14. Bersuap-suap

Attayaya Butang Emas on 2008-12-28

Setelah kedua pengantin duduk bersanding, sampailah pla kepada “upacara bersuap-suap”. Acara ini adalah kedua pengantin menyuapi secara bergantian. Sebelum upacara dijalankan, sirih lelat yang dipegang pengantin lelaki diambil. Setelah itu Mak Andam mengambil pulut kuning dan dikepal-kepalnya, dibentuk menjadi bulat. Jumlahnya sebanyak dua buah. Makanan ini bersama bahan pelengkap memakannya yaitu telur. Makanan ini disuguhkan oleh Mak Andam kepada pengantin lelaki untuk disuapkan kepada pengantin perempuan, begitupun sebaliknya.

Makan bersuapan sebagai perlambang saling memberi dan menerima sebagai suami isteri. Dan begitu juga halnya isteri terhadap suami dan anak-anak nantinya.


More about14. Bersuap-suap

13. Bersanding

Attayaya Butang Emas on 2008-12-18

Adapun setelah acara akad nikah selesai, pengantin lelaki terlebih dahulu pulang ke rumah untuk persiapan acara bersanding. Sementara pengantin perempuan dimandikan oleh Mak Andam dengan air bunga tujuh warna (jenis). Selesai dimandikan kemudian dilangir atau dibedaki dengan bedak yang terbuat dari bahan tradisional.

Kemudian pengantin perempuan dirias dan mengenakan baju kurung teluk belanga. Dipasangkan pula kain samping. Baju pengantin tersebut biasanya adalah jenis songket atau kain yang terbuat dari benang berwarna emas atau perak. Selesai digauni diberi sanggul bernama “lipat pandan”. Bentuk sanggul menyerupai lipatan daun pandam berisi pelepah batang pisang yang digulung dengan rambut pengantin atau dengan cemara yakni rambut palsu. Jika pengantin berambut pendek, hiasan pengantin berupa gandik, cocok siput atau sunting, dokoh, pending, kembang goyang, pandan mayang, anting-anting dan cincin. Sewaktu pengantin perempuan dirias Mak Andam, diadakan acara marhaban, berdah, hadrah dan lain sebagainya. Seni budaya bernafaskan Islam ini ditampilkan pada dasarnya bertujuan menjunjung tradisi. Keadaan rumah pengantin akan terasa semarak. Dengan ditampilkan seni budaya yang telah dikemukakan, khalayak di lingkungan terutama anak-anak tertarik untuk datang, sehingga sekitar rumah pengantin menjadi ramai. Sedangkan bagian dalam sudah jelas padat karena ditempati pelaku-pelaku pelaksana adat yang berhubungan dengan upacara pesta perkawinan.

Begitu juga halnya dengan pengantin laki-laki, setelah pulang ke rumahnya dan waktu mendekati shalat Dzuhur, maka dia dipakaikan pakaian pengantin. Pakaian pengantin ini dibawa dan diantarkan utusan Mak Andam dari rumah pengantin perempuan. Pakaian pengantin laki-laki yang dikenakan berupa baju teluk belanga tidak berlengan, celana panjang menyerupai pasangan baju kurung. Kemudian, dipasangkan ikat pinggang berukuran besar yang terbuat dari bahan kain yang lazim disebut “sabuk” atau “bengkung”. Selanjutnya pula dipasangkan pula baju luar atau “jubah” dan berserban. Jubah adalah pelapis baju teluk belanga. Oleh sebab itu, baju ini disebut baju luar. Ukurannya besar, berlengan panjang dan bagian bawahnya mencapai betis dan diberi perhiasan. Demikian juga serban berhiaskan kembang mayang. Adapun alas kakinya berupa sendal jepit bertali yang dinamakan “capal”.

Kedua pengantin sudah dirias dan diberi berpakaian, maka mereka dipersandingkan. Persandingan yaitu di rumah pengantin perempuan. Waktu bersanding hampir tiba, pihak pengantin perempuan mengirim utusan menjemput pengantin laki-laki. Utusan ramai dan didampingi para pemain musik kompang.

Pengantin laki-laki diarak menuju rumah pengantin perempuan. Kelihatan utusan datang, pihak pengantin laki-laki menyongsong rombongan yang datang membawa sirih lelat (sirih lat-lat). Alat ini dibawa sebagai pertanda bahwa pengantin perempuan sudah dipelaminan atau sudah siap menanti kehadiran pengantin laki-laki untuk bersanding. Pakaian yang dibawa utusan diserahkan dan dipasangkan Mak Andam kepada pengantin laki-laki. Setelah berpakaian, sang pengantin diarak beramai-ramai menuju rumah pengantin perempuan. Ketua rombongan ini adalah orang yang menguasai adat-istiadat perkawinan dan ahli berpantun. Pendamping yang lainnya bertugas membawa tepak sirih, pakaian sang pengantin dan bunga manggar. Bagian atas tepak sirih menyerupai kepala burung merak jantan. Pakaian sang pengantin yang dibawa dalam bentuk bungkusan. Kanan dan kiri pengantin terdapat orang yang memegang bunga manggar. Bunga ini dibuat dari bahan lidi kelapa yang dibalut kertas warna-warni. Bagian pangkal lidi ditusukkan atau ditancapkan pada batang pisang atau gabus atau pepaya muda berukuran 25 cm, kemudian batang pisang atau gabus atau pepaya muda tadi ditusuk dengan kayu agar mudah memegang sekaligus membawa bunga itu dalam perarakan. Hal yang menarik dari bunga manggar tersebut, pada ujung lidi diikatkan uang logam dan permen. Fungsi bunga sebagai pertanda pemberitahuan kepada pihak pengantin perempuan mengenai kehadiran rombongan pengantin laki-laki.

Pada masa silam, pengantin laki-laki diarak menuju rumah pengantin perempuan dengan berjulang, yaitu sang pengantin berada di pundak orang lain. Namun, budaya berarak seperti ini sudah ditinggalkan. Dewasa ini, pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan berjalan sama halnya dengan keramaian yang mengaraknya. Turun dari rumah sampai ke tempat tujuan, sang pengantin memegang “sirih lelat”. Sirih ini sudah dimanterai Mak Andam. Permanteraan dilakukan supaya sirih memiliki kekuatan gaib. Kekuatan gaib itu dipercayai dapat melindungi pengantin dari berbagai gangguan terutama gangguan yang bersifat gaib. Perarakan dihibur bunyian kompang yang diiringi nyanyian pujian terhadap Nabi dan para sahabatnya.

