada masyarakat Melayu, tanda-tanda orang menjadi pengantin baru, jari tangan dan kaki, telapak tangan dan kakinya diberi inai sehingga kelihatan kuning kemarah-merahan. Jadi pada masyarakat Melayu, tidak boleh sembarangan menggunakan inai. Sebab berinai memberi isyarat dan pelambangan bercorak tertentu.

Pemasangan inai pada calon pengantin juga dilakukan oleh Mak Andam. Kegiatan ini berbeda suasananya dengan kegiatan berandam. Menginai calon pengantin dalam suasana santai dan diwarnai kemeriahan. Khalayak ramai terutama sahabat calon pengantin diperkenankan menyaksikannya. Lain halnya dengan kegiatan berandam, orang yang menyaksikan terbatas jumlahnya.

Berinai dilakukan pada malam hari, di rumah kediaman calon pengantin laki-laki maupun perempuan. Dilaksanakan malam hari menurut kepercayaan masyarakat Melayu adalah lebih baik, karena warna inai akan lebih merah, sebaliknya apabila dilakukan pada siang hari warnanya akan memudar. Selain itu mengenakan inai tidak boleh mendengar ayam berkokok. Oleh sebab itulah, kegiatan dilakukan pada malam sebelum jadwal ayam berkokok menunjukkan waktu.

Telah disampaikan di atas, bahwa malam berinai adalah malam suka cita. Suasana pada malam itu lebih meriah, karena rumah calon pengantin perempuan banyak yang datang untuk melihat persiapan terakhir, sebab tinggal 1 hari lagi akan diadakan hari pernikahan. Biasanya sahabat-sahabat yang datang berkumpul di bilik pengantin untuk melihat keindahan bilik pengantin sekaligus menggoda calon pengantin perempuan.

Persiapan untuk berinai antara lain tilam yang sudah dihias, daun inai yang sudah dihaluskan, dan kain tambal atau sobekan kain untuk membungkus inai di jari.

Keadaan calon pengantin perempuan pada saat akan diberi inai berbaring telentang dengan tangan diangkat agar daun inai yang sudah dihaluskan tidak mengotori tempat yang lainnya. Pada saat melakukan kegiatan ini, Mak Andam menuturkan beberapa buah pantun.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik di pohon belimbing,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai di lepek di jari kelingking.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik di pohon senduduk,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai dilepek di jari telunjuk.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik si limau manis,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai dilepek di jari manis.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik oleh Pak Ngah,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai dilepek di jari tengah.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik limau kesturi,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai dilepek di ibu jari.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik di tengah halaman,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai dilepek di jari telapak tangan.


Setelah pemasangan inai, Mak Andam membiarkan calon pengantin perempuan bersama teman-temannya di bilik pengantin malam itu. Inai yang sudah dipasang sebaiknya dibuka pagi hari, agar warnyanya bagus. Hal ini dilakukan oleh pembantu Mak Andam atau pengasuh pengantin perempuan.

Selesai pemasangan inai pada calon pengantin perempuan, Mak Andam dan pembantunya pergi ke rumah pengantin laki-laki. Pengantin ini berinai, berbeda suasananya bila dibandingkan dengan rumah calon istrinya. Di rumah calon pengantin laki-laki, tidak semeriah di rumah calon istrinya. Ini terjadi, karena keramaian lebih terkonsentrasi di rumah calon pengantin perempuan.

More about9. Berinai

8. Berandam

Attayaya Butang Emas on 2008-11-14

Berandam (ber-andam) adalah suatu kegiatan yang dilakukan kepada kedua calon pengantin sehari sebelum menikah. Kegiatan berandam ini dapat pula dikatakan “bergunting rambut kecil”, yaitu mencukur atau merapikan bulu roma pada bagian dahi, pelipis, alis, tengkuk, bulu tangan dan bagian kaki.

Berdasarkan kepada pandangan yang dimiliki masyarakat Melayu, bahwa keindahan pada diri seseorang tidak saja terletak pada yang ternampak di luarnya saja, melainkan keindahan itu terdapat di dalam tubuh dan jiwa seseorang itu. Pandangan dan pendapat yang sedemikian itulah agaknya yang melatar-belakangi kepada pekerjaan berandam ini dalam adat istiadat perkawinan Melayu di Kepulauan Riau. Pekerjaan tersebut dilaksanakan dalam bentuk upacara yang khas. Dan orang yang paling bertanggung jawab dalam pekerjaan ini adalah Mak Andam yang dibantu oleh beberapa orang. Mak Andam adalah tukang rias sekaligus pelindung kedua calon pengantin dari berbagai gangguan penyakit dan gangguan yang datang secara gaib.

Pekerjaan mengandam ini selain bertujuan untuk mempercantik calon pengantin perempuan dan membuat kacaknya calon pengantin lelaki, juga mempunyai keterkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kepada kedua calon pengantin sebelum dan pada saat bersanding nantinya.

Sebagaimana telah digambarkan, bahwa Mak Andam mempunyai peranan yang penting berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan berandam. Melalui pekerjaan ini dipercayai bahwa Mak Andam dapat membuat wajah kedua calon pengantin jauh lebih berseri bila dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.

Upacara berandam lebih ditekankan pada kehikmatan dan memerlukan ketenangan. Oleh sebab itu, bagi yang tiada berkepentingan, tiada diperkenankan berada di kamar calon pengantin perempuan yang akan berandam, selain Mak Andam dan pembantunya. Selain itu biasanya yang diperkenankan berada di bilik itu adalah Emak dan saudara-saudaranya yang ikut membantu pada pekerjaan upacara berandam itu.

Setelah masuk ke dalam bilik calon pengantin perempuan, Mak Andam menengok ke kiri dan ke kanan, lalu menyuruh kepada pembantunya untuk mengambil bara api. Kemudian calon pengantin perempuan disuruh duduk di hadapannya. Mak Andam memberi setanggi atau kemenyan di tempat bara api, lalu menyalakan lilin dan memeriksa beberapa kelengkapan seperti :
  1. Alas tempat duduk calon pengantin; biasanya berupa lipatan kain songket atau kain pelikat;
  2. Kain putih untuk selimut tubuh calon pengantin;
  3. Pisau cukur;
  4. Sepasang lilin sebagai simbol penerang hati;
  5. Selingkar benang putih (benang tukal) yang digantungkan di leher calon pengantin sebagai lambang kesucian;
  6. Kelapa separuh tua yang dibuang kulit luar dan dibentuk seperti kerucut sebagai lambang kesuburan.

Apabila semua perlengkapan sudah cukup, kemudian Mak Andam membentangkan kain putih di pundak dan paha calon pengantin perempuan. Selanjutnya Mak Andam memanjatkan do’a ke hadhirat Allah SWT semoga merestui semua yang dihajatkan. Mak Andam menepuk tepung tawar pada calon pengantin dengan peralatan yang telah tersedia. Sesudah selesai menepuk tepung tawar, Mak Andam mengambil cukur, tangan kanan dan tangan kirinya memegang kepala calon pengantin, kemudian mulutnya komat-kamit membaca mantra. Usai pembacaan mantra, Mak Andam mengambil pisau cukur. Rambut di dahi, bulu roma tangan dan kaki dan pipi pengantin dicukur. Begitu juga alis matanya dibentuk sekaligus dirapikan. Setelah ke semua itu selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan kegiatan berdoa bersama di kamar calon pengantin perempuan. Pemimpin doa Mak Andam dan diikuti oleh kedua orang yang diperkenankan berada di kamar tersebut. Kegiatan ini merupakan tahap akhir pelaksanaan upacara berandam. Mak Anda dan pembantunya keluar dari kamar upacara, diajak oleh Emak atau ibu calon pengantin untuk menyantap kue yang telah disediakan.

More about8. Berandam

7. Menggantung

Attayaya Butang Emas on 2008-11-13

Sebelum majelis pernikahan diperbuat, maka dilaksanakan terlebih dahulu kepada pekerjaan menggantung-gantung. Pekerjaan menggantung ini biasanya dilakukan empat atau lima hari sebelum hari pernikahan. Pekerjaan yang dilakukan di rumah calon pengantin perempuan ini adalah berupa persiapan-persiapan. Yaitu membersihkan dan menghias rumah dengan menggunakan bermacam-macam tabir yang digantung dan membuat langit-langit dari kain, mengganti dan memasang “lansi tingkap”, memasang dan menghias tempat tidur baru yang lengkap untuk pengantin baru, dan hal-hal lainnya yang diperlukan untuk menghadapi majelis pernikahan tersebut, termasuklah membuat dapur dan bangsal, membuat “peterakne” atau “peti ratna / peti rakna” yaitu tempat pengantin duduk bersanding, dan membuat pelaminan tempat tidur pengantin.