Dengan diiringi musik kompang, sang pengantin terus diarak sampai ke rumah pengantin perempuan. Mendekati pekarangan rumah pengantin perempuan, bunga manggar yang dibawa, direbahkan, maka ramailah anak-anak berebut untuk mengambil uang logam dan permen yang terdapat pada pucuk-pucuk bunga manggar. Peristiwa ini cukup menarik dan menjadi bagian dari kemeriahan majelis perkawinan.

Musik perarakan pun berhenti, dan rombongan yang datang disambut pula dengan pencak silat. Permainan silat ini diiringi dengan bunyi-bunyian berupa gendang, gong dan nafiri atau seruling. Penampilan silat mempunyai dua kegunaan, yang pertama sebagai bagian dari acara penyambutan pengantin itu sendiri, sedangkan yang kedua adalaah sekaliannya menunjukkan untuk menjaga keamanan berkenaan dengan majelis pernikahan tersebut.

Selesai penyambutan dengan pencak silat, rombongan pengantin lelaki memasuki halaman rumah dan ditaburi dengan beras kunyit, terutama pengantin lelaki. Upacara penaburan ini dilaksanakan sebagai perlambang keberhasilan sang Bujang hidup menyatu dengan sang Dara. Perlambang lainnya dalam upacara ini adalah sebagai pemula berhubungan pengantin lelaki menaiki rumah pengantin perempuan.

Kemudian berjalan memasuki rumah, tetapi sebelum naik ke rumah, rombongan dihadang dengan “tali lawa”. Upacara ini dinamakan “upacara lawa-lawa”. Tujuannya adalah untuk mengetahui maksud kedatangan rombongan, konon. Dan biasanya dimintaiuang ala kadarnya. Alat lawa terdiri dari kain panjang yang dipiln-pilin sehingga menyerupai tali berukuran besar. Tali lawa tersebut di rentang di depan pintu atau tangga naik ke rumah. Petugas yang memegang kian tersebut dipersiapkan oleh pihak pengantin perempuan dan ada pula yang memegang pundi tempat uang. Maksud dari upacara ini sebenarnya ingin menunjukkan kepada pihak pengantin laki-laki bahwa tidak mudah untuk mendapatkan sang dara. Jadi perkawinan bukan main-main. Oleh sebab itu, sangat tidak diharapkan nantinya sampai terjadi perceraian dan rumah tangga hancur. Suami isteri dituntut untuk saling bertanggung jawab, saling pengertian. Jadi upacara lawa-lawa itu didasari dari ketentuan tersebut, bukan karena uang atau kebendaan.

Nah, oleh karena pengantin lelaki tidak dapat masuk ke rumah sebab dihadang dengan tali lawa, maka pihak pengantin lelaki bertanya dengan pantun :
Pengiring lelaki :
Kalau memetiksi buah pauh,
Jangan dipetik bersame dahan.
Kami ini datang dari jauh,
Mengape kami tuan tahan?

Pengiring perempuan :
Dari muare pergi ke hulu,
Hendak membeli daun turi.
Kami hendak bertanye dahulu,
Ape hajat datang kemari?

Pengiring lelaki :
Bukan udang sembarang udang,
Udang buat memancing patin.
Bukan kami sembarang datang,
Datang hendak menyatukan pengantin.

Pengiring perempuan :
Kalau tidak kelape bulan,
Tak mungkin tupai mati.
Kalau begitu maksud tuan,
Bayar dahulu upah menanti.

Pengiring lelaki :
Tahulah kami dimane bulan,
Di atas langit di malam hari.
Tahulah kami maksud tuan,
Inilah sekedar yang kami beri.

Pengiring perempuan :
Jangan tuan menjaring selangat,
Di sane banyak ikan berduri.
Jangan awak kedekot sangat,
Beri dan tambah sedikit lagi.

Pengiring lelaki :
Beli buah berkati-kati,
Buah dikirim ke pulau Jawe.
Tuan diharap bermurah hati,
Hanye inilah yang kami bawe.

Pengiring perempuan :
Mengasah senjate pisau belati,
Jangan lupe pisah disemah.
Mendengar itu kasihan di hati,
Silekan tuan naik ke rumah.

Selesai saja terlepas dari tali lawa-lawa di halaman rumah, kini sebelum masuk ke rumah, di pintu telah dihadang pula. Inilah dikatakan “tebus pintu”. Biasanya pada tebus pintu ini uang diminta lebih besar lagi ketika melewati tali lawa-lawa. Setelah memberikan uang, dan adakalanya juga berpantun-pantun, barulah pengantin lelaki diperbolehkan masuk dan ditaburi dengan beras kunyit.

Pada saat pengantin lelaki menuju ke peterakne, rebana berbunyi penuh kemeriahan. Peterakne adalah tempat bersanding kedua pengantin, bagian depannya ditaburi beras kunyit dan uang logam, hal ini dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih karena upacara dilaksanakan dengan kesenangan.

Walaupun pengantin lelaki sudah memasuki ruang persandingan, pengantin lelaki belum diperkenankan duduk bersanding. Sedangkan wajah pengantin perempuan ditutupi oleh Mak Andam (Mak Inang) dengan kipas. Untuk itulah dilaksanakan dahulu upacara “tebus kipas”. Nah untuk membukanya maka pengiring lelaki bertanya dengan pantun :

Pengiring lelaki :
Kalau besar ikan di jahan,
Masih kecil si ikan duri.
Sudah due kali kami ditahan,
Sampai disini ape lagi?

Mak Inang :
Bawe ambung ke kampung Mading,
Disane banyak buah kuini.
Kalau pengantin ingin bersanding,
Bukelah dahulu kipas ini.

Pengiring lelaki :
Kalau betul pergi ke Mading,
Apekah tahu arah jalannye.
Ingin betul hendak bersanding,
Tapi kami tak tahu syaratnye?

Mak Inang :
Menangguk anak ikan temperas,
Ikan ade di sungai duare.
Penat tangan memegang kipas,
Berilah kami seringgit due.

Pengiring lelaki :
Sungai duare banyak temperas,
Tetapi sayang liar ikannye.
Sudah due kali kocek terkuras,
Inilah saje tinggal koretnye.

Mak Inang :
Mari menebang si pohon jati,
Keras kayunye tiade berbanding.
Mendengar kate hibelah hati,
Silekan naik duduk bersanding.