Acara menggantung biasanya didahului dengan tepung tawar dan kenduri kecil atau do’a selamat supaya semua kerja yang dilakukan akan mendapat berkah dari Allah SWT. Yang ditepung-tawari ialah tempat disekitar pelaminan.

Peterakne adalah sebuah bangku atau terap tempat duduk pengantin. Kelengkapan dari peterakne yaitu :
  1. bantal gaduk,
  2. bantal sesuari,
  3. bantal seraga,
  4. tabir,
  5. bertekad (yang terdiri atas kelingkan/geng-geng, benang emas dan perak, paku-paku, mutu, dan perade.

Pelaminan adalah tempat tidur pengantin yang bertingkat-tingkat, ada yang bertingkat tiga, tingkat lima, dan tingkat tujuh sesuai dengan status sosial orang tua pengantin. Tingkat teratas digunakan untuk tempat tidur, sedangkan tingkat lainnya berupa anak tangga yang dihiasi oleh tabir-tabir, seperti tabir gulung, tabir gantung, dan tabir pukang ayam.

Latar belakang pelaminan disusun dengan tabir yang berwarna-warni, diatasnya disusun tilam atau kasur yang dilengkapi dengan sebuah bantal gaduk, dua buah bantal perade, dua buah bantal sesuari, dua buah bantal telur buaya (bantal kepala), dan dua buah bantal peluk (bantal guling). Setiap bantal ditutupi dengan kain beludru yang dihiasi dengan benang-benang emas dan perak yang disebut “tampuk bantal”.

Pada waktu acara menggantung-gantung inipun dipersiapkan perlengkapan alat nikah seperti :
  1. Tabir gantung yang berwarna-warni dengan warna khas Melayu yaitu kuning, merah, hijau dan biru.
  2. Peralatan untuk acara bertepung tawar.
  3. Tikar nikah.
  4. Kaki dian tempat lilin.
  5. Nasi besar.
  6. Bunga rampai.
  7. Sirih lelat.
  8. Pakaian pengantin.
  9. Peralatan perjamuan atau hidangan.

Tugas menghias rumah dan seluruh peralatan pernikahan dilakukan oleh Mak Andam dan Mak Inang serta pembantu-pembantunya. Selama dalam “menggantung” para kerabat dan tetangga dekat datang membantu dengan membawa lauk pauk seperti ikan, ayam, sayur, kayu api, gula, teh, kopi, nyiur, beras dan lain sebagainya. Tentulah berdasarkan kepada kemampuannya yang dimiliki oleh masing-masing.

Biasanya pada acara ini dilakukan kegiatan menggiling rempah-rempah seperti lada, kunit/kunyit, halia, ketumbar, dan lain-lainnya. Adapun yang bertugas di dapur disebut sebagai “penanggah”. Untuk kaum lelaki bertugas membelah kayu, mengupas niur, dan memasak nasi. Sedangkan kaum perempuan membuat kueh-mueh sebagai pembasuh mulut.

Suasana kerja di dapur semakin semarak dengan dimeriahkan oleh permainan musik, tari dan nyanyian. Kesenian tersebut dimainkan sebagai hiburan untuk para penanggah. Kesenian yang ditampilkan pada saat menjelang pesta pernikahan itu adalah kesenian yang bernafaskan Islam seperti kompang, hadrah, berzanji dan tari zapin. Sedangkan untuk tari zapin ini biasanya hanya ditarikan oleh kaum lelaki saja.

Selama pertunjukan tari zapin ini, para pemusik dan penari disuguhkan makanan berupa air kopi atau teh dan kueh-mueh. Biasanya kueh-mueh dihidangkan sekitar pukul 9 malam, sedangkan pada pukul 11 malam pula dihidangkan bubur manis seperti bubur kacang hijau, kolak pisang, kolak ubi jalar, kolak labu atau yang lain-lainnya. Kononnya pula pada sekitar pukul 3 pagi, pemusik dan penari itu disuguhkan bubur nasi dengan lauknya, lobak asin. Makanan ini disebut dengan bubur pedas atau bubur berlauk.

Sedangkan kesenian lainnya seperti hadrah atau kompang ditampilkan sehari atau dua hari menjelang acara berkhatam Qur’an dan berinai. Semua pekerjaan ini dilakukan oleh kaum lelaki.
More about7. Menggantung

6. Menjemput

Attayaya Butang Emas on 2008-11-12

Acara mengajak atau menjemput adalah bahagian dari persiapan yang dilakukan untuk melaksanakan pekerjaan dalam majelis nikah-kawin. Pelaksanaan dalam pekerjaan ini di dalamnya penuh mengandung nilai-nilai kebersamaan antara sesama.

Sebelum diadakan acara mengajak atau menjemput terlebih dahulu diadakan musyawarah di rumah calon pengantin perempuan untuk menentukan siapa yang akan diajak dan dijemput. Pekerjaan menjemput ini hendaklah dilakukan secara seksama supaya orang-orang yang pantas diajak tidak tersalah. Disebabkan seperkara ini juga menyangkut kepada penghargaan dan kedudukan seseorang di dalam masyarakat. Sehingga tampaklah pada pekerjaan mengajak dan menjemput ini mempunyai nilai etika dan moral yang tinggi.

Untuk mengajak dan menjemput ini dilakukan oleh beberapa pasang suami isteri yang sudah mempunyai pengalaman. Dan selalunya pula membawa tepak sirih yang lengkap dengan isinya.

Keterangan :
Di zaman sekarang, pekerjaan mengajak dan menjemput tetap dengan melakukan musyawarah terlebih dahulu antara kedua belah pihak biasanya di rumah calon pengantin perempuan. Tepak sirih yang digunakan telah digantikan dengan secarik undangan.
More about6. Menjemput

5. Mengantar Belanja

Attayaya Butang Emas on 2008-11-10

Mengikut adat resam dahulunya ketika mengantar belanja itu biasanya dijalankan terlebih dahulu dan berasingan dengan acara berakad nikah. Tetapi kemudiannya antar belanja itu diperbuat bersamaan dengan acara akad nikah itu. Tetapi dalam seperkara ini tiadalah menjadi sesuatu yang bersalah-salahan. Menurut kepada orang-orang tua semuanya menilik kepada kemampuan seseorang.

Ada pun pekerjaan mengantar belanja ini pihak laki-laki hendaklah mengantar belanja akan kelengkapan pada majelis pernikahan yang akan dilaksanakan. Uang belanja itu diperkatakan juga sebagai uang hangus karena uang tersebut sudahlah sepenuhnya menjadi hak kepada pihak perempuan. Tiadalah diperkenankan atau menjadi pantangan kepada pihak laki-laki untuk mengungkit pekerjaan itu di kemudian hari.

Memulai acara antar belanja ini, pihak laki-laki mengucapkan “assalamu’alaikum” sebagai salam pembuka, yang dijawab kemudian oleh wakil dari pada tuan rumah “wa’alaikum salam”, disertai pula dengan pantun.

01. Pihak Perempuan :
Merekah kuntum bunge setaman,
Baunye lembut menyegarkan diri,
Wa’alaikum salam Encik dan Tuan,
Kami menyambut berputih hati.

Baunye lembut menyegarkan diri,
Bunge bertindih sele-menyele,
Kami menyambut berputih hati,
Santaplah sirih sebagai bersaudare.

02. Pihak Laki-laki :
Kuntum disulam kain tenunan,
Diberi kembang warne cemerlang,
Assalamu’alaikum Tuan dan Puan,
Kami datang berhati lapang.

Diberi kembang warne cemerlang,
Putih berseri rupe gemerlap,
Kami datang berhati lapang,
Sirih kami pule sile disantap.

Pekerjaan kepada berpantun-pantun itu juga memperkatakan jika seandainya ada di antara kedua belah pihak membatalkan kepada pekerjaan yang sudah diperbuat itu. Maka, jika dari pihak laki-laki yang ingkar, semua antarannya dianggap hangus atau hilang. Sedangkan jika dari pihak perempuan pula yang ingkar, maka harus dikehendaki untuk membayar kepada dua kali lipat banyaknya.

More about5. Mengantar Belanja

4. Mengantar Tanda

Attayaya Butang Emas on 2008-11-08

Adapun mengantar tanda setelah batas waktu yang telah ditentukan berdasarkan kepada kesepakatan bersama. Perihal mengantar tanda ini adalah sebagai pernyataan kesungguhan dari pihak keluarga laki-laki untuk mempersunting si anak dara dari keluarga pihak perempuan. Selain itu mengantar tanda berarti bujang dan dara sudahlah terikat menjadi calon suami isteri. Dengan demikian si anak dara tersebut tiada boleh diganggu oleh bujang yang lain.

Dalam pengertian yang lain, mengantar tanda juga disebut sebagai acara pertunangan karena dalam acara mengantar tanda ini biasanya yang dibawa adalah sebentuk cincin yang diberikan kepada si anak dara sebagai tanda bahwa ia telah ada yang punya.

Lazimnya mengantar tanda ini sudahlah bersefahaman antara kedua belah pihak, apakah itu kepada kelengkapannya, jumlah dan kepada masa yang tepat untuk pengantarannya. Pekerjaan mengantar tanda ini biasanya dilakukan malam hari, sebaik-baiknya adalah setelah shalat Isya. Dan dilakukan oleh wakil yang telah dipercayai oleh pihak keluarga laki-laki. Sebaiknya adalah orang yang menjadi wakil ketika saat meminang tempo hari, tetapi jumlah orangnya lebih banyak jika dibanding pada masa meminang. Galibnya kedua orang tua calon pengantin laki-laki tetaplah tiada diperkenankan mengikut dalam acara ini.

Kelengkapan dari mengantar tanda ini bolehlah kita bagi menjadi tiga bagian :
  1. Antaran Pokok, yaitu terdiri dari :
    • Tepak Sirih Lengkap ( Sirih, Kapur, Gambir dan Pinang)
    • Sebilah Keris
    • Bunga Rampai
    • Cincin Belah Rotan yang terbuat dari emas.
  2. Antaran Pengiring
    • Sepersalinan Pakaian Lengkap
    • Alat-alat Rias
    • Handuk
  3. Antaran Pelengkap
    • Kue-mueh
    • Halua (manisan buah-buahan)
    • Buah-buahan

Ada pun kesemua antaran itu hendaklah pula menjadi kebiasaan adalah disusunkan pada suatu tempat yang disebut “pahar” atau “talam berkaki”, adapula yang menyebutnya dengan “semberit” yang ditutup dengan tudung saji. Pahar ini dikemas atau pun disusun kepada urutan yang sudah ditentukan. Kira-kira bolehlah hendak disusunkan, yaitu :
  1. Pahar Pertama, berisikan tepak sirih lengkap dengan isinya.
  2. Pahar Kedua, berisi keris yang disampul.
  3. Pahar Ketiga, berisi cincin belah rotan.
  4. Pahar Keempat, berisi bunga rampai
  5. Pahar Kelima, berisi kain tenun.
  6. Pahar Keenam, berisi bahan baju.
  7. Pahar Ketujuh, berisi selendang atau kerudung.
  8. Pahar Kedelapan, berisi kasut (sendal).
  9. Pahar Kesembilan, berisi alat rias.
  10. Pahar Kesepuluh, berisi handuk.
  11. Pahar Kesebelas, berisi kue hasidah.
  12. Pahar Keduabelas, berisi halua (manisan buah-buahan).
  13. Pahar Ketigabelas, berisi pisang raja.
  14. Pahar Keempatbelas, berisi limau manis.
  15. Pahar Kelimabelas, berisi limau bali.
  16. Pahar Keenambelas, berisi buah kurma.
  17. Pahar Ketujuhbelas, berisi kismis.

Kemudiannya dari pihak perempuan pun dikehendaki untuk menyiapkan kelengkapannya. Lazimnya kelengkapan itu adalah seperti berikut :
  1. Tepak Sirih lengkap dengan isinya.
  2. Sebentuk Cincin Emas.
  3. Kue-mueh.
  4. Buah-buahan.
  5. Hidangan untuk santapan.

Syahdan pada hari yang telah ditentukan, setelah Isya maka rombongan dari pihak laki-laki pun telah sampailah di rumah pihak perempuan. Rombongan itu pun disambutlah dengan baiknya oleh pihak yang menanti atau wakil dari pihak perempuan.

Pekerjaan yang sedemikian itu hendak pula diberikan gambaran dengan cara yang sudah-sudah, yaitu :

Setelah kesemua orang yang terlibat sudah pun berkumpul, maka kedua wakil itu pun saling duduk berhadapan. Dimulai dengan salam pembuka “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” oleh pihak laki-laki yang kemudiannya juga disambut dengan ucapan “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” oleh wakil pihak perempuan. Maka acara pun dimulai dengan berpantun-pantun.

01. Pihak Laki-laki
Bukan kentang sebarang kentang,
Kentang diletak tepi perigi,
Bukan datang sebarang datang,
Datang hendak memenuhi janji.

02. Pihak Perempuan
Ikan duri, si ikan selar,
Dalam sampan berangkai-rangkai,
Kalau janji sudah diikrar,
Tolong katakan, tolong disampai.

03. Pihak Laki-laki
Pagi-pagi membeli kurme,
Untuk santapan kalau berbuke,
Pinangan sudah kami terime,
Hari ini mengantar tande.

Kalau makan si pulut jande,
Jangan lupe bilas penganan,
Kami ade membawa tande,
Yang lainnye menjadi iringan.
[sambil menyerahkan tepak sirih untuk dicicip]

Indah tarian lemah gemulai,
Senyum dikulum dipilis-pilis,
Kami dulukan si bunge rampai,
Untuk pengharum dalam majelis.
[sambil menyerahkan bunga rampai]

Hinggap di dahan burung pelatuk,
Jangan dikerat buah bidare,
Kami serahkan cincin sebentuk,
Sebagai pengikat si anak dare.
[sambil menyerahkan sebentuk cincin, keris]

Hari petang berkarang lokan,
Umpan penabur ikan pelate,
Persalinan pakaian diserahkan,
Hanye sekadar tande mate.
[sambil menyerahkan kain tenunan, bahan baju, selendang/kerudung, kasut/sendal, alat rias, handuk]

Membawe jale pergi menjaring,
Masuk ke rage ikan gulame,
Buah dan kue sebagai pengiring,
Untuk keluarge menjamu selere.
[sambil menyerahkan kue hasidah, halua, pisang raja, limau manis, limau bali, buah kurma, kismis]

04. Pihak Perempuan
Pergi ke Medan memakai kopiah,
Sambil berjalan membawe minyak,
Mengape tuan bersusah payah,
Membawe antaran terlalu banyak.

Daun selasih di tengah laman,
Terbang sekawan si rame-rame,
Terime kasih kami ucapkan,
Barang antaran kami terime.

Penjelasan :
Pantun-pantun yang diungkapkan itu disampaikan sebagai pembuka acara, selanjutnya semua kelengkapan antaran itu pun dimasukkan ke dalam bilik si dara dengan pembacaan do’a selamat.

Kemudiannya barulah memperkarakan perihal berkenaan dengan penetapan bulan dan hari pernikahan. Juga berkaitan dengan Mas Kawin atau mahar yang harus dibawa oleh pihak laki-laki yang menjadi kepada syarat mutlak dalam akad nikah.

Ada pun mas kawin itu boleh bermacam-macam tergantunglah kepada kemampuan pihak laki-laki. Terkadang ada pula mas kawin yang diberikan oleh pihak laki-laki itu berupa uang logam emas yang bernilai ringgit atau perhiasan emas lainnya, seperti kalung, cincin, gelang dan sebagainya. Pada kaum bangsawan dahulu terdapat istilah mas kawin berupa rantai atau kalung emas setinggi tegak, maksudnya adalah rantai emas yang ukurannya setinggi atau sepanjang tubuh badan si dara dengan berat yang tidak ditentukan.

Dalam seperkara pula, tiadalah mustahil terjadi penetapan antar belanja oleh pihak perempuan tanpa melalui perundingan dengan pihak laki-laki. Jika yang diminta masih termampu kepada pihak laki-laki untuk memenuhinya tiadalah sebarang masalah. Tetapi jika permintaan itu melebihi kepada kemampuan pihak laki-laki, maka akan menimbulkan rasa malu bagi pihak laki-laki. Konon, pada semasa inilah sangat diperlukan peranan dari pihak tukang risik untuk melakukan sebarang kerja mengetahui kira-kira seberapa besar yang dikehendaki oleh pihak perempuan, supaya tiadalah terjadi kesalahan kepada penetapan jumlah yang dimaksud.

Selesailah pada pekerjaan mengantar tanda, maka si dara sejak masa itu haruslah dijaga dengan sebaik-baiknya, apatah lagi menjelang kepada hari pernikahan, tiadalah ianya diperbolehkan keluar rumah. Biasanya disebut “dikurung” yang artinya si dara dalam “pingitan”.

Pada waktu rombongan pihak laki-laki akan meminta diri, maka wakil dari tuan rumah menyerahkan balasan, berupa tepak sirih dengan susunan “daun sirih telentang” sebagai tanda bahwa antaran yang dibawa oleh pihak laki-laki sudah diterima.

Sebelum beredar kedua wakil itu masih sempat pula berpantun-pantun.

05. Pihak Perempuan
Kalau bengkawan menimpe itik,
Itik berkandang tepi sempadan,
Kalaulah tuan berangsur balik,
Kami numpang barang dan pesan.