Setelah ketua pengiring menyerahkan uang kepada Mak Inang selaku yang empunya pengantin perempuan, barulah pengantin lelaki diperkenankan naik ke peterakne dan bersanding dengan pengantin perempuan.

More about13. Bersanding

12. Tepuk Tepung Tawar

Attayaya Butang Emas on 2008-12-02

Dalam rangkaian upacara perkawinan adat Melayu Kepulauan Riau, sesudah acara akad nikah dilanjutkan pula dengan “Tepuk Tepung Tawar”. Acara ini adalah “menepuk” dengan beras kunyit dan bertih (padi yang disangrai), yang dilanjutkan dengan mencecah inai di telapak tangan pengantin. Dalam acara ini juga senantiasa diiringi dengan pantun-pantun oleh si pembawa acara, misalnya :

Pembawa acara :
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Tuan-tuan, puan-puan dan ncik-ncik dan hadirin yang budiman,
Sempurne helat karene adat,
Sempurne kerje karene do’a,
Sesuai dengan adat,
Sepadan dengan lembage,
Marilah kite ikuti
Acare tepuk tepung tawar.

Jung berlayar ke Pulau Penyengat,
Singgah membeli secupak penganan.
Tepung tawar ucapan selamat,
Berkat Illahi yang diharapkan.

Untuk memulai acare ini, di harap kesediaan dari ........... untuk menepuk tepung tawar pengantin.


(Maka seseorang yang disebut namanya melakukan acara tersebut dengan hikmat. Orang yang dipanggil pembawa acara biasanya orang yang dituakan, orang tua, maupun saudara. Sementara si pembawa acara terus berpantun).

Orang berlayar ke Pulau Rupat,
Disitu tempat menjual serabi.
Tepung tawar membawe berkat,
Do’a syukur kepade Allhurabbi.

Ye, terime kaseh kepade .................... dan untuk selanjutnye, diminte kesediean .................. untuk menepuk tepung tawar pule kepade pengantin.


(Seseorang memberikan tepuk tepung tawar pula. Dilanjutkan dengan pantun berikut).

Indah bunyi burung tekukur,
Hinggap tinggi di dahan sagu.
Beras kunyit beras ditabur,
Semoge sejahtere pengantin baru.


(dilanjutkan lagi dengan si penepuk tepung tawar berikutnya, dan pantunnya adalah seperti berikut).

Santan diperah masak kari,
Kari dimasak dalam belange.
Di tepuk bahu kanan dan kiri,
Semoge arif berumah tangge.


(dan selanjutnya dengan penepuk tepung tawar berikutnya dan dengan pantunnya pula, hingga kira-kira sampai kepada yang terakhir, biasanya berjumlah ganjil orangnya. Dan inilah perkataan terakhir dari acara tepuk tepung tawar itu disampaikan si pembawa acara).

Untuk penepuk tepung tawar terakhir dimintekan kepade ......... dan sekaliannye untuk membacekan do’a bagi keselamatan kepade kedue pengantin dan kepade kite semue yang hadir. Dipersilekan kepade ..........

(setelah itu, disambut pula dengan sebait pantun, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do’a. Kemudian si pembawa acara berkata).

Tepung tawar sudah direnjis
Dibilas pule dengan si air mawar
Ditutup akhir dengan do’a
Sempurnelah sudah acare ini
Berkenanlah persaudarean kite
Amin, amin ya Rabbal ‘alamin.

Tuan-tuan, puan-puan, ncik-ncik dan hadirin sekaliannye
Ibarat berlayar sudah sampai ke tujuan
Hajat yang berhelat sudah sampai
Tibelah pule masenye kite bersurai
Tuan rumah bermohon harap dimaafkan
Akhirnye, bagaimane datang
Begitu pule baliknye
Kami jemput, kami antarkan
Kami pinjam, kami balikkan
Kami pinjam dengan tepak
Kami balikkan dengan do’a
Dan seraye menutup acare ini
Dengan kalimah Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin
Kepade hadirin sekaliannye dipersilekan mencicipi hidangan
Dan kemudiannye pule kami ucapkan selamat dan tahniah
Kepade pengantin dan kedue orang tuenye
Terime kasih dengan kesabarannye untuk mengikuti acare ini
Wa’billahi taufik wal hidayah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kepada orang-orang yang telah memberikan tepuk tepung tawar biasanya diberikan sebuah bunga telur oleh Mak Andam sebagai ucapan terima kasih. Bunga telur adalah bunga yang dibuat dari kertas, diikat pada lidi atau bambu kecil dan ditancapkan pada pulut kuning yang dibungkus dengan daun pisang. Bagian ujung dari lidi atau bambu kecil yang diraut itu, diikat dengan telur merah yang sudah dirajut dengan benang. Tetapi kepada masa sekarang pekerjaan seperti itu telah diubah suai dengan bentuk yang beraneka ragam, sesuai dengan kemajuan zaman.

Orang-orang yang memberikan tepuk tepung tawar adalah undangan ataupun jemputan dari kalangan orang yang terpandang, seperti tokoh adat, tokoh pemerintahan, orang-orang tua kerabat yang datang dari jauh kemudian diakhiri dengan pembacaan do’a oleh seorang ulama.

Tepuk tepung tawar berguna sebagai do’a supaya kedua pengantin meruah rezekinya, ikhlas dalam berbuat, memperoleh kedamaian, ketentraman hati dalam hidup berumah tangga dan bermasyarakat.

Adapun makna dari tepung tawar adalah :
  1. Beras kunyit atau beras kuning. Warna kuning melambangkan raja, kebesaran, keagungan dan kebesaran Melayu Riau.
  2. Beras putih atau beras basuh. Warna putih lambang kesucian, kebersihan, dengan bermakna bahwa melaksanakan segala sesuatunya haruslah mendapatkan tuah.
  3. Bertih adalah beras yang digoreng tanpa minyak. Warna putih kecoklatan melambangkan pengembangan, kemekaran dengan kesuburan yang membawa kemakmuran.
  4. Daun Setawar melambangkan penawar yaitu obat segala yang berbisa.
  5. Daun Sedingin melambangkan kedamaian dan ketentraman hati.
  6. Air harum-haruman (air mawar) melambangkan kebahagiaan (harmonis) di dalam keluarga dan nama baik.
  7. Daun-daunan yang diikat menjadi satu sebagai perenjis melambangkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan, kerukunan dan kedamaian rumah tangga dan bermasyarakat.

Adapun perlengkapan dan bahan-bahan tepuk tepung tawar terdiri atas :
  1. Pahar atau talam berkaki yang kecil.
  2. Sangku yaitu mangkuk tembaga yang kecil tempat beras kunyit.
  3. Beras basuh.
  4. Tepung beras dan beras bertih.
  5. Tempat inai giling.
  6. Air yang telah dicampur dengan tepung beras dan dibubuhi dengan harum-haruman (bunga mawar).
  7. Alat perenjis untuk menepuk yang terdiri dari daun setawar, daun sedingin, daun ganda rasa, daun hati-hati, daun sipulih, daun samban, daun juang, dan akar ribu-ribu. Semua daun-daun tersebut disusun dengan rapi dan diikat dengan salah satu daun.

Apabila selesai acara Tepuk Tepung Tawar, pengantin laki-laki bersama rombongannya meminta izin kepada tuan rumah untuk kembali ke rumahnya, dan menyatakan akan datang lagi membawanya untuk disatukan pada acara bersatu atau bersanding.

Kepulangan pengantin lelaki dibekali oleh keluarga pengantin perempuan dengan tepak sirih, bunga rampai dan kue-mue yang merupakan bukti bahwa pengantin lelaki telah sampai ke rumah pengantin perempuan.

Selama waktu sebelum acara persandingan dilakukan, segala persiapan makanan dan minuman untuk pengantin lelaki diantarkan oleh keluarga pengantin perempuan. Makanan tersebut diantar dengan perlengkapan berupa piring makan, piring lauk, mangkok nasi, piring kue, kesemuanya diletakkan di atas sebuah pahar dan ditutupi dengan “tudung hidang”. Tudung hidang adalah tudung saji yang terbuat dari daun pandan dan di atasnya terdapat jahitan kain-kain perca.

More about12. Tepuk Tepung Tawar

11. Akad Nikah

Attayaya Butang Emas on 2008-11-18

Acara akad nikah merupakan puncak dari segala rangkaian upacara perkawinan. Sah atau tidaknya perkawinan ditentukan oleh akad nikah, sedangkan acara lainnya hanya sebagai pelengkap yang diatur oleh adat istiadat. Acara akad nikah adalah untuk mengesahkan perkawinan baik menurut agama maupun adat. Sedangkan acara akad nikah lazimnya dilaksanakan di rumah calon pengantin perempuan pada malam hari. Tetapi pada masa sekarang, acara akad nikah sering dilaksanakan pagi hari sejalan dengan hari persandingan atau hari pesta perkawinan. Oleh masyarakat Melayu Riau, acara akad nikah lazim juga disebut dengan acara “turun nikah”. Disebut demikian, karena calon pengantin laki-laki turun dari rumahnya untuk menikah ke rumah calon pengantin perempuan.

Sebelum berangkat ke rumah calon pengantin perempuan, di rumah calon pengantin laki-laki diadakan acara kenduri yang dihadiri oleh keluarga dan tetangga terdekat saja. Kenduri ini sebagai do’a selamat supaya Allah SWT memberikan keselamatan atas calon pengantin dan keluarganya. Disamping itu juga sebagai do’a restu orang tua beserta seluruh keluarga, handai taulan terhadap calon pengantin laki-laki supaya acara akad nikah berjalan dengan lancar.

Setelah pembacaan do’a selesai, dilanjutkan dengan makan bersama berupa makanan ringan yang dalam bahasa Melayu Riau disebut “pengalas perut” atau pengganjal perut. Sajian ini berupa : roti jala, roti perata atau roti canai yang kesemuanya ini dinamakan dengan lauk masak kari ayam, daging kambing, udang atau ikan. Selain itu sebagai “pencuci mulut” yaitu sejenis makanan yang dimakan setelah makan makanan yang pedas seperti : buah-buahan, kue-mue manis. Buah-buahan yang menjadi pencuci mulut antara lain pisang dan semangka, pencuci mulut berupa kue-mue manis seperti anta-kesuma (hantu kesuma), dodol, kole-kole, dan wajik.

Apabila para utusan atau penyongsong menyatakan siap, maka calon pengantin laki-laki melakukan “sembah” kepada kedua orang ibu bapaknya untuk minta ampun atas segala dosanya serta minta do’a restu kepada seluruh kerabatnya. Selanjutnya orang tua calon pengantin laki-laki menyerahkan anaknya kepada orang kepercayaannya sebagai wakilnya yang akan memimpin serta mengantarkan ke rumah calon pengantin perempuan untuk dinikahkan.

Keberangkatan calon pengantin laki-laki menuju rumah menuju rumah calon pengantin perempuan ditandai dengan “shalawat nabi” dengan membawa sirih nikah, bunga rampai, mas kawin (mahar) dan barang-barang “serba satu” serta lengkap dengan kapur sirih, gambir, pinang dan tembakau. Posisi sirih disusun telungkup. Sedangkan serba satu adalah berupa seperangkat pakaian seperti baju, kain (sarung), dan sandal.

Di rumah calon pengantin perempuan, calon pengantin laki-laki disambut dengan bunyi-bunyian kompang dan ditabur dengan beras kunyit sebelum masuk rumah, tepatnya di muka pintu rumah. Bunyi-bunyian kompang ini berfungsi sebagai penghibur kedua calon pengantin serta para undangan. Sedangkan tabur beras kunyit fungsinya sebagai do’a restu.

Selanjutnya calon pengantin laki-laki didudukkan di atas tikar nikah dengan gading-gading pengiringnya yang duduk di sebelah kiri dan kanan. Tikar nikah terbuat dari lapisan kain “plekat” dan dibungkus dengan kain songket atau kain-kain yang bercorak gemerlap. Setelah calon pengantin laki-laki duduk dengan tenang, acara pernikahan dimulai dengan dengan “penyerahan” calon pengantin laki-laki kepada keluarga calon pengantin perempuan untuk dinikahkan. Sementara itu, calon pengantin perempuan berada dalam bilik pengantin. Serah terima ini dimulai dengan ucapan salam dari ketua rombongan kedua belah pihak dengan berpantun-pantun.

Berikut ini hendak digambarkan menurut yang patut berkenaan acara tersebut dalam percakapan antara kedua orang yang menjadi wakil dalam acara tersebut.

01. Wakil lelaki :
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Kami ucapkan salam kepade tuan dan puan sekalian, kami datang dengan membawe pesan untuk bertemu keluarge budiman...