06. Pihak Laki-laki
naik sampan ke Tanjung Jati,
patah haluan, ribut selatan,
kalau tuan percayekan kami,
amanah tuan kami sampaikan.

07. Pihak Perempuan
Musim selatan memancing ikan,
Dikait umpan mengail tenggiri,
Antaran balasan kami kirimkan,
Tandanye tuan sampai kemari.

Kalau tuan hendak menyemah,
Jangan pulut letak di panan,
Kalau tuan sampai ke rumah,
Sampailah salam ke bakal besan.

Maka kemudian selesailah pada pekerjaan mengantar tanda ini, dan kemudian akan memasuki kepada pekerjaan yang lain, yaitu mengantar belanja.
More about4. Mengantar Tanda

3. Meminang

Attayaya Butang Emas on 2008-11-07

Daripada kerja-kerja merisik diperolehlah sesuatu yang menggembirakan tidak hanya kepada pihak perempuan, tetapi yang terlebih gembira adalah pihak si anak bujang. Maka keluarga si anak bujang itu mengadakan musyawarah dengan kerabat terdekatnya. Di dalam musyawarah dibicarakan berkenaan dengan maksud keluarga untuk menyunting si anak dara.

Setelah didapat kata mufakat, maka ditunjuklah seorang orang tua yang sudah berpengalaman dalam hal pinang meminang. Biasanya orang tua itu tidak sendiri, melainkan juga dengan beberapa orang apakah orang-orang tua baik laki-laki mau pun perempuan. Dan biasanya orang-orang itu masih juga terdapat hubungan keluarga atau jiran terdekat.

Kemudian setelah semuanya dipersiapkan maka berangkatlah utusan dari pihak lelaki atau si bujang menuju ke rumah si anak dara untuk meminang. Mereka pergi ke rumah pihak perempuan setelah shalat Isya dikarenakan waktunya agak panjang. Kedua orang tua dari pihak laki-laki biasanya atau lazimnya tidak menyertai utusan itu. Ini dikarenakan, kepercayaan telah diberikan sepenuhnya kepada pihak yang mewakili keluarga. Hal lain yang menyebabkan kedua orang tua sang bujang (laki-laki) tidak ikut meminang adalah menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya pinangan ditolak, konon. Itulah sebabnya kedua orang tua dari pihak laki-laki tidak ikut menyertai.

Menanti kehadiran pihak laki-laki, pihak perempuan pula mempersiapkan segala sesuatunya. Rumah ditata rapi supaya kelihatan molek dan pandangan berseri. Kemudian rumah pihak perempuan pintunya “dibuka”, ini pertanda kehadiran dari pihak laki-laki dinantikan dengan senang hati oleh pihak perempuan. Sementara itu dari pihak perempuan pun telah mewakilkan kepada orang tua yang dipercayai menjadi wakil tuan punya rumah. Dalam acara peminangan ini, kedua orang tua pihak perempuan biasanya tidak tampil dihadapan wakil pihak laki-laki.

Hatta, sampailah utusan dari pihak laki-laki yang membawa seperangkat perlengkapan meminang, yaitu :
1. Tepak sirih lengkap dengan isinya,
2. Buah-buahan.
3. Kue-mueh.

Kedatangan dari pihak laki-laki disambut dengan baik. Maka tiada berapa lama setelah semuanya hadir, maka upacara peminangan itu pun dimulai dengan ucapan atau alu-aluan dari pihak keluarga laki-laki sambil menyerahkan tepak sirih lengkap dengan isinya yaitu sesusun daun sirih yang diatur telungkup, kapur, gambir, dan pinang sebagai tanda permulaan pertemuan.

Sirih yang dibawa untuk disuguhkan pada tetua dan pihak yang mewakili pihak perempuan. Sedangkan bawaan berupa buah-buahan dan kue-mueh dipersembahkan kepada pihak perempuan. Pemberian dilakukan adalah sebagai tanda terjalinnya hubungan persaudaraandi kedua belah pihak.

Kini marilah kita simak pelaksanaan adat meminang tersebut, konon lakonan itu masih kepada lanjutan lakonan keluarga Atan yang meminang si Aisyah. Maka kira-kira seperti berikutlah perbuatan tersebut :

01. Pihak Laki-laki :
(dengan pantun)
terime kasih, kami bersame rombongan telah dipersilekan masuk dan duduk di tempat yang selese. Alhamdulillah... terutame saye sebagai wakil dari pihak rombongan laki-laki menyampaikan salam keluarge Pak Dollah, yang mane pade kesempatan ini belum dapat hadir, beliau menitipkan salam dan mendo’ekan semogelah keluarge di sini dalam keadean sehat wal-afiat dan tiade kurang suatu ape pun.

02. Pihak Perempuan :
Alhamdulillah ... keluarge di sini sekarang dalam keadean sehat wal-afiat dan dapat menyambut kedatangan dari pihak tuan-tuan dan Ncek puan sekaliannye.

03. Pihak Laki-laki :
Sebelum saye tersalah orang, tersalah cakap, make saye memperkenalkan diri. Saye sebagai wakil dari pihak laki-laki, oleh karene itu :
Besar mane bunge cendawan,
Alat pencongkel jatuh ke tanah,
Saye bertanye kepade tuan,
Siapekah wakil tuan rumah.

04. Pihak Perempuan :
Ikan aruan masuk ke rage,
Bawe ke Pangkil untuk disemah,
Kalau tuan sudah bertanye,
Sayelah wakil tuan rumah.

05. Pihak Laki-laki :
Ohh... ini rupenye, wakil yang punye rumah. Kacak orangnye...

Daun sedingin dibelah-belah,
Buah pinang dipilih-pilih,
Saye ingin memohon sembah,
Adat meminang bertepak sirih.

Beras bertih di atas peti,
Anak kedidi di dalam rumah,
Tepak sirih sudah menanti,
Mintelah sudi tuan menjamah.

Penjelasan :
Perwakilan pihak perempuan kemudiannya mencicipi sirih pihak laki-laki sambil mempersilakan mereka mencicipi sirih pihak perempuan. Sambil mencicipi maka pihak perempuan pun menjawab pantun dari pihak laki-laki.

06. Pihak Perempuan :
Benih tuan usah dibaje,
Pastilah sudah akan menjadi,
Sirih tuan sudah pun dirase,
Rasekan pule sirih kami.

Kacip-kacip si buah pinang,
Pinang kelat jangan sepahkan,
Sudah dicicip sirih dan pinang,
Ape hajat sile sampaikan.

Penjelasan :
Setelah pihak laki-laki mencicipi sirih pinang dari tuan rumah, maka pihak laki-laki menyampaikan hajatnya.

07. Pihak Laki-laki :
Burung merbah suarenye lantang,
Anak beruk di pokok teruntum,
Lame sudah kami tak datang,
Hendak menjenguk bunge sekuntum.

Jalan berteman di pagi hari,
Membawe rempah ke tengah pekan,
Bunge di taman indah berseri,
Takut terjamah dipetik orang.

Iye, kami bersame rombongan ini untuk menyambung kembali pembicaraan yang terdahulu, yaitu ketike pade saat merisik. Dimane kami ketahui di rumah yang indah berseri ini, ade memiliki sekuntum bunge yang harum semerbak. Apekah sudah ade kumbang yang datang ke rumah ini, kalaulah belum izinkan kami dari si kumbang seekor hendak memetik.

08. Pihak Perempuan :
Memanglah ade sekuntum bunge di taman kami, ape ke pihak tuan sudah menyelidiki. Pasal bunge disini, adelah juge kumbang mendekat, tetapi yang datang seperti ini barulah dari pihak tuan.

Buah berangan tepi rumah,
Rame-rame di tengah laman,
Bunge di taman belum terjamah,
Apetah pule terpetik tangan

09. Pihak Laki-laki :
Sungguh harum bunge di taman,
Harum semerbak terlihat cantik,
Jike belum terjamah tangan,
Bolehkah agak kami memetik?

10. Pihak Perempuan :
Buah betik baru berputik,
Jangan ditutup kain berserat,
Hendak petik silekan petik,
Asal cukup dengan syarat.

11. Pihak Laki-laki :
Jike berat jadi timbangan,
Jangan diikat di atas dahan,
Jike syarat menjadi timangan,
Ikhtiar dibuat tentulah dikabulkan.

12. Pihak Perempuan :
Kalau memanjat si pokok pinang,
Jangan dipanjat si pinang mude,
Kalau hajat hendak meminang,
Boleh ke diikat dengan tande.

13. Pihak Laki-laki :
kalau begitu, ini... adelah kami serahkan sebentuk cincin sebagai tande. Mudah-mudahan dapatlah diterime...
burung gelatik di atas dahan,
tersentuh duri, sayap terluke,
sungguh cantik cincin hantaran,
cincin diberi sebagai tande.

14. Pihak Perempuan :
Oleh karene kami menerime tande, ape syaratnye supaye kami tahu dan dapat menjagenye dengan baik?

15. Pihak Laki-laki :
Syarat sebagaimane yang tersurat di dalam adat, yaitu kalau tande telah pun kami berikan, apebile bunge sekuntum berlaku mungkir, make kenelah ienye mengembalikan due kali lipat.

16. Pihak Perempuan :
Meminang itulh sudah menjadi adat resam, mau tak mau hendaklah diperturut.

17. Pihak Laki-laki :
Kalau tande sudah diterime, kami hendaklah bertanye, kire-kire ape maharnye, dan ape pule syarat yang lain sebagai pengiring, atau ke ade yang harus kami “langkah”?

Penjelasan :
“Langkah” dimaksud adalah ada saudara perempuan yang lebih tua dari Aisyah dan belum menikah. Jika Aisyah menikah lebih dulu dari saudara perempuan sekandungnya, maka Aisyah disebut “melangkahi”. Dan lazimnya ada hadiah untuk yang dilangkahi sebagai penyejuk hati.

18. Pihak Perempuan :
Karene mahar adelah hak perempuan, make sesuai dengan adat, kami meminte sebentuk cincin dengan pengiringnye serbe satu, dan kami minte bilik kosong. Sedangkan masalah langkah tidak ade, karene si Aisyah merupakan anak sulung dari Pak Leman. Oleh karenenye pade acarenye nanti hendak menjemput sanak keluarge yang jauh, ade pule sanak saudare yang ade di kampung sini kesemuenye akan kite jemput, itulah sebabnye dari pihak perempuan meminte disediakan uang hangus, mengenai jumlahnye akan disebut kelak. Haa... bagaimane pule dari pihak lelaki?

19. Pihak Laki-laki :
Ape yang sudah tersirat di kote sudah, terletak juge di atas bahu. Berat dan ringan haruslah dipikul. Setelah semuenye diketahui, sekire-kirenye waktu dan tempatnye dimane?

20. Pihak Perempuan :
Jike tiade halangan, lebih kurang enam bulan, mengenai hari dan tanggalnye ditentukan kemudian. Sedangkan tempatnye sudahlah tentu di rumah ini.

21. Pihak Laki-laki :
Jika demikian jelaslah semuenye. Selanjutnye sebagai tande persaudarean, terimelah buah-buahan dan kue-mueh dari kami.

22. Pihak Perempuan :
Terimekasih atas buah tangannye. Kalaulah ini silaturrahmi sebagai persaudarean mudah-mudahan akan terjalin lebih mesre.

23. Pihak Laki-laki :
Selanjutnye dari pihak lelaki hendak memberi tande kepade pihak perempuan, biarlah disaksikan oleh semue yang hadir....

Penjelasan :
Kemudiannya si Aisyah si anak dara yang sudah dipinang itu, sudah menunggu di biliknya dengan pakaian adat Melayu. Ianya dibawa keluar oleh salah seorang keluarga menuju tempat yang sudah disediakan. Setelah si Aisyah duduk bersimpuh, maka wakil dari pihak laki-laki menyarungkan cincin ke jari manisnya. Perihal yang sedemikian adalah sebagai tanda bahwa Aisyah sudah dipinang. Kemudian Aisyah dibawa masuk kembali ke dalam biliknya.
Selanjutnya hadirin disuguhkan dengan hidangan ala kadarnya, seperti Roti Kirai dan kue-mueh lainnya semacam Sri Salat. Setelah semua hadirin menyantap hidangan yang disediakan, maka wakil dari pihak laki-laki dan pihak perempuan duduk maju ke depan saling berhadapan.

24. Pihak Laki-laki :
Hajat sudah pun kami sampaikan, mufakat telah pun tercapai, make selesailah sebarang kerje. Sebelumnye kami mengucapkan terime kasih dengan sambutan yang telah diberikan. Kami dari pihak laki-laki meminte maaf apebile dalam bertutur kate banyak terdapat kesalahan. Kemudian kami hendak meminte diri...

25. Pihak Perempuan :
iye... same-samelah. Kite sebagai manusie tentulah tiade yang sempurne. Ibarat kate peribahase “tak ade gading yang tak retak”. Begitupun dengan kami, ape bile terkurang sambutan dan bahase serte adat yang kurang kene, kami meminte maaf.
Kalau memang hendak berundur diri, sebagai tande ingat sampaikan juge salam kami kepade calon mertue, dan ini ade sedikit buah tangan, sebagai tande sudah sampai. Bukan hendak membalas, tetapi menyatekan utusannye telah diterime dengan baik.

***

Setelah selesai acara meminang, pihak perempuan pun memberi oleh-oleh untuk keluarga laki-laki. Pemberian ini tidak saja untuk mengukuhkan hubungan persaudaraan kedua belah pihak, tetapi juga menjadi isyarat bahwa peminangan yang dilakukan pihak laki-laki diterima oleh pihak perempuan. Buah tangan tersebut berupa makanan. Maka setelah acara semua selesai ditutuplah dengan pembacaan do’a bersama yang dipimpin oleh salah seorang dari pihak keluarga perempuan.



More about3. Meminang

2. Merisik

Attayaya Butang Emas on 2008-11-05

Pekerjaan seperkara merisik ini sememangnyalah amat berguna, apatah lagi jika dijalankan mengikut kepada yang patut. Yaitu kedua orang tua atau pun mungkin sang tali barut dapat mencari, memperhatikan kemudiannya memilih anak dara dengan jalan diperiksa atau diselidiki dengan sehabis cermat. Bukan saja kepada anak dara yang bersangkutan itu saja yang diselidiki, tetapi juga keadaan ibu-bapaknya, kepada adik-beradik ataupun keluarga lainnya termasuklah sahabat-handai yang karib-karib. Sehinggalah semuanya mendapatkan pilihan yang memuaskan hati karena akan mendapatkan anak dara dari pada orang-orang yang elok perangai kelakuannya. Karena orang Melayu dahulu selalu memegang kepada bidal Melayu yaitu : “Jika hendak meminang anak, pinang ibu bapaknya dahulu”.

Terlebih akan sangatlah senang hatinya kedua orang tua, jika anak dara yang menjadi pilihan itu sudah khatam Al-Qur’an dan bagus pula bacaan dan lagunya membaca ayat-ayat suci itu dan mengerti pula sedikit sebanyak ajaran dan hukum Islam. Begitu juga dengan kepandaian dan pengetahuan lainnya, yaitu seni-budaya, menjahit-menekat dan cekap pula memasak, serta elok pula parasnya. Maka semuanya yang tersebut itu adalah amat menarik hati orang-orang tua.

Di dalam adat merisik ini biasanya termasuk melihat tubuh atau badan si anak dara itu sendiri, menerusi sahabat-sahabat yang karib, dan kepada ibu-bapak anak dara yang hendak dipinang. Ada kalanya ketika hendak datang melihat itu diberitahu terlebih dahulu kepada pihak si anak dara, tetapi ada juga yang datang menengok itu dengan tiba-tiba. Pada faham sebagian orang dahulunya, kedatangan dengan tidak memberitahu terlebih dahulu atau dengan tiba-tiba, dan waktu mereka itu tiba di rumah itu, sedangkan si anak dara itu sedang mandi atau membasuh, maka adalah yang sedemikian membawa kepada perkara yang baik, yaitu menunjukkan jodoh pertemuan itu sejuk, konon. Maksudnya kalau jadi ikatan jodoh itu, kehidupan suami isteri itu kelak akan senang-lenang dan senantiasa bersepahaman di dalam rumah tangga. Akan tetapi jika orang yang datang merisik itu didapatinya si anak dara sedang memasak, maka kuranglah baik “padah”-nya karena, konon, rumah tangga akan senantiasa panas dan kurang akan sepemahaman sehingga seringlah terjadi pertengkaran. Begitu juga dipercayai jika sedang dalam perjalanan untuk datang ke rumah seorang anak dara untuk meneliti atau menyelidiki, di tengah jalan berlalu suatu bencana, apakah kaki yang terkait ranting atau akar kayu yang menyebabkan jatuh atau sesuatu yang menghalangi dalam perjalanan, maka yang demikian itu tiadalah baik akan “padah”-nya, konon.

Hatta, setelah bulat pikiran untuk meminta tolong kepada seseorang untuk menjadi tali barut dengan tugas merisik, maka hendak pula dilanjutkan lakonan terdahulu dengan percakapan antara Mak Ngah salah seorang kerabat dari Pak Dollah yang dipercayai untuk menjalankan kerja meminta tolong kepada Mak Sum sebagai tali barut. Maka datanglah Mak Ngah ke rumah Mak Sum untuk bertamu.