02. Wakil perempuan :
Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh...
Kami balas atas salam yang disampaikan, akan kedatangan tuan-tuan dan puan-puan, kami sambut dengan hati terbuke dan kesenangan.

03. Wakil lelaki :
Banyak yang lahir perempuan,
Diberikan name Seri Melati,
Saye menghadap kepade tuan.
Sebagai wakil pihak lelaki.

Tinggi pokok si asam paye,
Batang berduri jangan dipanjat.
Kalau boleh saye bertanye,
Pade siape menyampaikan hajat?


04. Wakil perempuan :
Kalau tuan ke negeri Arab,
Berjumpe tuan orang Serani.
Pertanyean tuan kami jawab,
Saye wakil pihak di sini.


Penjelasan :
Setelah diketahui siapa teman bercakap, maka wakil ahli bait calonpengantin lelaki menyerahkan tepak sirih untuk dicicipi sebagai pertanda upacara serah terima dimulai. Diperkatakan pula dengan pantun...

05. Wakil lelaki :
Pergi belanje dengan perahu,
Hendak membeli sekati gule.
Wakil di sini sudahlah tahu,
Sirih dihidangkan tande bermule.


06. Wakil perempuan :
(Sambil mencicipi sirih, iapun berpantun)
Kalau menangkap ikan aruan,
Pakailah joran sebatang lidi.
Sungguh sedap sirihnye tuan,
Rasekan pule sirih di sini.


07. Wakil lelaki :
Tinggi menjulang getah sadap,
Pokoknye tue jangan dipanjat.
Sirih tuan tak kalah sedap,
Mulailah saye menyampaikan hajat.


Penjelasan :
Setelah menyampaikan salam takzim dan pesan dari pihak kedua orang tua calon pengantin lelaki dan keluarganya, karena sesuatu hal tidak dapat datang dan mewakilkan kepadanya; menurut yang sudah menjadi adat, orang tua dan saudara kandung calon pengantin lelaki tiada diperkenankan hadir dalam acara pernikahan tersebut, bersebab akan mendatangkan aib bagi keluarga. Maka selanjutnya wakil pihak lelaki itu menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya beserta rombongan melalui pantun sebagai berikut...

08. Wakil lelaki :
Bukan petang sebarang petang,
Di waktu orang mengibar panji.
Bukan datang sebarang datang,
Datang hendak menepati janji.


Penjelasan :
Maka si pihak lelaki menyerahkan satu persatu barang iring-iringan dengan diiringi pantun, yang kemudian diterima oleh pihak perempuan.

09. Wakil lelaki :
Kalau memancing ikan gelame,
Pakailah umpan si anak bilis.
Bunge rampai iringan pertame,
Buat penyeri seluruh majelis.

Baju kebaye berselendang kain,
Kain merah berwarne sage.
Yang kedua berupe mas kawin,
Sudah menjadi sepakat keluarge.

Yang mane satu si kue putu,
Bahan terbuat tepung pulut.
Yang ketige pule serba satu,
Berupe seperangkat pakai patut.

Kalau tuan berkarang lokan,
Dimasak lokan berkuah kari.
Kue-mue kami sertekan,
Buat santapan keluarge puteri.

Siramkan pokok bunge melati,
Melati buat penghias siput.
Buah-buahan tidak sepeti,
Sekedar buat pencuci mulut.


Penjelasan :
Dalam pantun di atas terdapat perkataan “seperangkat pakai patut”, yang dimaksudkan adalah pakaian yang layak dipakai. Sedangkan kata-kata “penghias siput” maksudnya bentuk sanggul perempuan, yaitu sanggul siput.

Jika seandainya di dalam acara nikah kawin tersebut, ada adat “melangkah batang”, yaitu kakak perempuan dari calon pengantin perempuan yang belum menikah, maka diserahkan barang antaran berupa sepersalinan pakaian untuk kakak kandung calon pengantin perempuan. Hal yang sedemikian tiada pula berlaku bagi si abang dari calon pengantin perempuan. Dalam hal ini ada pula pantunnya...

10. Wakil lelaki :
Dari jauh kami lambaikan,
Supaye tuan sudilah datang.
Tak lupe kami bawekan,
Seperangkat pelangkah batang.

Biduan bermadah di malam sepi,
Lagu nyanyian dendang merawan.
Diserahkan sudah pengantin lelaki,
Tolong nikahkan, tolong kawinkan.


11. Wakil perempuan :
Cincin bermate batu delime,
Itulah tande hiasan kasih.
Barang sudahpun kami terime,
Tiadelah kurang tidaklah lebih.

Hendak menyusun sekapur sirih,
Sirih di susun di dalam tepak.
Kami mengucapkan terime kasih,
Serahkan kepade yang berhak.

Hendak meraut sebatang lidi,
Lidi pembuat anyaman lukah.
Pengantin diserahkan pade Tok Kadi,
Untuk melangsungkan akad nikah.

Menebang kayu membuat galah,
Galah pembuat si tupai-tupai.
Syukur kite kepade Allah,
Karene tugas sudahpun selesai.


Penjelasan :
Yang dimaksud dengan “tupai-tupai” adalah bagian dari bangunan atap rumah yang berfungsi sebagai penopang atap.

Kembali pada acara tersebut. Setelah semuanya barang hantaran kecuali tepak sirih dan mas kawin, semuanya disimpan ke dalam bilik calon pengantin perempuan.

Kemudian Wali Hakim, wakil calon pengantin perempuan dan dua orang saksi mengambil tempat yang telah ditentukan. Wali Hakim dan wakil calon pengantin perempuan duduk di depan calon pengantin laki-laki, sedangkan kedua orang saksi duduk di kiri-kanan calon pengantin perempuan.

Yang sepatutnya menjadi wali kepada calon pengantin perempuan adalah ayah kandung. Apabila orang tua kandung (ayah) sudah tiada atau meninggal dunia, bolehlah wali diganti dengan saudara kandung laki-laki dari calon pengantin perempuan. Apabila calon pengantin perempuan tidak mempunyai saudara kandung laki-laki, maka yang bertindak sebagai wali adalah saudara kandung laki-laki ayahnya. Orang yang berhak menikahkan calon pengantin perempuan adalah para wali calon pengantin perempuan dan wali hakim.