Sambungan lakonan itu diperbuat dalam bentuk naskah drama radio, seperti berikut :
01. Sound off : Orang berjalan di atas rumput/pasir.
02. Mak Ngah : MN (bicara sendiri)
Sepi aje nampaknye rumah ‘ni, ade tak orang di dalam. Cobe aku panggil. Ooooo.... Mak Sum... Mak Sum...! Manelah perginye Mak Sum ‘ni, tak nampak batang hidungnye. Cobe aku ketok pintunye dulu...
03. Sound off : Pintu rumah diketuk.
04. MN : (memberi salam) Assalamu’alaikum...!
05. Mak Sum : MS (dari belakang rumah) Wa’alaikum salam. Siape ‘tu? Tunggu yeee..!
06. MN : (berkata sendiri) Eeeh ... ade jawaban dari samping rumah, cobe aku tengok!
(pada MS) Haa... ini die Mak Sum. Dari mane ‘ni? Dari tadi saye panggil, tak ade yang menjawab.
07. MS : Ooh.. engkau Salmah (nama Mak Ngah). Haaa... masuklah dulu biar Mak Sum bukakan pintunya.
08. Sound off : Bunyi pintu terbuka.
09. MS : Masuklah Salmah, duduk dulu yee!
10. MN : Mak Sum dari mane tadi?
11. MS : Ini, aku ke kebun belakang, memetik pucuk ubi untuk direbus, lawannye sambal belacan...
12. MN : Sedapnye makan siang nanti.
13. MS : Haa... ade ape hajat engkau kemari?
14. MN : Ini Mak Sum, ade hajat sikit lah...
15. MS : Ape hajat ‘tu?
16. MN : Saye ini wakil dari Pak Dollah.
17. MS : Pak Dollah yang mane?
18. MN : Pak Dollah.... bapaknye si Atan ‘tu.
19. MS : Haa... tahulah aku.
20. MN : Begini Mak Sum, kami sekeluarge sudah berunding untuk mencarikan jodoh bagi si Atan ‘tu.
21. MS : Anak dare mane yang dihajatkan ‘tu?
22. MN : Itu haa.... anaknye Pak Leman, yang bernama Aisyah.
23. MS : Ooooh... si Aisyah.
24. MN : yee, Mak Sum.
25. MS : Baiklah kalau begitu, Insya Allah akan saye lakukan dengan sebaik-baiknye...
26. Sound : Musik pemisah.

Singkatan :
MN : Mak Ngah
MS : Mak Sum

***

Untuk berikutnya marilah kita simak percakapan berikut antara Mak Sum yang ditemani oleh salah seorang dari keluarga Pak Dollah dengan pihak keluarga Pak Leman. Masih lagi percakapan itu dalam bentuk naskah drama radio.
01. MS : (memberikan salam) Assalamu’alaikum...
02. IPL : Wa’alaikum salam ... Eh... Kak Sum... jemputlah naik... Ape khabar, Kak Sum?
03. MS : Khabar baik...
04. IPL : Hmm... besar nampaknye hajat yang dibawe?
05. MS : Besar hajat ‘tu, memanglah besar. Tapi kalau dapat hajat ‘tu hendak disampaikan sekaliannye di hadapan Pak Leman.
06. IPL : Oooh... begitu... tadi ade Bang Leman ‘tu. Biar saye panggil dulu, mungkin di belakang. Duduklah dulu ye, Kak Sum...
(memanggil) Bang... ooo... bang...., ade Kak Sum ‘nak berjumpe abang....
07. Sound off : langkah mendekat.
08. PL : Oooh Kak Sum... ‘dah lame? Ape khabar?
09. MS : Baru aje... khabar baek...
10. IPL : Kak Sum duduk dulu ye, saye ke belakang kejap.
11. MS : Iyelah...
12. PL : Besar nampaknye hajat dibawe?
13. MS : Besar hajat kami ‘ni, Bang Leman (walaupun muda, tetap dipanggil abang). Luasnye laut, luas lagi hajat yang dibawe...
14. PL : Haiii... ape tu hajatnye sampai sebegitu luasnye?
15. MS : Begini bang Leman..., kami dengar, kami tengok, luasnye halaman rumah Bang Leman ‘ni. Konon ade pule, tumbuh di halaman rumah sekuntum bunge yang harumnye sampai ke kampung seberang. Harumnye tercium pule oleh seekor kumbang. Itulah sebab saye datang membawa hajat seekor kumbang, hendak bertanye, ape ke bunge di taman sudah ade yang melingkari dengan sebentuk cincin, atau sudah ade yang berhajat hendak memetiknye?
16. PL : Hmmmm... kalau perkara ini...
17. Sound : terdengar langkah kaki mendekat.
18. IPL : Hmm... Kak Sum... sile dijemput airnye. Maklum air bujang aje... (air putih).
19. MS : Hmm... terime kasih...
20. PL : iye... sile diminum airnye... Hmm.. kalau soal si Aisyah anak kami ‘tu, memanglah belum ade yang melingkari atau pun berhajat memetiknye. Cume saye dan maknye Aisyah perlulah bertanye terlebih dahulu kepade yang empunye diri. Dan sekaliannye hendak berunding dengan saudare mare. Jadi, saye meminta maaf terlebih dahulu sebab belum dapat memberikan keputusan.
21. MS : Baiklah kalau begitu, akan saye sampaikan berite ini kepade pihak kami.
22. IPL : Hmm.. ini Kak Sum datang atas utusan siape? Tentulah hendak juge mengetahui kumbang mane gerangan yang berkehendakan kepade bunge kami yang di taman. Sebagai orang tuenye, tentulah juge hendak mengetahui yang mane satu orangnye...
23. MS : itu... haa... si Atan, anak Pak Dollah...
24. PL : Oooh.. budak si Atan ‘tu... Haa... iyelah Kak Sum... biarlah kami berunding dahulu...
25. IPL : Kalau iye pun, diminum dulu airnye...
26. MS : Iyelah... (sambil minum). Begini ajelah Bang Leman dan Maknye Aisyah, bersebab kami pun ‘dah tahu berkenaan dengan bunge yang tumbuh di halaman, dan amanah orang pun sudah disampaikan, jadi kami dari pihak laki-laki hendak minta diri dulu...
27. PL : Iyelah, Kak Sum... Minte maaflah kalau ade yang terkurang dan terkasar bahase saye tadi...
28. MS : Iyelah Bang Leman... Saye pun begitu juge, minta maaf kalaulah ade kate-kate saye dalam menyampaikan pesan orang, kurang berkenan di hati Bang Leman dan Maknye Aisyah, sekali lagi saye minta maaf...
29. IPL : Iyelah... same....same...
30. Sound : Musik pemisah.

Singkatan :
MS : Mak Sum
IPL : Isteri Pak Leman
PL : Pak Leman

Begitulah kisahnya, konon. Syahdan karena sudah ada anak bujang yang berkenan kepada anak dara di rumahnya, maka sang Ayah atau pun si Emak meminta pula kepada orang untuk melihat-lihat keadaan si bujang itu, walaupun dilakukan dengan secara diam-diam. Perihal pertama yang hendak diketahui soal si bujang antara lain ketaatannya dalam menjalankan perintah agama Islam. Keturunannya, budi pekerti, pergaulannya di dalam masyarakat, kerajinan bekerja serta kepatuhannya pada orang tua.
More about2. Merisik

1. Mencari Jodoh

Attayaya Butang Emas on 2008-11-01

Seperkara dalam kehidupan orang Melayu yang dianggap sangatlah penting adalah peristiwa pernikahan. Orang tua yang mempunyai anak bujang mulailah melakukan pekerjaan untuk mencarikan jodoh untuk anaknya. Orang Melayu akan merasa malu, jika anaknya lambat mendapatkan jodoh, sama ada bujang atau pun dara. Si bujang yang terlambat mendapatkan jodoh, akan disebut sebagai “bujang terlajak” atau “bujang lapok/lapuk”. Begitu pun prihalnya kepada anak dara yang terlambat menikah akan diperkata orang sebagai “anak dara tua”. Itulah sebabnya orang tua selalu berusaha untuk mendapatkan jodoh anak-anaknya.

Sememangnyalah tak dapat hendak dipungkiri bahwasanya bagi orang tua yang mempunyai seorang anak lelaki lebih leluasa dalam mencarikan jodoh, dari pada orang tua yang mempunyai anak dara. Konon, jika ada anak dara atau pihak orang tua yang mempunyai anak dara yang “berlebih-lebih” melakukan kepada pekerjaan mencari jodoh ini, kelak akan pula diperkatakan orang sebagai “perigi mencari timbe”. Inilah suatu perkataan yang memalukan atau tabu bagi pihak perempuan.

Pada awal pelaksanaan adat istiadat perkawinan adalah mencari jodoh. Dahulunya di dalam perkara mencari jodoh masih dilakukan oleh pihak orang tua. Perihal yang sedemikian itu mungkin dikarenakan pihak orang tua lebih mempunyai pengalaman, dan kira-kira dapat untuk membahagiakan anaknya. Anggapan ini telah menjadi suatu keyakinan, sehinggalah sang anak menuruti akan ketentuan dari orang tuanya.

Mencari jodoh biasanya ditujukan kepada anak lelaki. Tetapi sebelum sembarang kerja dilakukan, orang tuanya selalu menanyakan kepada si anak apakah sudah bersedia untuk dicarikan seorang dara untuk menjadi pasangan hidupnya. Orang tua yang sangat berperan di dalam seperkara ini biasanya adalah orang tua perempuan yakni ibu atau sang emak.

Jika telah mendapat kesepakatan antara orang tua dan anak lelakinya, maka kemudiannya kedua orang tua akan mengundang sanak saudara terdekat untuk mengadakan perundingan perihal untuk mencarikan jodoh kepada anak lelakinya.

Kalau boleh hendak dikias-gambarkan dalam suatu lakonan, maka berikut ini hendak dipaparkan kisah si anak bujang bernama Atan yang oleh pihak orang tuanya sudah patut untuk dicarikan jodohnya. Maka oleh ayahnya yang bernama Dollah dan emaknya si Atan menjemput dan mengundang saudara mara yang terdekat untuk merundingkan pasal jodoh dan perkawinan si Atan. Ada pun saudara mara yang diundang itu seperti Pak Long – Mak Long, Pak Ngah – Mak Ngah, Pak Usu – Mak Usu, Nenek Long, Pak Anjang, Mak Uteh dan saudara mara lainnya. Maka pada harinya, berkumpullah orang-orang itu di rumah Pak Dollah, konon.

Pada malam itu setelah berkumpul saudara mara sebagaimana yang tersebut, berkatalah Pak Dollah ayahnya si Atan, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, pade malam ini saye menjemput abang, kakak dan adik-adik adelah untuk berunding berkenean dengan si Atan.rencane kami sebagai ayah dan emaknye hendak mencarikan pasangan hidupnye. Untuk membincangkan perihal ini, saye serahkan kepade Bang Long yang lebih tue dari kite semue yang hadir di sini. Iye tak, Bang Long?”. Demikian pembuka kata dari Pak Dollah dan yang langsung menyerahkan kepada Pak Long untuk mengatur jalannya perbincangan.

Orang-orang yang dijemput sebenarnya telah memaklumi akan halnya pertemuan malam itu, demikian pun Pak Long, maka ketika diminta pendapat dan pikirannya tiadalah pula menjadi pikiran, “Baiklah jike itu sudah menjadi kehendak dari kite semue. Mari kite cari jalan keluar bersame-same, bak kate pepatah, berat same dipikul ringan same dijinjing. Kalaulah kite semue sudah sepakat dan memilih jalan yang terbaik, insya Allah akan baik untuk si Atan, karene umur dan pengalamannye masih lagi mentah dalam menuju mase depan yang panjang ini. Kite haruslah memikirkan juge, macam dikatekan dalam peribahase, bulat air karene betong, bulat suare karene mufakat. Sebelumnye Dollah, ape ke Atan sudah setuju dengan rancangan kau orang berdue?”. Bertanya Pak Long pada Pak Dollah sambil juga memandang kepada emaknya si Atan.

“Sudah, Bang Long!”, jawab Pak Dollah.
“Baiklah kalau begitu. Satu lagi aku nak tanye pade kau Dollah, ape ke engkau orang suami isteri sudah mempunyai pilihan?”, tanya Pak Long.
“Hmmm... kalau soal ini... mungkin emaknye si Atan, ‘dah ade...”, jawab Pak Dollah agak tergagap.
“Macam mane emaknye si Atan... ‘dah ade?”, tanye Pak Long ke emaknye si Atan.
“Yang pasti ‘tu belumlah, Bang Long. Cume... saye ‘tu agak berkenan dengan budak perempuan anak Pak Leman ‘tu. Nampak sekilas die ‘tu rajin pergi ke surau, pandai mengaji, bersopan santun... tapi selebihnye kurang tahu pule saye...”, jawab emaknya si Atan.
“Yang mane ‘tu, kak?”, tanya Mak Ngah yang sejak tadi hanya memperhatikan orang-orang yang bercakap.
“Ape budak bername si Esah itu, ye?”, tebak Mak Usu pula.
“Iyelah agaknye...”, jawab emaknye si Atan.
“Ooooh... kalau yang namenye si Esah ‘tu, memang molek budaknye. Selalu juge jumpe kalau sedang menyuci di pinggir sungai”, jelas Mak Ngah.

Tiba-tiba Pak Long berdehem, lalu berkata, “Ape kamu semue tahu pasal anak Pak Leman ‘tu?”.
“Tahu sangat tidak, kalau sikit adelah...”, jawab Mak Usu pula.
“Kalau begitu, bolehlah kite mengutus orang untuk merisik atau mencari tahu tentang anak dare yang bername si Esah itu, bagaimane?”, tanya Pak Long.
“Hmmm... bagus juge ‘tu. Bagaimane kalau kite meminte tolong kepade Mak Sum yang selalu ke Tanjung sane berjualan kue. Mak Sum pun orangnye pandai bercakap, luas pengalaman dan orang pun segan kepadenye...”, kata Mak Usu.
“Kalau memang sudah begitu keputusannye baguslah, boleh kite meminte tolong kepade Mak Sum...”, ujar Pak Dollah dengan perasaan puas.

***

Demikianlah selintas lakonan yang dipaparkan berkenaan dengan perundingan mencarikan jodoh bagi si Atan, konon. Dan putus sudah kata mufakat untuk meminta tolong kepada Mak Sum sebagai “tali barut”. Pengertian tali barut adalah orang yang menjadi utusan pihak keluarga laki-laki untuk melakukan kerja-kerja merisik terhadap seorang anak dara yang kelak akan dipinang.

Usaha yang dilakukan oleh seorang emak menunjuk seseorang yang boleh dipercaya untuk mencari berita tentang anak dara yang hendak dijadikan jodoh kepada anaknya, terkadang dilakukan dengan diam-diam. Sekira telah mendapatkannya barulah dirundingkan dengan si anak yang bersangkutan dan keluarga maupun saudara mara.

Biasanya yang menjadi tali barut adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai pengaruh dan paling tidaknya disegani sekaliannya disukai dalam pergaulan masyarakat.

More about1. Mencari Jodoh

0. Adat Istiadat Perkawinan Melayu Kepulauan Riau : Persiapan Memasuki Alam Rumah Tangga

Attayaya Butang Emas on 2008-10-29

ADAT ISTIADAT PERKAWINAN
Melayu Kepulauan Riau

Persiapan Memasuki Alam Rumah Tangga


Syahdan sudahlah menjadi suatu kebiasaan dan pandangan hidup terhadap perkawinan yang begitu suci, religius, dan sakral. Pandangan hidup di dalam perkawinan berikhtibar pada hakikat keberagaman keperluan hidup manusia. Beberapa di antaranya bersumber dari lawan jenis kelamin. Kelengkapan itu antara lain : di bidang seksual (hubungan suami isteri), memperoleh keturunan, jiwa dan perasaan (psikis), perlindungan, kemasyarakatan (sosial), dan lain sebagainya.

Sudahlah pula tersirat sebagaimana lazimnya, bahwa orang Melayu Kepulauan Riau, bahwa untuk mendirikan rumah tangga dikehendaki daripadanya beberapa persyaratan, yaitu :
  1. Sesama beragama Islam
  2. Sudah cukup dewasa
  3. Sehat badan dan juga jiwanya
  4. Untuk seorang lelaki (bujang) telah mampu mencari nafkah
  5. Kematangan pemikiran dan bertanggung jawab
  6. Memandang perkawinan sebagai sesuatu yang suci, religius, sakral.

Rangkaian kehidupan anak manusia tersangatlah panjangnya. Dimulai dari kandungan, lahir, masa bayi, masa kanak, masa remaja, masa dewasa, berumah tangga (berkeluarga) dan bermasyarakat, kemudian tua, dan akhirnya kembali kepada Sang Pencipta. Begitu pun agaknya dalam senarai perjalanan perkawinan orang Melayu sebagaimana yang sudah tersusun turun temurun dari dahulunya, yaitu dimulai dari pada :
  1. Mencari jodoh
  2. Merisik
  3. Meminang
  4. Mengantar tanda
  5. Mengantar belanja
  6. Mengajak dan menjemput
  7. Menggantung-gantung
  8. Berandam
  9. Berinai
  10. Berkhatam Qur’an
  11. Aqad nikah
  12. Tepuk tepung tawar
  13. Bersanding
  14. Bersuap-suap
  15. Makan berhadap
  16. Menyembah
  17. Mandi-mandi
  18. Berambih

Ohoiii... sungguh panjangnya rangkaian perjalanan yang hendak dilewati dan ianya serasa-rasa begitu hikmat. Oleh karenanya perihal seperkara ini tiadalah boleh dipersenda-sendakan, atau “diselambe-rayekan” saja. Yang boleh mengakibatkan kepada perihal “mengecikkan” lembaga perkawinan yang begitu suci, sebagai yang banyak kejadiannya di masa kini. Maka sekarang kita mulai dengan mencari jodoh ...