Biasanya pula sebelum acara dimulai terlebih dahulu seorang pembawa acara akan membuka dengan “ura-ura” atau permulaan mukaddimah sebelum masuk ke acara nikah. Maka perkataan itu antara lain sebagai berikut :

12. Pembawa acara :
Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin
Ash sholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya i wal mursalin
Wa’ala ‘alihi wa ashhabihi ajmain...

Tuan-tuan, puan-puan, ncik-ncik, handai taulan, sanak saudare,
baik yang jauh maupun dekat.
Yang kecik tiade disebutkan name,
Yang besar tiade pule disebutkan gelar,
Yang berpangkat tidak disebut jabatannye.
Seraye bersyukur kepade Allah SWT.

Kecik telapak tangan, nyiru ditadahkan,
Putihnye kapas dapat terlihat, putih hati berkeadean,
Begitu besar kegembirean hati,
Dan berterime kasih kepade tuan-tuan, puan-puan,
ncik-ncik sekaliannye atas kehadirannye
dalam memenuhi undangan dan jemputan kami.

Besar langsat di tepi busut,
Besar tak muat dalam peti.
Besar sungguh hajat menjemput,
Besarlah niat di dalam hati.

Nak dare cantik pakai kerudung,
Serasi pule dengan pakaian.
Lame sudah hajat di kandung,
Baru kini dapat kesampaian.


Sabar sudah berdundang ke langit
Berite sudah merebak ke bumi

Insya Allah sebentar lagi kami akan menikahkan puteri kami yan bername .................... dengan anaknde kite yang bername ..................

Jike terdaoat salah dengan silih
Entah tersalah letak denga tegak
Entah duduk yang tidak nyaman
Entah kelak makan yang tidak berdecas
Entah tegur sape kami yang kurang berkenan
Sehinggelah tiade pule menutup sebarang kelemahan
Tetapi, kesemuenye ini diluar kehendak kami
Tiade lain juge yang hendak dipeinte
Uluran tangan dan kasih sayang yang dipinte
Mohon maaf dan ampun atas segalenye.

Alhamdulillah...
Adat tepian berbahase
Cukup bercakap sudah terjawab
Ibarat gendang sudah bertingkah
Barang antaran sudah diterime
Kecik telapak tangan, nyiru kami tadahkan
Terime kasih daun keladi
Kalau nak beri tambahlah lagi...

Make sekarang ini
Putus kate dengan mufakat
Marilah kite menyaksikan upacare ijab-kabul
Untuk mendapatkan rahmat Illahi
Kite awali dengan pembacean qalam Illahi.

Penjelasan :
Kemudian dilakukan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Setelah pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, acara dilanjutkan kembali dengan ....

13. Pembawa acara :
Malam hari ke Pulau Rupat,
Membawe suluh mencari ikan.
Qalam Illahi membawe berkat,
Kite jadikan suluh-pedoman.


Tuan-tuan, puan-puan, ncik-ncik sekaliannye,
Sekarang sampailah masenye akad nikah atau ijab-kabul, yang akan dilafaskan oleh orang tue calon pengantin perempuan...

14. Orang tua calon pengantin perempuan :
“Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau .......... bin .......... dengan ........... anak kandungku dengan emas kawinnya ......................, dibayar tunai”

15. Calon pengantin lelaki :
“Aku terime nikahnye ............. binti .............. anak kandung ayah (bapak) dengan mas kawinnye .............................., dibayar tunai”

selesai pengucapan ijab-kabul atau akad nikah, maka wali hakim menanyakan keabsahan akad nikah kepada kedua orang saksi. Pengucapan tersebut biasanya sampai berulang kali dan paling sedikitnya dua kali walaupun pengucapan yang pertama sudah benar.

Jika kedua saksi menyatakan bahwa akad nikah adalah “syah”, maka syah-lah kedua calon pengantin menjadi pengantin, dan maka akad nikah selesai dan dilanjutkan dengan pembacaan do’a serta penyampaian khutbah nikah yang berisi nasehat-nasehat perkawinan.

Acara akad nikah diakhiri dengan makan bersama dalam bentuk makan berhidang atau makan “sebekas”. Yang dimaksud dengan sebekas adalah hidangan makan untuk lima orang dengan ketentuan bahwa setiap piring lauk berisikan potong lauk, seperti enam potong daging, enam potong ikan dan lain-lainnya, kecuali sayur-mayur.

Cara menghidang makan berhidang ini, dimulai dengan pemasangan kain panjang berwarna putih di atas tikar. Kemudian diletakkan 5 buah piring nasi yang di atasnya ada sebuah mangkok untuk tempat mencuci tangan berisi air putih dan ditutup dengan piring nasi yang disebut “pinggan”. Sedangkan mangkok pencuci tangan diletakkan di atas piring beralaskan kain (handuk kecil) sebagai lap tangan. Setelah itu diletakkan pula di antara setiap lima orang itu, lima buah gelas berisi air minum tawar, dan lima buah gelas berisikan air minum manis (teh atau kopi). Terakhir barulah dihidangkan lauk-pauk yang biasanya tersiri atas lima macam atau paling sedikit tiga macam di atas sebuah talam (baki atau nampan). Apabila lauk-pauknya hanya empat piring, maka dilengkapi dengan satu piring kue di dalam talam. Konon, isi talam haruslah ganjil. Sedangkan mangkok nasi yang berisikan nasi putih dihidangkan bersamaan dengan menghidangkan piring nasi.

Setelah acara selesai, maka selesailah pula serangkaian acara akad-nikah tersebut, kemudian akan memasuki acara berikutnya yang disebut dengan Tepuk Tepung Tawar.
More about11. Akad Nikah

10. Khatam Al-Qur’an

Attayaya Butang Emas on 2008-11-16

Kalangan orang tua pada masyarakat Melayu Kepulauan Riau umumnya, secara mutlak menekankan anak-anaknya pandai membaca Al-Qur’an. Hal ini tidak dibedakan baik pada laki-laki maupun perempuan. Belajar membaca Al-Qur’an, menjadi bagian budaya terpenting bagi masyarakat Melayu di daerah ini. Ini dianggap sebagai bagian terpenting dalam kehidupan untuk mendambakan anak menjadi manusia yang shaleh. Oleh karena itu kalangan orang tua mengharuskan anaknya pergi mengaji setiap hari ke rumah Cik Gu atau guru yang mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an yang terdapat di lingkungan pemukiman.

Menurut pandangan masyarakat Melayu, kepandaian membaca Al-Qur’an menjadi dasar bagi seseorang untuk dapat menjalankan perintah agama seperti halnya shalat lima waktu.

Dari kecil cincilak padi,
Sudah besar cincilak padang,
Dari kecil duduk mengaji,
Sudah besar tegak sembahyang.


Dalam Al-Qur’an berisi petunjuk yang dapat dijadikan pedoman membentuk jiwa yang Islami. Kepandaian membaca Al-Qur’an sebagai persyaratan yang penting bagi bujang dan dara untuk berkahwin atau mendirikan rumah tangga, baik buat laki-laki maupun perempuan.

Orang tua di kalangan masyarakat Melayu, akan merasa bahagia sekali apabila anaknya pandai membaca Al-Qur’an. Sesungguhnya inilah salah satu tuntutan/tuntunan hidup diberikan kepada anak. Ini dapat dijadikan landasan menapak hidup buat anak setelah dewasa. Anak akan sulit mendapat jodoh jika tidak pandai membaca Al-Qur’an. Sebab hal ini, menjadi bagian pelaksanaan adat perkawinan. Bagi anak dara, untuk menikah dan menjalankan adat atau tradisi khatam Al-Qur’an, telah menjadi budaya yang berketetapan pada masyarakat Melayu. Oleh sebab itu, orang tua di kalangan masyarakat bersangkutan, menekankan anak perempuan harus pandai membaca Al-Qur’an, baru diperkenankan kawin. Sebab hal ini, bagian unsur pembentukan adat-istiadat perkawinan yang dikuasai.

Adat-istiadat perkawinan Melayu selalunya bernafaskan Islam. Oleh karenanya untuk melangsungkan akad nikah sekaligus pesta perkawinan, calon pengantin perempuan berkhatam terlebih dahulu. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk upacara. Tempatnya di rumah calon pengantin perempuan, waktunya pagi hari. Pelaksanaannya melibatkan khalayak ramai.

Pada hari pelaksanaan khatam Al-Qur’an, para jemputan atau undangan hadir. Laki-laki dan perempuan duduk terpisah. Khalayak terlibat melaksanakan upacara tersebut, semuanya pandai membaca Al-Qur’an. Pemimpin upacara adalah guru mengaji sang calon pengantin perempuan.

Setelah pelaksanaan upacara, calon pengantin perempuan keluar dari kamarnya diapit dua orang sahabatnya yang terdiri dari kalangan perempuan. Mereka berpakaian baju kurung, marhamah, selendang kelingkang atau tudung manto. Pada ruangan tempat upacara, pihak yang dikhatamkan beserta dua sahabatnya duduk di atas tilam yang berada dekat “tabak” di depan “petirakhna”.

Guru mengaji calon pengantin perempuan membimbing hadirin membaca ayat-ayat pendek. Sang calon pengantin membaca surat-surat atau ayat pendek yang terdapat dalam Al-Qur’an yang sudah dibuka dihadapannya. Selanjutnya membaca doa khatam Al-Qur’an yang dipimpin guru mengaji sang pengantin. Akan tetapi adakalanya hal ini dilakukan oleh semua hadirin. Kitab Al-Qur’an secara bergilir dipegang dan dibaca hadirin. Adapun sang calon pengantin, menyimak bacaan sambil menunjuk huruf-huruf dengan lidi kalam yang telah dipersiapkan. Khatam selesai, guru mengaji atau imam membaca do’a. Usai pembacaan do’a, hidangan dikeluarkan untuk disuguhkan kepada segenap pelaksana upacara khatam. Hidangan berupa kue yang terdiri dari beberapa jenis diletakkan pada baki atau talam. Satu talam untuk dimakan sebanyak 5 orang. Adapun calon pengantin perempuan dibawa masuk ke biliknya oleh Mak Inang. Dalam bilik itulah dia menyantap makanan yang telah dipersiapkan.

Selesai makan tambul, hadirin termasuk guru mengaji sang calon pengantin salin bersalaman terutama kepada tuan rumah dan pulang ke rumah masing-masing. Tidak lama kemudian, pihak calon pengantin perempuan mengutus beberapa orang kerabatnya pergi ke rumah guru mengaji sang calon pengantin tersebut. Para utusan membawa makanan berupa pulut kuning, bunga telur ditempatkan pada pahar atau talam berkaki dan sebuah talam lagi berisi seperangkat alat sembahyang yakni : kain sarung pelikat, sajadah, kopiah atau peci atau mukena, dan payung. Semua itu dipersembahkan kepada guru mengaji, sebagai pertanda ucapan terima kasih orang tua dan calon pengantin terhadap guru tersebut. Berkat didikan dia sang calon pengantin pandai membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan prosesi terakhir dari upacara berkhatam Al-Qur’an mewarnai adat-istiadat perkawinan Melayu.

More about10. Khatam Al-Qur’an

9. Berinai

Attayaya Butang Emas on 2008-11-15

Sesudah upacara berandam, kegiatan berikutnya dilakukan oleh kedua calon pengantin adalah berinai. Pada masyarakat Melayu, tanda-tanda orang menjadi pengantin baru, jari tangan dan kaki, telapak tangan dan kakinya diberi inai sehingga kelihatan kuning kemarah-merahan. Jadi pada masyarakat Melayu, tidak boleh sembarangan menggunakan inai. Sebab berinai memberi isyarat dan pelambangan bercorak tertentu.

Pemasangan inai pada calon pengantin juga dilakukan oleh Mak Andam. Kegiatan ini berbeda suasananya dengan kegiatan berandam. Menginai calon pengantin dalam suasana santai dan diwarnai kemeriahan. Khalayak ramai terutama sahabat calon pengantin diperkenankan menyaksikannya. Lain halnya dengan kegiatan berandam, orang yang menyaksikan terbatas jumlahnya.

Berinai dilakukan pada malam hari, di rumah kediaman calon pengantin laki-laki maupun perempuan. Dilaksanakan malam hari menurut kepercayaan masyarakat Melayu adalah lebih baik, karena warna inai akan lebih merah, sebaliknya apabila dilakukan pada siang hari warnanya akan memudar. Selain itu mengenakan inai tidak boleh mendengar ayam berkokok. Oleh sebab itulah, kegiatan dilakukan pada malam sebelum jadwal ayam berkokok menunjukkan waktu.