More about0. Adat Istiadat Perkawinan Melayu Kepulauan Riau : Persiapan Memasuki Alam Rumah Tangga

6. PENGGALAN KEENAM : Memasuki Alam Percintaan (Perkawinan)

Attayaya Butang Emas on 2008-10-21

the conceptor

06
PENGGALAN KEENAM
Memasuki Alam Percintaan
(Perkawinan)

Berbagai tantangan dalam kehidupan semakin besar ketika memasuki dunia “tanggung jawab” dalam kehidupan bermasyarakat yang kelak akan melahirkan kepada perasaan tanggung jawab moral, tidak hanya kepada diri sendiri tetapi juga bagi orang lain dan masyarakatnya. Tanggung jawab itu tidak hanya dalam bentuk tanggung jawab sosial tetapi dalam berbagai ragam kehidupan secara menyeluruh.

Maka kemudian sampailah kepada batas sempadan, ketika seseorang baik lelaki dewasa maupun perempuan yang telah cukup kepada masanya untuk berkeluarga.

Syahdan apabila seseorang baik laki-laki maupun perempuan telah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah dewasa, maka kedua orang tua menuntutnya supaya bertingkah laku atau berperangai seperti orang yang telah dewasa pula. Ianya diminta mematuhi dan mentaati segala adat, sopan santun yang berlaku di dalam masyarakat. Walaupun sejak kecil lagi mereka telah dididik dengan segala adat resam, sopan santun, berbudi bahasa dan lain sebagainya. Tetapi kepada memasuki usia dewasa dikehendaki untuk berbuat lebih. Kemudiannya juga sebagai seorang muslim, ianya harus taat melakukan ketentuan agama Islam.

Sedangkan untuk anak perempuan yang telah memasuki usia dewasa lebih banyak tinggal di rumah atau istilahnya di pingit. Dan lebih banyak membantu emaknya dan mempelajari segala pekerjaan rumah yang seharusnya memang dilakukan oleh seorang perempuan. Anak perempuan yang telah meningkat dewasa itu disebut dengan “anak dara”. Sedangkan untuk anak laki-laki disebut “anak bujang”. Jika seorang anak laki-laki telah bekerja dan mendapatkan penghasilan, ianya juga harus rajin membantu pekerjaan ayahnya termasuk juga kepada bidang-bidang lainnya yang boleh nantinya menjadi bekal ketika ianya menjadi suami dan seorang ayah.

Sebagai orang Melayu harus pula mempelajari beberapa kesenian daerahnya, umpamanya seperti tari zapin, marhaban, dan lain sebagainya. Selain dari pada pekerjaan mempelajari kesenian daerah yang terlebih penting adalah mempelajari agama Islam sebaik-baiknya. Itu sebabnya sejak masa kanak lagi anak-anak Melayu telah dipahamkan betapa pentingnya pengajaran agama.

Perihal lainnya untuk seorang anak dara ialah menjaga kesehatan dan mempercantik diri. Supaya ia mendapat jodoh, ia harus menjadi anak dara yang suka tinggal di rumah. Anak dara yang tidak suka di rumah, yang kerjanya hanya bertandang ke rumah-rumah orang, dipandang sebagai anak dara yang kurang baik.

Biasanya pada zaman dahulu anak dara hanya sekali-sekala saja keluar dari rumah atau pun pergi berjalan, yaitu pada Hari Raya atau pergi ke rumah Pak Cik, Pak Long atau saudara yang lain, itupun biasanya tidak sendirian, paling tidaknya emaknya atau adiknya (saudara) sebagai teman. Kalau berjalan selalu berselendang atau berkerudung, sehingga tidak semua wajahnya terdedah. Jika ia berbicara, suaranya hampir tidak kedengaran. Bila bertemu dengan orang bujang tiadalah ia boleh menegur atau menyapa, terkecuali ianya ditegur dahulu, itu pun tiadalah pula serta merta menjawab dengan leluasa. Menurut pandangan orang Melayu anak dara yang bertingkah laku seperti itulah yang dianggap cantik untuk dijadikan seorang isteri.

Sudah menjadi kelaziman pula bahwa seorang anak laki-laki atau anak perempuan yang sudah meningkat dewasa mengikut kepada suatu upacara masa dewasa yang disebut upacara “mengasah gigi”. Upacara mengasah gigi boleh diikuti oleh anak dara ataupun anak bujang. Kebanyakannya yang mengikuti kepada acara tersebut adalah anak dara walau tidak menjadi suatu keharusan. Tujuan dari mengasah gigi ini tentulah untuk kecantikan, konon dengan mengasah gigi, gigi yang tidak teratur dapat dirata dan dibetulkan. Keindahan wajah akan lebih mempesona apabila pengasahan gigi dilakukan dalam suatu upacara tertentu. Pengasahan gigi yang serupa itu akan menyebabkan gigi menjadi cantik berseri dn kuat sehingga meningkatkan kecantikan seorang anak dara.

Syahdan jika seorang anak dara meminta kepada emaknya supaya giginya diasah (dibetulkan), maka si emak segera menghubungi seorang dukun pengasah gigi. Upacara tersebut dapat dilaksanakan di rumah dukun atau pun di rumah anak dara itu sendiri. Setelah ditetapkan tempat berlangsungnya upacara tersebut, maka dipersiapkan semua alat-alat dari benda-benda yang diperlukan dalam upacara itu, seperti : tiga buah pengasah, sebuah batu penindih tujuh jenis bunga (setiap jenis setangkai), dua butik buah keras (kemiri).

Mula-mula si emak anak dara yang berhajat untuk mengasah gigi anaknya itu menyampaikan maksudnya kepada mak dukun pengasah gigi dengan bahasa yang halus dan sopan. Setelah mak dukun menerima permintaan yang disampaikan itu, anak dara atau anak bujang yang akan diasah giginya itu disuruh berbaring. Kemudian dengan perlahan-lahan kepalanya disepit di antara kedua lutut dukun. Maksudnya supaya kepala orang yang diasah gigi itu tiada bergerak ketika diasah.

Pertama, batu pengasah direndam dalam air bunga yang terdiri dari tujuh jenis. Setelah itu mulut dingangakan (dibuka). Supaya mulut selalu terbuka, diganjal kiri dan kanannya dengan buah kemiri. Setelah itu mak dukun membaca do’a tertentu, lalu ia mengambil batu pengasah dan mengetuk gigi tersebut sebanyak tujuh kali. Maksudnya supaya gigi itu konon, kuat seperti batu. Setelah itu gigi yang paling panjang mulai digosok perlahan-lahan ke kiri dan ke kanan sampai rata. Mula-mula gigi diasah dengan batu yang paling kasar, kemudiannya berulah diasah dengan batu pengasah yang agak halus. Setelah beberapa lama diasah pula dengan batu yang paling halus. Yang paling akhir diasah dengan bunga, yang bermaksud supaya gigi berseri seperti bunga.

Pengasahan gigi hanya boleh dilakukan dalam bilangan yang ganjil, misalnya : satu kali, tiga kali, tujuh kali. Jika kedua orang tua masih hidup, hanya diperkenankan mengasah gigi yang sebelah atas saja. Akan tetapi jika kedua orang tuanya telah tiada, diperkenankan mengasah gigi atas dan bawah. Setelah mengasah gigi dukun membaca do’a selamat dan diakhiri dengan mencicipi hidangan yang telah disediakan. Sebagai balas jasa atas segala bantuan yang telah diberikan oleh mak dukun, diserahkan pula uang alakadarnya.

Catatan :
Mengenai upacara mengasah gigi ini ada berpendapat hanya boleh dilakukan kepada orang perempuan yang telah bersuami saja, sedangkan anak dara tidak dibenarkan mengasah gigi. Ia boleh mengasah gigi bila telah bersuami dengan seizin suaminya. Akan tetapi ada pula yang berpendapat bahwa mengasah gigi boleh dilakukan oleh anak dara dan anak bujang apabila ia ingin mempercantik diri.

More about6. PENGGALAN KEENAM : Memasuki Alam Percintaan (Perkawinan)