Telah disampaikan di atas, bahwa malam berinai adalah malam suka cita. Suasana pada malam itu lebih meriah, karena rumah calon pengantin perempuan banyak yang datang untuk melihat persiapan terakhir, sebab tinggal 1 hari lagi akan diadakan hari pernikahan. Biasanya sahabat-sahabat yang datang berkumpul di bilik pengantin untuk melihat keindahan bilik pengantin sekaligus menggoda calon pengantin perempuan.

Persiapan untuk berinai antara lain tilam yang sudah dihias, daun inai yang sudah dihaluskan, dan kain tambal atau sobekan kain untuk membungkus inai di jari.

Keadaan calon pengantin perempuan pada saat akan diberi inai berbaring telentang dengan tangan diangkat agar daun inai yang sudah dihaluskan tidak mengotori tempat yang lainnya. Pada saat melakukan kegiatan ini, Mak Andam menuturkan beberapa buah pantun.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik di pohon belimbing,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai di lepek di jari kelingking.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik di pohon senduduk,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai dilepek di jari telunjuk.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik si limau manis,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai dilepek di jari manis.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik oleh Pak Ngah,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai dilepek di jari tengah.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik limau kesturi,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai dilepek di ibu jari.

Sayang cik Dollah meracik punai,
Punai diracik di tengah halaman,
Dengan bismillah ku lepekkan inai,
Inai dilepek di jari telapak tangan.


Setelah pemasangan inai, Mak Andam membiarkan calon pengantin perempuan bersama teman-temannya di bilik pengantin malam itu. Inai yang sudah dipasang sebaiknya dibuka pagi hari, agar warnyanya bagus. Hal ini dilakukan oleh pembantu Mak Andam atau pengasuh pengantin perempuan.

Selesai pemasangan inai pada calon pengantin perempuan, Mak Andam dan pembantunya pergi ke rumah pengantin laki-laki. Pengantin ini berinai, berbeda suasananya bila dibandingkan dengan rumah calon istrinya. Di rumah calon pengantin laki-laki, tidak semeriah di rumah calon istrinya. Ini terjadi, karena keramaian lebih terkonsentrasi di rumah calon pengantin perempuan.

More about9. Berinai

8. Berandam

Attayaya Butang Emas on 2008-11-14

Berandam (ber-andam) adalah suatu kegiatan yang dilakukan kepada kedua calon pengantin sehari sebelum menikah. Kegiatan berandam ini dapat pula dikatakan “bergunting rambut kecil”, yaitu mencukur atau merapikan bulu roma pada bagian dahi, pelipis, alis, tengkuk, bulu tangan dan bagian kaki.

Berdasarkan kepada pandangan yang dimiliki masyarakat Melayu, bahwa keindahan pada diri seseorang tidak saja terletak pada yang ternampak di luarnya saja, melainkan keindahan itu terdapat di dalam tubuh dan jiwa seseorang itu. Pandangan dan pendapat yang sedemikian itulah agaknya yang melatar-belakangi kepada pekerjaan berandam ini dalam adat istiadat perkawinan Melayu di Kepulauan Riau. Pekerjaan tersebut dilaksanakan dalam bentuk upacara yang khas. Dan orang yang paling bertanggung jawab dalam pekerjaan ini adalah Mak Andam yang dibantu oleh beberapa orang. Mak Andam adalah tukang rias sekaligus pelindung kedua calon pengantin dari berbagai gangguan penyakit dan gangguan yang datang secara gaib.

Pekerjaan mengandam ini selain bertujuan untuk mempercantik calon pengantin perempuan dan membuat kacaknya calon pengantin lelaki, juga mempunyai keterkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kepada kedua calon pengantin sebelum dan pada saat bersanding nantinya.

Sebagaimana telah digambarkan, bahwa Mak Andam mempunyai peranan yang penting berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan berandam. Melalui pekerjaan ini dipercayai bahwa Mak Andam dapat membuat wajah kedua calon pengantin jauh lebih berseri bila dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.

Upacara berandam lebih ditekankan pada kehikmatan dan memerlukan ketenangan. Oleh sebab itu, bagi yang tiada berkepentingan, tiada diperkenankan berada di kamar calon pengantin perempuan yang akan berandam, selain Mak Andam dan pembantunya. Selain itu biasanya yang diperkenankan berada di bilik itu adalah Emak dan saudara-saudaranya yang ikut membantu pada pekerjaan upacara berandam itu.

Setelah masuk ke dalam bilik calon pengantin perempuan, Mak Andam menengok ke kiri dan ke kanan, lalu menyuruh kepada pembantunya untuk mengambil bara api. Kemudian calon pengantin perempuan disuruh duduk di hadapannya. Mak Andam memberi setanggi atau kemenyan di tempat bara api, lalu menyalakan lilin dan memeriksa beberapa kelengkapan seperti :
  1. Alas tempat duduk calon pengantin; biasanya berupa lipatan kain songket atau kain pelikat;
  2. Kain putih untuk selimut tubuh calon pengantin;
  3. Pisau cukur;
  4. Sepasang lilin sebagai simbol penerang hati;
  5. Selingkar benang putih (benang tukal) yang digantungkan di leher calon pengantin sebagai lambang kesucian;
  6. Kelapa separuh tua yang dibuang kulit luar dan dibentuk seperti kerucut sebagai lambang kesuburan.

Apabila semua perlengkapan sudah cukup, kemudian Mak Andam membentangkan kain putih di pundak dan paha calon pengantin perempuan. Selanjutnya Mak Andam memanjatkan do’a ke hadhirat Allah SWT semoga merestui semua yang dihajatkan. Mak Andam menepuk tepung tawar pada calon pengantin dengan peralatan yang telah tersedia. Sesudah selesai menepuk tepung tawar, Mak Andam mengambil cukur, tangan kanan dan tangan kirinya memegang kepala calon pengantin, kemudian mulutnya komat-kamit membaca mantra. Usai pembacaan mantra, Mak Andam mengambil pisau cukur. Rambut di dahi, bulu roma tangan dan kaki dan pipi pengantin dicukur. Begitu juga alis matanya dibentuk sekaligus dirapikan. Setelah ke semua itu selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan kegiatan berdoa bersama di kamar calon pengantin perempuan. Pemimpin doa Mak Andam dan diikuti oleh kedua orang yang diperkenankan berada di kamar tersebut. Kegiatan ini merupakan tahap akhir pelaksanaan upacara berandam. Mak Anda dan pembantunya keluar dari kamar upacara, diajak oleh Emak atau ibu calon pengantin untuk menyantap kue yang telah disediakan.

More about8. Berandam